11. Kejutan (3)

Comments 23 Standar

This is an evaluation image and is Copyright Pamela Perry. Do not publish without acquiring a license. Image number: 0515-0910-2500-0104. http://www.acclaimimages.com/_gallery/_pages/0515-0910-2500-0104.html

Gadis-gadis itu merasa diri mereka mulai gila.

“Yang benar?” seru Kayla tak percaya. Ia memijit-mijit kepalanya dan mengedipkan kedua matanya berkali-kali. “Dia bercanda, kan?”

Cassandra pun menunjukkan ekspresi yang sama terkejutnya.

“Cathy jadian dengan Richard. Cathy—” kata Cassandra shock. Ia mengulangi kalimat yang sama beberapa detik kemudian, perlahan-lahan, bergumam berulang-ulang seperti orang linglung. “—jadian dengan Richard.”

Julie sendiri tak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi berita ini. Cathy Pierre memang selalu membuat sensasi-sensasi mengejutkan dalam setiap pertemuan mereka di kafetaria, tapi jadiannya Cathy dan Richard adalah hal yang sangat berbeda.

Ini akan mengubah segalanya dalam hidup mereka.

“Kupikir ini mimpi,” gumam Jessie. Tiba-tiba ia berceloteh dengan semangat. “Oh.”

Jessie tiba-tiba mencubit lengan Julie dengan keras. Julie berteriak kesakitan.

“ARGH!” sontak Julie kesakitan. Ia menarik lengannya dengan cepat dan memandang Jessie dengan tatapan kesal. “Kenapa kau ini!?”

Jessie pura-pura tidak mendengar Julie dan melanjutkan ratapannya. “Ternyata bukan mimpi,” kata Jessie dengan wajah sedih. “Atau mungkin—mungkin ini mimpi. Aku hanya harus mencubit Julie lebih keras lagi.”

Julie menarik tangannya dengan kesal. “Kenapa kau tidak mencubit tanganmu sendiri, Bodoh!?”

Jessie tengah bersiap-siap untuk mencubit lengan Julie yang satu lagi. Sementara itu, Julie berusaha menangkis serangan Jessie dan berbalik menyerang Jessie dengan kukunya yang tidak terlalu tajam. Julie berusaha menangkap tangan Jessie—atau menggigitnya—atau apapun yang bisa ia lakukan untuk membalas dendam pada anak perempuan yang mengesalkan itu.

“Kau tidak akan bisa menang melawanku, Julie,” kata Jessie sambil tertawa seperti iblis. “Aku baru saja diajarkan bushido jujitsu oleh Uncle Kei. Bagaimana tangkisanku? Hebat, bukan? Memang sudah sengaja kusiapkan ilmu bela diri ini untuk berperang melawanmu.”

Beberapa hari yang lalu Jessie bercerita tentang teman ayahnya—Uncle Kei—yang baru saja datang dari Jepang dan menginap di rumah Jessie selama dua hari. Jessie berkata kalau ia diajari banyak sekali jurus-jurus mematikan dalam seni bela diri Jepang oleh Uncle Kei, tapi menurut Julie kemampuan motorik anak itu sama sekali tak ada bedanya dengan sebelumnya. Julie selalu bisa menemukan satu titik lemah yang pasti akan membuat Jessie berteriak seperti lumba-lumba.

Kuncir Jessie.

“AWWWH!” teriak Jessie kesakitan. “JULIE—”

Kedua gadis itu berkelahi lagi.

“Hey, hey. Kalian ini—selalu saja bertengkar,” kata Cathy dengan nada manja yang terdengar aneh. Ia berjalan ke arah mereka sambil membawa baki makanannya. Di sebelahnya ada Richard Soulwind yang mengamati mereka dengan tersenyum.

Gadis-gadis itu langsung terdiam.

Cathy meletakkan baki makanannya di atas meja dan mengajak Richard duduk. Ia menyeringai penuh arti. “Daripada kalian bertengkar, bagaimana kalau kalian menghabiskan waktu untuk mengagumi pacar baruku?”

Richard Soulwind mengamati gadis-gadis itu dengan tersenyum dan ekspresinya tampak sangat bersahabat. Sementara itu, para gadis The Lady Witches yang tadinya berisik tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan gadis manis yang tidak banyak bergerak—mereka terdiam kaku seperti batu.

Kayla menarik napas dalam-dalam. Ia menatap mata biru anak laki-laki itu, mengamati setiap detil tubuhnya yang mengagumkan, dan menikmati kenyataan bahwa anak laki-laki yang rupawan itu kini telah berada di tengah-tengah mereka. Kulit wajahnya yang bersinar dan putih seakan-akan telah menyihirnya.

“Rich—” kata Kayla terbata-bata. “—ard.”

