09. Penyelamat (2)

Comments 26 Standar

School_Clip_Art_151

Richard melihat beberapa pelayan wanita sedang melirik ke arahnya. Mereka bertiga tampak sedang bergerombol di pojok ruangan, sesekali saling tarik-menarik lengan baju, dan tersenyum-senyum kegirangan. Sepertinya mereka sedang memperebutkan sesuatu yang tidak terlalu jelas bagi Richard, sampai akhirnya salah seorang dari mereka memenangkan perdebatan itu dan membuat iri rekan-rekannya yang lain. Wanita itu pun mengambil buku menu dari meja pelayan. Ia kemudian memberanikan diri untuk menghampiri Richard dan menyapa anak laki-laki itu dengan wajah yang memerah.

“Halo,” kata pelayan itu malu-malu. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

Richard tersenyum ramah.

“Untuk saat ini belum,” jawab Richard. “Aku sedang menunggu temanku. Sebentar lagi dia akan datang. Oh, ya. Bolehkah aku menunggu di sini sebelum memesan sesuatu?”

Pelayan itu mengangguk dengan cepat dan penuh semangat.

“Tentu saja boleh, Tuan. Anda bisa menunggu selama yang Anda inginkan,” kata pelayan itu. “Apakah Anda ingin saya temani sambil menunggu teman Anda datang?”

Richard menyunggingkan senyumnya yang begitu menawan.

“Tidak, terima kasih,” kata Richard. “Saya tidak ingin sampai mengganggu waktu bekerja Anda hanya karena menemani saya sendiri di sini. Lagipula, temanku pun tidak lama lagi akan tiba. Tapi, terima kasih banyak atas tawarannya.”

Pelayan itu terlihat kecewa.

“Baiklah,” gumam pelayan itu dengan intonasi yang melemah. “Tapi jika Anda sudah ingin memesan sesuatu, langsung panggil saya saja, ya? Saya akan berdiri di belakang sana, kalau-kalau Anda membutuhkan bantuan saya.”

Richard mengangguk. “Oke.”

Setelah pelayan itu pergi, Richard kembali melihat sekelilingnya untuk memastikan bahwa orang yang ditunggunya itu sudah datang. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun dari gadis itu, karena itu Richard menduga barangkali ia akan datang terlambat.

Jam empat lewat sepuluh.

Richard melihat seorang gadis berambut pirang sedang berjalan sendirian di pintu masuk. Wajahnya yang setengah menunduk tertutup sebagian oleh rambutnya yang terurai panjang. Sepintas postur tubuh dan tingginya tampak mirip sekali dengan Julie. Hidung dan tulang wajahnya pun tampak mirip dari kejauhan. Gadis itu tampak mengenakan high heels dan mengambil lipstik dari dompet besar merah yang menggantung di tangan kanannya dengan gerakan yang anggun.

Kening Richard berkerut.

“Bukan dia,” desah Richard. Richard melihat jam tangannya sekali lagi, lalu melirik ke arah telepon selularnya, lalu teringat akan satu hal yang penting.

Ia tidak punya nomor ponsel gadis itu.

Lima belas menit berlalu. Richard baru saja akan memainkan ronde baru permainan catur yang ada di PSP-nya ketika ia melihat sekelebat bayangan tengah berlari beberapa kaki dari hadapannya. Bayangan itu berlari dengan langkah kikuk terburu-buru yang sangat khas, dan semakin lama semakin memperlihatkan sosok yang sangat ia kenal.

Julie Light. Akhirnya gadis itu datang juga.

“RICH—”

Gadis itu setengah berteriak, namun tidak melanjutkan teriakannya, karena tiba-tiba ia teringat bahwa pertemuannya dengan Richard hari ini adalah pertemuan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Gadis itu langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri Richard yang sedang duduk menungguinya di meja kafe.

“Hai Julie,” sapa Richard. “Senang bertemu denganmu lagi.”

Julie menyengir seperti kuda. Keterlambatannya kali ini benar-benar tidak mengesankan. Dan sebelum Richard membahasnya, ia berpikir ada baiknya kalau ia mengaku bersalah duluan.

“Senang bertemu denganmu juga. Maaf aku telaaaaaat!!”

Richard tergelak.

“Tidak apa-apa, kok. Silakan duduk. Kau mau minum apa?”

