10. Krisis (3)

Comments 16 Standar

This is an evaluation image and is Copyright Dawn Hudson. Do not publish without acquiring a license. Image number: 0110-1103-0315-3249. http://www.acclaimimages.com/_gallery/_pages/0110-1103-0315-3249.html

Jessie mengangkat gelas minuman bersodanya untuk bersulang.

Ladies, perkenalkan anggota baru kita,” kata Jessie. “Nicholas White, The Dolphin Boy—Si Laki-laki Lumba-lumba—dari klub renang Nimber kita yang hebat. Ayo bersulang!”

Si Laki-laki Lumba-lumba.

Julie sendiri tak pernah mendengar julukan itu, Jessie pasti mendengarnya dari klub renang yang mereka ikuti. Sangat aneh, tapi kedengarannya cukup menggelikan.

Gadis-gadis itu bersulang bersama untuk merayakan kedatangan anggota baru mereka. Mereka berlima—ditambah Nick—kecuali Cathy yang tampaknya masih tidak menyetujui gagasan yang disampaikan oleh Jessie.

“Anggota baru?” kata Cathy sambil mendengus. “Tidak boleh ada anggota baru di The Lady Witches. Apalagi anak laki-laki. Geng ini hanya diperuntukkan untuk gadis-gadis yang sexy dan eksotis, Nick!”

Ia mengerutkan keningnya dan memandang Nick dengan skeptis.

“Dan kau tahu apa artinya ‘Lady’ kan?” tanya Cathy sambil memainkan jari telunjuknya. “Jadi, Nick. Kau ini perempuan atau laki-laki? Aku tidak bisa menerima laki-laki di gengku. Kecuali kalau kau ganti kelamin sekarang.”

Nick tertawa sambil mengangkat gelasnya untuk bersulang.

“Santailah, Cathy Sayang,” kata Nick. “Aku cuma bergabung dengan kalian di jam makan siang, kok. Ya kan, Jess?”

Ia mengupil sebentar, menggaruk-garuk lubang hidungnya dengan telunjuk.

“Sudah lama sekali aku ingin bergabung dengan kehebohan geng kalian,” kata Nick. “Teriakan-teriakan histeris itu—AAAAH—dan jambakan rambut yang seru!”

Nick memperagakan jambakan ke rambutnya sendiri.

“Aku benar-benar fans berat,” kata Nick sambil berekspresi histeris. “Dan kuharap ada gadis-gadis di sini yang bersedia menjambak rambutku.”

Julie melihat bulu hidung Nick dengan jijik. Ia sejujurnya menyukai keberadaan Nick di geng mereka. Julie bahkan sudah mengekspektasi itu sejak kali pertama Jessie dan Nick berkencan. Anak itu lucu dan menyenangkan—penuh dengan drama yang mengejutkan dengan cara yang unik.

Namun bulu hidung Nick benar-benar membuatnya depresi. Bulu hidung itu terlalu panjang dan menjuntai-juntai—seperti tanaman hias merambat—yang bahkan membuatmu gila karena juntaiannya. Padahal Julie sudah berusaha sekuat tenaga untuk membiasakan diri.

Yeah, kuharap ada juga gadis-gadis yang bersedia menjambak bulu hidungmu,” kata Julie. “Selama bulu hidungmu masih berkibar-kibar seperti itu, aku tidak bisa kuat menahan kewarasanku. Bisakah kau kepang saja bulu hidungmu, kumohon?.”

Nick tertawa senang. Ia memperlihatkan upilnya di depan Julie yang kaget setengah mati.

“NICK!” teriak Julie. “Kau menjijikkan!”

Julie langsung berubah pikiran.

Keberadaan Nick di geng mereka adalah ide yang buruk. Sekarang ia sangat setuju dengan Cathy untuk tidak memasukkan Nick ke dalam kelompok mereka. Nick dan upilnya adalah tragedi.

“Nick,” kata Cathy dingin. Ia terlihat tidak senang dengan kelakuan Nick yang jorok itu. “Kau belum kuizinkan bergabung di meja kami untuk makan siang.”

“Dan kelakuanmu ini sangat menjijikkan.”

Julie menatap Cathy dengan kagum. Cathy terlihat seperti seorang malaikat pelindung yang membelanya dalam perang melawan kejahatan. Ia tampak sangat kuat dan tangguh.

“Lagipula,” kata Cathy lagi, berusaha menegaskan posisinya saat ini. “Siapa juga yang mengizinkanmu bergabung di meja The Lady Witches yang agung, hah?”

Jessie sekonyong-konyong menimpali pertanyaan Cathy sambil menyengir.

“Aku.”

Julie terperangah. “Yang benar saja. Kalau aku—jelas-jelas TIDAK SETUJU. Orang ini bisa membuatku gila.”

