12. Rahasia

Comments 14 Standar

Nerd With Glasses and Sweater Vest Eating a Cookie

Julie tak bisa bilang kalau hidupnya akhir-akhir ini cukup menyenangkan. Dimulai dari insiden puisi Richard beberapa waktu lalu. Kesempatan menjadi editor junior yang hilang begitu saja karena kesepakatannya dengan Jerry terkait insiden puisi Richard itu. Soal Richard dan Cathy yang secara mengagetkan ternyata mulai berpacaran kemarin.

Dan pagi ini—lagi-lagi ia datang terlambat ke sekolah.

Entah kenapa Mr.Bouncer tak lagi membukakan pintu gerbang untuknya, padahal selama beberapa kali Julie terlambat pada pengalaman sebelumnya laki-laki berkumis mungil choco chip itu masih mau mengizinkannya masuk ke dalam areal sekolah.

“Mr. Bouncer,” kata Julie dengan wajah memelas. “Ayolah.”

Gadis itu sekarang hanya berdiri saja di luar pintu gerbang, berharap semoga keajaiban datang dan menyelamatkannya hari ini. Jurus senyuman malaikatnya entah kenapa tak berfungsi hari ini, meskipun begitu ia tak mungkin memutuskan untuk kembali lagi ke rumah.

Lily pasti akan mengomelinya habis-habisan—lagi—apalagi setelah Julie sempat bertengkar dengan ibunya tadi pagi, karena sandwich yang tertukar dengan kaus kaki. Wanita itu tidak sedang dalam mood yang bagus juga akhir-akhir ini.

Laki-laki bertubuh kekar itu tetap tak memberikan respon yang Julie inginkan.

“Maaf, Julie. Aku tak bisa mengizinkanmu masuk kali ini,” kata laki-laki itu. Ia menghela napasnya, menatap Julie dengan sungguh-sungguh. “Beberapa guru sudah pernah protes padaku sejak lama, aku bisa saja tak menghiraukan mereka. Tapi kemarin kepala sekolah sendiri yang menegurku secara langsung. Aku tak bisa berbuat apa-apa.”

Julie menyandarkan punggungnya di jeruji gerbang sekolah dengan lunglai.

“Baiklah, Mr.Bouncer. Aku mengerti,” kata Julie santai. “Lagipula ini kesalahanku sendiri. Aku juga minta maaf karena selalu menyusahkanmu setiap hari.”

Memang sudah sangat terlambat bagi Julie untuk menyesali keputusannya menonton 3 keping DVD The Matrix secara nonstop tadi malam, yang tentunya akan berakhir dengan bangun kesiangan. Julie tak tahu lagi bagaimana caranya agar ia tetap dapat menikmati hidupnya dengan santai, tanpa harus menghadapi konsekuensi yang tidak menyenangkan di kemudian hari.

Laki-laki itu tersenyum.

“Tidak apa-apa, Julie,” kata Mr.Bouncer. “Aku menyukaimu, Nak. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri.”

Suara bass laki-laki itu terdengar sangat hangat dan nyaman. Kadang-kadang Julie merasa suara Mr.Bouncer terdengar mirip suara Morgan Freeman—tentu saja dengan bentuk wajah dan postur tubuh yang sangat jauh berbeda.

“Julie!” seru seorang laki-laki yang terdengar dari kejauhan. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Suara itu terdengar familiar. Julie mendongak untuk mengintip di balik jeruji gerbang sekolah dan ia melihat ketua klub koran sekolah sedang berjalan menuju gerbang sekolah untuk menghampirinya.

“Jerry,” sambut Julie dengan senyum gembira. “Aku—um, sedang mengobrol dengan Mr.Bouncer. Mau ikut bergabung mengobrol dengan kami?”

Jerry melihat ke arah Mr.Bouncer untuk mendapatkan legitimasi. Mr.Bouncer hanya mengangkat pundaknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jerry melihat kembali ke arah Julie yang sedang cengengesan di tempat ia berdiri.

“Kau datang terlambat lagi, kan?” kata Jerry gamblang. Ia bersikap sangat tenang dan santai seolah-olah seperti bisa membaca isi pikiran Julie. “Mr.Bouncer sudah menutup pintu gerbang dari tadi. Kenapa kau masih menunggu di sini seolah-olah Mr.Bouncer akan membuka pintu gerbang itu lagi?”

Jerry berdecak heran.

“Kau ini bodoh atau apa, Julie?” dengung Jerry. “Benar-benar orang yang aneh.”

Sejujurnya Julie memang tidak punya pilihan lain. Pulang kembali ke rumah pagi ini sama sekali bukan alternatif yang bagus, karena ibunya sudah pasti akan menyambutnya dengan ledakan bom nuklir yang amat dashyat.

“Baiklah. Aku punya berita bagus untukmu,” kata Jerry. Ia mengucapkan sesuatu pada penjaga sekolah dengan raut wajah yang lebih serius. “Mr.Bouncer, aku perlu bantuan Julie hari ini untuk menyelesaikan proyek majalah sekolah yang diminta oleh Mrs.Lautner. Kuharap kau dapat mengizinkan Julie untuk masuk dan membantuku.”

