09. Penyelamat

Comments 16 Standar

al_St_Exupery04_Portrait_du_Prince

Pagi itu kelas Aljabar tidak terlalu buruk. Topik pertidaksamaan memang cukup membingungkan—apalagi Julie sering kesulitan menentukan tanda pertidaksamaannya—tapi semuanya tampaknya selalu baik-baik saja karena Lucy selalu memberikan petunjuk. Begitu pula halnya suasana hati Julie saat ini yang juga bisa dibilang baik-baik saja, begitu tenang dan damai seperti nuansa pagi di kampung halaman, seolah-olah ia sama sekali telah lupa pada hal tragis yang menggegarkan otaknya kemarin.

Memang bukan tipikal Julie yang suka berlama-lama memikirkan suatu masalah.

Julie berjalan santai menyusuri koridor sekolahnya menuju ke ruangan klub koran sekolah yang terletak di lantai tiga. Setelah kelas Aljabar selesai, ia berencana untuk mengumpulkan tugas artikel wawancara Richard ke Jerry, sambil menunggu jam pergantian kelas. Berhubung Julie memang sudah menyelesaikan tugas artikel itu kemarin malam, ia memutuskan tak mau berlama-lama menunda mengumpulkannya, karena ada masalah penting lain yang perlu menjadi pusat perhatiannya sekarang. Tugas esai Prancis, tentu saja.

Kalau diingat lagi kejadian tadi malam, Julie sangat bersyukur karena tepat seperti dugaannya, Tuan Muda Richard Soulwind yang baik hati bersedia menolongnya mengerjakan tugas Prancis yang sangat menyesakkan dada itu. Ia tak tahu lagi harus berterimakasih seperti apa pada Sang Pangeran Tampan Berhati Malaikat Bertabur Mutiara Emas Berlian itu, tapi yang jelas kali ini ia pasti harus mentraktirnya makan.

Julie memulai komunikasinya dengan Richard lewat e-mail, sambil menyelesaikan tugas artikel wawancaranya malam itu. Sebuah e-mail dengan gaya aneh yang berbeda sekali dengan nada e-mail yang pernah dikirimnya ke Richard beberapa hari sebelumnya.

Halo Richard,

Aku mendapat tugas esai Prancis dari M.Wandolf dan.. Well.. Yeah..
Aku tak mengerti sama sekali.
Um.. Kurasa bahasa Prancismu cukup bagus, jadi maukah kau menolongku?

Julie.
PS: Jangan bilang siapa-siapa. Pleassssseee!!

Kalimat terakhir memang agak berlebihan—dan cukup memalukan—tapi memang sangat penting bagi Julie untuk merahasiakan aktivitas ilegalnya ini. Kalau sampai Jessie dan The Lady Witches lain tahu, bahwa ia menjiplak tugas Prancis Jessie, dan sekarang malah minta les privat dengan Richard, bisa-bisa kariernya sebagai manusia Bumi bisa tamat.

Julie tidak perlu menunggu terlalu lama, karena e-mail jawaban dari Richard muncul tiga puluh detik kemudian. Benar-benar cepat. Bahkan Julie belum sempat menggeser pantatnya dari kursi.

Dear Julie.
Dengan senang hati. Aku akan membantumu mengerjakannya. Jam berapa dan di mana tepatnya, kira-kira?

Richard.

Julie tidak bisa menyembunyikan kegirangannya, karena respon yang cepat dan positif dari Richard itu justru hal yang paling ditunggu-tunggunya saat itu. Meskipun demikian, butuh waktu setengah jam bagi Julie untuk mengirim e-mail balasan, karena ia harus memikirkan tempat yang paling strategis yang tidak akan bisa ketahuan siapa-siapa.

Perky’s House, jam 4 sore.
Makasih banget, ya!
Sampai ketemu nanti sore.

Julie.

Kedai Steak~Stack memang masih lebih dekat dari rumahnya, tapi Julie sudah belajar dari pengalamannya beberapa hari yang lalu untuk tidak lagi menggunakan tempat itu sebagai tempat pertemuan. Lagipula, suasana di Perky’s House sudah cukup nyaman untuk mengerjakan tugas, dan terlebih lagi, ada sudut-sudut tertentu yang tidak mencolok yang bisa dipakai untuk bersembunyi—kalau-kalau ada anak-anak Nimber yang suatu saat mampir ke tempat itu. Bahkan ada posisi tertentu yang dekat sekali dengan pintu belakang, sehingga setidaknya ia bisa kabur pada kondisi-kondisi darurat.

