09. Penyelamat (3)

Comments 12 Standar

cropped-1300b235v0a0-2d37.jpg

“Selesai.”

Julie bernapas lega.

Ia sejujurnya masih tidak percaya bahwa ia berhasil menyelesaikan tugas terkutuk ini dengan tangannya sendiri—dibantu oleh Richard—dengan lancar dan mudah, namun senyum memikat Richard di sampingnya membuat Julie merasa keajaiban itu memang benar-benar ada. Julie tak tahu bagaimana anak laki-laki itu melakukannya, tapi ia merasa anak laki-laki itu sangat berbakat menjadi seorang guru Prancis.

“Terima kasih banyak, Richard,” kata Julie sambil memandangnya dengan tatapan bersahabat. “Kau benar-benar hebat. Aku tak percaya bisa menyelesaikan tugas ini dengan begitu mudah.”

Julie menyeruput jus cranberry-nya yang tersisa tinggal sedikit.

“Kamus online—aku tak mengerti dari mana kau bisa dapat ide itu,” kata Julie. “Tapi itu benar-benar pintar.”

Richard menyambut pujian itu dengan satu senyuman tulus yang membuatnya terlihat semakin tampan. “Sama-sama, Julie. Kurasa kau pun berbakat menguasai bahasa Prancis, mengingat kemampuan sastramu yang cukup mengagumkan. Hanya saja kau belum menyadarinya.”

Otak Julie terjungkal mendengar pernyataan yang sangat menggelikan tersebut.

“Berbakat?” kata Julie sambil cekikikan. “Yang benar saja. Kau harus tahu ceritaku di kelas Prancis, Richard, aku yakin pasti akan membuatmu berubah pikiran.”

Richard memperhatikan dengan seksama. “Hm? Apa itu?”

Tiba-tiba Julie merasa tergugah untuk mengekspresikan kisah hidupnya ke dalam sebuah dongeng yang mengenaskan, indah, dan dramatis.

“Pada zaman dahulu kala, ketika Putri Julie masih tinggal di Istana SpringButter Middle School,” kata Julie dengan suara yang khas dan dalam, bagaikan seorang penyair bungkuk tua dari kerajaan Mesopotamia. “Hiduplah seorang nenek sihir bernama Madmazel Ellene yang terkenal dengan kekejamannya saat membantai rakyat SpringButter yang tak berdosa.”

Julie melanjutkan kisahnya dengan penuh penghayatan.

“Nenek sihir itu mempunyai sebuah jimat sakti bertuah bernama Mustika Kelas Prancis yang membuatnya hidup abadi dengan menyedot kebahagiaan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Mustika Kelas Prancis menghisap darah manusia-manusia dan membuat tubuh mereka mengkeriput menjadi kurcaci dan menggelambir menjijikkan di bagian kulit wajah mereka.” Julie menambahkan sebuah pernyataan lagi untuk membuatnya terdengar semakin dramatis. “Bahkan cacing pun berubah menjadi kurcaci!”

Richard menahan tawanya sambil berkata, “Sungguh? Cacing menjadi kurcaci?”

Julie menatap Richard dengan sungguh-sungguh.

“YA! Cacing, ular, katak, kepompong—semuanya menjadi kurcaci,” kata Julie dengan nada menggeram. “Hingga akhirnya Putri Julie mencoba melawan nenek sihir sakti itu dan ia terkena sinar radiasi Mustika Kelas Prancis yang membakar sekujur tubuhnya. Rasanya benar-benar panas dan menyakitkan. Putri Julie tak kuasa melawan kekuatan nenek sihir jahat Madmazel Ellene dan ia akhirnya menyerah pada kekalahan.”

“Lalu Putri Julie pun berubah menjadi amuba,” kata Julie lagi. Tak lama kemudian, ia pun mengakhiri ceritanya dengan santai.

“Tamat.”

Julie mengunyah potongan terakhir kentang gorengnya.

Richard sempat terdiam selama beberapa detik. Alam bawah sadarnya masih menunggu akhir dari kisah dongeng yang tak masuk akal ini, namun ketika ia menyadari bahwa ceritanya sendiri sudah selesai dengan berubahnya Julie menjadi amuba, ia pun tertawa terpingkal-pingkal.

