11. Kejutan (2)

Comments 26 Standar

8069009-A-Shocked-Woman-With-Pimples-Scattered-All-Over-Her-Face-Stock-Photo

Julie tak pernah benar-benar memperhatikan apakah ada perbedaan perilaku di antara teman-temannya sejak insiden puisi Richard itu terjadi.  Tapi setidaknya ada satu orang yang benar-benar sensitif di kelompok mereka yang mungkin mengetahuinya.

“Kau tahu di mana Cathy?”

Kayla Shaker membuka percakapan siang itu dengan pertanyaan yang dengan segera memancing keingintahuan para gadis. Sebenarnya ketidakmunculan salah satu di antara mereka ketika jam makan siang bukanlah hal yang tidak biasa terjadi, namun tampaknya memang tidak satu pun dari mereka yang mengetahui di mana keberadaan gadis itu hari ini.

“Entahlah,” kata Cassandra. “Aku mencoba menghubungi ponselnya dari tadi tidak diangkat. Tidak ada dari kita yang sekelas dengannya pagi ini, jadi kita tidak tahu di mana dia sekarang.”

Jessie mengernyitkan wajahnya, lalu melayangkan pandangan sengit ke arah Julie.

“Kurasa Cathy masih marah padamu, Julie,” kata Jessie. “Kau dan puisi konyolmu itu—kau tahu kan betapa anehnya jam makan siang kita kemarin sejak kami tahu Richard membuat puisi untukmu?”

Suasana jam makan siang kemarin memang terasa benar-benar janggal, di mana The Lady Witches yang biasanya heboh membicarakan aktivitas mereka yang melibatkan Richard—atau semacamnya, berganti menjadi drama jam makan siang yang mendebarkan dari Cathy Pierre yang masih ngambek karena kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi pada hari sebelumnya.

Julie tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki semuanya. Yang jelas, ia sudah melakukan semua yang bisa ia lakukan. Bahkan ketika teman-temannya yang lain sudah mulai memaafkan Julie dan melupakan kejadian itu, Cathy masih saja bersikap seolah-olah Julie telah merebut Richard dari pelukannya. Suasana hati Cathy memang tidak pernah bisa ditebak.

“Jessie,” kata Lucy. “Puisi Richard tidak konyol. Puisi Richard sangat bagus. Kau jangan merendahkan Richard seperti itu.”

Pernyataan Lucy mengingatkan para gadis akan kesalahan ucapan Jessie yang menyinggung perasaan mereka. Mereka pun—tak dipungkiri lagi—langsung mengerubungi Jessie dengan tuntutan protes secara bertubi-tubi, yang membuat Jessie terpaksa minta maaf karena gadis-gadis itu semakin menggila dengan celotehan mereka yang berisik.

“Ya, ya,” kata Jessie sambil menggerutu. “Aku minta maaf. Aku minta maaf. Maksudku Julie yang konyol—ah, kalian ini. Harusnya kalian protes ke Julie, bukan padaku. Bagaimana sih?”

Julie mendengus datar.

“Kenapa kalian tidak minta dibuatkan puisi saja ke Richard, alih-alih menyalahkanku setiap hari. Kan sudah kubilang—aku ini korban, korban,” kata Julie sambil mengunyah kentang gorengnya dengan santai. “Aku yakin kalau kalian menemui Richard sekarang dan memintanya membuatkan puisi, dia akan membuatkan puisi yang sama bagusnya—berkali-kali lipat lebih bagus malah. Seperti yang kalian bilang, dia seorang jenius. Ya, kan?”

Cassandra mengernyit dan menggigit bibirnya.

“Masalahnya—tidak segampang itu, Julie. Kau tahu kan, aku—um, aku terlalu malu untuk mengungkapkan perasaanku,” kata Cassandra, disusul oleh Lucy, Kayla, dan Jessie yang mengangguk mengiyakan. “Bagaimana kalau nanti dia berpikir yang tidak-tidak tentangku?”

