10. Krisis (4)

Comments 25 Standar

newspaper_bw

Julie menarik koran yang sedang dibaca oleh Charlotte dan gadis itu menatapnya kebingungan.

“Ada apa, Julie?” tanya Charlotte.

“Tidak apa-apa,” kata Julie. “Ada kesalahan produksi hari ini, jadi korannya kutarik dulu. Kau belum baca semuanya, kan?”

Charlotte menggeleng. “Belum. Tapi—”

“Oke, nanti aku kabari lagi ya,” tukas Julie. Sepertinya masih belum terlambat sampai semua koran ini terkumpul di tangannya—anak-anak ini membaca seperti siput.

Julie menghampiri meja lain untuk mengambil koran berikutnya.

“Lucas!” seru Julie.

Seorang anak laki-laki yang dipanggil Lucas menoleh dengan sangat cepat. Lucas Rider—seorang anak laki-laki yang sangat tergila-gila pada Julie—pernah menjadi teman sekelompoknya di Kelas Sejarah. Di tangannya terdapat sebuah koran sekolah yang sepertinya sedang dibacanya di atas meja, dan langsung menarik perhatian Julie saat itu juga.

“Aku pinjam dulu, ya,” kata Julie ringan. “Jerry benar-benar bodoh, tulisanku ada yang salah diketik olehnya, jadi—”

Julie kaget karena Lucas tiba-tiba menyambar tangan Julie dan menariknya ke arahnya. Tepat ketika Julie hendak mengambil sebuah koran sekolah dari genggaman tangannya itu.

Lucas tersenyum sinis. “Julie.”

Julie tertawa kecil. Ia merasakan firasat buruk, jangan-jangan Lucas sudah membaca puisi itu. Namun ia berharap semoga ini hanya dugaannya saja.

“Kenapa kau ini?” Julie berpura-pura lugu. “Ayo, berikan padaku sini. Ada yang harus diperbaiki.”

Lucas tetap menahan tangannya dan tidak memberikan ekspresi lebih banyak lagi.

“Kami sudah membacanya, Julie!” kata seorang anak laki-laki berkulit hitam yang duduk tepat di sebelah Lucas. Anak laki-laki itu—berkebalikan dari Lucas yang terlihat lebih datar dan tanpa ekspresi—berbicara dengan nada suara dan ekspresi yang sangat bersemangat.

“Semuanya!”

Julie berusaha keras mengingat siapa anak ini. Julie sama sekali tidak tahu namanya, tapi sepertinya anak laki-laki ini dan Lucas—mereka berdua telah membaca puisi Richard.

Ini sangat gawat, pikir Julie.

Anak laki-laki itu merebut koran sekolah dari tangan Julie dan sibuk membolak-balik halaman koran itu untuk menunjukkan bagian mana yang ia maksudkan. Julie berusaha meraih kembali, namun tangannya masih ditahan oleh tangan Lucas.

“Puisi ini—,” katanya lagi, “Aku benar-benar tidak percaya! Bahkan akhirnya Richard pun berhasil takluk padamu! Oh, Julie. Kau ini benar-benar gadis yang luar biasa!”

Suara anak laki-laki itu terdengar terlalu nyaring.

“Lihat, Lucas,” kata si anak berkulit hitam pada Lucas, “Jadi, Sang Pangeran telah tunduk pada The Unbeatable, kau bisa bayangkan itu?”

Anak laki-laki itu terus saja berbicara tanpa henti.

“Julie Light benar-benar hebat! Tidak hanya Lucas saja yang ditolak, bahkan Richard Soulwind yang sangat terkenal pun juga akhirnya bertekuk lutut di hadapannya,” kata anak laki-laki itu. “Tapi Lucas—sainganmu untuk mendapatkan Julie pun menjadi semakin berat, Kawan! Richard—sekarang Richard! Bagaimana mungkin kita mengalahkannya?”

Lucas menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu,” kata Lucas. Ia memandang Julie lemah. Julie menjadi salah tingkah. “Tapi kenapa Julie? Kenapa melakukan ini?”

