08. Perubahan (3)

Comments 14 Standar

lifestyle-clipart-of-a-woman-worker-being-scolded-for-dropping-papers-on-the-floor-by-ron-leishman-371

Seumur-umur, Julie tidak pernah berharap bahwa ia akan dipanggil menghadap ke ruangan M.Wandolf. Tidak sekalipun.

Dan seharusnya ia sudah tahu kalau akhirnya akan jadi seperti ini. Ia sendiri sudah mulai mempersiapkan diri sejak terakhir kali ia memutuskan untuk melakukan tindakan memalukan tersebut. Tapi—kalau dipikir-pikir lagi sekarang dengan isi kepala yang lebih rasional—tindakan yang diambilnya saat itu memang sangat tolol.

Sudah terlambat untuk menyesalinya. Hukuman membersihkan toilet sekolah sudah siap untuk menghantuinya lagi.

“Selamat sore, Mademoiselle,” sapa M.Wandolf.

Wajah laki-laki ini terlihat masam. Kepala setengah botaknya yang licin dan sisa rambut yang terurai panjang berantakan ke belakang itu membuatnya terlihat sangat kusut dan menyeramkan, apalagi ditambah dengan postur tubuh besar M.Wandolf yang bersembunyi di balik jas coklatnya yang tua dan lusuh. Meskipun demikian, M.Wandolf masih sempat menyunggingkan seiris senyuman tipis saat Julie datang. Senyuman tipis ini telah menggetarkan lutut Julie. Julie bahkan merasa bulu kakinya ikut gemetaran.

“Se—” lidah Julie terasa kelu. Ia menegak ludahnya. “Selamat sore, Monsieur.”

Julie bisa merasakan alien tengah merangkak di balik punggungnya yang mungil itu dan menembaknya dengan laser pengecil yang berwarna hijau keemasan. Sinar laser itu sekonyong-konyong mengubah seluruh bagian tubuhnya menjadi kurcaci. Tubuhnya pun semakin menciut—dan menciut—dan mungkin sekarang sudah seukuran kuman.

Julie—entah bagaimana caranya—melihat paramecium sedang bergelantungan di kedua tangannya.

“Silakan duduk,” ujar guru Prancis itu. “Ada yang mau kubicarakan denganmu.”

Dengan susah payah Julie menggapai kursi raksasa yang ada di hadapannya itu. Ia berusaha menggerakkan kaki-kaki semunya yang bergelayut dan berlendir, dan perlahan-lahan meletakkan inti selnya di atas kursi.

M.Wandolf membuka laci dari meja kerjanya yang dipenuhi dengan buku-buku literatur Prancis yang tersusun berantakan. Ia mengambil sehelai kertas yang terlihat sangat familiar di mata Julie, selembar kertas tugas dengan tiga bekas lipatan yang khas, yang diwarnai dengan tinta hitam bocor yang menghiasi setiap sisi kertasnya dengan cap jari yang tidak rapi, dan tulisan ayam terburu-buru yang sangat dikenalnya itu.

Julie menahan napasnya.

Tugas Esai Prancis.

“Aku sudah memeriksa tugas esaimu, Mademoiselle,” ujar M.Wandolf perlahan. Ia pun mengamati kertas itu sekali lagi, seolah-olah masih berharap akan menemukan kenyataan yang berbeda saat melihatnya untuk yang terakhir kali.

“Dan, kulihat ada beberapa kemiripan antara esaimu dengan esai yang dibuat oleh Nona Walter,” ungkapnya. “Kemiripannya, bisa dibilang—”

M.Wandolf menahan ucapannya. Suaranya terdengar pelan dan lemah, menyiratkan kekecewaan yang begitu mendalam. Meski tak mengharapkan ini, Julie tahu persis apa yang akan diucapkan M.Wandolf saat itu. Sebuah fakta yang memalukan, sehingga wajar saja jika M.Wandolf memperlihatkan raut wajahnya yang keras dan kaku, yang jarang dilihat Julie dari pria tua itu kapanpun seumur hidupnya, bagaikan seorang kepala sipir yang sedang mengintimidasi narapidana penjara bawah tanah.

“Persis di setiap kata.”

Julie merasa isi perutnya seakan keluar semua.

