08. Perubahan

Comments 24 Standar

12493228-cute-boy-and-girl-sketch-background-illustration-Stock-Vector-family-cartoon-boy

 

Suasana di sekolah menjadi terasa begitu berbeda sejak kejadian sore itu. Titik bercahaya dari kejauhan di koridor sekolah tak lagi terasa mengganggu bagi Julie, bahkan sekarang semuanya tak lagi menjadi masalah saat titik cahaya itu justru semakin mendekat dan akhirnya menjelma menjadi seorang anak laki-laki seputih pualam. Anak laki-laki itu pun tersenyum pada Julie, dan Julie membalas senyumannya. Suasana yang aneh dan ganjil itu telah berlalu. Entah mengapa, kali ini hatinya menjadi lebih tentram.

Betul juga. Dunia memang terasa begitu berbeda begitu kau mengubah sudut pandangmu, pikir Julie. Di luar dugaannya, ternyata Richard adalah laki-laki yang menyenangkan. Sama sekali jauh dari kesan angkuh yang selama ini selalu Julie imajinasikan dalam bayangannya tentang si Anak Laki-Laki dari Neraka.

Bahkan suasana di kafetaria pun terasa berbeda. Julie tak lagi merasa punya alasan untuk berepot-repot ria mencari tempat duduk yang paling “strategis”—ia bisa duduk di mana saja sekarang. Tanpa siksaan batin, tanpa tekanan mental.

Ia bahkan bisa begitu riangnya tersenyum ramah dan menyapa Richard ketika mereka berpapasan di kafetaria, bahkan tanpa ragu memilih untuk mengantri bersebelahan. Ini sudah yang kedua kalinya ia mengantri bersama dengan anak laki-laki itu. Tentunya dengan suasana yang jauh berbeda daripada pertemuan sebelumnya.

Julie tak malah mengerti mengapa dulu ia selalu merinding dan ketakutan setiap kali berdekatan dengan anak laki-laki itu. Firasat buruk yang horor dan menyeramkan itu telah beralih seratus delapan puluh derajat menjadi nuansa pertemanan yang menyenangkan. Sekarang rasanya sungguh menyenangkan jika bertemu dengan laki-laki itu lagi. Ia sangat ramah dan lucu.

Atau lebih tepatnya, lugu.

“Bagaimana hasil wawancaranya, Julie? Kapan mulai dipublikasikan?” tanya Richard saat mengambilkan Julie piring dari meja kafetaria. Ia terlihat antusias dengan perkembangan hasil wawancara kemarin sore itu.

“Belum kutulis. Belum sempat,” jawab Julie ringan. “Padahal deadline-nya tinggal dua hari lagi.”

Julie mengambil piring yang diberikan oleh Richard dan bersiap-siap mengincar makanan favoritnya dari etalase.

“Sebaiknya segera kau kerjakan begitu sempat,” saran Richard. “Semakin cepat diselesaikan, semakin baik. Jangan suka menunda pekerjaan.”

Nasihat itu terdengar familiar di telinga Julie. Ia pun menghela napas panjang.

Jangan suka menunda pekerjaan.

Nasihat itu nasihat yang sama seperti yang selalu dilontarkan oleh ibunya setiap kali Julie bermalas-malasan, yang biasanya malah membuatnya jadi semakin malas. Entah kenapa, meskipun Richard sekarang mengucapkan kalimat yang persis sama, tapi sensasi yang dirasakan Julie kali ini berbeda.

Do-re-mi.

Mungkin karena pita suara piano itu terasa begitu enak didengar. Halus dan berirama bagai simfoni. Ia merasa jadi lebih ingin patuh.

“Baiklah,” jawab Julie. Julie tertawa dalam hati, menertawakan kepatuhannya yang tidak beralasan pada perintah anak laki-laki yang baru diakrabinya ini.

“Kuharap, setelah tugas Sejarah Dunia ini aku bisa punya waktu untuk mengerjakannya. Itu pun kalau Mr. Rupert tidak menambahkan tugas Geometri lagi di kelas nanti siang,” ujar Julie.

