10. Krisis (2)

Comments 16 Standar

1091075-Clipart-Blond-Woman-Tossing-Heart-Confetti-Royalty-Free-Vector-Illustration

“Jadi, kita semua sudah berkumpul,” kata Kayla, saat mereka berenam akhirnya duduk di meja kafetaria. Cassandra datang tak lama kemudian setelah Kayla dan Lucy mengambil jatah makan siang mereka. “Cassandra pun sudah ada di sini. Dan kita semua sudah mengambil makanan. Lalu, bagaimana kelanjutan cerita yang tadi, Cath?”

Kayla menoleh ke arah Cathy yang sedang mengagumi fruit parfait-nya.

Cassandra yang baru saja datang, terlihat kaget dan bingung. Ia tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi tentu saja tak ingin ketinggalan berita. “Eh, cerita? Ada cerita apa, memangnya, gals? Kalian memulai cerita tanpaku, ya?”

Julie berdehem santai.

“Tenang saja, Cas. Kau tidak ketinggalan apapun, kok,” kata Julie santai, sambil memandang Jessie, sahabat sejatinya hari ini. Ia sangat yakin bahwa di antara mereka tak ada seorang pun yang mengerti inti dari pembicaraan tadi. “Aku saja masih tidak mengerti apa yang sedang Cathy bicarakan.”

Jessie menggeleng-gelengkan kepalanya secara dramatis.

“Waah! Julie ini,” kata Jessie nyinyir. “Benar-benar minta ampun.”

Julie mengernyitkan alisnya, memandang Jessie skeptis. Ia sedikit terkejut karena tidak menyangka kalau Jessie justru malah tidak mendukung pernyataannya.

“Kenapa, Jess? Memangnya kau mengerti?”

“Begini ya, Julie,” kata Jessie, pura-pura menghela napas panjang dan menjelaskan kembali kejadian itu dengan berat hati. “Cathy baru putus dari pacarnya, Jake. Lalu, Sabtu malam kemarin mereka bertengkar karena Jake bilang kalau bajunya Cathy merknya sama dengan baju Emma. Waah. Kurasa IQ-mu mesti kudongkrak di bengkel otak, nih.”

Julie terlihat kesal. Ia menjambak rambut Jessie dan gadis itu menjerit. Jessie membalas jambakan itu dengan berusaha mengacak-acak rambut dan muka Julie yang kusut dengan seluruh tenaganya. Mereka pun beradu tangan seperti kucing-kucing kampung yang sedang berkelahi memperebutkan seekor ikan tuna.

Kayla melanjutkan pertanyaannya.

“Iya, lalu cerita selanjutnya apa?” tanya Kayla. “Kurasa terjadi sesuatu di hari Minggu, sehingga Jake jadi minta putus padamu pagi ini. Benar, kan?”

Cathy meringis.

“Nah, justru itu,” kata Cathy. “Tidak terjadi apapun di hari Minggu! Padahal seharusnya Jake datang mengunjungi rumahku untuk mengajak kami berbaikan.”

Julie dan Jessie berhenti berkelahi dan kembali menyimak percakapan.

“Kalian bayangkan saja,” kata Cathy sambil berapi-api. “Acara makan malamku jadi berantakan dan Jake masih belum minta maaf juga. Well, mungkin dia sudah mencoba minta maaf malam itu, tapi malam itu kan aku sedang kesal. Seharusnya dia tahu kalau aku ingin dia datang dan minta maaf di hari Minggu!”

Cathy menggambarkan harapannya dengan menggebu-gebu.

“Sambil membawakan bunga atau semacamnya. Menyanyikan lagu cinta atau semacamnya. Membuatkan puisi atau semacamnya,” kata Cathy. “Hal-hal yang romantis itu, kenapa dia tidak melakukannya? Selama seharian itu aku menunggu kedatangannya, tapi dia malah tidak datang-datang juga. Dia bersikap seolah-olah dia lupa kalau aku ini adalah pacarnya. Oooh! Di mana rasa cintanya padaku selama ini!?”

Cathy memakan fruit parfait-nya dengan wajah kesal.