“Amuba?” kata Richard sambil terkikih. Cerita itu terdengar tak masuk akal untuknya. “Bagaimana mungkin ia menjadi amuba?”

“Dengan bantuan sinar ultraviolet,” ungkap Julie. “Sinar ultraviolet mengubah omega-3 dan triclosan menjadi DHA, yang baik untuk pertumbuhan anak—Ohh, baiklah Richard! Aku sedang berbicara di sini. Kenapa mukamu tidak serius begitu?”

Richard menahan senyumnya dengan wajah yang menggemaskan.

“Aku sedang pidato di sini, Richard,” cetus Julie. “Bagaimana caranya aku dapat mengungkapkan derita yang kualami di Kelas Prancis padamu, kalau kau terus-menerus memperlihatkan wajah polos seolah-olah kau tidak mempercayai kata-kataku. Ayolah, serius sedikit.”

Julie pura-pura memasang tampang cemberut.

“Oh. Maafkan aku,” kata Richard meminta maaf dengan nada bersalah. “Aku hanya sedang menantikan kalimat-kalimatmu yang berikutnya. Kau ini sangat lucu.”

Richard pun mencoba menghibur suasana hati Julie dengan mengangkat cerita dongeng itu lagi. “Baiklah, setelah berubah jadi amuba, lalu apa yang terjadi dengan Putri Julie? Apakah dia hidup bahagia sebagai amuba?”

Julie menggeleng.

“Tidak. Dia dihukum mencuci toilet sekolah, seumur hidupnya,” kata Julie dengan wajah mengenaskan. Tak lama kemudian, ia pun menimpali lagi sambil bersungut-sungut. “Kau bisa bayangkan? Setiap hari aku disuruh membersihkan toilet sekolah, sebagai dispensasi untuk mengizinkanku naik kelas. Dan itu—setiap hari. Rasanya seperti menghabiskan seumur hidupmu di tempat yang biasanya hanya ingin kau kunjungi satu kali sehari saja, dan tidak lebih dari lima menit.”

Julie mendengus. Pengalaman itu di satu sisi cukup baik untuk kehidupan sosialnya, tapi di sisi lain juga sangat buruk untuk kehidupan intelektualnya sebagai manusia berakal.

Well, aku pun mulai berkenalan dengan orang-orang yang buang air di toilet sekolah dan menjadi terkenal karenanya,” sambung Julie—tak tahu apakah ia harus bersyukur atau merana untuk sisi positif yang satu ini. “Benar-benar fantastis.”

Richard memperhatikan cerita itu dengan sungguh-sungguh.

“Kenapa mereka tidak memberikanmu tugas akademis tambahan di Kelas Prancis, Julie? Kau tidak bisa naik kelas karena Kelas Prancis, bukan?” tanya Richard. “Beberapa orang temanku juga pernah seperti itu, namun mereka pun diluluskan oleh guru kami setelah mengerjakan tugas pengganti.”

Julie mengangkat pundaknya dengan enteng.

Yeaah—mengingat nilai tugas dan ujian Prancisku selama ini selalu nol—ya benar, nol—jadi percuma juga kalau memberiku tugas Prancis tambahan,” kata Julie. “Berbagai jenis hukuman yang lain juga pernah kulalui, Richard. Mengisi teka-teki bahasa Prancis, artikel berbahasa Prancis, ulasan film Prancis terjemahan, drama Prancis, mengisi soal kuis singkat, tanya jawab, mengeja, menyusun Scrabble, kata bersambung—bahkan jenis hukuman lain yang tidak ada hubungannya sama sekali, seperti lari di tempat, sit up, mencoret muka, memanjat pohon, kuncir kuda di atas poni, jongkok di depan kelas, daaan—pada akhirnya sampailah pada hukuman toilet.”

Richard menyunggingkan senyumnya yang begitu menawan.

“Aku pernah dengar tentang hukuman toilet itu,” kata Richard. “Tapi hanya sepintas saja. Aku tak tahu kalau kau juga sering dihukum di Kelas Prancis, Julie.”