Tadinya bahkan Julie berpikiran sebaliknya. Nick memang teman ngobrol yang seru dan menyenangkan. Sampai Nick memperlihatkan upilnya barusan, yang langsung merusak mood Julie pada saat itu juga.

“Aku sih setuju-setuju saja,” kata Cassandra sambil menyeringai senang. “Maksudku, Nick kan orangnya sangat lucu. Dan dia teman sekelompokku di pelajaran Sejarah Dunia. Kurasa tak ada salahnya kalau Nick ada di sini.”

Kayla tertawa.

“Aku juga setuju.”

Julie dan Cathy mengerutkan wajah mereka, terutama saat Kayla dan Cassandra melihat Nick dengan wajah senang. Hanya satu hal terakhir yang bisa mereka lakukan saat ini—berharap bahwa anggota terakhir mereka akan berpendapat berbeda.

“A-aku—,” kata Lucy terbata-bata. “Emh. Aku ingin dia di sini.”

Nick bersorak.

Jessie berdansa swing di kursinya.

“Selamat datang, Tuan Nicholas White!” kata Jessie. “Di klub wanita-wanita seksi yang elegan. Bienvenue à notre famille.”

Julie menghela napas panjang.

“Kalian berdua memang sama-sama gila.”

Nick tertawa cengengesan.

“Aah, jangan begitu,” kata Nick. “Aku tahu—kau dan Cathy tak menginginkan aku ada di sini karena kalian takut jatuh cinta padaku, kan?”

Nick melipat jari-jarinya.

“Sayang sekali. Julie. Cathy,” kata Nick dengan simpati. “Seandainya saja dulu kalian tidak menolak cintaku yang suci ini. Tapi—sudah terlambat! Jangan memohon-mohon padaku sekarang. Aku sudah menjatuhkan pilihanku pada Jessie. Kalian jangan menyesal, ya. Oke?”

Cathy menjulurkan lidahnya seperti anjing Silky Terrier yang tersedak bola tenis. “Heh. Dalam mimpimu, Nick.”

Julie pun merasa ingin muntah.

“Baiklah,” kata Nick dengan penuh keyakinan diri. “Tidak masalah. Dalam mimpi juga tidak apa.”

“Jadi ada berita apa hari ini? Sebagai anggota baru, aku juga ingin dapet update berita-berita terkini di Nimber. The Lady Witches pasti selalu seru dengan gosip-gosip terbaru, kan?”

Jessie menimpali dengan bersemangat. “Cathy putus dari Jake! Kau tahu?”

“Apa?” Nick terkesiap. “Serius?”

“Ya—kejadiannya baru terjadi pagi ini. Beritanya panas langsung dari oven, lho,” kata Cassandra dengan antusias. “Eh, benar kan tadi pagi, teman-teman?”

Cassandra menoleh ke arah gadis-gadis.

Kayla dan Lucy mengangguk.

“Iya, tadi pagi.” kata Julie malas. “Dan tadi suasana di meja ini cukup panas dan menguras air mata—sampai akhirnya Richard datang.” Julie mengangkat pundaknya. “Aku tak tahu apa yang spesial dari anak laki-laki itu, tapi mereka semua tiba-tiba lupa kalau mereka masih punya kehidupan di dunia ini saat memandang wajahnya. Bahkan, aku bisa dengan santainya menuangkan saus tomat ke fruit parfait-nya Cathy.”

Cathy mendengus saat Julie mulai membahas tentang fruit parfait-nya.

“Nona Light,” tukas Cathy sinis. “Kau dan saudara kembarmu itu—” Cathy menatap Jessie dengan kesal. “Apa lagi yang kalian masukkan ke minumanku?”

Jessie meringis.

“Cuma mayonnaise,” kata Jessie. “Dan hanya sedikit pula. Sayang sekali kau hampir memergoki kami waktu kita mengantri di etalase kafetaria tadi. Kalau tidak, pasti sudah kumasukkan lebih banyak.”

“Apa? Mayonnaise!?” erang Cathy dengan mata terbelalak.

Mayonnaise adalah satu-satunya hal di dunia ini yang paling tidak disukai Cathy. Ia selalu berpendapat bahwa saus mayonnaise rasanya tidak enak dan baunya amis seperti ikan busuk.

“Kalian—,” kata Cathy geram, “benar-benar—“

Cathy berusaha mencengkram tangan Jessie dan Jessie menjerit kesetanan. Julie berusaha membantu sahabatnya sebelum gadis itu mencekoki Jessie dengan fruit parfait buatan mereka yang masih tersisa. Sementara itu, Nick dan gadis-gadis lainnya hanya memandang perhelatan seru mereka sambil tertawa.

Gals,” kata Lucy tiba-tiba. Ia menatap seorang anak laki-laki yang selalu mereka tunggu dari tadi, namun akhirnya menyadari bahwa anak laki-laki itu ternyata sudah selesai mengambil makanannya. “Dia duduk menghadap ke arah sana. Membelakangi kita.”