Julie tak yakin bisa menjelaskannya dengan baik. Terlebih lagi, ia sendiri pun sedang sangat tidak mood menjelaskan apa pun pada siapa pun. Situasi seperti ini sangat menyebalkan untuknya. Sangat membosankan. Ia hanya ingin ini semua cepat berakhir, dan semuanya kembali lagi menjadi normal.

“Um, begini,” kata Julie. “Boleh aku pinjam koran itu dulu?”

Julie menyeringai lebar.

Lucas tidak menjawab namun tetap memegang tangannya dengan erat. Ia tidak melepaskannya sama sekali. Apalagi si anak berkulit hitam menyebalkan itu memprovokasi Lucas dengan kata-katanya yang semakin provokatif. Julie benar-benar penasaran siapa nama anak laki-laki itu.

“Lucas?”

Lucas tidak bergeming.

Rasanya Julie ingin menari hula-hula di Benua Antartika.

“Ayolah,” bujuk Julie. “Lepaskan aku dulu, ya?”

Ia tidak bisa melawan kekuatan tangan Lucas yang berotot besar, sama tak berdayanya seperti waktu ia terkulai tak berdaya melawan ibunya yang memaksanya untuk pergi mendaftar ke sekolah barunya dengan cengkraman Rambonya yang terkenal itu beberapa bulan lalu.

Ia harus berbuat sesuatu yang lebih cerdas.

“HAH! CATHY!!”

Julie berpura-pura terkejut sambil melihat ke arah meja tempat para gadis-gadis The Lady Bitches duduk. Ia berekspresi seolah-olah Cathy Pierre sedang kebakaran jenggot, atau semacamnya—yang penting menarik perhatian mereka berdua. Kedua anak laki-laki itu pun langsung mengalihkan perhatian mereka pada wajah Cathy Pierre.

Tepat seperti dugaan.

Pegangan tangan Lucas menjadi longgar. Ini benar-benar seperti yang Julie duga—trik yang sama selalu saja berhasil. Julie pun memanfaatkan kesempatan emas ini untuk membebaskan tangannya dari genggaman Lucas dan merebut kembali koran sekolah itu dari si anak berkulit hitam.

“Aku ambil, yaa!” tukas Julie sambil merebut koran yang ada di hadapannya itu. Secepat kilat ia merobek halaman yang berisi puisi Richard, meremukkannya, dan merobeknya kembali hingga potongan-potongan kecil.

“Lucas! Kenapa kau diam saja??” teriak anak laki-laki yang berkulit hitam itu.

Lucas menatap Julie sebentar. Julie berusaha melebarkan senyumnya tanpa menyadari kalau seringainya itu terlihat amat ganjil. Lucas akhirnya hanya mampu membuang pandangannya dan membiarkan Julie pergi. Si anak laki-laki berkulit hitam menggigit bibirnya ketika melihat sahabatnya tak berkutik menghadapi gadis yang disukainya itu.

Julie tersenyum senang.

Thomas dan George yang tadinya duduk agak jauh di sebelah sana—memutuskan untuk menghampiri meja mereka dan menanggapi percakapan itu dengan antusiasme yang tinggi.

“Ada apa? Ada apa?” tanya George penasaran. Ia bersiul menggoda sambil tersenyum senang karena menyadari bahwa koran sekolah yang sedang jadi bahan pertikaian mereka yang seru, ternyata saat ini masih berada di tangannya. Ia pun buru-buru membacanya saat itu juga.

“Wow! Puisi!” kata Thomas setelah beberapa puluh detik menemukan apa yang ia cari bersama dengan George. “Ini—sungguhan, Julie?”

Beberapa orang anak laki-laki lain di sekitar mereka pun mulai berdatangan. Meja mereka pun mulai menjadi ramai dengan orang-orang yang penasaran akan apa yang terjadi di sebelah sana.

“Richard? Puisi?” gumam beberapa anak yang lain. “Julie, kau—”

“Ada apa?”