Tempat pertemuan yang sempurna.

Oke. Tidak masalah. Aku akan menemuimu jam 4 di Perky’s House, Julie. Sampai ketemu di sana.

Richard.

Pembuatan janji bertemu itu akhirnya berlangsung lancar dan tanpa hambatan. Julie melanjutkan menulis tugas artikel wawancaranya dengan hati yang lega. Sisanya, Julie berharap semoga saja saat mereka mengerjakan esai Prancis itu nanti akan sama lancarnya, dan begitu pula saat ia mengumpulkan tugas itu hari Jumat, Jessie tidak curiga akan hal apapun dan semoga M.Wandolf tidak mengucapkan sepatah kata apapun mengenai hukuman ini.

Dan yang pasti, Julie berdoa pada Tuhan, semoga The Lady Witches tidak tahu kalau ia dan Richard akan bertemu lagi hari ini.

“JULIE!” teriak Jessie secara tiba-tiba.

Julie terperanjat. Ia menoleh cepat ke belakang dan melihat Jessica Walter sedang berjalan menghampirinya dari ruang ganti wanita.

“Oh, Jess,” desah Julie. “Hampir saja jantungku copot.”

Julie memutar balik badannya untuk melihat Jessie dengan sempurna. Gadis itu sudah siap dengan pakaian olahraganya, sebuah kaus lengan pendek putih dri fit dan celana pendek merah maroon elegan yang menjadi seragam olahraga kebanggaan Nimberland.

“Mau ke mana?” tanya Jessie.

Julie menggaruk-garuk kepalanya. “Ke ruangan klub koran sekolah.”

“Oh ya, Julie,” kata Jessie. “Pinjam catatanmu, dong.”

“Hm?” gumam Julie. Ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh gadis itu. Seingatnya ia tidak berhutang catatan apa-apa akhir-akhir ini. “Catatan apa?”

Jessie menepuk dahinya sendiri. “Itu lho—catatan lagu-lagu yang ditulis Nick waktu di kelas Musik waktu itu. Dia bilang kau mencatat chord-nya di buku catatanmu. Kau masih menyimpannya, kan?”

Julie mengiyakan. Memang benar, ada beberapa judul lagu yang pernah dicatat Julie di buku catatan kecilnya itu—termasuk lagu bulu hidung Nick yang menjijikkan—tapi Julie tak yakin Jessie tertarik untuk membacanya.

“Tunggu sebentar,” kata Julie sambil merogoh saku bajunya. Ia mengambil buku catatan kecil yang tersembul di balik saku bajunya, lalu membolak-balik halaman demi halaman buku tersebut untuk memastikan kalau catatan lagu itu masih ada di sana. “Untuk apa, Jess?”

“Tugas Biologi,” tukas Jessie sambil menghela napas panjang. “Nick tak masuk sekolah hari ini, padahal aku butuh chord buatannya itu.”

Julie melongo. “Lagi?”

Julie ingat, ini sudah yang kesekian kalinya Jessie minta bantuannya mengerjakan tugas-tugas Biologi. Menurut cerita Jessie, Mrs.Edelweis memang sangat sering sekali memberikan tugas-tugas yang aneh di kelas Jessie di setiap minggunya. Terlalu sering malah. Kadang-kadang justru membuat para siswanya benar-benar muak dengan tugas-tugas itu.

“Ya, begitulah,” jawab Jessie. “Syair, naskah drama, dan sekarang beliau ingin kami membuat video klip tentang Cephalopoda. Arrgh! Aku bisa gila, tahu!?”

Julie merasa sangat bersimpati.

“Memang,” tukas Julie. “Untung saja aku tidak diajar olehnya.”

Julie baru saja akan menyerahkan buku catatannya, ketika ia menemukan satu tulisan yang membuatnya terkesiap. Napasnya langsung terhenti saat itu juga.

By the name of July, the summer of love

Jantung Julie langsung berdegup kencang.