Dalam sekejap, Julie dan Jessie langsung memusatkan perhatian mereka pada ekspresi Cathy saat memakan fruit parfait itu. Alis Cathy sedikit berkerut saat mengecap fruit parfait-nya. Julie dan Jessie menanti hasil kerja mereka dengan penuh harapan. Beberapa detik kemudian, sayangnya tidak terjadi apa-apa. Gadis itu justru kembali menikmati suapannya yang kedua.

Kayla bertanya dengan penasaran. “Apa dia tidak mencoba menelepon atau menghubungimu, Cath?”

“Tidak,” jawab Cathy cepat. Ia terlihat sangat tidak meyakinkan. Para gadis menatapnya dengan tajam, seolah-olah ingin membaca isi hatinya yang sebenarnya.

“Baiklah. Iya,” kata Cathy. “Dia berusaha meneleponku beberapa kali setelah dia mengantarkanku pulang malam itu. Dan dia berusaha meneleponku juga hari Minggu itu. Tapi tidak pernah kuangkat. Puas?”

Cathy berusaha membela diri.

“Tapi kalian tahu kan,” kata Cathy. “Aku tidak ingin mengangkat telepon. Pesan-pesan singkatnya pun tidak kubaca. Aku malas! Aku nonaktifkan ponselku seharian itu, karena suara-suara deringan itu sangat mengganggu. Membuatku semakin kesal saja!”

Julie kebingungan. “Lho? Kenapa? Setidaknya dia sedang berusaha untuk menghubungimu, kan? Barangkali ia ingin minta maaf.”

“Kenapa?” tanya Cathy balik. “Kau tanya kenapa?? Yaa—tentu saja karena aku tidak mau mengangkat telepon! ARGH! Yang benar saja! Aku kan sedang kesal, mana mungkin aku mengangkat telepon! Kau gila, apa!?”

Cathy bertopang dagu sambil memasang muka cemberut. “Lagipula, aku kan inginnya dia datang menemuiku di hari Minggu! Menemuiku secara langsung! Minta maaf, membawakan bunga, coklat, menyanyikan lagu-lagu romantis, atau puisi, pergi ke suatu tempat. Masa kau tidak mengerti, sih!??”

Cathy terlihat semakin kesal. Ia menekuk mukanya terlalu serius, sehingga wajahnya yang cantik terlihat aneh dan berlipat-lipat seperti nenek sihir tua. Kebiasaannya yang sering dilakukan setiap kali ia ngambek dan ingin mogok bicara.

“Baiklah, Cath. Tenanglah,” kata Kayla. “Jadi, kalau kusimpulkan—kalian sudah bertengkar hari Sabtu malam, dia tidak datang ke rumahmu hari Minggu kemarin, dan seharusnya dia datang untuk meminta maaf. Mungkin mengajak kencan lagi atau semacamnya. Namun dia tidak datang seperti harapanmu. Benar begitu?”

Cathy mengangguk.

“Ya, Kay. Kau benar sekali,” kata Cathy. Cathy terlihat cukup senang mengetahui bahwa Kayla ternyata bisa memahami perasaannya dan menebak isi pikirannya.

“Seharusnya memang seperti itu,” kata Cathy lagi. Ia melambatkan suaranya, seolah ingin menegaskan apa yang telah dikatakan Kayla barusan. “Kencan kami yang gagal malam itu, seharusnya dia mencoba untuk memperbaikinya. Seharusnya ia datang ke rumahku dan meminta maaf padaku dengan romantis, lalu kemudian mengajak berkencan lagi. Bukannya mengganggu dengan dering telepon yang menyebalkan!”

Cathy mendengus kesal.

“Dan tadi pagi, saat aku bertemu dengannya, saat dia menjemputku untuk berangkat ke sekolah,” lanjut Cathy. “Dia bilang, kalau kemarin dia harus mengikuti latihan basket di luar kota. Jadi ia tidak bisa ke rumahku kemarin—dan semacamnya dan semacamnya. Hah. Yang benar saja.”

Lucy, yang sedari tadi diam saja, mencoba untuk berpendapat.