Julie menggambar pohon cherry di buku gambarnya, sambil menambahkan ornamen-ornamen buah cherry bulat dan bersisik.

“Ya, begitulah. Contohnya seperti tugas esai Prancis hari ini. Aku tak tahu bagaimana jadinya nasibku nanti jika tidak ada kau, Richard. Well—bisa-bisa aku malah jadi selebriti toilet lagi di Nimber,” kata Julie. “Tapi kalau dibandingkan dengan Springbutter, kehidupan Kelas Prancisku di Nimber sebenarnya sudah jauh—jauh membaik. Yang jelas, jauh lebih sedikit jumlah hukuman—dan jenis hukuman—dan kuakui M.Wandolf memang guru Prancis yang benar-benar baik.”

“Aku senang bisa membantumu,” kata Richard. “Lain kali, jika kau butuh bantuan lagi—apapun itu—jangan sungkan untuk minta bantuanku lagi. Aku akan dengan senang hati membantumu mengerjakannya.”

Julie menggigit bibirnya, mengingat betapa histerisnya gadis-gadis The Ladybitches tiap kali Julie berdekatan dengan Richard, pertemuan lain kali seperti ini mungkin saja tidak akan pernah terjadi lagi.

“Oke,” kata Julie. “Tapi kalau lain kali a—”

“SELAMAT SORE.”

Seorang pelayan Perky’s House menghampiri mereka saat itu dengan baki besar di kedua tangannya. Wanita itu terlihat berbeda dengan pelayan wanita yang tadi sore mengantarkan pesanan—postur tubuh lebih besar, usia yang lebih tua, dan suara serak yang sungguh-sungguh menggelegar—namun ekspresi wajah yang hangat dan ramah dari wanita tua ini membuat suasana hati Julie menjadi semakin cerah.

“HALO NONA,” kata pelayan wanita itu sambil memandang Julie. “DAN OHH—HALO ANAK TAMPAN.” Wanita itu tersenyum dengan mata yang berbinar. “APAKAH KALIAN SUDAH SELESAI MAKAN?”

Julie mengangguk cepat. “Yup, Madam! SUDAAAH.”

Wanita itu mengambil piring dan gelas kotor yang berada di atas meja mereka.

“KALAU BEGITU, PIRINGNYA KUANGKAT, YA MANIS?”

Richard tersenyum kaku. Ia terus memandangi wanita itu dengan was-was—sambil berusaha mempertahankan senyumannya yang semakin membeku.

“OKE. AKU PERGI DULU YA, SAYANGKU.”

Wanita itu mengangkat baki dengan satu tangan. Sebelum pergi, ia tak lupa mencubit pipi Richard dengan keras dengan tangannya yang satu lagi, hingga pipi itu memerah seperti buah beri. Ia mengedipkan mata dan melayangkan kecupan di udara untuk anak laki-laki itu.

“MMUAH,” kata wanita itu. “DAAAGH TAMPAN.”

Julie cekikikan dan perutnya terasa benar-benar geli.

Pipi Richard terlihat semakin merah—merah karena malu. Bulu kuduknya bergidik ngeri. “Aku baru tahu kalau pelayan di sini merapikan piring bekas makanan.”

“Memang tidak,” kata Julie sambil cekikikan. “Hari ini kan spesial untukmu. ANAK TAMPAN.”

Richard salah tingkah.

“Dari dulu aku selalu takut dengan wanita seperti ini,” kata Richard. “Mereka besar dan ramah. Tapi bisa berbuat apa saja, dan itu kadang membuatku khawatir.”

Julie tak bisa membayangkan jika seandainya Richard bertemu The Lady Witches dalam kesehariannya—mereka memang tidak besar, tapi kelakuan mereka bisa jadi lebih parah dari ini.

Atau tidak. Gadis-gadis itu memang labil.

“Misalnya?” goda Julie. “Dicubit pipinya, atau dikecup di udara? Atau—dikecup oleh tante-tante genit?”