Gawat, pikir Julie. Ia sama sekali lupa kalau puisi Richard masih ada di buku catatannya. Sudah dua hari ini ia membiarkan tulisan itu bertengger di sana, apalagi sampai saat ini pun ia masih belum memberitahukan soal puisi itu kepada para kelima gadis The Lady Witches yang lain. Pada dasarnya, ia memang tidak berniat untuk memberitahukan kejadian itu sama sekali. Bisa gawat kalau sampai Jessie melihat puisi ini. Ia harus segera melenyapkannya, sebelum terlambat.

“JESSIE!”

Julie tersentak. Lagi-lagi ia mendengar suara yang mengagetkan, dan kali ini adalah suara Cathy Pierre yang menggelegar. Buku kuduknya bergidik. Tak lama kemudian, Julie melihat Cathy Pierre dan Cassandra Taylor sedang berjalan menghampiri mereka dari ruang ganti wanita, tempat Jessie berdiri tadi, dengan seragam olahraga yang sama.

“Kenapa kau meninggalkan aku, Kuda Kepang?”

Julie menghela napas. Cathy adalah orang terakhir yang diinginkannya untuk berada di dekatnya saat ini. Apalagi sekarang Cathy, Jessie, dan Cassandra  bergabung menjadi satu. Tiga serangkai yang mengkhawatirkan. Dengan puisi Richard yang berada di tangannya sekarang dan masih tidak diketahui oleh mereka saat ini, Julie benar-benar bingung yang sebaiknya ia perbuat. Pada akhirnya, ia hanya bergumam tidak jelas dan menyengir lebar seperti sapi.

“He.”

Julie berusaha bersikap senormal mungkin, meskipun sebenarnya ia merasa panik. Ia meratapi posisinya yang sangat tidak menguntungkan. Dengan puisi Richard yang sedang berada di tangannya—tanpa diketahui The Lady Witches sama sekali—dan sekarang ada Jessie, Cathy, Cassadra tepat di sampingnya, sangat berbahaya jika ketiga gadis gila ini sampai mengetahui benda apa yang sedang disembunyikannya saat itu.

“Kenapa kau, Julie?” tanya Cathy sambil melihat Julie dengan raut wajah keheranan. “Badanmu bergoyang-goyang.”

Cassandra dan Jessie tertawa cekikikan saat memperhatikan tubuh Julie yang masih bergoyang-goyang seperti badut sirkus.

“Hah?” Julie heran setengah mati. Ia bahkan tak merasa sedang melakukan apa pun saat itu. “Masa?”

“Ya, seperti badut,” jawab Cathy sambil mengangguk dan menahan tawa. Jessie dan Cassandra pun ikut tertawa.

Julie tak pernah mengerti kenapa tubuhnya itu lagi-lagi bertindak di luar keinginannya. Entah apa yang sedang diperbuat tubuhnya saat ini, yang jelas saat ini ia justru sangat membutuhkan perilaku tubuh yang normal.

Cathy merapat ke gerombolan mereka dan merangkul Julie yang sedang kebingungan. Julie merasa semakin grogi dan sangat was-was. Ia berusaha menjauhkan buku catatannya itu dari pandangan Cathy. Untungnya, kebadutannya itu bisa jadi pengalih perhatian mereka dari puisi Richard ini.

“Ah, gara-gara kau aku jadi lupa. Padahal aku tadi baru mau marah-marah dengan Jessie. Eh, apa yang kau pegang itu, Julie?”

Julie terperangah. Ia sempat mengira kalau Cathy hendak menanyakan soal buku catatannya itu, tapi tak lama kemudian ia baru menyadari kalau yang dimaksud Cathy adalah map yang sedang dipegangnya di tangannya yang satu lagi. Artikel tentang Richard yang akan ia serahkan ke Jerry siang ini.

“Oh, ini?” kata Julie sambil melebih-lebihkan ekspresinya. Tiba-tiba ia mendapat ide yang sangat bagus. Ia menyeringai lebar dan melanjutkan ucapannya dengan nada yang sangat menggoda. “Ini artikel hasil wawancaraku ke Richard tiga hari yang lalu. Mau lihaaat?”

Cathy, Jessie, maupun Cassandra mengangguk mantap dengan sorot mata yang berbinar-binar.