Julie tersenyum nakal. “Atau,” kata Julie. “Kau mau menuliskannya untukku?”

Sebenarnya ia tidak benar-benar sibuk minggu ini. Tugas Sejarah Dunia yang ditugaskan Ms.Watson hanyalah membuat esai singkat tentang Renaissance. Setengah jam dikerjakan juga langsung selesai—Julie paling jago soal karang-mengarang ini—satu-satunya kemampuan yang bisa ia banggakan. Selain itu, Julie pun sebenarnya yakin kalau Mr. Rupert tidak akan memberikan mereka PR hari ini. Hal ini disebabkan karena akan ada kuis di kelas mereka setelah jam makan siang. Mr. Rupert tidak memberikan PR di hari yang sama saat ia mengadakan kuis.

Ia memang hanya ingin berkelakar.

“Boleh,” jawab Richard. “Besok sore kebetulan latihan catur diliburkan. Nanti bisa kubuatkan. Malamnya akan kukirim ke e-mailmu.”

Julie terperangah. Ia mengamati ekspresi Richard wajah yang begitu polos. Tidak ada tanda-tanda bahwa anak ini sedang bercanda.

“Serius?” tanya Julie. Ia mengambil satu sendok besar fettucini dan dua iris mini pizza dan meletakkannya ke piringnya. Ia melihat piring Richard yang masih kosong dan menawarkan fettucini yang ada di depannya.

“Kau mau?”

Richard menggeleng, “Tidak, aku mau mengambil sup yang di sana.” Ia menunjuk loyang makanan yang berada agak jauh di sebelah kiri. “Oh, ya. Tentu saja aku serius. Kalau kau mau, aku bisa membuatkannya.”

Richard memandang Julie dengan ragu-ragu.

“Apa kau keberatan?” tanya Richard lagi.

Tentu saja ia tidak merasa keberatan. Masalahnya justru dari letak kelogisan permintaannya tadi—yang tentu saja tidak logis. Mau tidak mau ia harus segera mengklarifikasi ucapannya, sebelum nantinya Richard menghampiri Jerry dan menyerahkan tulisan tentang dirinya sendiri.

Julie mencoba mencari alasan untuk membatalkan permintaan tololnya itu.  “Pasti,” tukas Julie. “Tulisanmu kan jelek, seperti tulisan kucing.”

Mereka berdua tertawa.

“Jangan khawatir. Aku akan menulisnya di komputer, Julie,” jawab Richard. “Seperti yang biasanya kulakukan. Aku tahu tulisanku memang jelek.”

Julie sekarang malah kebingungan.

“Dasar kau bodoh,” cela Julie. Ia masih sangat heran pada keluguan anak ini. Sepertinya Richard benar-benar mengira ia benar-benar minta tolong padanya. “Aku tadi cuma bercanda saja. Kan aku reportermu, masa kau yang menulis sendiri.”

Richard tersenyum.

Pada saat itu juga, Julie merasakan ada hawa panas yang meluap-meluap dari meja nomor 8. Beberapa pasang mata angker sedang yang melesat cepat ke arah mereka dan Julie tahu pasti apa yang sedang menunggunya di sana. Tapi Julie tak mau ambil pusing. Segera setelah mereka tiba di akhir antrian, Julie melepaskan senyumannya sekali lagi dan berpamitan dengan Richard.

“JULIEEEEEE!!!”

Tanpa perlu melihat pun, Julie sudah tahu teriakan itu teriakannya Jessie. Di dunia ini, cuma ada dua jenis suara yang paling cempreng yang pernah Julie kenal. Yang pertama, suara ibunya. Yang kedua—tentu saja—suara khas milik Jessica Walter.

“Kau ngobrol dengannya! GILA!”

Memang gila, pikir Julie. Tapi bukan kata “gila” dengan arti yang sama seperti yang didefinisikan oleh para The Lady Witches.

Walaupun memang tidak biasa, tetap saja baginya mengobrol dengan Richard bukanlah hal yang luar biasa menghebohkan. Rasanya sama saja seperti mengobrol dengan orang yang dulu kau pikir paling mengerikan di dunia ini, tapi ternyata ia cukup menyenangkan.

