10. Krisis

Comments 24 Standar

12864563-in-cafe

Sebenarnya Julie dari dulu selalu bertanya-tanya, mengapa Cathy selama ini dapat mempertahankan hubungannya dengan Jake tanpa masalah.

Kepergian Emma ke luar negeri sedikit banyak memang telah memberikan keleluasaan bagi Cathy untuk meneruskan hubungannya dengan Jake tanpa hambatan. Tapi lebih dari itu—masalah yang sebenarnya justru ada pada kepribadian Cathy itu sendiri.

Orang-orang normal pun tahu hal ini.

Cathy masih tergila-gila dengan Richard.

Setiap jam makan siang di kafetaria, teriakan histeris Cathy dan para gadis setiap mereka membahas soal Richard Sang Pangeran tentu saja menggaung dengan sangat jelas di sekeliling ruangan kafetaria—seperti auman singa di padang rumput Sabana. Tak ada alasan yang masuk akal yang bisa membenarkan bahwa di tengah-tengah kegilaan ini, Jake tidak mengetahui penyimpangan yang jelas-jelas terlihat bahwa Cathy masih sangat menyukai Richard sampai sekarang.

Julie baru saja akan melupakan hal ini dan mulai menganggapnya sebagai sebuah kebetulan, sampai akhirnya ia mendengar sendiri kabar yang mengagetkan dari Cathy Pierre saat mereka berlima—tanpa Cassandra—sedang berjalan menuju kafetaria pada jam makan siang.

“Aku putus dengan Jake,” kata Cathy suatu ketika, memecah keheningan.

“Ha?” Julie bengong.

“Dia minta putus tadi pagi,” kata Cathy. Cathy menggeram dan keningnya mengerut. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan kekesalan yang teramat dalam. “Dia itu minta putus dariku tadi pagi!”

“KENAPA!?”

Cathy meraung dengan nada yang amat marah.

Keempat gadis The Lady Witches saling berpandangan dalam bahasa isyarat yang baru saja mereka ciptakan. Mereka tadinya tak yakin apakah gadis ini sedang bicara serius atau sebenarnya hanya ingin mencari perhatian saja—seperti yang biasanya ia lakukan.  Tapi melihat reaksi Cathy yang lebih dramatis daripada biasanya, bisa disimpulkan kalau kejadian kali ini memang sungguhan.

“Apa yang terjadi? Mengapa dia tiba-tiba memutuskanmu? Apa kau melakukan sesuatu yang buruk padanya?” tanya Jessie.

Julie hampir saja akan menanyakan pertanyaan yang sama—untung saja tak jadi. Pertanyaan itu justru membuat Cathy ngamuk besar.

“APA?” hardik Cathy.

Ia memandang Jessie dengan tatapan sinis yang kejam. Sorot matanya mengkritik tajam, seolah-olah akan menusuknya dengan jari-jarinya yang baru saja di-pedicure.

“Berbuat sesuatu yang buruk!? AKU??”

Julie bersyukur setengah mati ia tadi tidak jadi menanyakan pertanyaan konyol itu. Kalau saja ia jadi menanyakan pertanyaan itu menggantikan Jessie, bisa-bisa ia terkena serangan jantung dan masuk ruang ICU dengan tabung oksigen sekarang. Atau meleleh menjadi es krim encer.

“Yang benar saja! Kau pikir aku ini gadis seperti apa, Jess!?” amuk Cathy.

Wajah Jessie pucat pasi dan bergidik ngeri, lebih-lebih karena terperanjat oleh teriakan Cathy yang menyeramkan.

“Tenanglah, Cath,” kata Kayla dengan lembut, berperan sebagai penengah yang baik di antara keduanya. Ia merangkul tangan Cathy dengan perlahan dan berbicara dengan nada keibuan yang menyenangkan.

“Tenanglah. Kita akan bicarakan ini nanti di kafetaria.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kafetaria dalam kesunyian. Sementara itu, Jessie yang baru saja dihardik oleh Cathy, masih meratap suram di ujung barisan. Dan yang lain—tak ada seorang pun yang berani untuk membuka mulutnya, apalagi membahas apapun yang berpotensi akan mengundang kemarahan Cathy berikutnya.

Cathy Si Monster yang mengerikan.