Gadis-gadis itu dalam sekejap menghentikan aktivitas mereka dan memandang titik bercahaya yang terlihat kejauhan di arah Utara. Titik bercahaya itu sudah tidak terlihat terlalu jelas lagi, digantikan oleh rambut pirangnya yang berwarna keemasan.

“Yaah,” keluh gadis-gadis itu sambil menatap sedih. “Kenapa Richard duduknya menghadap sana, sih?”

Gadis-gadis itu langsung saja kehilangan gairah hidup mereka. Cathy melepaskan cengkramannya dari tangan Jessie dan duduk terdiam sambil berpangku tangan.

“Ini gara-gara kalian, Jessie, Julie,” kata Cathy sambil memandang sinis. “Kalau saja kalian tidak mengusik kehidupan jam makan siangku dengan tipuan murahan kalian itu, aku pasti tidak akan kehilangan waktuku yang berharga untuk memandangi wajah Richard.”

Jessie mencibir. “Nyeeh—”

Nick melirik kedua gadis itu dan menyengir lebar.

“Dasar gadis-gadis,” kata Nick. “Sekarang aku jadi tahu bagaimana rasanya menjadi digila-gilai oleh banyak wanita. Aku yakin kalian juga memandangi wajahku seperti itu kan, setiap kali aku berada di dekat kalian?”

Cassandra tertawa. “Cuma Jessie kok, Nick. Kalau kami sih, tidak.”

Cathy menanggapi obrolan itu dengan wajahnya yang masam.

“Jangan harap,” kata Cathy dingin. “Jessie mungkin bisa tertipu dengan Wajah Tampan Nomor Sebelas-mu, Nick. Tapi aku tidak.”

Kata-kata Cathy barusan mengingatkan Julie pada Daftar Peringkat Ketampanan Cowok-cowok Nimber yang pernah mereka buat beberapa waktu yang lalu. Dan Julie baru teringat kalau anak ini—Nick Si Bulu Hidung yang kelakuannya yang luar biasa ganjil—ternyata termasuk anak laki-laki berperingkat tinggi di sekolah mereka. Pria Tampan Nomor Sebelas.

“Kau tahu peringkat satunya, kan? Ya! Richard Soulwind,” kata Cathy. “Sang Pangeran Tampan. Dan dia yang akan jadi pacarku.”

Ucapan Cathy barusan membuat para gadis tiba-tiba bergemuruh tidak setuju. Mereka semua pun ingin menjadi pacar Richard, tidak peduli apapun yang terjadi, dan gagasan bahwa satu-satunya gadis yang diperbolehkan pacaran dengan Richard hanyalah Cathy saja membuat mereka menjadi kesal.

“Cath, menurutku sebaiknya kau berbaikan saja dengan Jake,” kata Cassandra dengan angkuh. “Karena aku yang akan pacaran dengan Richard.”

“Tidak bisa begitu,” kata Kayla. “Aku juga mau jadi pacarnya Richard.”

“Tidak Kay! Kau kan sudah dengan Steve,” kata Lucy. “Sebaiknya aku saja yang—”

“Tidak, tidak,” potong Jessie. “Kalian semua tidak boleh jadi pacarnya Richard. Aku juga mau jadi pacarnya Richard soalnya, kalau—”

Jessie tiba-tiba menghentikan ucapannya dan melirik ke arah Nick yang ternyata ikut menyimak pembicaraan mereka sambil memicingkan sebelah matanya.

“Kalau Nick mengizinkan. He,” lanjut Jessie. “Boleh yaa Niiick?”

Nick terlihat tidak senang.

“Jessie.”

Nick memicingkan matanya sekali lagi sambil berkacak pinggang. “Apa aku ini masih kurang tampan untukmu?”

Julie melihat perseteruan mereka sambil tertawa cekikikan.

“Ya, memang kurang tampan, Nick!” kata Julie.

Nick terbelalak.

“Kurang tampan di mananya??” kata Nick dengan gengsi.

“Di bagian muka,” kata Julie sambil menganalisa seluruh permukaan wajah Nick. “Kurasa kau perlu membaluri mukamu dengan minyak tanah—atau semacamnya. Aku yakin itu ritual yang Richard jalani setiap hari, agar paginya wajahnya bisa terlihat bercahaya dan bersinar-sinar seperti lampu petromaks.”

Gadis-gadis menjadi gusar setiap kali Julie menyebutkan istilah itu untuk merendahkan pria pujaan mereka.

“Lampu petromaks? JULIE,” protes gadis-gadis. “Dia itu sinar mentari. Sinar mentari!”

PRINCE OF SUNSHINE.”

Julie merasa mual dengan julukan itu. Julie menatap Nick sepintas, dan melihatnya menunjukkan ekspresi mual yang sama.