Jessie, Lucy, dan Cassandra memandang Kayla dengan tenggorokan mereka yang tercekat. Mereka mengetahui bagaimana Kayla kesulitan mengucapkan nama anak laki-laki itu dengan benar. Meskipun begitu, mereka tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal yang sama. Ini terlalu sulit untuk menjadi kenyataan.

“Ya?” kata anak laki-laki itu.

“Ngg, ya—Umm, Richard,” kata Kayla. Kayla berusaha sekuat tenaga, namun lidahnya terlalu kaku untuk digerakkan. Kayla menghela napas. Ia selanjutnya menatap Jessie dan memberikan kode-kode tertentu untuk meminta bantuan.

Jessie mengangguk.

“Apa kau—dan Cathy, benar-benar—” kata Jessie perlahan-lahan.

“Pacaran?”

Suasana menjadi benar-benar hening seperti di gurun pasir. Gadis-gadis itu menanti jawaban dari Richard dengan seksama, berharap semoga ini cuma bagian dari imajinasi Cathy yang konyol, sebagaimana biasanya selalu mereka tertawakan setiap hari.

“Ya,” jawab Richard dengan lembut. “Itu benar.”

Gadis-gadis itu melongo.

“BAGAIMANA BISA?” tanya mereka secara serempak.

Cathy menekuk wajahnya dan terlihat tidak senang.

“Heh, apanya yang ‘bagaimana bisa’?” kata Cathy. “Kalian masih meragukan kecantikan alamiku?”

Ia menepuk dadanya dengan bangga, dengan mendramatisir.

“Aku ini luar biasa cantik luar dan dalam—tidak lihat? Wajar saja kan kalau ternyata Richard selama ini tertarik padaku? Hanya saja ia baru berani bilang sekarang.”

Gadis-gadis itu melenguh seperti mau muntah.

“Ya, benar,” kata Richard dengan sopan. “Aku meminta Cathy untuk menjadi pacarku di kelas Inggris tadi pagi. Dan ia menerimanya dengan sangat baik.”

Pernyataan Richard barusan akhirnya menyibak satu hal terpahit yang ada di bayangan gadis-gadis itu. Ini bukan imajinasi Cathy. Cathy memang berpacaran dengan idola mereka. Tidak bisa dipercaya.

“Richard,” kata Lucy.

Ia berusaha menormalkan pernapasannya. “Apa kau akan—di sini sampai k—”

Lima belas detik telah berlalu, dan Lucy tak pernah menyelesaikan kalimatnya. Gadis-gadis itu pun mulai menatap Lucy kebingungan.

“Sampai—?” tanya Richard perlahan dengan wajah bingung.

Tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang Lucy katakan, namun seolah dapat membaca isi pikiran Lucy dengan tepat, Kayla akhirnya mencoba meneruskan pertanyaan Lucy dengan sedikit keyakinan.

“—sampai kapan? Kupikir Lucy ingin bertanya sampai kapan kau akan berada di sini? Benar kan, Lucy?” lanjut Kayla. Lucy mengangguk cepat dan menunduk dengan sangat malu.

Richard tampak berpikir sejenak.

“Entahlah,” kata Richard sambil mengangkat pundaknya. “Cathy hari ini mengajakku ke sini untuk makan siang bersama kalian, dan kupikir tak ada salahnya menghabiskan jam makan siang dengan teman-teman baru.”

Richard tiba-tiba mengernyitkan dahinya dengan ragu, bertanya dengan perlahan. “Apakah kalian merasa terganggu dengan keberadaanku?”

“Tidak, tidak!” tukas Cassandra secepat kilat. Ia terlihat cemas dan senang di waktu yang bersamaan. “Kami tidak merasa terganggu. Kami sangat senang.”

Cathy mengernyitkan dahinya dan melayangkan pandangan sengit pada Lucy dan Kayla. Selanjutnya, Cathy mengirimkan sinyal-sinyal yang mengancam dari semburat otot wajahnya yang menakutkan, menyiratkan peringatan khusus ke gadis-gadis lainnya.

“Tentu saja tidak, Richard,” kata Kayla sambil tersenyum. “Kami semua sangat senang kau berada di sini. Kami hanya sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Cathy mengajak pacarnya makan dengan kami semua. Kami hanya perlu sedikit penyesuaian. Kuharap itu tidak mengurangi kebahagiaanmu hari ini.”

Kayla menatap gadis-gadis lainnya. “Benar kan, teman-teman?”

Gadis-gadis itu langsung mengangguk dengan antusias. Semuanya tampak sangat bersemangat, kecuali Julie. Gadis itu hanya menyengir santai sambil menikmati kacang panggangnya dengan khidmat, tanpa mengucapkan komentar apapun. Sesungguhnya ia merasa sangat bersyukur karena teman-temannya masih tidak menyadari kalau ia belum mengeluarkan sepatah katapun dari tadi.