“Apa penjelasanmu tentang hal ini, Mademoiselle?”

Julie menggigit bibirnya.

Hanya dua kata—Kelas Prancis. Tak penjelasan yang lebih masuk akal lagi, sebagaimana tak ada hal yang mematikan kreativitas dan kecerdasan otaknya lebih buruk daripada hal yang sangat menurunkan kualitas otaknya seperti ini. IQ-nya yang jongkok pasti langsung tiarap tiap kali berurusan dengan segala hal yang berbau tentang kelas Prancis.

Julie tak mengerti, tapi baginya ini sama sekali bukan sebuah pilihan. Ini adalah ketentuan. Takdir. Dorongan tenaga alam semesta yang bergerak liar dan buas, yang tidak mampu dikendalikannya. Ia menyadari kalau dirinya memang bodoh—seperti yang sering diungkapkan oleh Jessie—tapi semua orang tahu, mencontek bukanlah jalan yang biasa dipilihnya. Apalagi menjiplak. Jika saja ini bukan kelas Prancis, ia pasti tidak akan pernah melakukannya.

“Aku—“ ucap Julie terbata-bata. Ia tahu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kali ini. “Aku minta maaf, Monsieur. Aku tidak punya penjelasan yang bagus kecuali  bahwa—”

Well,” gumam Julie. “Memang aku menjiplak tugas Jessie. Tanpa sepengetahuannya.”

Julie sangat berhati-hati saat mengucapkan kalimatnya ini. Ia berusaha untuk meminimalisir efek buruk yang mungkin akan terjadi saat M.Wandolf mendengar ucapannya. Namun demikian, ia tak bisa menghindari gurat kekecewaan yang terukir jelas di wajah laki-laki itu.

“Aku benar-benar kecewa padamu, Mademoiselle,” kata M.Wandolf. Ia menghela napasnya pelan saat melihat Julie menunduk sedari tadi. “Aku berharap kau bisa melakukan hal yang lebih baik daripada ini.”

Julie sebenarnya juga memiliki harapan yang sama. Sungguh ironis, seandainya saja M.Wandolf tahu bahwa sebenarnya kesalahan ini  justru berawal dari niat yang baik dari Julie untuk mengerjakan tugasnya sendiri.

Entah apa yang merasuki otaknya saat itu, minggu lalu Julie meminjam salinan tugas esai Prancis milik Jessie, yang kebetulan sudah diselesaikannya di sekolah, sebagai satu-satunya syarat dari Julie ketika ia berjanji pada Jessie untuk mengerjakan tugas Prancisnya sendiri kali ini, tanpa bantuan Jessie. Julie berkata bahwa ia mungkin akan membutuhkan setidaknya sedikit inspirasi dan referensi, dan ia merasa bantuan dari tugas esai Prancis Jessie akan sangat berguna. Jessie—tentu saja—girang luar biasa saat mendengar niat yang sangat suci ini.

Sayangnya, ketika Julie memulai perjuangannya di akhir pekan, ia hanya bisa mengisi lembar tulisan esainya dengan sebuah titik saja. Hanya titik, tidak lebih. Ia sudah berjuang selama lima jam lebih—menurut pengakuannya—sambil menonton rekaman video animasi si kucing gendut Garfield dan makan sandwich cinta buatan ibunya, namun tetap saja tidak ada satu patah kata pun yang berhasil dituliskannya.

Lagipula ia juga tidak tahu harus menulis apa.

Julie tak sempat mempraktekkan kepiawaiannya mengarang bebas—yang biasanya selalu berhasil ia praktekkan di pelajaran lain, misalnya saat ia mengarang soal kisah cinta jaring-jaring kromatid di pelajaran Biologi—tapi ia tak pernah bisa mengarang apapun dalam bahasa Prancis. Kreativitasnya langsung mengering dan hampa.

Tak bisa dipungkiri, hasilnya perjuangannya sepanjang hari itu pun tak lebih berupa sebuah tanda titik yang bahkan telah menguras seluruh kekuatan imajinasinya. Dan akhirnya, Julie pun memutuskan untuk menyerah. Ia mengobati depresinya hari itu dengan cara berkonsentrasi menonton seluruh serial Garfield sepanjang sisa akhir minggu itu.