“Tunggu dulu, tunggu dulu,” kata Julie sambil berusaha memulihkan ritme pernapasannya. “Biar aku yang pesan, oke? Kali ini aku yang bayar. Kau terima jadi saja, ya?”

“Baiklah,” kata Richard sambil terheran.

Ketika Julie memanggil pelayan yang ada di belakang Richard, Richard pun teringat bahwa ia sudah menjanjikan sesuatu dengan pelayan yang tadi menghampirinya itu. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan pelayan itu masih ada di sana—dan ternyata masih ada. Setelah Julie memanggilnya, pelayan itu datang menghampiri meja itu lagi, hanya saja kali ini dengan kening yang mengkerut dan wajah yang sedikit ditekuk.

“Mau pesan apa?” kata pelayan itu dengan nada datar.

“Jus cranberry dua—burger dan kentang goreng dua,” kata Julie. Ia tak terlalu memperhatikan ekspresi wajah pelayan ini, karena lebih penting dari itu, perutnya sudah lapar sekali. “Yang cepat, ya.”

Pelayan itu pun melengos pergi setelah mencatat pesanan mereka dan meninggalkan Richard yang tengah kebingungan.

“Jus cranberry?”

“Ya?” sahut Julie. “Ada masalah?”

“Tapi katamu itu kan untuk orang menstruasi?” tanya Richard dengan masam.

“Lho, kupikir kau masih menstruasi, Richard?” kata Julie.

Richard tampak semakin kebingungan.

“Hari ini juga aku menstruasi, jadi aku ingin merayakan menstruasi kita berdua dengan minum jus cranberry. Merayakan sinkronisasi menstruasi kita,” kata Julie sambil menyengir. “Bagaimana?”

Richard tertawa.

“Baiklah,” kata Richard, mengangkat bahunya dengan wajah pasrah. “Kalau menurutmu itu baik untuk organ reproduksiku—aku menurut saja.”

Mereka berdua tergelak.

“Jadi, hari ini agendanya apa?” tanya Richard. “Kalau kubaca dari e-mailmu tadi malam, tentang tugas Prancis, ya?”

Julie tidak percaya bahwa hari ini ia berada di sini untuk bercengkrama dengan dua momok terbesar dalam hidupnya—Richard dan Kelas Prancis. Baiklah, yang satu mungkin masih berstatus sebagai momok, sementara yang satunya sekarang sudah tidak jadi momok lagi. Meskipun sekarang Julie sudah tidak merasa terganggu lagi dengan keberadaan Richard, namun kenyataan bahwa sekarang ia sedang minta tolong pada Richard untuk membantunya membuat tugas untuk Kelas Prancis itu pun masih membuatnya tak henti-hentinya mempertanyakan kewarasannya sendiri.

“Ya, begitulah,” kata Julie tidak bersemangat. “Kau mungkin sudah tahu kalau aku tidak terlalu pandai di Kelas Prancis—malah mendekati tolol kalau kata Jessie. Well, kupikir bahasa Prancis memang tidak terlalu menarik dan itulah sebabnya aku sangat tidak menyukainya. Tapi, yaa—aku sudah berusaha sebisaku dan ternyata tetap tidak menghasilkan apa-apa.”

Julie mendesah panjang. “Yeah, setidaknya aku sudah berusaha.”

Richard tidak terlalu paham arah dari pembicaraan gadis itu. Tapi ia tetap berusaha untuk menanggapinya dengan ramah. “Jadi, apa yang bisa kubantu untukmu?”

Julie menepuk meja dengan kedua tangannya, menghembuskan napas berat, dan meneguhkan diri untuk menyelesaikan masalah ini secepat-cepatnya.

“Tugas esai Prancis, kau tahu. Um, karangan bebas tentang hal yang kusukai dari orangtuaku. Well, yaa, kalau tidak salah sih topiknya tentang itu.”

“Hm, oke,” Richard mengangguk. Alisnya bertaut. “Tapi, bukankah itu tugas minggu kemarin, ya?”

Julie merasa wajahnya mengeras. “Yaa, begitulah,” katanya dengan bibir kaku. “Aku dihukum harus mengerjakan tugas itu lagi, karena—,”

“—aku menjiplak karangannya Jessie. Aaahhh—,” Julie mengerang, mengangkat tangannya seperti menyerah. “Itulah sebabnya aku minta tolong padamu, Richard. Jangan beritahukan yang lain, ya? Kumohon. Aku bisa dibunuh Jessie nanti.”