“Mau!” jawab mereka serempak. Mereka lalu mengambil satu per satu kertas-kertas yang berada di dalam map tersebut dan membacanya dengan penuh semangat.

Ketiga gadis itu tampaknya sangat asyik dengan aktivitas baru mereka ini. Aktivitas yang sangat menarik dan membuat penasaran, sehingga membuat mereka pun terlena dengan keadaan sekelilingnya. Julie melihat ini sebagai peluang yang sangat bagus untuk mengalihkan perhatian mereka untuk sementara waktu dari puisi Richard yang sedang disembunyikannya itu. Ia harus mencari cara untuk menyingkirkannya dari hadapan mereka bertiga.

Julie memulai aksinya yang mendebarkan. Dengan hati-hati ia membuka buku catatan kecilnya yang berisi halaman puisi Richard—yang telah ia tandai dengan selipan jarinya tadi. Seperti seorang agen FBI yang sedang melakukan misi rahasia yang sangat berbahaya, ia mencoba merobek halaman puisi itu. Sangat perlahan-lahan.

“JULIE!!” panggil Kayla.

Ini yang ketiga kalinya Julie merasa jantungnya mau copot. Ia menoleh lagi. Kali ini ia melihat Kayla Shaker—sahabatnya di geng Lady Bitches yang terkenal sebagai Si Bijaksana—sedang berjalan menghampiri mereka berempat.

Sial, umpat Julie.

“Sedang apa kalian?” tanya Kayla.

Julie tak merasa senang sama sekali. Sekarang gerombolan dadakan mereka bertambah lagi menjadi lima orang. Hal ini membuatnya semakin pusing tujuh keliling. Intensitas kepanikannya pun terus meningkat.

“Hei, Kay,” kata Julie sambil melebarkan senyum palsu dengan cengiran yang mengkhawatirkan.

Ia tak habis pikir, mengapa gadis-gadis gila The Lady Witches ini sekarang jadi malah berkumpul di sini semuanya. Tinggal Lucy saja yang belum menghampirinya. Dan mengingat kenyataan bahwa orang yang harus ia kibuli sekarang sudah bertambah satu orang lagi, ia pun mencoba menormalkan tekanan darahnya dengan menghirup napas sebanyak mungkin. Kayla Shaker. Yang tersulit di antara yang tersulit.

Sejak dulu, Julie tahu pasti kalau mengelabui Kayla Shaker bukanlah hal yang mudah. Pengalaman Julie bersahabat dengan Kayla selama bertahun-tahun di Springbutter—sekolahnya yang dulu—mengingatkan Julie betapa tajamnya gadis cantik keturunan Lebanon ini. Misalnya seperti saat mereka mengamati perilaku tikus laboratorium saat pelajaran Sains di sekolah. Tak hanya jeli mengamati perilaku tikus-tikus itu, Kayla juga berhasil menebak perilaku mereka dengan luar biasa tepat. Benar-benar mengkhawatirkan.

Julie masih menyembunyikan buku catatan itu di balik pantatnya, berusaha sebisa mungkin mengalihkan perhatian gadis bermata jeli itu. Ia harus melakukan sesuatu sebelum mata elang Kayla Shaker berhasil menangkap basah perbuatan kriminalnya.

“Kau mau lihat liputan wawancaraku? Artikel tentang Richard,” goda Julie. Ia berusaha untuk tersenyum selebar-lebarnya untuk mempersuasi Kayla, sambil memainkan alis matanya dengan genit.

“Wah!?” kata Kayla dengan antusias. Julie tersenyum penuh kemenangan “Aku mau lihat!”

Julie merasa kecerdasannya sedang meningkat hari ini. Tidak banyak hal di dunia ini yang bisa mengelabui pengamatan Kayla Shaker, si gadis bijaksana yang bermata elang tersebut. Tapi kali ini, tepat seperti perkiraan Julie, hanya dengan berbekal iming-iming artikel tentang si Anak Laki-laki Bercahaya itu, Julie pun berhasil mengalihkan perhatian Kayla dari apapun yang berada di balik pantatnya saat ini.

Richard Soulwind—trik yang selalu berhasil sepanjang waktu.