“Baiklah, tidak masalah,” kata Nick. “Tapi jujur, ya—menurutku Richard tidak setampan yang kalian bayangkan.”

Julie terkesiap mendengar kata-kata dari Nick. Ia merasa senang. Tiba-tiba saja ia merasa sedang mendapatkan belahan jiwanya yang baru. Kali ini ia tidak akan sendirian lagi ketika gadis-gadis membicarakan Richard di kafetaria. Ia bisa berkoalisi dengan Nick yang akan menjadi partner setianya di partai oposisi anti-Richard.

“Setuju,” kata Julie cepat. “Maksudku, ayolah gals—apa tidak ada topik lain selain membahas tentang Richard? Perekonomian dunia misalnya. Atau tentang perdamaian dunia di negara- negara Timur Tengah.”

Julie sibuk memikirkan topik-topik lainnya yang bisa mereka diskusikan dengan cerdas. Kadang-kadang ia merasa ada gunanya juga memperhatikan pelajaran Sejarah dan Geografi di kelas mereka.

“Langkah-langkah penyelamatan suku asli di Afrika.,” kata Julie. Ia mulai terdengar seperti penyiar channel berita National Geographic. “Konservasi hutan lindung di Asia Tenggara. Atau perlindungan cagar budaya dan penyebab kepunahan Suku Inca. Bagaimana? Benar kan, Nick?”

Nick tertawa mendengar perkataan Julie.

“Aku bercandaa, Julie,” kata Nick. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap genit. “Menurutku Richard memang perlu dibahas. Maksudku—ya ampun—anak itu cerdas dan tampan sekali. Oh, kalau saja aku anak perempuan, pasti aku langsung jatuh cinta padanya. Auuu.”

Julie merasa ingin menenggelamkan anak itu di kapal Titanic.

“Nick,” kata Julie, sambil berusaha menormalkan kewarasannya. Kelakuan anak laki-laki ini membuatnya gila. “Kau dan Jessie—huff—kurasa kalian berdua memang harus diikat di kapal sekoci menuju Samudera Antartika sana. Bertemu PENGUIN.”

Jessie dan Nick tertawa. Mereka pun bergaya aneh sambil mengepak-ngepakkan kedua tangan mereka. Tak lama kemudian, kedua pasangan itu berkoak-koak menirukan suara penguin yang terdengar seperti suara klakson mobil.

Julie merasa sangat tolol.

“Mungkin kita sekarang bisa membicarakan hubungan Kayla dengan Steve,” kata Cassandra suatu ketika. “Kay, kau belum cerita perkembangan terbarumu dengan Steve. Apakah laki-laki itu akhirnya memintamu menjadi pacarnya?”

Kayla menanggapinya dengan malas.

“Entahlah,” kata Kayla sambil mengaduk-aduk isi gelasnya. “Akhir-akhir ini Steve kelihatan sangat sibuk dengan persiapan SAT dan kuliahnya. Aku tak terlalu sering bertemu dengannya.”

Cathy memandang Kayla dengan kasihan.

“Kay,” kata Cathy dengan nada bijak. “Kau itu kurang tegas sebagai seorang wanita.”

“Laki-laki itu harus dimintai kepastian, kalau tidak—perasaan kita yang dipermainkan. Benar, kan? Contohnya saja aku. Aku berani mempertanyakan kepastian soal hubungan kami berdua—daripada diombang-ombingkan oleh ketidakpastian yang menyakitkan ini. Dan akhirnya—Jake mengatakannya dengan jelas pagi tadi. Ia minta putus denganku.”

Lucy, yang menyimak percakapan itu dari awal, merasa tidak setuju dengan kesimpulan itu dan ingin mengungkapkan pendapatnya.

“Kalau yang kudengar dari ceritamu tadi, kurasa malah kau yang minta putus duluan, Cath,” ungkap Lucy. Ia menjelaskan kejadian itu seperti seorang detektif yang mencoba menguraikan fakta dari deduksi yang didapatkannya. “Jake hanya menyetujui permintaanmu. Benar, kan? Jadi, kalau kita simak keseluruhan ceritanya, sebenarnya yang terjadi bukanlah Jake yang memutuskan Cathy. Justru sebaliknya. Cathy-lah yang telah memutuskan Jake.”

Julie berdecak kagum.

“Sangat pandai,” kata Julie. “Lucy—kau hebat.”

Pernyataan ini membuat Cathy menjadi tidak senang.

“Lucy,” kata Cathy.

Lucy menunduk kembali segera setelah melihat wajah Cathy yang menyeramkan. Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki menarik perhatiannya dengan setumpuk koran sekolah yang ia letakkan di atas meja mereka.

Jimmy Underwood. Teman seklub Julie di klub koran sekolah. Anak laki-laki itu memberikan satu koran sekolah kepada gadis-gadis itu dan membisikkan sesuatu pada Julie sebelum ia berlalu.