Anak-anak laki-laki itu pun mulai bergemuruh, dan para gadis yang berada di sekeliling mereka juga mulai mendekat. Julie benar-benar tidak habis pikir kenapa situasinya malah jadi seperti ini. Ia bisa membayangkan situasi yang lebih berbahaya dari ini. The Lady Bitches bisa mencincangnya hingga mati.

Ia harus menghentikannya sekarang juga.

“Bukan apa-apa. Hey, berikan padaku!” kata Julie sambil merebut koran sekolah yang masih dipegang oleh George dan beberapa anak lainnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung merobek artikel puisi di setiap koran itu, dan memasukkan seluruh robekan itu dengan gegabah ke kantong bajunya. Beberapa potongan bertaburan di atas lantai.

“Julie, kau merobek-robek koran sekolah. Jerry bisa mengamuk padamu,” kata Cindy yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.

Julie tidak peduli.

“Justru aku yang akan mengamuk padanya—” tukas Julie dengan gemas, “—gila ya, kalau dia tidak melenyapkan puisi ini dari koran sekolah, aku yang akan melenyapkannya sekarang juga. Puisi ini sebuah kesalahpahaman. Puisi ini dipublikasikan tanpa seizinku, bahkan aku tidak tahu dia mendapatkannya dari mana. Laki-laki itu benar-benar membuatku tertimpa masalah.”

Julie melanjutkan aktivitasnya dan berusaha meyakinkan teman-temannya dengan sungguh-sungguh.

“Puisi ini hanya puisi biasa buatan Richard. PUISI BIASA. Kalian mengerti, kan? Tidak ada artinya. Tidak ada maksud apa-apa di baliknya. Oke? Oke? Kalian mengerti kan maksudku?”

“—tapi tidak berarti kau bisa merobek-robeknya seperti sebuah sampah yang tidak berharga, Julie.

Julie tercekat.

Suara itu terdengar familiar. Suara yang mengalun indah dan berdenting halus dan merdu seperti suara piano.

“Rich—” gumam Julie.

Jantung Julie berdegup kencang. Otot-ototnya terasa kaku.

“Aku minta maaf kalau tulisanku telah membuatmu kesusahan,” kata anak itu perlahan. “Seharusnya, dari awal pun kau tidak perlu memintaku untuk membuatnya.”

Selama beberapa detik, suasana di tempat itu terasa hening dan mencekam. Aura menakutkan telah mengubah suasana di tempat itu menjadi dingin dan menegangkan seperti cerita-cerita horor di film.

“Dan teman-teman, kuharap kalian juga mengerti kalau aku tidak ingin menyebabkan kesulitan pada siapa pun—apalagi hanya untuk sebuah kesalahpahaman.”

Anak laki-laki itu—Richard Soulwind—sekarang berdiri tepat di belakang Julie.

Julie tidak bisa bernapas.

“Seperti yang dikatakan Julie. Tulisan yang kubuat tidak memiliki arti apa-apa. Hanya sebuah tulisan biasa yang kubuat karena diminta saat melakukan wawancara,”  kata Richard, menegaskan apa yang telah ia ucapkan. “Tidak lebih daripada itu.”

Suaranya masih terdengar lembut—seperti marshmellow, namun entah bagaimana ada nada yang lain dari biasanya. Nada yang mengerikan. Julie sama sekali tak berani untuk mencari tahu. Ini terlalu mengerikan.

“Jika tulisan ini kemudian justru mengundang masalah, aku minta maaf—aku sungguh-sungguh minta maaf karena pernah menulisnya. Aku benar-benar tidak ingin membuat masalah untuknya—tapi setidaknya,” kata Richard lagi, “kuharap Nona Light bisa menghargainya dengan lebih baik.”

Julie sekarang merasa tubuhnya menciut menjadi seukuran kuman. Kepalanya mengempis menjadi kecil sekali—bahkan Julie yakin kalau kepalanya sekarang sudah akan menghilang dari muka bumi. Julie berpikir mungkin saja dalam beberapa detik lagi ia akan segera bereinkarnasi menjadi tumbuh-tumbuhan.