“Tentu saja. Jessie kan mengajak pacarnya Nick makan siang dengan kita. Kurasa tidak ada masalah dong kalau aku akan selalu mengajak Richard makan siang dengan kita juga?” protes Cathy dengan nada memaksa. “Oh iya, ngomong-ngomong Nick di mana, Jess? Aku tidak melihatnya dari tadi.”

Jessie menopang dagunya sambil termenung.

“Dia sedang sakit,” jawab Jessie. “Katanya sih dia kena diare. Tapi kurasa itu gara-gara dia kebanyakan mengolok-olok Julie waktu makan siang kemarin. Dia pasti kena kutuk Julie.”

Julie terkikih seperti nenek sihir tua.

“Laki-laki itu,” kata Julie. “Sudah kubilang, kalau ia mengolok-olokku lagi, aku akan mengutuknya dengan mantera suku Inca. Kena batunya kan dia sekarang?”

Julie menyeringai senang—sampai akhirnya secara tak sengaja ia bertatapan dengan wajah Richard. Seringai Julie langsung mengkerut—dalam sekejap.

“Richard, aku tahu ini saat yang kurang tepat,” kata Jessie. “Tapi—kenapa kau jadian dengan Cathy? Maksudku, um—kau dan Julie, kemarin, ya—kau tahu, kan?”

Jessie bertanya dengan senyum yang sangat menggoda. “Apa kau akhirnya menyerah setelah mengetahui fakta kalau Julie sebenarnya lesbi?”

Julie terlihat mengamuk di atas tempat duduknya. Sementara itu, Richard hanya tersenyum simpul. Lesung pipitnya melekuk ke dalam pipinya, seperti lukisan sabit indah yang menari di atas wajahnya.

“Tidak, Jessie,” kata Richard sambil menahan senyumnya. “Aku memang sudah menyukai Cathy sejak lama. Baru sekarang aku menyatakannya secara langsung. Lagipula—”

Richard memperlihatkan kebingungannya.

“—aku tak tahu kalau Julie lesbi.”

Gadis-gadis itu tertawa histeris. Muka Julie langsung memerah seperti paprika. Ini benar-benar memalukan. Rasanya ingin sekali ia merebus kulit Jessie dan membuat fillet dengan kecap asin di atasnya.

“Aku BUKAN lesbi,” kata Julie sekonyong-konyong, melupakan aksi diam yang tadi dilakukannya. Seperti biasa, kali ini tubuhnya mulai bergerak sendiri tanpa perlu aba-aba lagi dari sel-sel otaknya. “Lagipula sudah kubilang, puisi itu—cuma puisi biasa. Benar kan, Richard? Ahh—kenapa sih kalian tidak percaya padaku?”

Gadis itu terus-menerus tertawa sambil memegangi perut mereka. Sebaliknya, Richard justru terlihat tidak nyaman dan mengubah senyumnya menjadi ekspresi yang lebih datar.

“Aku ingin kalian tahu, Julie dan aku tak memiliki hubungan apa-apa,” kata Richard dengan nada yang dingin. “Kami baru beberapa kali bertemu—bukan pertemuan yang berarti. Lagipula, aku bersama dengan Cathy sekarang. Kuharap kalian dapat menghargai perasaannya.”

Julie tak mengerti mengapa ia merasa terpukul mendengar pernyataan Richard barusan. Pertemuan-pertemuan mereka mungkin memang bukanlah pertemuan yang penting, tapi anak laki-laki itu tak pernah bersikap sedingin ini sebelumnya. Richard terlihat seperti orang yang berbeda.

“Ah—terima kasih, Sayang,” kata Cathy sambil tersipu-sipu malu. Ia bergelayut di bahu Richard dan mengusap kedua bola matanya sendiri secara berlebihan. “Aku sangat terharu. Sungguh! Kau terlalu romantis.”

Gadis-gadis itu terlihat ingin muntah saat mendengar ucapan Cathy.

Ewwh, Cath,” tukas Jessie. “Jangan bermesraan di meja makan. Kau sendiri sering memarahiku kalau aku bermesra-mesraan dengan Nick saat jam makan siang.”

Cathy cemberut dan menjulurkan lidahnya.

“Jadi,” kata Kayla sambil menepuk tangannya. “Gerombolan pasukan jam makan siang kita bertambah satu orang lagi, kan? Selamat datang, Richard.”

Kayla memberikan senyumannya yang paling ramah. Senyuman hangat yang sangat serasi dengan rambut hitam legam dan bola mata Asianya yang indah, yang selalu disukai Julie sebagai penggemar Kayla sejak dulu.