Yeah, penakut,” sindir Julie.

Julei tidak pernah habis pikir kenapa gadis-gadis ini selalu saja membicarakan Richard setiap saat, namun tak satupun dari mereka yang pernah benar-benar melakukan aksi nyata untuk mendekati anak laki-laki itu. Yang pernah mereka lakukan paling-paling hanya prestasi meminjam pulpen Richard, prestasi duduk di sebelahnya Richard, atau prestasi mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Richard.

Benar-benar membanggakan.

“Tapi aku benar-benar tak mengerti mengapa Richard membuat puisi cinta untukmu, Julie,” cetus Kayla, membangkitkan teori konspirasi yang sedang panas di Nimber saat ini. “Kalau ceritamu memang benar—Richard membuatkan puisi untukmu secara random, kenapa puisi cinta? Maksudku, dia kan bisa membuat puisi dengan genre yang lain. Apa dia sendiri juga suka padamu, Julie?”

Julie merasa hidungnya amat sangat gatal.

“Kayla Shaker,” kata Julie sambil menyebutkan nama lengkap Kayla dengan datar. “Apa teori ketiak feromon itu masih belum cukup memuaskan untukmu?”

Julie memindahkan pantatnya dari kursi ke posisi yang lebih nyaman. Gadis-gadis ini masih saja membuat teori-teori yang membuat kepalanya jengah. Dia—seperti biasa—akan mengganti keadaan ini dengan mengembalikan lagi topik pertama yang awalnya akan mereka bicarakan. Jurus mengganti topiknya yang terkenal.

“Ngomong-ngomong, kalian masih tidak tahu di mana Cathy? Sudah setengah jam lebih lho kita menunggu di sini,” kata Julie sambil melihat-lihat sekeliling. Ia hanya bisa melihat beberapa anak perempuan berlalu-lalang, namun tak satu pun dari mereka yang tampak mencolok, sebagaimana Cathy Pierre selalu terlihat paling mencolok di ruangan apapun yang ia tempati. Tampaknya ia tak perlu mencari terlalu lama, karena beberapa puluh detik kemudian, gadis itu muncul dari pintu kafetaria dengan wajah yang berseri-seri.

Alohaaaa, gadis-gadis!” kata gadis itu sambil berjalan mendekati meja mereka yang tidak terlalu jauh dari pintu. Wajahnya terlihat sangat sumringah, benar-benar gembira, kedua ujung bibirnya ditarik selebar-lebarnya ke tengah pipinya, seperti hampir putus. Ia memperlihatkan ekspresi yang paling gembira yang belum pernah mereka lihat sebelumnya selama ini.  Perilaku gadis ini tentu saja membuat heran para gadis lainnya.

Mereka semua—bahkan Julie—merasa luar biasa penasaran dengan hal apa yang menyebabkan perubahan mood Cathy secara drastis hari ini.

“Kenapa kau?” tanya Julie. “Kesurupan lagi?”

Cathy menggeleng sambil menahan senyumnya yang benar-benar tidak tertahankan.

“Tidak,” kata Cathy. “Gadis-gadis. Aku akan memberikan kalian kejutan yang paling menghebohkan abad ini. Tunggu saja.”

Tidak seperti biasanya, gadis itu dengan sabar menunda cerita yang ingin ia sampaikan. Ia duduk manis di kursinya dengan tenang, sambil menahan senyumnya, bukannya memancing-mancing mereka untuk bertanya apa yang terjadi seperti yang biasanya ia lakukan. Sesekali ia mengerling ke arah pintu kafetaria, yang membuat gadis-gadis ini semakin menggila karena dihantui rasa penasaran.

“Cathy, kenapa kau ini?” tanya Kayla gemas. Ia melihat gadis-gadis lainnya, namun gadis-gadis itu pun sama penasarannya dengan dirinya.