Richard bersedekap dan mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya, seakan-akan ia sedang berpikir keras. Tak lama kemudian wajahnya pun merekah dan bibirnya membentuk senyuman tipis yang memikat.

“Baiklah. Tidak masalah, Julie,” kata Richard.

Julie bersorak dalam hati. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan mereka kerjakan sekarang, tapi setidaknya ia bisa melihat secercah cahaya harapan untuk masa depannya. “Kalau begitu, tolong ajari aku sekarang.”

Untuk beberapa saat, mereka berdua terdiam dalam keheningan yang janggal.

“Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan, Julie?” tanya Richard. “Kira-kira topik apa yang belum kau mengerti? Nanti biar aku jelaskan.”

Julie merasa ini sangat memalukan, tapi sudah saatnya ia mengakuinya di depan anak laki-laki itu. “Semuanya,” kata Julie. “Kau bisa jelaskan semuanya dari awal?”

“Dari awal?” tanya Richard.

“Ya, dari awal,” kata Julie. “Atau bagian manapun yang ingin kau ceritakan. Aku ingin mulai semuanya dari awal lagi.”

“Akan butuh waktu yang panjang untuk mengajarkan semuanya dari awal,” kata Richard. “Kurasa waktunya tidak akan cukup untuk bisa selesai hari ini. Butuh waktu berminggu-minggu sampai kau benar-benar mengerti semuanya.”

Julie memandang Richard dengan muka memelas.

“Kalau begitu, begini saja,” kata Richard dengan tenang. “Kau tulis saja dahulu apapun yang bisa kau tulis saat ini. Selanjutnya, aku akan membantumu memperbaikinya. Mudah-mudahan dengan begitu aku juga bisa sekalian mengajarimu di bagian-bagian yang tidak kau mengerti.”

“Tulis?” Julie menggigit bibirnya. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Kau tahu, ini momok terbesar dalam hidupku. Aku sama sekali tidak bisa berbahasa Prancis. Aku tidak tahu harus menulis apa. Tidak satu kosa kata pun.”

Richard menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya.

“Tidak satu pun?” tanya Richard ragu-ragu.

“Tidak.” Julie menggeleng.

Richard mengernyitkan dahinya. Matanya masih terpaku pada wajah Julie yang jelas-jelas menunjukkan bahwa gadis itu memang tidak mengerti apa-apa. Richard mengangkat hidungnya dan mengendus pelan. Ini jauh lebih sulit daripada yang ia duga sebelumnya.

“Kau yakin?” tanya Richard sekali lagi.

“Begitulah. Tidak satu pun,” jawab Julie. Ia lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang menggelikan, “kecuali ‘Merci, Monsieur!’”

Richard menutup mukanya sambil tertawa. Julie menyengir kuda, melihat Richard yang tidak bisa menahan tawanya dari tadi, ia tahu pasti kalau anak laki-laki itu kini terpesona oleh logat Prancisnya yang hebat.

Keriangan mereka tak berlangsung lama. Mereka berdua kini kembali terdiam dalam keheningan yang panjang. Richard masih tepekur dan otaknya bekerja keras untuk memikirkan alternatif lain yang bisa mereka lakukan sekarang. Sementara itu, Julie tak tahu apa yang harus dia lakukan di situasi seperti ini, situasi yang sama seperti yang pernah dihadapinya dulu, ketika Jessie pertama kali mengajarinya mengerjakan Tugas Kelas Prancis.

Ia merasa sangat—terbelakang.

Well, tidak apa-apa kalau begitu,” Julie menghela napas. Tampaknya kondisinya memang sudah tidak terselamatkan lagi. Ia benar-benar pasrah. “Mungkin aku sebaiknya minta hukuman pengganti saja besok. Terima kasih karena sudah mau membantuku, Richard.”

“Aku punya ide lain,” kata Richard seketika. “Keluarkan saja pena dan bukumu, kita akan mengerjakannya sekarang.”

Julie merasa heran, tak memahami apa yang sedang direncanakan oleh anak laki-laki itu. “Sungguhan?”

“Ya, tentu saja,” kata Richard. “Kau siapkan saja peralatannya. Nanti aku akan memberikan panduan dan instruksi berikutnya untukmu.”

