11. Kejutan

Comments 14 Standar

437569-royalty-free-rf-clip-art-illustration-of-a-cartoon-crying-girl-throwing-a-temper-tantrum1

Dua hari yang lalu—tepat pada saat insiden puisi Richard itu terjadi, Julie telah menghampiri Jerry yang kebetulan ternyata masih berada di ruangan favoritnya di lantai 4—ruangan klub koran sekolah—dan mengagetkan laki-laki itu dengan kedatangannya yang sangat mendadak. Laki-laki itu terlihat shock karena melihat Julie yang menghampiri ruangannya sambil marah-marah—sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Prahara itu kemudian berakhir membaik dengan Jerry yang bersedia mengakui kesalahannya dan menuruti permintaan Julie untuk menarik koran-koran sekolahnya hari itu juga. Julie—yang sedari awal memang sangat berharap semua berjalan sesuai dengan keinginannya—tak henti-hentinya berterimakasih pada Tuhan atas keajaiban yang dialaminya hari itu, meskipun di satu sisi juga ia masih saja mengerutuki kebodohan mutakhir dari sel-sel otaknya yang terbatas itu, yang selalu membuatnya terlibat masalah-masalah.

Kapan pun, di mana pun.

Dan sekarang, insiden itu sendiri sudah berlalu cukup lama—tapi Julie tentu saja tidak bisa melupakan kebodohan itu begitu saja.

“Jadi—Jerry,” kata Julie sambil bersungut-sungut saat ia mampir ke ruang klub sekolah saat jam pergantian kelas. “Kalau kau macam-macam lagi dengan artikelku, maka aku akan mengamuk lagi seperti sapi gila waktu itu.”

Julie memicingkan matanya.

“Aku tak keberatan kalau kau membatalkan jabatan editor junior yang kau janjikan kemarin, tapi seperti kesepakatan kita kemarin—,” kata Julie, “kumohon jangan publikasikan apapun tanpa sepengetahuanku lagi. Oke?”

Julie mencoba menegaskan kembali apa yang telah dijanjikannya dari Jerry waktu itu. Demi apapun yang bisa dilakukan Jerry untuk menarik semua koran sekolah itu dari peredarannya di sekolah, Julie bersedia menukar jabatan editor junior yang ditawarkan kepadanya saat membuat artikel wawancara Richard beberapa waktu yang lalu.

Jerry mengangguk mengiyakan.

“Baiklah. Kau boleh pegang kata-kataku,” kata Jerry sambil mengeja kata-katanya. “Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

Jerry mencondongkan tubuhnya dan menggoyangkan jari telunjuknya. “Tapi mungkin lain kali sebaiknya kau lebih berhati-hati dengan bahan-bahan yang kau berikan, Julie. Di luar sana, mungkin saja ada orang-orang yang benar-benar berniat jahat, apalagi dengan bahan berita yang begitu menggoda. Mereka tidak seperti aku yang baik hati ini, bukan?”

Jerry mengakui, sesungguhnya ia sama sekali tidak berniat untuk merusak hubungan atau semacamnya—hanya tindakan iseng seorang kepala editor yang ingin mempublikasikan berita bagus untuk menaikkan rating. Tadinya ia pikir, ini hanya lelucon yang menyenangkan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Julie akan menjadi marah seperti yang ditunjukkannya saat itu. Apalagi, gadis itu biasanya cukup cuek dengan apapun yang terjadi di sekelilingnya dan tidak peduli dengan gosip apapun yang sedang menimpanya.

Kali itu, dugaan Jerry ternyata salah.

Gadis itu mungkin tidak terlihat menakutkan, lebih mirip sapi yang belum dijinakkan, tapi Jerry memilih untuk melihat Julie dalam kondisi biasanya. Ia menyadari kalau kehilangan Julie yang biasanya rasanya mungkin tidak bisa digantikan oleh lelucon manapun di dunia ini—gadis itu terlalu menyenangkan untuk disia-siakan. Ia pun memutuskan untuk meminta maaf saat itu dan segera menarik koran sekolah yang sudah diedarkannya—yang untungnya belum terlalu banyak.

“Kau sudah cukup bersikap tolol dan menyusahkanku dengan mempublikasikan puisi itu tanpa seizinku, Jerry. Mana mungkin aku memberikan pujian padamu?” kata Julie sinis. “Kau tahu kan, cerita itu bisa merusak hubunganku dengan teman-temanku—Cathy, Kayla, Jessie, Cassandra, Lucy, dan gadis-gadis lainnya juga—”

Jerry terlihat frustasi.

“Baiklah, baiklah. Julie—aku sudah minta maaf, kan? Harus berapa kali aku meminta maaf supaya kau tidak mengungkit-ungkit hal itu lagi?” sergah Jerry. “Setidaknya aku sudah menarik semua koran dan menggantinya dengan yang baru. Kau tahu kan berapa kerugian yang kualami untuk mengganti semuanya?”

Julie mengangguk pelan.