“Barangkali dia berusaha meneleponmu kemarin untuk memberitahumu soal itu, Cath. Dia kan memang sangat sibuk. Dia harus melatih untuk tim junior, kan? Untuk kompetisi basket musim ini.”

Cathy terlihat naik pitam.

“Ya—terus kenapa?” kata Cathy. “Supaya aku mengizinkannya pergi? Di saat aku sangat membutuhkan kehadiran dia? Di saat seharusnya ia memperbaiki hubungan kami dan kencan kami yang gagal kemarin?”

Cathy mengepalkan tangannya dan memukul meja.

“Jadi—basket LEBIH PENTING daripada AKU, BEGITU??”

Lucy merasa serba salah. Ia menunduk dan menatap lantai, tak berani untuk berkomentar lagi. Kayla berusaha menjadi penengah dan mencairkan suasana.

“Cathy sayang,” kata Kayla. “Kadang-kadang kita perlu mengalah untuk menjadi pemenang sejati. Mengalah untuk kepentingan orang banyak. Bukan berarti hubunganmu dan Jake tidak penting—tentu saja sangat penting—tapi aku yakin Jake punya pertimbangannya sendiri saat ia harus memilih untuk melatih junior-juniornya.”

“Jake punya tanggung jawab yang berat. Aku yakin dia dalam posisi yang sulit saat memilih ini,” kata Kayla. “Kau dan basket, dua-duanya sama-sama penting dalam hidupnya. Namun lebih dari itu—ada tanggung jawab yang berat yang harus ia pertaruhkan saat mendapat kepercayaan untuk melatih tim sekolah kita ini menuju kemenangan. Tanggung jawab yang berat yang seharusnya kita mengerti. Sebagai kekasih yang baik, sudah sewajarnya kita menunjukkan rasa pengertian kita dan memberikan dukungan yang penuh kepada orang yang kita cintai. Memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan untuk kekasih hati kita. Bukan begitu?”

Kayla tersenyum. Cathy—mau tidak mau—menyunggingkan seiris senyumnya yang masam. Ia menghela napas panjang, seolah-olah sangat sulit untuk menerima nasehat itu dalam akal sehatnya.

“Yah, mungkin,” kata Cathy. “Tapi kau tahu, Kay? Semua sudah terlambat. Aku bertengkar dengannya tadi pagi, dan hubungan kami sudah berakhir. Semuanya sudah berakhir.”

Cassandra mengernyitkan wajahnya. “Sungguh? Berakhir begitu saja?”

“Ya. Dan kau tahu apa yang dia bilang? Dia bilang aku ini tidak pengertian. Terlalu egois. Hah, yang benar saja! Dia sendiri memangnya mengerti perasaanku?” kata Cathy lagi. “Dan egois? Halo? Memangnya salah ya, kalau aku ingin pacarku datang menemuiku dan menghabiskan waktu denganku? Aku kan hanya menginginkan apa yang menjadi hakku.”

Cathy membayangkan sosok gadis yang sangat tidak disukainya.

“Seperti Emma. Ya, seperti Emma. Gadis jelek seperti itu saja bisa menyita perhatiannya, kenapa aku tidak?” gerutu Cathy. “Kalau Emma yang minta, pasti langsung dikabulkan. Seandainya saja kejadian ini terjadi pada Emma, pasti Jake akan langsung mengorbankan apapun untuk menemuinya! Gadis menyebalkan itu! Hah! Yang benar saja! Kalau begitu, pacaran saja sana dengan Emma! Untuk apa pacaran denganku!? Aku benar-benar tidak habis pikir!”

Jessie terperangah.

“Wow,” sahut Jessie. “Kau tidak mengatakan hal itu ke Jake, kan?”

“Tentu saja aku mengatakannya!” jawab Cathy. “Dan akhirnya dia marah padaku gara-gara aku malah membahas-bahas tentang Emma. Tentu saja aku akan membahasnya! Gara-gara dia kan pertengkaran ini terjadi! Benar-benar mengesalkan!”