“Kau tahu, Richard? Kehadiranmu di sini benar-benar akan mengubah suasana jam makan siang The Lady Witches untuk seterusnya dan seterusnya. Cathy dulu selalu membicarakanmu setiap hari, dan dengan adanya kau di sini, semuanya akan benar-benar berubah. Aku masih tak percaya ini.”

Cathy mendorong kursinya ke belakang.

“Yaa—tidak hanya aku, kan?” kata Cathy. “Mereka pun ikut membicarakanmu, Richard. Kurasa kau harus berhati-hati, karena seandainya saja kau tidak menyatakan cinta padaku hari ini—Richard, suatu saat nanti salah satu dari mereka pasti akan mencegahmu untuk melakukannya.”

Cathy menyibakkan rambut di dahinya dengan angkuh.

“Julie lesbi. Jessie sudah punya pacar. Kayla sedang PDKT dengan Steve. Cassandra terlalu pemalu dan membosankan, tapi dia punya selera fashion yang bagus. Dan—Lucy,” kata Cathy. “Dia sangat gila belajar. Dia akan membuat kepalamu sakit nanti.”

Cathy melanjutkan pidatonya dengan lancar.

“Berhati-hatilah, Sayang. Mereka semua mengincarmu dan mereka sangat iri dengan kecantikanku. Berita jadiannya kita hari ini adalah sebuah guncangan besar untuk mereka,” kata Cathy lagi. “Jangan sampai kau terjerumus dalam tipu daya wanita-wanita ini. Mereka sangat berbahaya.”

Cathy tak sempat melanjutkan lagi pidatonya. Gadis-gadis itu bangkit dari tempat duduk mereka, bersiap-siap melakukan serangan balasan. Percakapan hari itu pun berakhir dengan jeritan Cathy yang melolong tajam.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

23 thoughts on “11. Kejutan (3)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. kenapa richard berubah ya?kayaknya ada aroma balas dendam ato sngaja bikin julie cemburu ya thor? can wait to read the next chapt 😀

  3. Kok Richard jadian sma Cathy ? Kenapa tiba2 Richard berubah jadi dingin ? Atau jangan2 Richard pacaran sama Cathy biar bisa deket sama Julie ?? Atau mau buat julie cemburu ?? Aaaaaa penasaraaaannnn

  4. wow.. kyaknya Richard sebel sama Julie gara-gara omongan yg kemarin deh.. akankah nanti ada “third person” between Julie and Richard? or “third person” is Cathy and chairman of the school newspaper club ?? hoho I was curious, your story really interesting
    so, aku tunggu next chapt-nya kak 🙂 ohya Missed Julie’s Fanchophobia 😀 hehe

  5. Kira kira ini cerita endingnya kapan ya?? Tahun 2015 kah??? Sy baru kali ini lihat para comentnya yang bagus dan antusias tapi lanjutan ceritanya terbit tiap bulan sekali.bisa bisa nunggu sampai jamuran nih hehehehe…. Sy baca cerita online, tiap melihat respon yg cukup antusias ke penulis, penulis lebih semangat dan tak jarang 3 atau 5harian cerita selanjutnya sudah siap kami baca. So jangan kecewakan kami dong kak, mungkin bisa sebulan 2 atau 3 kali boleh juga biar kita juga semangat baca alur ceritanya…..

  6. Ini endingnya selesainya kapan ya? Tahun 2015 kah? Bisa bisa nunggu sampai jamuran nih hehehehe… Kalau bisa lanjutannya ditampilkan sebulan 2 atau 3 kali dong kak. Banyak juga sang penulis, 3 sampai 5 hari sudah menampilkan kelanjutannya lagi tiap para comentnya bagusdan antusias seperti kita ini. So jangan kecewakan kami dong kak..

    • Wah! Tebakannya bener banget…. Hehehe
      Padahal dua tahun lalu aku masih belum kepikiran ini selesainya kapan.. (endingnya juga belum kepikiran hehehe)

      Sumaantapppp Sudarsono..!! ^_^

      • Jangan lupa baca update yang terbaru yaa.. Julie Light dan Kelas Prancis akan tamat tahun ini 😀

        Selamat membaca! 😉

  7. kyaknya richard lagi marah dech sma julie gara” kasus puisi di koran kemarin
    julie juga udh mulai menunjukkan tanda” suka nich sma richard
    aduh bca part ini bener” nyesek soalnya richard jadian ama si cathy
    aduh semoga aja mereka cepat putus terus richard jadian dech dengan julie
    jangan lama” yah kak lanjutannya udh gak sbar
    semangat nulisnya kak 🙂

  8. Ping-balik: 11. Kejutan (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s