“Selamat, Julie!” kata Jimmy sambil mengedipkan matanya dengan nakal.

Julie kebingungan.

Kayla meraih koran sekolah itu dan membawanya ke atas mejanya dengan antusias. “Julie, kurasa hasil wawancara dengan Richard yang kemarin sudah dimuat minggu ini kan, ya? Aku sudah tak sabar ingin membacanya.”

Gadis-gadis lainnya pun melonjak kegirangan.

“Oh iya, benar juga,” kata Cassandra bersemangat. “Sudah lama aku menanti-nantikan koran sekolah edisi minggu ini. Aku juga ingin lihat foto Richard di turnamen catur itu. Dia pasti sangat tampan.”

Cassandra membuka lembaran demi lembaran, untuk menemukan wajah laki-laki yang sangat disukainya. Gadis-gadis lainnya mendongakkan kepala mereka dengan penasaran.

“Ini dia,” kata Cassandra. Ia membacakan judul dari artikel liputan yang ditulis oleh Jerry.

 

KEMENANGAN TURNAMEN CATUR PERTAMA KALINYA

Nimber dalam Masa Jaya!

 

Cathy mengerutkan alisnya. Ini bukan tulisan yang sama seperti yang pernah dilihatnya beberapa hari yang lalu dari map Julie.

“Apa ini?” kata Cathy. “Aku tidak ingat kau menulis artikel ini, Julie.”

Seolah memahami apa yang ada di pikiran Cathy, Julie pun menjawab dengan santai. “Itu artikel liputan kompetisi catur, Cath. Yang meliput waktu itu kan, Jerry dan Michael. Kalau aku hanya mengulas profilnya saja. Lihat saja tulisan di bagian bawah artikel itu. Ada profil Richard kan? Itu tulisanku.”

Gadis-gadis itu menelusuri setiap bagian dari halaman liputan tersebut dan menemukan bagian yang disebutkan oleh Julie. Jessie dan Kayla masih asyik membaca artikel yang ditulis Jerry, sementara Cathy lebih tertarik pada profil Richard yang ditulis oleh Julie. Lucy—yang membaca lebih cepat—sudah selesai membaca seluruh artikelnya, dan menemukan sebuah tulisan lain yang seharusnya tidak ada di sana.

“Julie?” kata Lucy.

“Apa ini?”

Lucy menunjuk suatu kolom yang berisi tulisan-tulisan singkat—terlalu singkat untuk menjadi kumpulan paragraf. Kata-kata tersebut terlihat familiar, hanya saja kali ini terlihat berbeda. Julie pernah melihatnya dalam bentuk tulisan cakar kucing yang menggelikan. Dan itu beberapa hari yang lalu.

Julie membaca judul dari tulisan itu.

 

RAHASIA CINTA SANG PANGERAN

Puisi untuk Julie Light—Dia yang Tak Tertaklukkan!

 

“APA?”

Julie merasa jantungnya membeku saat itu juga.

Ini tidak mungkin puisi Richard.

By the name of July, the summer of love.” Lucy membaca baris pertama dari tulisan itu. “as flowers bloomed, danced with flying fluff.”

Julie merasa kepalanya berkunang-kunang.

Ia tak mengerti mengapa puisi itu bisa ada di sana. Ia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Seingatnya waktu itu ia sudah melenyapkan puisi itu dari gadis-gadis dan—ia ingat sudah merobeknya. Ketika ia merasa semuanya sekarang sudah aman dan terkendali—entah kenapa puisi Richard itu bisa kembali lagi di hadapan mereka. Ia benar-benar tidak mengerti.

“Deliciated on the beauty, who would rise in might—,” Lucy melanjutkan membaca puisi itu sambil memiringkan kepalanya. “—as the rich art loved light in the middle of the night.

“Lu-Lucy—,” kata Julie salah tingkah. Jantungnya terasa membeku setiap kali Lucy membacakan puisi itu.  Ia ingin gadis itu berhenti membacanya.

Julie masih tidak mengerti kenapa puisi ini bisa berada di sana. Setelah ia bersusah payah berusaha menyembunyikan puisi itu dari The Lady Witches—dengan segala keringat dan jerih payahnya, sekarang puisi itu malah dibaca dengan asyik dan santai oleh Lucy Stone di depan semua orang. Paru-paru Julie langsung mengempis seperti ban bocor.

“Richard. Dia puitis sekali,” kata Lucy. Ia melanjutkan membaca baris berikutnya. “Shall The Wind whisp—

Cathy berusaha merebut koran itu dari tangan Lucy. Matanya menatap nanar, seperti seekor singa akan memangsa segerombolan rusa di padang rumput Sabana.

“Diamlah, Lucy!” potong Cathy. Ia akhirnya berhasil merebut koran itu dan menatap Julie dengan marah. “Julie. Apa-apaan ini!?”