“Boleh saja, Kay,” ujar Julie. Julie merasa bebannya terangkat ke atas, rasanya ia ingin sekali terbang dan bersorak-sorai, kalau perlu berubah menjadi kupu-kupu. “Sedang dipegang mereka, tuh.”

Kayla menghampiri Jessie, Cassandra, dan Cathy yang sedang asyik bermain-main dengan kertas wawancara yang ada di tangan mereka. Julie mendesah lega. Setidaknya ia sudah bisa kembali mengendurkan ikat pinggangnya sekarang.

Sementara mereka sedang sibuk melihat-lihat kertas-kertas ketikan artikel wawancara Richard itu, Julie pun kembali meneruskan aksi heroiknya yang sangat menegangkan. Dengan hati-hati ia merobek kertas berisi puisi itu dari buku catatannya. Julie berusaha sekuat tenaga sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara apapun. Sekecil apa pun. Tidak sedikit pun. Rasanya seperti menahan kentut perlahan-lahan.

“JULIE LIGHT,” tukas Cathy.

Cathy menyodorkan kertas yang berada dalam genggamannya dengan bibir yang mengerucut. “Apa-apaan, nih? ‘Laki-laki TAMPAN penggemar olahraga softball itu’,

Cathy mengutip salah satu kalimat yang tertulis di kertas itu, dan menegaskan intonasinya pada kata “TAMPAN”.

“Kau benar-benar suka pada Richard!?” ujarnya sambil melotot tajam ke arah Julie.

Cathy bergemuruh kesal. Gadis itu memang tidak pernah senang jika isu ini diungkit kembali. Pembicaraan kemarin soal rencana Julie memiliki anak cucu dengan Richard saja, sudah benar-benar membuatnya stress dan depresi. Kalau seandainya akhirnya kemarin Julie tidak jadi mengklarifikasi bahwa ia hanya bercanda siang itu, Cathy pasti masih ngambek dan ngamuk-ngamuk sampai sekarang.

Gadis-gadis lainnya pun ikut menimpali dengan nada tidak senang.

“JULIE.”

Julie sebenarnya tidak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka.

“Ha?” gumam Julie. Julie menoleh sebentar, hanya untuk memastikan bahwa gadis-gadis itu tidak sempat memperhatikan aktivitas ilegal yang sedang sibuk dilakukannya saat ini.

Julie baru saja menyadari apa yang sedang mereka bicarakan.

“Oh,” jawab Julie sekenanya. “Ti-daaaaaaaaak.”

Julie melenguh keras sambil menyamarkan suara robekan yang baru saja dilakukannya. Julie merasa luar biasa lega saat sudah menyelesaikan robekan terakhirnya. Rasanya seperti baru selesai buang air besar.

“Kenapa sih kalian?” tanya Julie lagi sambil melipat-lipat kecil kertas robekan itu di balik punggungnya dan meremas lipatan itu. Keadaannya sudah aman sekarang dan ia sudah bisa menanggapi komentar mereka dengan aman dan nyaman. “Bukannya kalian yang biasanya mengira dia tampan, ya?”

Cathy melakukan aksi mogok bicaranya, sambil melipat tangannya di depan dadanya dengan wajah cemberut, bibir mengerucut, dan alis yang mengeriting. Sementara itu, Jessie dan Cassandra tidak lagi mempedulikan apa yang terjadi setelah protes Cathy, namun justru sibuk membaca kembali kelanjutan artikel wawancara Richard, menggarisbawahi kata “TAMPAN” di benak mereka, sambil mencari ungkapan-ungkapan lain yang menarik di tulisan artikel tersebut.

Kayla akhirnya mengajukan diri menjadi juru bicara The Lady Witches untuk membela tim sukses mereka itu.

“Iya, Julie. Tapi itu kan KAMI. Kami mengakui dia tampan,” kata Kayla. “Sedangkan kau sendiri selalu bilang tampang Richard standar. Ya, kan?”

Julie mencibir.

Yeah, memang. Dia standar,” kata Julie enteng.

Masalahnya sebenarnya bukan karena tampan atau tidaknya Richard, tapi Julie sama sekali tak peduli dengan apapun yang sedang mereka ributkan saat itu. Topik yang tidak penting, karena selalu diulang-ulang dan sangat membosankan, namun untuk kali ini saja, dengan ekspresi yang sungguh-sungguh meyakinkan, Julie menanggapinya dengan serius untuk sekedar membela diri.