Proyek Majalah Sekolah adalah sebuah proyek ambisius kepala sekolah Nimberland—Mrs. Tamara Lautner—yang bekerja sama dengan penerbit dan pemerintah lokal untuk meluncurkan majalah pendidikan bulanan yang dijual di toko buku umum dan bisa diakses oleh semua kalangan. Seingat Julie, sebagian besar isi materi dari majalah sekolah itu dikelola oleh guru-guru Nimberland, dan sisanya dibantu oleh beberapa senior di klub koran sekolah. Namun tampaknya akhir-akhir ini kesibukan yang dialami oleh para guru dan deadline peluncuran yang sangat dekat—yakni besok—membuat proyek majalah sekolah Nimberland membutuhkan lebih banyak bantuan tenaga hari ini.

Mr.Bouncer terlihat ragu-ragu. “Aku tak tahu, Nak. Dewan guru sudah memperingatkanku beberapa kali. Aku sudah berjanji pada kepala sekolah tidak akan mengizinkan Julie masuk kalau dia terlambat lagi hari ini.”

“Aku dan beberapa anggota klub sekolah sudah mendapatkan izin khusus dari Mrs.Lautner untuk tidak mengikuti pelajaran sekolah pagi ini,” kata Jerry. “Tidak hanya itu, saat ini kami benar-benar sangat membutuhkan bantuan satu orang lagi dari klub koran sekolah. Aku berkeliling pagi ini untuk itu. Ketika aku melihat kalian—well, kupikir Julie orang yang sangat tepat. Hanya pagi ini saja, Mr.Bouncer. Aku sendiri yang akan menjelaskan pada kepala sekolah dan guru-guru yang lain bahwa Anda telah membantu kami mendapat bantuan tenaga sukarelawan. Aku jamin Anda tidak akan terlibat masalah. Aku akan bertanggungjawab kalau terjadi apa-apa.”

Julie tercengang. Bantuan ini seperti bantuan yang datang dari surga. Jerry benar-benar terlihat seperti seorang malaikat. Ia sama sekali tidak menyangka kalau laki-laki ini akan menyelamatkan hidupnya hari ini.

Mr.Bouncer berpikir sejenak.

“Baiklah,” kata Mr.Bouncer sambil membukakan pintu gerbang. “Untuk kali ini saja, Nak. Tapi Julie, aku tidak bisa mengizinkanmu masuk lagi jika kau datang terlambat di lain hari.”

Julie bersorak. Ia pun mengikuti Jerry yang mulai berjalan kembali menuju ke dalam areal sekolah. Mereka melewati jalanan berbatu kerikil putih kecil, sebelum akhirnya menginjakkan kaki di lantai bertegel polos.

“Jerry! Kau adalah malaikat penyelamat hidupku hari ini,” kata Julie sambil tertawa girang. “Aku tak tahu berapa lama aku harus menunggu di luar pintu gerbang sana sampai Mr.Bouncer mengizinkanku masuk kembali.”

Jerry menatap Julie dengan menaikkan sebelah alisnya.

“Jangan senang dulu, Julie,” kata Jerry sambil tersenyum jahat. “Kau berhutang budi padaku hari ini, Julie. Dan aku jamin, kau tidak akan menyukainya.”

Julie memandang Jerry keheranan. Ia mempercepat langkahnya, mengikuti langkah Jerry yang semakin lama semakin cepat. “Tentang proyek majalah sekolah itu kan? Kurasa aku bisa membantumu. Tidak masalah.”

“Tidak hanya itu—” kata Jerry. Ia berdecak beberapa kali. “Sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap keberadaanmu di sekolah hari ini, aku akan memberikan khotbah panjang lebar tentang betapa pentingnya KEDISIPLINAN dalam hidupmu—khusus untukmu.”

Jerry mengubah sikapnya menjadi lebih superior.

“Dan kau tidak boleh memperlihatkan reaksi apa-apa,” lanjut Jerry. “Tidak boleh marah. Tidak boleh kesal. Tidak boleh apa pun. Pokoknya, semua kata-kataku harus kau dengarkan dengan patuh dan penuh penghayatan, seolah-olah kau sangat menghormati dan sangat mengidolakanku di dunia ini.”

“Apa?” kata Julie.

“Bagaimana?” kata Jerry. “Sudah siap?”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

14 thoughts on “12. Rahasia

  1. Belum ketahuan “rahasia” nya apa. Belum ketauan inti dr BAB ini apa, jd ditunggu kelanjutannya..

    aku berharap akan ada rahasia yg terkuak.. 😀
    tentang Julie, ataupun Richard :’)

  2. Ia nih jngan kelama’an y klanjutan’y soal’y kadang lupa dngan bab sebelum’y dan cerita’y panjangin donk kak yar lama kita baca’y npa akhir2 ini cerita ‘y pendek trus ga kya dulu

  3. ah kangen banget cerita julie dan richard bru bisa baca skrg
    rahasia apa nich ?? semoga rahasianya tentang knp richard mau jadian dgn cathy

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  5. Ping-balik: 11. Kejutan (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s