Julie menghitung langkah demi langkah yang ia susuri sepanjang koridor itu. Entah mengapa, perjalanan menuju kafetaria kali ini terasa sangat panjang. Tapi Julie tak mau ambil pusing. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali asyik memikirkan rencananya untuk mengerjai Lily di hari ulang tahun ibunya itu minggu depan. Mungkin sebuah kue ulang tahun rasa saus tomat  bisa jadi ide yang sangat cemerlang.

“Baiklah, Cath,” kata Kayla setelah mereka tiba di kafetaria dan mengambil sebuah meja.

“Sekarang ceritakan pada kami apa yang terjadi. Tenanglah, dan ceritakan semuanya dengan perlahan-lahan. Kami mendengarkanmu.”

Cathy menggigit bibirnya dan berdiam diri sejenak.

“Jadi,” kata Cathy, setelah berhasil menurunkan amarahnya. “Dua hari yang lalu, aku dan Jake berkencan di Raffletu Café. Kami sedikit bertengkar.”

Ini berita baru bagi Julie. Cathy biasanya tak pernah bercerita tentang pertengkarannya dengan Jake. Tidak pula ke gadis-gadis The Lady Witches, dalam sepengetahuannya.

Cathy lebih sering bercerita tentang hal-hal yang romantis tentang kisah cintanya dengan Si Tampan Jake—kapten tim idaman para gadis, kemesraannya dengan Jake yang membuat iri semua wanita, atau memamerkan kisah cintanya yang indah seperti kisah Cinderella. Hubungan mereka terlalu indah untuk diceritakan.

“Malam itu harusnya jadi malam minggu kami yang indah, kalau saja dia tak mengungkit-ungkit soal Emma. Emma lagi, Emma lagi! Kenapa gadis itu selalu saja menghantui hubungan kami, bahkan setelah dia pergi ke luar negeri!?”

Cathy mengumpat sambil mengepal tangan kirinya dengan marah. Emosinya mulai meningkat, namun raut wajah Kayla yang keibuan telah membuatnya berusaha untuk kembali mengendalikan amarahnya.

“Jake berkata kalau Emma juga suka membeli merk yang sama, pada saat aku meminta pendapatnya tentang baju baruku,” kata Cathy.

Ia menggigit bibirnya dan memandang jijik, seolah-olah tidak tahan lagi dengan kesabarannya sendiri.

“Haah?! Memangnya aku peduli apa soal dia?” tukasnya jengkel. “Aku kan bertanya tentang bajuku, bukan baju Emma! Kenapa malah dia sih yang dibahas? Emma jelek itu! Aku tak peduli apapun baju apa pun yang dia pakai—sepatu, tas, sikat gigi, handuk—aku  tak peduli. Pokoknya aku tak mau tahu apapun tentang dia!”

Cathy mengamuk.

“AKU TAK MAU TAHU!”

Kayla menyentuh tangan Cathy sekali lagi, berusaha menghibur perasaannya yang sedang kacau, sambil tersenyum dengan hangat.

“Tenanglah, Cathy. Aku mengerti perasaanmu,” kata Kayla sambil tersenyum dengan sinar matanya yang teduh. “Kami semua mengerti. Tenanglah.”

Well.

Sejujurnya—bertolak belakang dari apa yang dikatakan Kayla—Julie masih sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi. Delapan puluh delapan koma lima persen dari syaraf-syaraf otaknya yang lemah masih sedang berusaha untuk menemukan kaitan antara hal ini dengan putusnya Cathy dan Jake.

“Aku tak suka memakai merk yang sama dengan Emma,” kata Cathy dengan ketus. Tatapan matanya kembali buas. Barangkali tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dari Cathy Pierre, selain Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan.

Julie memandang Jessie yang sedari tadi hanya berdiam diri seperti patung baja. Saat kedua mata mereka saling bertatapan, tiba-tiba Jessie tersenyum licik dan memberikan sinyal yang biasanya hanya ia pancarkan ke Julie dengan kelakuan konyol mereka berdua. Julie terkesiap, menahan senyum, seolah-olah tahu apa yang Jessie pikirkan.

“Baiklah, Cath. Kau tahu?” kata Jessie suatu ketika. Ia terlihat sangat simpati dan bertekad kuat untuk melakukan sesuatu. “Aku juga tak akan pernah membeli merk itu lagi, Cath. SELAMANYA.”