“Tapi, hey—aku kan penulis. Wajar saja dong kalau aku hanya menuruti selera pembacaku,” lanjut Julie.

Julie sekarang bingung di mana sebaiknya ia menyembunyikan potongan kertas puisi Richard yang sudah lepas dari buku catatannya itu. Yang jelas, ia tidak mungkin meletakkan potongan kertas itu di saku bajunya. Pasti akan terlihat dengan jelas oleh gadis-gadis ini.

Tiba-tiba ia mendapat ide yang sangat bagus lagi.

“Dan ngomong-ngomong,” kata Julie sambil merebut map coklatnya dari tangan Jessie. “Aku lagi buru-buru sekarang, sebentar lagi kelas akan dimulai, dan aku belum menyerahkan kertas artikel ini ke Jerry. Kalau kalian mau, hari Senin besok kalian baca saja artikel lengkapnya di koran sekolah. Oke?”

Julie menyelipkan robekan kertas puisi Richard itu ke dalam map coklatnya itu. Idenya benar-benar cemerlang. Ia pun mengakhiri aksinya dengan memasukkan lembaran-lembaran ketikan artikel lain wawancara Richard kembali ke dalam map coklat itu, untuk menutupi robekan kertas puisinya, sehingga robekan-robekan itu tidak terlihat oleh mereka. Kejahatan yang sempurna, pikir Julie.

Julie merasa bangga pada dirinya sendiri, saat ia memasukkan lembaran kertas artikel yang terakhir, dan mereka berempat masih belum mencurigai perbuatannya.

“Oh, iya. Ini catatan lagumu, Jessie,” kata Julie sambil menyerahkan buku catatan kecilnya itu. Kali ini ia bisa menyerahkan buku catatannya dengan perasaan lega. “Nanti siang kau mau ikut makan siang bareng?”

Jessie menggeleng.

“Aku makan siang di kelas saja, Julie. Aku kan harus mengerjakan tugasku, hmphh,” desahnya. “Tugas Biologi ini benar-benar menghabiskan waktuku, tahu?”

Jessie merapikan kuncir rambutnya yang tidak kusut.

Well, setidaknya ada Richard di kelas Biologi. Aku senang sekali. Hiburan yang selalu menyenangkan,” sambungnya dengan girang.

Setelah transaksi peminjaman itu selesai dilakukan, Julie pun berlalu meninggalkan mereka berempat. Ia kembali meneruskan tujuannya berjalan menyusuri koridor sekolah itu untuk menyerahkan tugas artikelnya ke meja redaksi koran sekolah—alias mejanya Jerry. Satu per satu masalah berat telah dilewatinya, dan kali ini sudah saatnya untuk bernapas dengan santai, sambil menikmati hari yang indah ini. Meskipun banyak tugas sulit, tapi Julie selalu yakin bahwa masih tetap ada celah untuk melihat hal yang positif dan menyenangkan dari musibah-musibah yang ada.

Lebih dari itu, Julie berharap semoga saja pertemuannya dengan Richard sore itu berjalan dengan lancar.

Semoga saja.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

16 thoughts on “09. Penyelamat

  1. Ahhhh,sdh bab 9,,,n bru kli nhe q komen,,,,hehehehe
    lanjuuuttt lg kak,,tlong lw bsa jngan lma2,skali seminggu bsa kn???hehehe,sorry lw tuntutanx trllu bsar,hbis critax bkin pnasarn sech!!!bsa kn?bsa kn????

  2. hmm
    cuma skdar saran aja kak , knpa gak bkin novel bneran ajah tar kirim ke pnerbit kali aja diterbitin tuh kan bisa jdi pnghasilan + hobbi .
    yakin dee best seller .

  3. udah gak sabar pingin nunggu kelanjutannya,,,, gy sibuk ya kak kyknya udah agak lama blm muncul edisi selanjutnya hehehehe piece^_^

    • Hehe, tenang aja Umi. Walaupun sibuk, pasti aku akan curi-curi waktu untuk update. 😀
      Oh ya, update terbarunya udah muncul, yaa.
      Selamat membaca! 😉

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  5. Ping-balik: 08. Perubahan (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s