Julie mengikuti perintah Richard dengan patuh. Ia tak tahu bagaimana anak laki-laki itu dapat mengajarinya, tapi ia pikir tidak salahnya jika dicoba. Ia mengambil sebuah buku tulis dan sebuah pena dari tasnya, lalu meletakkannya ke atas meja.

“Oke,” kata Julie. “Kita akan belajar apa?”

Richard menggeleng sambil tersenyum. “Tidak ada.”

Julie melongo.

Seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran Julie, Richard pun melanjutkan kata-katanya, “Kita lupakan dulu bahasa Prancis. Aku ingin kau menulis karanganmu dalam bahasa Inggris, Julie.”

“Dua paragraf sederhana saja,” sambungnya. “Satu tentang ayahmu, dan satu tentang ibumu.”

Julie semakin tidak mengerti. “Eh, kau serius?”

Richard mengangguk mantap. “Ya.”

Julie membuka buku yang sedari tadi masih menempel di telapak tangannya dan mulai menggoreskan penanya.

HAL YANG KUSUKA DARI AYAH DAN IBUKU

Ini terlalu mudah, pikir Julie.

Ayahku adalah seorang jurnalis di sebuah perusahaan pers. Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat baik hati. Beliau juga sangat penyabar, bijaksana, suka mengalah, dan selalu berusaha untuk dapat memahami perasaan orang lain. Ia tidak suka mencampuri urusan orang lain, namun selalu menjadi yang terdepan saat orang lain membutuhkan bantuannya. Ayahku adalah orang yang paling sabar yang pernah kukenal di dunia ini dan aku mengaguminya karena kebesaran hatinya dan kesabarannya yang tak kenal batas.

Julie terdiam sejenak. Selanjutnya ia akan menulis bagian yang paling sulit dari karangan ini. Hal-hal yang ia sukai dari ibunya. Ia menghela napas. Sejauh ini yang terlintas di pikirannya hanyalah perkelahian dengan ibunya tadi pagi, gara-gara Julie lupa mengangkat cucian yang dijemur ibunya semalam.

Ibuku adalah seorang sales dan seorang ibu rumah tangga. Beliau adalah seorang wanita yang periang, sangat enerjik, dan berkebalikan dari ayahku, ia  adalah tipe wanita yang sangat spontan dan suka berbicara. Sifat cueknya akan segala sesuatu benar-benar mengagumkanku sampai sekarang. Tapi yang paling penting adalah, bagaimana caranya beliau bisa membuat para pelanggannya membeli produknya, mengingat kecerobohan dan kekonyolan yang sering dilakukannya di rumah. Itu masih menjadi misteri di dalam hidupku sampai sekarang.

Julie memasang tutup penanya dengan perlahan lalu menyodorkan buku yang baru saja ditulisnya ke arah Richard. “Selesai.”

“Wow.” Richard mengamati jam tangannya. “Satu menit.”

Julie memamerkan senyum kemenangan, menunjukkan dengan bangga bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. “Tentu saja. Ini sih mudah.”

Ini bukan hal yang luar biasa baginya, karena—tentu saja—hal sangat disukainya adalah menulis. Tidak akan butuh waktu yang terlalu lama, apalagi hanya untuk menulis paragraf sesederhana ini.

Richard menarik buku itu dan mulai membaca tulisan yang baru saja dibuat Julie. Ia pun tersenyum setelah ia selesai membacanya.

“Menarik,” kata Richard. “Sepertinya kau sangat mirip dengan ibumu, Julie.”

Kening Julie mengkerut.

“Tidak juga,” tukas Julie. “Kupikir Mom malah lebih mirip dengan Cathy.”

“Mereka berdua benar-benar mirip saat bereaksi histeris terhadap sesuatu. Hanya saja, yaa—Mom biasanya langsung lupa apa yang baru saja dipermasalahkannya, sementara Cathy tidak,” sambung Julie.

Richard memperhatikan Julie dengan seksama sambil sesekali menatap beberapa kalimat dalam tulisan itu.

“Kurasa kau adalah campuran dari sifat ayah dan ibumu,” kata Richard. “Aku bisa melihat kalau karakteristik kepribadianmu mirip sekali dengan ibumu, tapi kurasa kau sama sekali berbeda dari Cathy.”

“Tidak histeris, kau mungkin jauh lebih—,” Richard mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang lebih tepat. “Tenang?”

Julie tertawa kecil. “Yeah.”