Jessie menggaruk hidungnya yang tidak gatal.

“Tapi—ada satu hal yang ketinggalan. Berhubung aku masih pemula­­,” kata Jessie, dengan wajah yang polos.

“Ngomong-ngomong—apa ya merk bajunya?”

Julie dan Jessie tertawa.

Kelakuan Cathy yang aneh memang tidak pernah ada habis-habisnya bagi pasangan Julie dan Jessie untuk menjadi bahan lelucon yang menyenangkan. Mereka berdua selalu sepakat soal itu. Dan kadang-kadang mereka bisa bertingkah sama konyolnya, hanya saja kali ini mereka bertingkah konyol di saat yang sungguh-sungguh tidak tepat.

“JESSIEE. JULIEE,” kata Cathy. Ia kembali mengamuk. “Kalian mau kubuat jadi Jessie Cincang dan Julie Panggang?! HAAH?!”

Julie mengangkat tangannya untuk membela diri, terutama saat jari-jemari Cathy yang berkuku panjang berusaha mencengkram pundaknya.

“Lho!? Aku tak bicara apapun, lho,” kata Julie, sambil cekikikan. “Aku cuma, eheheh, aku cuma—”

Julie dan Jessie masih cekikikan sambil memegang perut mereka dengan geli.

“Aargh, sudahlah! Aku tak pernah bisa bicara serius kalau ada mereka berdua di sini!” gerutu Cathy sambil mendengus kesal. “Kay, Lucy, ayo kita pindah saja. Awas kalian, ya! Kupastikan kalian berdua tidak pulang dengan selamat!”

Cathy menggeser kursinya menjauh dari Jessie dan Julie, merapat ke arah Lucy dan Kayla. Ia menutup sebelah wajahnya dengan tangan, berusaha untuk memalingkan mukanya dari Jessie dan Julie yang masih tertawa di kursi mereka.

Cathy tidak peduli pada kedua orang itu.

“Kalian bisa bayangkan kan bagaimana rasanya perasaanku waktu itu?” Cathy kembali melanjutkan ceritanya dengan wajah yang menekuk dan alis bertaut. “Marah. Kesal. Benci. Muak. OOHHHH!! Rasanya hari itu aku benar-benar jadi gila.”

Cathy melenguh. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jarinya dan terlihat frustrasi.

“Dan saat itulah aku marah dengan Jake. Aku bilang padanya untuk berhenti membahas-bahas soal Emma lagi. Aku tak percaya sampai sekarang dia masih sering memikirkan wanita yang sangat menyebalkan itu. Bahkan setelah aku berada di sisinya sekarang, ia masih saja memikirkan Emma! Apa cintaku ini masih kurang cukup!??” kata Cathy.

Cathy tetap mengulang-ulang kalimat yang sama, seolah-olah ingin menekankan betapa pentingnya kejadian itu.

“Dan karena dia adalah pacarku, harusnya ia hanya memikirkan aku saja. Ya. Aku saja. Cuma aku!”

Julie menghentikan tawanya.

“Lho. Aku tak mengerti, Cath,” kata Julie dengan wajah bingung. “Mungkin memang benar dia pacarmu dan seharusnya dia tidak memikirkan gadis lain. Tapi kau sendiri kan juga sering memikirkan Rich—“

“SHHHHH,” Cathy berdesis panjang, sambil menaruh telunjuk di depan bibirnya sendiri. “Aku belum selesai bicara. Julie. Tidak ada yang boleh bicara sebelum kuizinkan bicara, karena aku belum selesai berbicara.”

“Lagipula, hey—”

Cathy sepertinya baru menyadari sesuatu.

“Kau kan baru saja kuhukum tadi dengan Jessie. SANA! Kalian berdua tidak boleh ikut menguping pembicaraanku. AWAS YA!”

Cathy mengibas-ngibaskan tangannya seperti hendak mengusir lalat. Julie dan Jessie saling berpandangan dengan senyum yang tertahan.

“Dan akhirnya, aku minta pulang, dan acara makan malam kami hari itu pun jadi berantakan,” sambung Cathy dengan dramatis, sambil menatap meja dengan wajah sedih. Biar bagaimanapun, gangguan dari Jessie dan Julie tak menyurutkan mood-nya untuk menceritakan hal ini dengan dramatisasi yang pantas.