“Brengsek kau Julie,” ketus Cathy. “Kau bilang kau tak suka padanya, tapi kenapa kau malah curi-curi start?!”

“Ahh! Jangan-jangan kau sebenarnya suka juga sama Richard?? Hayoo mengaku..!” desak Cassandra.

“Jadi selama ini kau cuma pura-pura ya Julie?? Kau pura-pura tidak suka supaya tidak ada yang menyangka kau akan mendekati Richard. Curaang..!”

Meja mereka tiba-tiba riuh dengan suara-suara yang menuduh.

Julie menutup kupingnya dan bernyanyi-nyanyi sendiri. “La-la-la-la-la-la.”

Ia mencoba mengacuhkan perdebatan yang terjadi di depannya dengan meniru gaya Cathy Pierre yang selalu bersenandung tiap kali dinasehati oleh teman-temannya. Ternyata lumayan efektif.

“Sudah selesai?”

Julie mendongak dengan ekspresi yang menyebalkan. Jessie mulai menarik rambut Julie dengan beringas, yang membuat kedua saudara kembar ini pun berkelahi lagi. Julie balas menarik kuncir rambut Jessie, dan Jessie balas menarik rambutnya lagi, sehingga mereka saling tarik-menarik rambut, seperti dua anak kecil yang bodoh.

“Jadi, apa jawabanmu? Kau suka padanya?” tanya Kayla.

Julie menghentikan perhelatannya dengan Jessie dan mulai mencerna apa yang sedang dipermasalahkan oleh gadis-gadis ini. Konyol sekali, pikir Julie.

“Tidak.”

Di saat itu juga Julie mulai merasa tingkat kecerdasannya naik beberapa kali lipat. Para gadis ini memang konyol. Mereka sibuk meributkan hal-hal yang tidak penting. Hidup mereka akan lebih bermanfaat kalau saja waktu jam makan siang mereka habiskan dengan membicarakan efek pemanasan global.

Gadis-gadis itu mengamati dengan seksama perubahan ekspresi Julie. Selama beberapa saat, mereka mengharapkan ada tanda-tanda yang mencurigakan dari perubahan ekspresinya yang tampak seolah-olah tak merasa bersalah. Beberapa detik kemudian, suasana pun berubah menjadi riuh kembali.

“Bohoooong!!”

Julie benar-benar tidak mengerti apa maunya gadis-gadis ini.

“Dengar ya, gals,” tukas Julie. “Aku tidak punya perasaan apapun pada Richard, ok? Kalian tahu kan, aku ini reporter koran sekolah. Beberapa hari yang lalu Jerry menyuruhku untuk meliput laki-laki itu seputar kemenangannya di pertandingan catur tingkat kota minggu lalu. Makanya kemarin aku pergi mewawancarainya dan hari ini mengobrol dengannya.”

Sambil menikmati wajah melongo para gadis The Lady Witches yang menggelikan, Julie menghabiskan keju pizzanya yang masih tersisa di piring.

“Puas?”

Secara ajaib, setelah Julie mengucapkan kalimatnya yang terakhir itu, suasana di meja itu berubah menjadi sunyi. Siapa pun akan heran melihat para gadis The Lady Witches yang ramai tiba-tiba berubah menjadi kalem, seolah ada mukjizat dari Tuhan yang akhirnya berhasil menyembuhkan sel-sel syaraf otak mereka.

Tapi Julie tahu pasti ini cuma fatamorgana. Ia bersiap-siap menutup kupingnya untuk menghadapi serangan supersonik yang akan meluncur beberapa saat lagi.

“APAA!??”

“Kau pergi menemuinya????”

“Kau dan DIA.. BERDUA???”

“JULIEEE!!!!!!! KAU CURAAAAAANG!!!!!!!!!!”