Julie baru teringat kembali pada tugas esai Prancisnya pada keesokan harinya. Tepat pada saat ia baru bangun tidur dan pada saat di mana ia seharusnya sudah berangkat ke sekolah. Menyadari bahwa kelas Prancis adalah jam pertama di hari itu, Julie panik dan secara spontan mengisi kertas esainya secepat kilat dengan kata-kata yang diimpor langsung dari kertas esai Jessie, dalam waktu sepuluh menit yang darurat, atau ia akan terlambat datang ke sekolah lagi.

Niat-Mengerjakan-Tugas-Sendirinya pun gagal total.

“Aku pernah melakukan yang lebih buruk lagi, M.Wandolf,” kata Julie. “Aku ‘kan sudah pernah bilang, aku selalu gagal di kelas Prancis. Tidak hanya sekarang, tapi memang dari dulu, dan mungkin akan begitu terus untuk selamanya. Aku sudah berusaha untuk bisa memahaminya, tetapi semakin aku berusaha, aku semakin tidak mengerti.”

Julie tidak bohong. Ia memang sering sekali berusaha mencoba untuk mempelajari bahasa Prancis dengan sungguh-sungguh. Tapi kemudian matanya selalu berkunang-kunang dan kepalanya menjadi pusing. Apalagi kalau membayangkan ceracauan Prancis M.Wandolf setiap hari Senin dan Jumat. Otot perutnya langsung berkontraksi.

“Dan kurasa aku memang dilahirkan untuk tidak bisa berbahasa Prancis sedikit pun,” sambung Julie. “Ini sudah seperti, bakat alam, Anda tahu? Seperti halnya orang yang memang ditakdirkan tidak bisa menggambar, yang tidak akan bisa menggambar. Atau sebaliknya, ada juga orang yang tidak pernah belajar menggambar sama sekali, namun bisa menggambar dengan indah hanya hanya dengan sekali coba. Seorang jenius.”

Julie menatap M.Wandolf dengan bersungguh-sungguh.

“Kurasa, aku kebalikannya. Aku mungkin kontra-jenius, atau apapun namanya itu,” sambungnya lagi. “Dan itu memang kelemahanku, Monsieur. Mau dipaksakan seperti apa juga tetap tidak bisa. Kuharap kau bisa mengerti.”

Argumen yang cukup hebat, pikir Julie. Ia tak menyangka bisa mengeluarkan kata-kata sedashyat itu, karena biasanya ia cuma bisa melenguh seperti sapi. Ia hampir saja terpikir untuk menutup pidato itu dengan senyuman malaikatnya—yang tentu saja tidak nyambung sama sekali.

Untung saja tidak jadi.

Sementara itu, M.Wandolf justru terdiam. Ia hanya memandangi kertas esai itu selama beberapa saat, lalu menopangkan telapak tangan kirinya di atas dagu, seperti sedang berpikir. Julie sempat mengira kalau ucapannya tadi telah berhasil membuat hati M.Wandolf terpana dalam sehingga ia kehilangan kata-katanya. Ternyata perkiraannya itu salah.

“Aku sangat mengerti, Mademoiselle,” kata M.Wandolf kemudian. Ia menatap mata Julie lekat-lekat, seolah-olah itu adalah tatapannya yang terakhir. Ia memberikan intonasi yang luar biasa mendalam pada nada suaranya.

“Untuk itulah aku mengharapkan yang terbaik darimu.”

Pelan dan dalam.

“Dan aku akan lebih menghargai jika kau menuliskan karanganmu sendiri—seburuk apapun itu,” kata M.Wandolf lagi, dengan nada suara yang menggetarkan, “daripada kau menyalin pekerjaan temanmu.”

Julie menelan ludahnya.

M.Wandolf tidak mengucapkan kata-kata lebih banyak, namun Julie merasa luar biasa bersalah saat mendengarnya. Bulu kuduknya bergidik dan lututnya lemas luar biasa. Beliau sepertinya benar-benar berbakat jadi guru yang baik dan bijaksana—andai saja bukan guru kelas Prancis. Julie tidak bisa membayangkan nasihat yang lebih mengena lagi daripada kata-kata M.Wandolf barusan.