Julie menggaruk-garuk kepalanya dan merasa alien dari Planet Jupiter sedang menyusup ke sela-sela otaknya lagi. Drama ini terlalu sulit untuk dicerna. Apalagi, trik mayonnaise mereka tadi ternyata gagal total. Ia tak henti-hentinya berpikir apakah mayonnaise yang mereka masukkan terlalu sedikit, tapi yang jelas mereka memang belum memasukkan saus tomat ke dalamnya.

“Dia marah padaku dan mulai membahas soal Richard!” amuk Cathy. “Bisa kau bayangkan itu?!”

Mendengar kata ‘Richard’, konsentrasi Julie tiba-tiba kembali ke drama cinta Cathy yang tadinya terasa membosankan. Apalagi Julie biasanya tak tertarik untuk mendengar pembahasan apapun tentang Richard, tapi kali ini adalah perkecualian. Julie memang sudah lama sekali ingin tahu apa pendapat Jake tentang Richard. Topik ini adalah misteri terbesar dalam hidupnya. Hal yang benar-benar ingin ia ketahui saat ini.

“Dia bilang, selama ini dia tahu kalau aku sangat menyukai Richard. Dia sengaja membiarkan hal itu dan tak pernah mempermasalahkannya,” kata Cathy. “Dan tadi pagi—kalian tahu—dia marah padaku karena aku membahas-bahas tentang Emma, padahal selama ini dia sendiri tak pernah mengungkit soal Richard. Dia marah karena aku terlalu cemburu dengan Emma, sementara dia sendiri tak pernah cemburu dengan Richard.”

Pembicaraan ini terdengar semakin menarik. Gadis-gadis The Lady Witches memasang telinga-telinga mereka baik-baik untuk mendengarkan cerita berikutnya.

“Aku bertengkar hebat dengannya saat dia mulai membahas tentang Richard,” kata Cathy. “Dia mulai mengungkapkan kekesalannya padaku, dan akhirnya ia menyuruhku untuk berpacaran dengan Richard saja!”

Cathy melayangkan pandangan sengitnya.

“Yang mana tentu saja akan kulakukan! Aku memang ingin berpacaran dengan Richard dari dulu!” timpal Cathy, seolah tak mau kalah. “Dan aku juga menyuruhnya untuk pacaran dengan Emma sepuas-puasnya, karena mulai detik ini hubungan kami putus!”

“Saat itu ia langsung mengiyakan perpisahan kami. Dan berakhirlah semuanya,” kata Cathy. “Kisah cinta ini sudah berakhir.”

Cathy mulai terlihat sedih. Namun, ia tak bisa menyembunyikan kemarahannya. Kejadian tadi pagi benar-benar sangat menyakitkan untuknya.

“Tidak apa-apa, Cath,” kata Kayla, sambil mengusap punggung Cathy perlahan-lahan. “Kalau kau ingin menangis, menangis saja.”

Cathy menggeleng. “Aku? Menangis? Tidak.”

Julie teringat pengalamannya saat melihat Cathy menangis setelah dilabrak Emma Huygen beberapa bulan yang lalu.

“Jangan khawatir, Kay! Cathy pasti sudah menangis tadi pagi,” kata Julie. “Biasanya kan begitu. Aku yakin seratus persen, tadi pasti kau menangis sampai matamu bengkak.”

Cassandra ikut menimpali. “Oh, yang waktu itu, ya?”

Yeah, begitulah,” kata Julie.

“Aku tidak menangis!” bantah Cathy, menyangsikan apa yang dilihat Julie. “Aku cuma kelilipan. Harus kubilang berapa kali, sih!? OH—”

Cathy menahan napasnya dan memperhatikan satu titik tanpa berkedip. Seolah mengetahui bahasa isyarat yang Cathy pancarkan, gadis-gadis itu langsung menatap ke titik yang sama dan ikut menahan napas mereka.

Sang Pangeran sudah datang.

“Richaard,” desah Cathy, disusul yang lainnya. “Ganteng banget, ya.”