Kayla juga pernah mengatakan hal yang sama padanya beberapa tahun yang lalu, saat ia pertama kali mengajak sahabatnya itu menginap di rumahnya. Saat itu, Kayla bercerita padanya bahwa—dengan alasan yang ganjil, ia adalah perpaduan yang sempurna dari gabungan sifat ayah dan ibunya. Si Tenang yang Tidak Terduga.

Julukan tua yang benar-benar aneh dan sudah lama sekali itu. Julie saja sudah hampir lupa.

Julie mendengus geli.

“Sejujurnya aku senang kalau kau bilang aku mirip dengan ayahku, karena—well, selama ini orang-orang selalu mengatakan kalau aku sangat mirip ibuku,” ujar Julie. “Padahal kenyataannya, kami berdua selalu saja bertengkar. Setiap hari. Seperti anjing dan kucing. Kurasa tidak ada mirip-miripnya.”

“Dan aku baru tahu kalau ayahmu seorang jurnalis,” kata Richard sambil tersenyum manis. “Ini menjelaskan bakatmu di dunia tulis-menulis. Buah memang jatuh tidak jauh pohonnya.”

Julie benar-benar melayang.

Untuk sesaat saja, Julie merasa Richard sedang takjub akan bakat alaminya di bidang tulis-menulis. Ia tidak begitu yakin, tapi setidaknya ia berhasil membalas impresi takjub atas atraksi puisi yang pernah ditunjukkan Richard padanya beberapa hari yang lalu. Kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Setidaknya ia tidak setolol yang ia kira selama ini. Atau sedungu sapi Guernsey seperti yang selalu Jessie bilang.

Satu sama.

“Terima kasih atas pujiannya, Richard,” kata Julie. Topik sanjungan ini benar-benar menyenangkan untuknya, tapi ia menyadari bahwa sebaiknya ia tak terlalu berlama-lama menghibur diri sendiri. Sudah saatnya untuk menghadapi kenyataan pahit yang berada di depan matanya. Kenyataan pahit yang menjadi alasan utama mengapa ia berada di tempat ini. “Sekarang bagaimana caranya mentransformasi bakat ini ke bidang area yang benar-benar telah mendegradasi kecerdasan intelektualku?”

“Sebagai contoh, ehm,” sambung Julie sambil berdehem. “Kelas Prancis?”

Richard mendorong kursinya keluar dan membungkuk untuk meraih tasnya. Ia menarik tas itu perlahan-lahan, lalu mengeluarkan suatu benda yang sepertinya sangat penting untuk kelangsungan hidupnya dari dalam tas tersebut.

Sebuah telepon selular.

Julie tak bisa melepas pandangannya dari Richard yang tengah asyik memainkan gadgetnya. Ia menunggu Richard memberikan penjelasan, namun jelas-jelas ia tampak sangat kebingungan karena tidak tahu apa yang akan diperbuatnya.

“Boleh aku pinjam telepon selularmu?” tanya Richard beberapa saat kemudian. Julie mengangguk kebingungan. Ia lalu mengambil telepon selularnya dan menyerahkannya pada Richard.

“Bagus,” kata Richard. Ia mengamati telepon selular itu dan memeriksanya sebentar. “Spesifikasi telepon selularmu sudah cukup untuk mengerjakan tugas ini.”

Julie bertanya-tanya, apakah IQ-nya memang sudah terdegradasi oleh Kelas Prancis, atau otaknya sudah diamputasi oleh alien dari Planet Jupiter, karena ia masih benar-benar tidak mengerti apa yang dilakukan anak laki-laki ini.

“Apa—” kata Julie. “Apa hubungannya dengan tugas Prancis ini?”

Richard menoleh dan meletakkan telepon selular itu ke atas meja.

“Segalanya,” kata Richard. “Kita akan menerjemahkan tulisanmu ke bahasa Prancis dengan kamus bahasa asing online. Untuk itu, kita akan butuh media yang terhubung dengan internet. Untungnya, telepon selularmu pun sudah bisa membuka kamus bahasa asing online tersebut, jadi kita tidak perlu terpaku dengan telepon selularku.”

“Baik, begini cara kerjanya,” kata Richard. Ia mengetikkan alamat URL ke dalam browser telepon selular itu dan menunjukkannya pada Julie.