Julie hanya bisa terperangah dalam diam. Ia tak dapat mengatakan apa-apa. Situasi ini terlalu mengerikan untuk dibayangkan olehnya.

“A-ak-ak,” kata Julie dengan tenggorokan yang tercekat.

Ia tidak dapat berbicara dengan normal. Ia bahkan tak dapat memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan mengapa puisi itu bisa ada di sana.

“Apa yang sudah kau lakukan pada Richard, PENGKHIANAT?” kata Cathy sambil menyambar tangan Julie. “Aku takkan membiarkanmu hidup dengan tenang. Aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan di dunia ini.”

Julie bergidik ngeri. Hal yang paling ditakutkannya itu akhirnya terjadi juga. Apalagi, selama ini ia jelas-jelas berada dalam pihak oposisi yang menentang ketergila-gilaan The Lady Witches pada Sang Pangeran Tampan. Para gadis-gadis ini pasti akan membunuhnya detik ini juga.

Ia  harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan hidupnya hari ini.

“Um. Ehm. Begini,” kata Julie agak terbata-bata, dengan perlahan-lahan, super hati-hati. “Puisi ini—adalah sebuah kesalahpahaman. Aku bisa menjelaskannya. Aku pasti bisa menjelaskannya nanti. Tapi tunggu dulu sebentar, karena aku harus menyelesaikan urusanku terlebih dahulu dengan Jerry!”

Julie tak tahu bagaimana caranya Jerry bisa mendapatkan puisi itu. Tapi yang jelas, ia harus menemui laki-laki itu sekarang. Julie sangat yakin bahwa laki-laki ini—satu-satunya orang yang paling mungkin yang ia pikirkan sekarang—adalah orang telah bertanggungjawab atas tersebarnya puisi Richard kepada Julie di koran sekolah mereka pagi ini.

“Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Nona Light,” sergah Cathy. Dengan cepat ia menyambar kembali tangan Julie dan mendudukkannya kembali ke kursi. “Kau akan menjelaskannya sekarang, Julie.”

“SE-KA-RANG.”

Julie meringis sambil berusaha melepaskan tangan Cathy yang tajam. Kuku Cathy yang baru saja di-manicure benar-benar tajam dan panjang, seakan-akan hendak memangkas seluruh bulu rambut yang ada di pergelangan tangannya.

“Oke, oke. Aku akan menjelaskan semuanya pada kalian,” kata Julie dengan keringat dingin. Ia menghela napas panjang.

“Puisi ini memang buatan Richard. Richard yang membuatnya pada saat aku melakukan wawancara artikel itu minggu lalu,” kata Julie, “—karena aku yang memintanya.”

“Apa!? Kau yang—”

Gadis-gadis itu terlihat sangat terkejut.

Julie tahu kalau tindakannya ini sama sekali tidak masuk akal, bahkan ia sendiri juga tak mengerti mengapa ia melakukannya waktu itu.

“Kalian—jangan marah dulu. Aku melakukannya karena—,” kata Julie sambil berpikir. Ia terus berpikir dan berpikir, mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan. Ia—tentu saja—tak akan pernah berkata terus terang kepada mereka bahwa setiap kali bersama dengan Richard, tubuhnya selalu bergerak sendiri di luar kemauannya. Itu alasan yang teramat tolol. Ia harus mencari alasan yang lebih bagus dari itu.

Dan tiba-tiba saja ia mendapat ide yang brilian.

“Itu karena aku penasaran,” kata Julie sontak, dengan nada percaya diri. Ia bahkan mengernyitkan alisnya untuk semakin menambahkan kesan penasaran di wajahnya.

“Lucy kan selalu bilang kalau Richard jago membuat puisi. Aku tentu saja tidak percaya. Apalagi aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Jadi—kupikir tidak ada salahnya juga kalau aku menguji kemampuannya saat itu, mumpung aku sedang mewawancarainya. Itulah sebabnya kenapa aku memintanya membuat puisi untukku. SECARA SPONTAN.”

Julie berusaha keras menahan seringai lebar di wajahnya. Ia benar-benar bangga pada dirinya sendiri. Kadang-kadang sel-sel otaknya yang terbatas itu ternyata bisa benar-benar encer juga—di luar perkiraannya.

“Aku pikir dia tidak akan bisa. Ternyata dia memang benar-benar hebat! Dia langsung membuatkannya begitu saja, bahkan tanpa berpikir! Gila ya! Kalian sudah lihat sendiri, kan hasilnya?”

Sekarang Julie mencoba membalikkan keadaan dengan berakting seolah-olah sedang berusaha untuk mengalah.

“Baiklah. Aku sudah mengakui kepintarannya sekarang. Puisi yang dibuatnya memang benar-benar bagus, dan dia berhasil membuatnya dalam waktu yang sangat singkat. Aku akui kalau dia itu pintar. Kalian senang sekarang?”