“Baiklah. Aku—,” ujar Julie perlahan. Ia menundukkan kepalanya lagi, berusaha merenungkan perbuatannya. Sekarang ia sangat menyesali tindakannya yang kekanak-kanakan itu. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku minta maaf, Monsieur. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

Julie tidak bisa berharap lebih banyak. Ia sekarang sudah siap menerima bentuk hukuman apapun yang akan diterimanya nanti. Bahkan jika akan berkaitan dengan WC sekalipun, ia benar-benar pasrah. Untungnya, entah mengapa, M.Wandolf  sekali lagi bermurah hati untuk memberikan kesempatan bagi Julie untuk memperbaiki kesalahannya.

Mungkin guru itu memang benar-benar baik.

“Kali ini kau kumaafkan, Mademoiselle. Tapi dengan satu syarat,” ujar M.Wandolf dengan lembut. Ia menggulung kertas esai milik Julie dan membuangnya ke tempat sampah.

“Aku ingin kau mengumpulkan lagi tugas itu di kelas hari Jumat besok. Dan aku hanya mau menerima tulisanmu sendiri. Tidak ada jiplakan lagi.”

Julie terhenyak. “H-aah?”

Tugas esai lagi??

M.Wandolf mengernyitkan wajahnya. “KEBERATAN?”

Julie berubah pikiran. Mungkin lebih baik ia menerima tawaran ini.

“Um. Tidak. Well,” Julie mendesah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa semangatnya untuk menerima bentuk hukuman ini. Ia memang tidak punya pilihan lain. “Baiklah, Monsieur. Dua hari lagi akan kukumpulkan lagi tugasku yang baru.”

Julie melangkah keluar dari ruangan M.Wandolf dengan langkah loyo.

Ia tidak tahu bagaimana caranya mengerjakan tugas itu sekarang. Hukuman ini mungkin bisa terbilang ringan, tapi tidak demikian halnya bagi Julie. Satu tugas esai Prancis saja sudah membuatnya cukup menderita, apalagi kalau harus membuatnya sekali lagi. Sendirian. Kalau ia tidak meminta bantuan, bisa-bisa tugas esainya nanti berakhir dengan titik lagi. Ia harus menemukan seorang penyelamat.

Secepatnya.

Yang jelas, ia tidak mungkin bisa minta tolong pada The Lady Witches—apalagi Jessie—hal yang teramat sangat mustahil. Kalau sampai perbuatan menconteknya itu ketahuan, bisa-bisa dia dicincang sampai mati.

Julie lalu terpikir sebuah gagasan konyol yang sama sekali tidak pernah ia duga akan terlintas di pikirannya sebelumnya. Entah mengapa, tiba-tiba ia memikirkan orang itu. Orang yang tadi siang dengan senang hati menawarkan diri untuk menolongnya mengerjakan tugas wawancaranya. Ia berharap semoga orang itu mau menolongnya lagi kali ini.

Richard.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

14 thoughts on “08. Perubahan (3)

  1. huhuu…terenyuh baca perjuangan julie disini
    kasian banget julie bner2 gak bsa bhsa prncis sjak dulu..skuat apapun julie berusaha hsilnya ttap nihil
    TAPI dg bgitu julie mau tdak mau terikat dg si pangeran bercahaya
    “richard soulwind”
    jadi gak sbar nih nunggu bergulirnya kisah julie-richard slanjutnya >.<

  2. halooo cece!
    senang akhirnya bisa baca lanjutannya,,
    entah kenapa tiap baca nih cerita selalu diwarnai ngakak hehe

    gud luck

  3. Hallo,q pmbca bru nhe,,,
    bru dpat hr nhe n lngsung bca smpai bgian 8 nhe hnya dlm stngah hri,,,smpah pnasarn bnget ma klanjutanx,q mhon jngan lma2 yach,,q sdh pnasarn stngah mati ma critax,julie emank unik,,,^^

  4. Astaga, Julie menjiplaak?? Tidaakk!! #lebay Mode ON
    Aduh, kpn si imut Richard muncul lg? ><
    Update terus ya, kakak!! KEREN CERITANYA!!!!!!! xD

    (y)

  5. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  6. Ping-balik: 08. Perubahan (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s