“Kita akan mengetikkan setiap kalimat yang sudah kau tulis ke kamus ini, lalu melihat hasil terjemahannya. Nah, dari situ aku akan membantu menjelaskan terjemahannya padamu. Dengan begitu, waktu belajar kita pun jadi lebih singkat. Kau pun juga bisa mencoba trik yang sama di rumah jika suatu saat ada tugas Prancis lagi. Setidaknya, ini bisa menghemat waktu belajarmu.”

“Dan tentu saja,” sambung Richard. Ia menekan suatu tombol dan terdengar suara ceracau khas dari speaker telepon selular itu. “Kau pun bisa mendengar pronounciation-nya dari kamus online ini. Sangat membantu untuk melatih pendengaran dan pengucapanmu.”

Julie sebenarnya masih tidak mengerti, tapi sepertinya cara ini terdengar hebat.

“Mari kita coba,” kata Richard. “Kita mulai dengan judul tulisannya.”

Richard mengetikkan sesuatu di layar browser telepon selular tersebut, mengklik tombol, lalu layar tersebut menampilkan hasil terjemahannya dalam bahasa Prancis.

Choses que j’aime de mon père et de ma mère,” kata Richard. “Hal-hal yang kusukai dari ayah dan ibuku.”

Suara itu terdengar begitu merdu dan mengingatkan Julie pada kejadian di Kelas Prancis beberapa minggu yang lalu. Saat ia bertemu dengan Richard pertama kali, dan saat ia mendengar Richard mengucapkan bahasa Prancis untuk pertama kalinya. Dan sekarang, suara itu masih terdengar sangat indah.

“Hzumuzehm, humame, humame,” gumam Julie dengan serius.

Richard menahan tawanya sekuat tenaga.

“Ya, kira-kira seperti itu,” ungkap Richard. “Choses—hal-hal. Que—aku. J’aime—suka. De—dari. Mon père—ayahku. Et—dan. Ma mère—ibuku. Choses que j’aime de mon père et de ma mère. Hal-hal yang kusukai dari ayah dan ibuku.”

Suara itu mengalun terlalu indah. Halus dan berdenting renyah seperti suara piano yang memainkan musik klasik yang merdu. Julie tak bisa mengenyahkan suara itu dari dalam pikirannya.

Choses mue jhamm,” Julie masih berusaha mengucapkan kalimat itu, seindah suara yang masih saja berdengung di telinganya. “De—de—

Choses que j’aime,” kata Richard sambil melambatkan kecepatan suaranya. Julie ikut mengulangi ucapan Richard dengan hati-hati. “De mon père et de ma mère.

“Bagus,” kata Richard sambil tersenyum. “Lafal pengucapanmu sudah jauh membaik.”

Julie mengulanginya lagi. Lidahnya terasa gatal.

“Hal-hal?” uji Richard.

Choses,” jawab Julie.

“Aku sukai?” uji Richard lagi.

Que,” kata Julie ragu-ragu. “Que j’aime.”

“Ayahku?” tanya Richard.

Mon père,” kata Julie. “Dan ibuku—Et de ma mère.”

“Bagus,” kata Richard puas. “Ada beberapa bentuk formula dalam kata-kata  bahasa Prancis, sebagaimana bahasa Inggris yang terbagi berdasarkan waktu penggunaannya, tapi bahasa Prancis juga terbagi berdasarkan gender dari objek yang digunakan. Contohnya seperti mon père dan ma mère.”

“Sementara ini, kita akan mengabaikan soal grammar. Aku akan mengajarimu nanti secara perlahan-lahan, tapi untuk saat ini kita akan mulai membuatmu merasa nyaman terlebih dahulu dengan bahasa Prancis. Terutama di saat kau sudah mulai nyaman mengucapkannya, di saat itu pula kau akan mulai jatuh cinta dengan bahasa yang romatis ini. Begitu kau sudah menyukainya, kurasa tidak akan sulit untukmu untuk memahami dan mempelajari bahasanya.”

Julie sebenarnya merasa kalau itu adalah mimpi yang sangat mustahil, tapi tidak bisa dipungkirinya kalau hari ini ia merasa sedikit lebih menyukai bahasa Prancis daripada sebelumnya. Sedikit. Ya—sedikit. Setidaknya kepalanya tidak berkunang-kunang saat mendengar dan mengucapkan ‘choses que j’aime de mon père et de ma mère’ dan hey—Julie bahkan berhasil mengucapkannya sendiri dengan benar. Ini benar-benar sebuah pencapaian yang signifikan.