“Acara makan malam yang seharusnya romantis ini akhirnya jadi berantakan. Dan semuanya gara-gara Emma!”

Lucy yang sedari tadi diam saja, akhirnya mulai menanyakan pertanyaan yang dari tadi juga ada di pikiran Julie.

“Kalau begitu, apa hubungannya dengan kejadian hari ini, Cath? Kenapa kau bisa putus dengan Jake?”

Julie bersorak. Akhirnya ada orang yang menanyakan pertanyaan yang tepat.

“Ehm, soal itu,” gumam Cathy sambil melirik salah seorang siswa Nimber yang sedang berjalan sambil membawa nampan berisi makanan. Warna yang mencolok pada makanan itu ternyata sangat menarik perhatiannya.

“Itu yang mau kuceritakan sekarang.”

Ia memutar balik tubuhnya, masih penasaran dengan menu minuman apa yang dibawa anak itu. Saat ia memperhatikannya lebih dekat, segelas yogurt berlapis krim vanila dan potongan buah warna-warni seperti pelangi, telah membuat matanya terbelalak dan kini ia menjerit seperti kesetanan.

“RAINBOW FRUIT PARFAIT!” teriak Cathy sambil menggebrak meja. “OOOOHH!!!! Aku tak percaya mereka membuatnya hari ini!!!”

Cathy melonjak kegirangan. Ia meloncat keluar dari tempat duduknya. Sekonyong-konyong ia berlari meninggalkan teman-temannya, yang masih terbengong di meja mereka.

“Aku ambil fruit parfait dulu, ya!” teriak Cathy dalam perjalanannya menuju etalase kafetaria. “Gila! Aku tak percaya mereka membuatnya hari ini. Yeay!”

Kayla menggaruk kepalanya, memandang Lucy dengan heran. Lucy mengangkat pundaknya sambil menggelengkan kepala. Sebuah kisah cinta yang awalnya sangat menguras emosi ini, tanpa diduga ternyata bisa terlupakan begitu saja hanya gara-gara makanan.

“Daan—terputuslah cerita cinta kita yang sangat romantis ini,” kata Jessie sambil terkikih saat memandang Cathy dari kejauhan. “Kurasa sudah saatnya kita mengambil makanan juga, Teman-teman.”

“Julie—” kata Jessie lagi, sambil berdesah dengan napas yang dalam. “Kau sudah jadi sahabat sejatiku hari ini. Sebagai bentuk penghormatanku, maukah kau menemaniku mengambil makanan di etalase kafetaria?”

Julie menggangguk.

“Aku ingin mengerjai Cathy dan fruit parfait-nya itu,” sambung Jessie. “Barangkali ada saus mayonnaise yang bisa kita masukkan ke sana.”

“Ayo,” kata Julie sambil tertawa.

“Kay, Lucy, kalian tunggu di sini, ya,” kata Jessie. “Jangan bilang apa-apa soal mayonnaise.”

Julie dan Jessie telah beranjak dari tempat duduk mereka untuk bersiap-siap menuju ke etalase makanan. Julie sekarang memandang Jessie dengan sangat bangga. Meskipun kadang-kadang menyebalkan, tapi hari ini Jessie memang benar-benar tampak seperti belahan jiwanya.

“Oh ya, Jess,” kata Julie. Ia tiba-tiba teringat dengan rencana saus tomatnya untuk kue ulang tahun ibunya. Ia ingin menerapkan ini pada keisengan mereka hari ini. Sepertinya ini akan jadi ide yang sangat hebat.

“Menurutmu, bagaimana kalau kita tambahkan juga saus tomat di fruit parfait-nya Cathy?”

Jessie menyeringai lebar.

“Ha,” sontak Jessie. “Julie. Kau jenius.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

24 thoughts on “10. Krisis

  1. hahaaa…lama g nongol nih lady bitches
    skali nongol lgsung bkin heboh
    tpi aku msih kangen richard kak >.<
    hope that he'll appear soon, may be in the next chapter ^^

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. c julie ada2 aj, orng lgi heboh sm c cathy ini mlh kepikiran bwt jahilin ibu nya… wkwkwk..lol d tunggu updatean ny kak,..

  4. Ping-balik: 09. Penyelamat (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s