Ia ingat kalau Jerry telah menggunakan uang pribadinya untuk mengganti semua koran sekolah hari itu dengan cetakan yang baru. Cetakan yang baru. Julie tak henti-hentinya takjub dengan keputusan yang diambil laki-laki ini. Tidak semua orang mau melakukan tindakan sejauh itu, apalagi Jerry sebenarnya bisa saja menolak menarik koran-koran itu kembali. Biar bagaimana pun juga, Julie menyadari penuh kalau ini semua sebenarnya berawal dari kebodohan Julie sendiri.

“Ya. Aku juga minta maaf, Jerry,” kata Julie sambil mendesah. “Aku tidak menyangka kalau kau benar-benar mengganti koran-koran itu dengan koran-koran yang baru seperti permintaanku. Kupikir, kau hanya akan menariknya, atau membuang satu halaman saja.”

Jerry tergelak.

“Dan membiarkan koran-koran itu tergeletak begitu saja dalam keadaan tidak sempurna? Oh, Julie,” kata Jerry sambil tertawa. “Kau sudah tahu sifatku, kan? Kalau aku tidak seperfeksionis ini, mana mungkin aku bisa terpilih menjadi ketua klub koran sekolah. Profesionalisme di atas segalanya. Kesempurnaan tulisan di atas segalanya.”

Jerry menepuk-nepuk kepala Julie seperti anak kecil. “Kau benar-benar harus belajar banyak dariku, Nak.”

“Apa?” tanya Julie sinis. Ia merasa seperti sedang diremehkan. “Kau? Profesional?”

Jerry menyeringai.

“Ya, profesional.”

Laki-laki ini mulai bersikap angkuh lagi, seperti seorang kakek tua yang hendak mengajarkan seluruh nasihat kehidupan kepada cucu-cucunya. Julie tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menanggapi kekonyolan laki-laki ini dengan tanggapan yang pantas.

“Kalau kau memang profesional, Mr.Thompson, kau tidak akan mempublikasikan puisi itu sejak awal tanpa memikirkan akibatnya,” kata Julie. “Akuilah—kalau aku lebih profesional darimu. Mungkin aku yang akan menjabat sebagai ketua klub sebentar lagi.”

Jerry memicingkan sebelah matanya.

“Justru karena aku seorang profesional, Ms. Light, aku mempublikasikan berita-berita itu sebagaimana ia layak untuk dipublikasikan. Bahkan dari potongan-potongan kertas yang sudah dirobek sekalipun. Kau tahu kan betapa mustahilnya itu untuk dikerjakan seorang amatiran?” lanjut Jerry tak mau kalah. “Tapi karena aku kasihan padamu—baiklah, demi hubunganmu dan teman-temanmu yang sangat berharga itu, aku rela mengorbankan kebanggaanku dan egoku ini.”

Jerry menegakkan alisnya. “Bagaimana? So sweet, bukan?”

“Kau mulai kedengaran seperti Nick,” kata Julie sambil berpura-pura menahan muntah. “Baiklah. Supaya profesionalisme-mu ini bisa menjadi semakin sweet—kalau begitu, apa aku masih bisa menerima tawaran sebagai editor junior lagi, Jerry?”

“Hmm—” kata Jerry. “Tidak.”

“Payah,” kata Julie. “Ya sudahlah. Aku akan menggulingkan jabatanmu dengan jerih payahku sendiri. Lihat saja nanti.”

Jerry tergelak.

“Coba saja,” kata Jerry. “Aku akan melihat masa-masa itu, di mana hanya akan terjadi kalau aku sudah pensiun. Itu masih lama. Masih lama.”

Julie hanya menanggapi kalimat itu dengan cibiran.

“Oh ya, ngomong-ngomong,” kata Jerry, bertepatan dengan bunyi bel sekolah yang menandakan akhir dari jam istirahat mereka. “Apa ini artinya, kita sudah bisa berdamai sekarang, Julie? Damai? Kau tidak akan menuntutku lagi, kan?”

“Ya,” jawab Julie santai. “Peace.”

Jerry tersenyum senang.

“Baiklah. Satu lagi,” kata Jerry sambil menunjukkan wajah penasaran. “Richard—apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan apa-apa pada anak laki-laki itu?”

“Tidak,” kata Julie. “Kenapa memangnya?”

“Tidak apa-apa,” kata Jerry sambil tersenyum.  Ia melambaikan tangannya saat Julie berlalu pergi menuju ke kelasnya. “Selamat belajar, Julie.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

14 thoughts on “11. Kejutan

  1. Hai, Kak Sonya!! Udah lama ngefollow nih, tp baru sempat komen skrg. Sebelumnya minal aidin wal faidzin dulu ya kak, mohon maaf lahir batin.. Ceritanya seru banget! Selalu bikin penasaran setiap bagiannya. Ditunggu update berikutnya ya kak 😀

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. I’ve been missing Julie and the girls so bad! You’re my favourite blogger writer! I enjoy your humour and interesting plot. So much fun! Thanks for this amazing story, Author Naya 😉

  4. Ping-balik: 10. Krisis (4) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s