Sepertinya tidak ada salahnya untuk bersikap optimis sekarang. Kalau boleh jujur, sebenarnya suara merdu Richard sangat membantunya dalam mengingat kalimat yang sangat melelahkan ini.

Choses que j’aime de mon père et de ma mère,” kata Julie, menguji dirinya sendiri. Ia menyeringai senang karena lafal pengucapannya sekarang sudah sama dengan lafal pengucapan suara yang berdengung-dengung di telinganya. Suara anak laki-laki ini.

Ia punya firasat kalau tugas Prancis ini akan berakhir baik dan menyenangkan.

“Sekarang kita coba terjemahkan kalimat yang pertama. ‘Ayahku adalah seorang jurnalis di sebuah perusahaan pers,’” kata Richard. “Kau punya tebakan kira-kira terjemahannya akan jadi seperti apa?”

Mon père—bla bla bla,” tukas Julie cepat. Ia terlihat sangat antusias. “Aku butuh terjemahan untuk kata ‘jurnalis’ dan ‘perusahaan pers’.”

“Tepat,” kata Richard. Ia menyorongkan telepon selularnya kepada Julie. “Silakan dicoba.”

Julie baru saja akan mengetikkan kalimat itu di ponselnya ketika seorang pelayan wanita datang menghampiri meja mereka berdua. Pelayan itu tak menggubris keberadaan Julie dan sebaliknya menemui Richard dengan wajah gembira.

“Halo, Tuan yang baik hati. Ini dia pesanannya,” kata pelayan itu sambil tersenyum manja. Ia menempatkan seluruh pesanan itu ke sisi meja Richard. “Jus cranberry, burger, dan kentang goreng dua porsi. Ada lagi yang ingin Anda pesan, Tuan?”

Richard menggeleng. “Tidak ada, terima kasih. Oh ya, Julie. Bagaimana denganmu?”

Julie masih tampak asyik dengan mainan barunya. “Tidak.”

Richard berkata dengan hangat, “Kurasa kami tidak memesan apa-apa lagi, Nona. Terima kasih atas tawarannya.”

Pelayan itu pun mengundurkan diri dengan muka kecewa. Ia melayangkan pandangan sengit pada Julie, lalu kembali lagi menatap wajah Richard dengan ramah. “Baiklah, Tuan. Nanti kalau ada perlu apa-apa, panggil saya saja, ya.”

Richard menggangguk. Julie mengambil burger, kentang goreng, dan jus cranberry-nya dari meja Richard saat pelayan itu berlalu. “Seperti ini, Richard?” tanyanya sambil menunjukkan layar ponselnya, yang dibalas oleh Richard dengan acungan jempol.

Dan mereka berdua pun kembali mengerjakan tugas itu dengan bersemangat.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

26 thoughts on “09. Penyelamat (2)

  1. wah akhirnya keluar juga lanjutannya
    so sweetnya
    dari belajar prancis jadi sering ketemuan trus jadian dech
    keep writing yach mbak ditunggu lanjutannya 🙂

  2. Kak sonyaaa….aku telaaaad baca ini*hahaaa
    Aku suka banget update.annya
    makasiiih banyak ;*
    like it so much
    wawawaaa…aku sllu suka percakapan julie-richard
    sllu terlihat romantis+kocak
    hope the next chatper will be appear soon xD
    fighting for the next chapter >.<

  3. Luv it xD
    *bagian yg paling aku suka
    dimana hanya ada richard dan julie disini…g ada pengganggu2 di chapter ini
    yaah…pelayan memang tdak kuanggap terlalu menganggu

  4. aaaaah mau comment lagiii ahh~~~~
    beloom puas ama comment2 diatas…..hahaa XD
    aku baru nyadar kak,.klo bab ini isinya panjaaang~~
    hahaaa…jadi bisa dikatakan bab ini sangat memuaskan*seperti harapan kakak diatas
    ditunggu update.an selanjutnyaaa~~~~~

  5. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  6. Ehh jadi inget waktu belajar bhs prancis, kata nya emang susah dan mungkin terdengar lucu di telinga. Yg paling aku inget tuh baca komong ta le vu yang entah gmna tulisannya hahah. Lanjut ah

  7. Ping-balik: 09. Penyelamat | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s