“Baiklah. Kupikir ada sesuatu yang berhubungan dengan Richard, karena biasanya kau menjadi aneh begini kalau berhubungan dengan Richard. Benar, kan?” kata Kayla lagi. Gadis-gadis yang lainnya pun mengangguk mengiyakan.

“Aku sebenarnya tak tahu sih, tapi pasti terjadi sesuatu saat kau—”

Suasana tiba-tiba berubah menjadi sunyi.

Seorang anak berkulit seputih pualam memasuki ruang kafetaria dan menyihir semua orang yang berada di sekitarnya. Matanya terlihat sangat biru, begitu birunya sampai kau seolah-olah merasa sedang tenggelam dalam lautan dari sorot mata birunya yang dalam. Ia melihat sebentar ke arah gadis-gadis itu, lalu berjalan perlahan mendekati meja mereka, dan semua orang tiba-tiba merasa kesulitan bernapas.

“Rich—” kata Cassandra dengan suara tercekat.

Anak laki-laki itu tersenyum.

“Halo, Cassandra,” kata anak laki-laki itu. Ia pun menyapa gadis-gadis lainnya dengan ramah dan kemudian memandang Cathy dengan lembut. “Apa boleh aku bergabung dengan kalian siang ini?”

Gadis-gadis itu hanya bisa terdiam dengan mulut yang menganga.

“Tentu saja, Sayang,” kata Cathy sambil merengek manja. Ia merangkul tangan Richard dengan mesra dan membuat gadis-gadis yang melihatnya terlonjak kaget seperti tidak percaya.

Cathy memandang gadis-gadis yang terkejut itu dengan wajah sumringah.

“Perkenalkan, Gadis-gadis. Richard Soulwind,” kata Cathy. Ia menambahkan satu kata lagi dengan nada genit, sebelum berlalu pergi untuk mengambil makanan.

“Pacarku.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

26 thoughts on “11. Kejutan (2)

  1. Kak, aku udah nunggu lama lanjutannya. Udah nggak sabar kepengen lihat richard ungkapin perasaan sama julie. Tapi sepertinya yang dapat enaknya kok selalu cathy sih kak, pdahal pndapoat sy, cewek seprti dia itu udah nggak bagus bagusnya buat dijadiin temen. Super egois dan selalu setiap cowok yang beken sedikit mau dijadikan pacar semua. Enakk banget ya, kasihan donk nanti peran utamanya dapatnya sampah dari dia, nah dia enak selalu dapat yang pertama.hufff…

  2. hai kak! 🙂 aku reader baru mu.. crita kkak bgus bnget deh., I’m falling in love with your character, Julie Light. Oh! she’s always making me laughing 😀 I hope Julie can be speaking French language.. Ditunggu kelanjutannya, kak! maaf klau b.inggris ku jlek, maklum msih belajar^^

  3. omg kak,,, ceritamu mengejutkan..gimana cathy bisa pacaran sama Richard?? padahal yang aku nunggu banget julie sama richard.. lanjut ya kak

    • Makasih Sumar. 😀
      Sama, aku juga penasaran. Hehehe.
      Update berikutnya sudah ku-publish, yaa.
      Selamat membaca! 😉

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  5. Ya kok bsa sich richard mlah jadian ama cathy gak terima
    putusin jadian ama julie aja lebih cocok
    daripada si cathy mak lampir 😛

  6. aaaakkk!! pas baca judulnya:kejutan, aku mikir2 kejutan bagus/buruk…kukira bagus, tapi ternyata——akhh bikin potek serius ini kak T.T
    Julie, sabar ya. Ini cobaan buat kamu.
    Kak Naya, makasih udah bikin potek diriku T.T

  7. hmm .. aku baca dari awal bab baru sampe sini dannnn omg ! caatt klo nanti richard putus terus pcrn sama julie ohnoo masa si julie dpt bekasan -,- kasian julie {}

  8. Ping-balik: 11. Kejutan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s