Kayla menatap Julie dengan sangsi. Ia pada mulanya tidak begitu simpatik, tapi setelah dipikir-pikir kembali, pernyataan Julie sebenarnya cukup masuk akal.

“Jadi—dia membuatkanmu puisi begitu saja pada saat kalian sedang wawancara? Begitu saja?” tanya Kayla.

Julie menyeringai sangat lebar. Sepertinya Kayla sudah terjerembab ke dalam tipu dayanya Julie Light yang teramat sangat legendaris ini.

Ia mengangguk mantap.

“Ya, begitu saja. Tidak ada maksud lain kok,” kata Julie. “Ternyata kalian memang benar. Aku akui dia memang anak laki-laki yang jenius—atau semacamnya.”

Sejujurnya, Julie memang tidak sedang berbohong. Semua yang ia katakan, di satu sisi memang ada benarnya, karena memang itulah yang ia pikirkan saat ia bertemu dengan Richard. Sejak pertemuannya waktu itu, ia memang mulai mengagumi kejeniusan anak laki-laki itu. Dan kepiawaiannya membuat puisi.

Dan mengajar bahasa Prancis, tentu saja.

“Benarkah?” tanya Cassandra. “Langsung pada saat itu juga?”

Julie mengangguk lagi. Gadis-gadis ini tampaknya mulai percaya padanya.

“Ya! Dia sangat hebat dan jenius. Benar kan, Lucy?”

Julie menatap Lucy—berharap bala bantuan segera datang dari wajahnya yang lugu dan polos itu, sebelum gadis ini menundukkan kepalanya ke bawah lagi. Lebih dari harapan Julie, ternyata Lucy justru serta-merta menyambut pertanyaan Julie dengan senyuman yang girang sambil mengangguk senang.

“Sangat,” kata Lucy. “Dan dia juga sangat tampan. Dia benar-benar laki-laki idamanku.”

“Tidak, Lucy. Richard itu laki-laki idamanku,” sanggah Cassandra. Ia mengibas-kibaskan jari telunjuknya dengan angkuh.

“Eits, tunggu dulu! Tentu saja dia laki-laki idamanku,” kata Jessie terburu-buru—sampai akhirnya Nick mulai memelototinya lalu memicingkan sebelah matanya dengan tajam. Jessie berdehem kecil dan ia langsung meralat ucapannya saat itu juga.

“Ehm. Tapi pastinya setelah Nick—karena Nick Laki-laki Idaman yang Jelas-jelas Lebih Tampan,” kata Jessie.

Nick terkekeh seperti nenek tua.

“Lalu kenapa kau tak menceritakannya pada kami, Julie?” tanya Kayla.

Julie berdiam diri sejenak. Kayla menanyakan pertanyaan yang tepat. Itu memang pertanyaan yang paling dihindarinya dari dulu. Dan akhirnya, ini saat yang tepat untuk mengungkapkannya pada mereka semua.

“Menurutmu kenapa, Kay?” tanya Julie balik. “Tidak mungkin kan aku menceritakan bahwa aku dibuatkan puisi oleh Richard tanpa membuat kalian semua bereaksi histeris dan gila? Kalian bayangkan saja sendiri. Lebih gampang untukku menyembunyikannya ketimbang menjelaskannya pada kalian yang terlalu menggila-gilainya. Coba mengertilah posisiku saat ini, Kay.”

Cathy mendengus.

“Huh! Aku tak percaya pada satu pun yang kau katakan, Julie,” kata Cathy skeptis. Bibirnya mengerucut dan ia membiarkan wajahnya tetap cemberut dan terlihat aneh seperti seekor grumpy cat yang sangat buruk rupa.

Cathy meninggikan intonasi suaranya.

“Baiklah. Aku tahu sekarang. Mengaku saja,” kata Cathy. “Kau dan Richard sudah sering bertemu tanpa sepengetahuan kami, kan!? Kau sengaja berbohong pada kami semua, supaya kau bisa bergerak dengan leluasa. YA, KAN??”

Julie hanya bisa tersenyum masam. Hal yang dikatakan Cathy barusan memang tidak sepenuhnya salah. Julie—memang—diam-diam bertemu dengan Richard lagi di Perky’s House—untuk mengerjakan tugas hukuman Esai Prancis beberapa waktu yang lalu. Tapi itu pun untuk mengerjakan PR. Tidak lebih.

“DAN JANGAN BILANG KALAU SEKARANG KAU SUDAH JADIAN DENGANNYA,” kata Cathy lagi, dengan nada suara yang semakin tinggi. “AKU TIDAK AKAN—”

Julie langsung menutup mulut Cathy dengan jari-jarinya.

“Sshhh, Cathy. Cathy—tenang. Tenang,” bisik Julie. Ia—mau tidak mau—menjadi sangat panik, karena suara Cathy yang menggelegar itu mulai menarik perhatian semua orang.