“Teman-teman ibuku,” desah Richard. “Mereka sering sekali memelukku, mencubit dan mencium pipiku sewaktu aku kecil—dengan frekuensi yang sangat tidak normal. Ugh, membuatku merinding tiap kali membayangkannya.”

Julie tertawa membayangkan Richard kecil yang dikelilingi oleh tante-tante genit dan terkulai pasrah tidak berdaya.

“Sejak kecil sudah punya penggemar rupanya,” goda Julie lagi. “Teman-temanku juga sangat tergila-gila padamu, Richard. Kayla, Jessie, Cassandra, Lucy, dan Cathy—wah, apalagi Cathy. Dia benar-benar gila, kalau kubilang.”

Tiba-tiba Julie teringat kalau Cathy sudah berpacaran dengan Jake. Tak peduli betapa masih tergila-gilanya Cathy pada Richard—dan betapa menariknya berita itu untuk diceritakan, bukanlah hal yang baik untuk menceritakan betapa tentang kesukaan Cathy terhadap Richard di depan Richard—terutama karena Cathy sedang berpacaran dengan Jake.

Dan meskipun sekarang momen yang sangat pas untuk mendapatkan informasi soal siapa penggemar Richard semasa kanak-kanak—topik yang sangat menarik bagi The Lady Witches dan gadis-gadis Nimber lainnya—tapi Julie tahu kalau pada dasarnya ia sendiri tidak pernah tertarik membahas topik ini.

Well, kalau begitu,” ujar Julie, berusaha mengalihkan topik. Ia berharap semoga Richard tak begitu memperhatikan apa yang tadi ia ucapkan.  “Mungkin sudah saatnya aku membayar tagihannya, ya? Pelayan?”

Julie memberi sinyal kepada pelayan yang berada di dekatnya.

Julie menyiapkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa dolar dari dompet tersebut. Tak lama kemudian, pelayan tadi pun menghampirinya dengan selembar kertas tagihan di tangannya.

“Terima kasih karena sudah membantuku, Richard. Bantuanmu benar-benar menyelamatkan hidupku hari ini,” kata Julie, sambil menyerahkan uang itu pada sang pelayan “Jika ada yang bisa kulakukan untuk membalas jasamu, katakan saja. Mungkin aku bisa membantumu membuat PR Matematika.”

Julie menahan tawanya.

Julie tak tahu dari mana ide menggelikan itu muncul. Ia sendiri saja tidak pernah bisa membuat PR Aljabar sendiri tanpa bantuan Lucy. “Jangan malu-malu,” tambahnya.

Richard tergelak. Dia mengulum bibirnya dan membuat simpul di kedua pipinya terlihat sangat menarik.

“Boleh, lain kali,” kata Richard. “Makanan yang disajikan hari ini pun sudah lebih dari cukup untuk membuatku senang. Lain kali mungkin aku yang akan mentraktirmu makan.”

Julie mengangkat kedua alisnya, meragukan pernyataan itu. Ia sendiri tidak yakin apakah ada pertemuan lain kali nanti.

“Baiklah, kutunggu di restoran yang paling mahal, ya?” kata Julie sambil tersenyum geli. Ia mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Richard. Richard menyambut jabatan itu dengan senyum hangat.

“Sampai ketemu lagi,” kata Julie santai. “Adios-oblada. ”

Richard tergelak.

Au revoir, Julie.”

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

12 thoughts on “09. Penyelamat (3)

  1. Arghh….kak sonya sllu bsa bkin kejutan
    #kejutan akhir taun yg menyenangkan ^^
    well…dsini kliatan banget jul-rich bner2 kya’ couple
    T.T jadi ngiri aku
    kak…ditunggu lanjutannya yaa…hadiah taun baru 2013 gitu
    makasiih ;*

  2. so sweet banget sich
    udh kyak pacaran aja
    julie kok kyak gak mau ketemuan lagi ama richard sich
    ditunggu lanjutannya kak 🙂

  3. luv this chapter~^_^ tapi si Julienya… si Julienya… kelihatan ada rasa ‘suka’ sama si Richard dehh~
    updatenya donk kakak~ :3

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  5. Ping-balik: 09. Penyelamat (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s