Julie melihat ini sebagai peluang untuk menyelesaikan misinya yang tadi tertunda. Memasukkan saus tomat ke dalam fruit parfait-nya Cathy, mumpung mereka semua sedang tersihir oleh pesona Richard. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Gadis-gadis itu kembali ke alam sadar mereka saat Julie baru saja selesai menuangkan saus tomatnya ke dalam gelas Cathy. Suasana yang tadinya suram dan tegang, tiba-tiba berubah menjadi bahagia dan menyenangkan. Gadis-gadis itu kembali melanjutkan percakapan dengan wajah yang berseri-seri.

“Memandang wajahnya tak pernah membosankan,” kata Cathy. “Begitu indah dan sempurna. Richardku yang tampan!”

Julie mulai memandang wajah Richard dari mejanya. Menikmati wajahnya dan mengaguminya dari kejauhan. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama ini.

Anak laki-laki itu benar-benar telah menyelamatkan hidupnya kemarin. M.Wandolf sangat menyukai esai yang Julie buat—walaupun tadinya sempat menyangsikan keasliannya—tapi Julie berhasil meyakinkan M.Wandolf dengan cara melafalkan tulisan di esai itu, sebagaimana yang pernah diajarkan Richard di Perky’s House, dan laki-laki berkepala setengah botak itu sangat senang dengan kemajuan Julie.

Julie pun sedikit banyak sudah mulai bisa menikmati pelajaran bahasa Prancis hari Jumat kemarin dan pagi tadi—walaupun masih mengalami sakit kepala hebat—tapi setidaknya suara Richard yang berdengung indah di telinganya membantunya merasa lebih baik.

Ia benar-benar merasa berterimakasih.

“Kalian tahu, sepertinya fruit parfait-ku rasanya agak aneh hari ini,” kata Cathy, sambil mengaduk-aduk gelasnya. “Krimnya dan buahnya sangat enak, tapi—entah kenapa rasanya agak lain.”

Jessie dan Julie langsung menegakkan antena di kepala mereka.

“Barangkali yoghurt-nya,” kata Cassandra. “Kadang-kadang ada merk tertentu yang rasanya aneh.”

“Atau mungkin kau harus mengaduknya,” timpal Julie. Ia memberi kode pada Jessie, yang dibalas Jessie dengan kode lagi. “Mungkin yoghurt-nya tidak merata. Aku pernah baca di majalah kalau yoghurt sebenarnya perlu diaduk seperti susu, apalagi jika dicampur dengan krim.”

Cathy mengikuti instruksi itu dengan patuh. Ia mengaduk-aduk adonan fruit parfait itu sekali lagi, untuk memastikan bahwa semuanya tercampur hingga merata.

“Rasanya semakin aneh,” kata Cathy sambil berkerut masam, seperti mau muntah. Ia memakan sesendok fruit parfait lagi, untuk memastikan kejujuran indra pengecapnya. “Tadi rasanya sedikit amis. Sekarang rasanya seperti tomat basi.”

Julie dan Jessie berusaha menahan tawanya sekuat tenaga.

“Masa, Cath?” tanya Cassandra. Ia mengambil sesendok krim, dan meringis. “Kau benar. Rasanya aneh. Tapi agak enak.”

Julie menahan cekikikan sehingga wajahnya memerah. Sementara itu, Jessie tak kuat menahan napas lebih lama lagi dan berusaha untuk bertukar kode dengan Julie. Cathy mulai menyadari keganjilan yang terjadi di antara mereka berdua.

“JULIE, JESSIE,” amuk Cathy.

Kedua gadis itu tertawa lepas. Mereka langsung menjerit minta tolong saat Cathy dengan buas menerkam mereka berdua dan memaksa mereka untuk menghabiskan fruit parfait yang masih tersisa. Kehebohan mereka siang itu menarik perhatian semua orang yang ada di sana, termasuk Nick Si Bulu Hidung Panjang, yang bermaksud untuk bergabung dengan gerombolan mereka di kafetaria mulai hari ini.

“Aloha, Gadis-gadis!” kata Nick dengan semangat. “Sedang asyik, ya?”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

16 thoughts on “10. Krisis (2)

  1. akhirnya dilanjutkan juga 🙂
    ya ampun julie dan jessie kok jahil banget sich 😛
    ckckckckc cath jangan terlalu egois napa
    semangat kak 😀

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Ping-balik: 10. Krisis | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s