“Ini,” kata Richard sambil menyerahkan setumpuk koran sekolah ke hadapan Julie, meletakkannya di atas meja, “sisa koran sekolah yang ditinggalkan Jimmy tadi di kafetaria. Kurasa kau ingin menghentikannya sebelum anak itu mulai membagikannya ke kelas-kelas. Sebaiknya kau segera bergegas.”

Richard meninggalkan kerumunan itu dan berlalu.

“Wow,” kata George, setelah Richard pergi. “Jadi—apakah sekarang Julie ditolak oleh Richard? Atau Richard yang ditolak oleh Julie? Aku benar-benar bingung.”

“Entahlah, George,” jawab Thomas. Anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. “Sebenarnya apa yang terjadi antara Julie dan Richard? Apa memang tidak pernah terjadi apa-apa, ya? Tapi rasanya semua ini masih agak aneh, deh.”

Tiba-tiba saja kerumunan di sekeliling Julie mulai bergemuruh lagi.

“Lucas! Kau masih mempunyai harapan!” ujar anak laki-laki yang berkulit hitam. “Julie dan Richard sedang bertengkar! Ini saat yang pas untuk merebut perhatiannya!”

“Tidak! Julie jadian dengan Richard! Tapi Richard memutuskannya!”

“Aku tidak yakin Richard suka dengan Julie. Cathy masih lebih cantik!”

Kerumunan ini semakin bergemuruh, membuat sekelilingnya menjadi ricuh. Sementara itu, Julie sendiri hanya bisa terdiam sejenak merenungkan apa yang sebenarnya sedang terjadi hari ini.

Ia merasa benar-benar bodoh. Merobek puisi yang telah dibuatnya dengan sungguh-sungguh—apalagi di depan semua orang—tentu saja akan menyinggung perasaan seorang jenius seperti Richard. Ia tidak mengerti kenapa ia harus melakukannya. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa otaknya sangat terbatas, sehingga tidak bisa memikirkan akibat dari perbuatan yang dilakukannya ini. Julie merasa dirinya sangat kejam, padahal Richard sudah membantunya dalam banyak hal.

Richard pasti marah sekali padanya.

“Kalian semua—jangan membuat gosip yang aneh-aneh lagi,” gerutu Julie. “Kalian sudah mendengar penjelasan Richard, kan? Nah, sekarang jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi. Apa pun itu—semuanya NORMAL-NORMAL SAJA. Tidak ada yang ditolak siapapun. Tidak ada yang bertengkar dengan siapapun. Tidak ada yang jadian dengan siapapun. Oke? Aku dan Richard tidak ada hubungan apa-apa.”

Julie tidak yakin apakah anak-anak ini percaya pada kata-katanya. Ia sendiri tidak begitu peduli. Ia pun tidak tahu apakah ia akan sempat meminta maaf pada Richard karena kebodohannya hari ini—anak laki-laki itu pasti marah padanya. Namun baginya, prioritas utama saat ini adalah mencari Jimmy dan Jerry, sebelum koran sekolah tersebut tersebar lebih luas lagi.

Ia harus melakukannya sekarang juga.

“Aku akan mencari Jimmy. Kalau kalian melihat Jimmy atau koran sekolah hari ini, tolong beritahu aku secepatnya,” kata Julie. “Dan Jerry. Aku akan mencincang anak itu sampai dia minta ampun padaku. Dia itu benar-benar keterlaluan.”

Dan Julie bergegas pergi sambil membawa tumpukan koran itu di pelukannya—ia berharap semuanya berjalan sesuai dengan yang ia harapkan.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

25 thoughts on “10. Krisis (4)

  1. Waduh, tapi kl dipikir-pikir mencurigakan ya Richard. Soalnya kenapa juga dia bikinnya puisi cinta begitu padahal Julie kan nggak minta. Hem… jawabannya?

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. woaaahhh..udah lama g buka blog ini…hampir setahun..hehe..tau2 udah berubah n ceritanya udah nyampe part 15..
    maaf y aku komennya langsung dipart ini…aku salah baca harusnya baca part 10 (1) dulu tp aku malah part 10 (4)…hehehe..
    tapi ceritanya makin seruuu..^^

  4. Ping-balik: 10. Krisis (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s