“Aku sama sekali tidak membohongi kalian, sungguh. Aku benar-benar—tidak suka pada anak laki-laki itu, jadi tidak mungkin aku jadian dengannya. AKU JANJI. Percayalah, ini hanya untuk pembuktian saja!” kata Julie. “Aku akui, dia memang jenius dan berbakat—hmph. Ayolah.”

Cathy membuang mukanya dan sekarang ia mengunci mulutnya rapat-rapat seperti patung.

“Apa  yang harus kulakukan agar kalian percaya padaku?” kata Julie. “Ayolah, aku akan melakukan apa saja. Kay, kau percaya padaku kan?”

Kayla tertawa kecil.

“Tentu saja, Julie,” kata Kayla. “Dilihat dari sisi manapun, sama sekali tidak ada kemungkinan kau akan tertarik dengan anak laki-laki.”

Jessie ikut menimpali. “Benar juga! Julie kan lesbi—kata Emma.”

Julie mengamuk dan berusaha mencubit Jessie dan Kayla yang mengerang kesakitan.

“Kurasa Julie—aku sepertinya mulai percaya pada kata-katamu,” kata Cassandra. “Tapi, puisi Richard di koran sekolah ini akan membuat orang-orang berpikiran sebaliknya. Kenapa kau malah mempublikasikan puisi ini di koran sekolah Nimber, Julie?”

“Dengan judul yang sangat provokatif pula,” tambah Nick. Sedari tadi ia hanya diam saja dan menonton dengan antusias, tapi sebenarnya ia pun cukup tertarik untuk terlibat dalam drama seru yang sedang berlangsung di dalam geng gadis-gadis yang dipujanya ini.

Rahasia Cinta Sang Pangeran, Puisi Cinta untuk Julie Light,” kata Nick lagi, mengulangi kalimat yang tadi dibacanya. “Judul yang sangat menggoda. Siapa yang jadi tak mengira kalau Richard jatuh cinta padamu atau sebaliknya, Julie? Semua orang pasti akan berpikir begitu.”

Julie tiba-tiba teringat lagi bahwa ia memang hendak mengkonfirmasi hal itu.

“Itu urusanku dengan Jerry,” kata Julie dengan tegas. “Laki-laki itu—mempublikasikan puisi ini tanpa seizinku. Bahkan aku tak tahu dia mendapatkannya dari mana. Seingatku aku sudah membuangnya di suatu tempat.”

Ia baru saja bersiap-siap untuk bangkit dari kursinya untuk pergi menemui Jerry, sampai akhirnya Cathy—yang tadinya masih mogok bicara—tiba-tiba mengeluarkan suara.

“Pokoknya—” kata Cathy dengan nada menuntut seperti seorang anak kecil, “—aku ingin puisi ini hilang dari koran sekolah! Aku benci melihatnya. Aku tak mau bicara padamu, sampai puisi ini menghilang dari hadapanku! Titik.”

Julie menghela napasnya dan mulai menggigit bibirnya sendiri. “Baiklah. Baiklah. Apa katamu saja, Cath.”

Ia mulai jenuh dengan semua drama ini. Perasaan bersalah seperti seorang narapidana yang didakwa terus-terusan di meja persidangan, rasanya benar-benar melelahkan. Ia ingin segera mengakhirinya sekarang juga.

“Ini, kurobek sekarang,” kata Julie. Ia meraih koran sekolah itu yang ada di hadapannya dan merobek halaman yang berisi puisi Richard di hadapan teman-temannya. “Dan kupastikan semua koran sekolah yang beredar hari ini, tidak akan ada puisi Richard di dalamnya. TIDAK SATU PUN. Puas?”

Cathy tidak memberikan jawaban, namun sepertinya ia sudah terlihat lebih tenang.

Julie membawa robekan kertas itu dalam genggamannya dengan kesal. Ia beranjak dari meja gadis-gadis itu untuk menghampiri meja-meja lainnya, menghadapi orang-orang yang menatapnya dengan kebingungan, dan merobek satu per satu halaman puisi Richard yang terdapat di koran sekolah yang sudah tersebar sepanjang kafetaria ini.

Julie menghela napas sekali lagi.

Ini benar-benar hari yang tidak menyenangkan.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

16 thoughts on “10. Krisis (3)

  1. Waduh, sampai sekarang si Richard masih misterius banget. Belum ada kejelasan sama sekali. Jadi penasaran deh..

    I love Julie. Sumpah, kocak banget dia. pasti asik ada yang bener – bener kayak dia. hehehe

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. novelnya udh terbit belum ka ? aku pembaca baru nihh mumpung msh bisa komentar, sebell bngt sma cathy egois lagian knp julie gak lawan aja si atau panas”in si cathy biar panas kaya di oven 😛

  4. Ping-balik: 10. Krisis (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s