Tepat seperti dugaan. Kegaduhan dimulai lagi, dan lagi-lagi Julie selalu menjadi tersangkanya, untuk topik yang selalu sama. Seperti biasa, Cathy selalu terdengar paling histeris, tapi yang lain pun tidak kalah histerisnya. Percuma saja mendebat mereka, satu lawan lima, perlawanan tanpa arti. Daripada meladeni mereka, Julie lebih memilih menyeruput habis es sodanya dengan santai.

Julie terkadang suka berkhayal, apa sebaiknya ia bersekutu saja dengan gadis-gadis gila ini? Selama ia masih berada di pihak yang kontra, aktivitas apapun yang ia lakukan yang berhubungan dengan Richard pasti akan membuahkan kehebohan—selalu. Ia bisa saja pura-pura ikut memuja Richard Soulwind—Sang Pangeran Tampan Bercahaya itu, kalau memang diperlukan. Atau setidaknya, ia bisa menghilangkan sikapnya yang terlalu skeptis. Minimal, Julie akan mengakui kalau Richard memang tampan.

Ya, lelaki itu memang sangat tampan. Sangat.

Lalu bagaimana dengan reputasinya yang terkenal, The Unbeatable? Jika Julie bersekutu dengan para The Lady Witches untuk mendukung Richard, ini sama artinya dengan ia mengakui bahwa ia bertekuk lutut karena ketampanan laki-laki itu. Dan ini sama saja artinya dengan merendahkan martabatnya sendiri, yang sudah dibangunnya susah payah selama ini.

Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan ini semua.

“Baiklah,” kata Julie. “Aku mencintai Richard.”

“APA!?”

Ucapan Julie disambut dengan luar biasa heboh. Para gadis menjadi jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Julie merasa seperti ada lima klakson mobil sedang berbunyi tepat di depan telinga, sampai-sampai telinganya memerah.

“KAU APA??” tanya Cathy dengan berapi-api.

Julie menyeringai.

“Ya, aku mencintainya, Cath,” jawab Julie dengan romantis. “Aku ingin memeluk tubuh Richard, merasakan detak jantungnya..”

Julie merasakan ada hawa-hawa aneh yang menyengat, yang datang dari setiap ujung meja. Suara-suara The Lady Witches yang lain tetap berisik seperti pasar, tapi ia sengaja mengeluarkan suara yang lebih keras lagi.

“Aku ingin menyentuhkan pipiku di pipinya, mencium bibirnya yang lembut..”

“Sial kau, Julie!” teriak yang lain. “Aku juga mau!”

Julie tak mempedulikan ucapan gadis-gadis itu.

“.. mencium lehernya, menghirup aroma tubuhnya yang wangi. Aku ingin melumat bibirnya yang manis, seperti gulali..,”

Para gadis itu terlihat ganas, seperti hendak menerkamnya, tapi Julie sendiri sedang asyik menikmati permainan ini.

“..menyentuh rambutnya, menyisirnya dengan jari-jemariku.. Membelainya..,” Julie memperagakan sentuhan itu dengan penghayatan tinggi.

“Hentikan itu, Julie! Hentikan!”

Para gadis tampaknya semakin panas. Terutama Cathy. Ia tidak bisa menyembunyikan hidungnya yang kembang-kempis.

“.. menatap matanya yang indah.. Menyentuh kulitnya yang halus.. Berbisik di telinganya..,”

“JULIE!!”

Julie semakin menjadi-jadi.

“… menikah dengannya.. Melahirkan anak-anaknya.. Membesarkan anak-anaknya.. Mendampingi anak-anaknya dalam altar pernikahan.. Menghabiskan waktu dengannya, bersama dengan cucu-cucu kami..,”

“JULIEEEEEEEEEE!!”

Cathy yang berinisiatif lebih dulu, menerkam Julie, dan mengacak-acak rambutnya. Cassandra menyusul dengan menahan tangan kanannya, sementara Lucy menahan tangan kirinya. Julie berusaha berteriak dan meronta-ronta, tapi Jessie segera membekap mulutnya, lalu Kayla langsung menggelitik gadis itu habis-habisan.

“TOL—Umphh!”

Julie menggeliat seperti cacing kepanasan.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

24 thoughts on “08. Perubahan

  1. wahahaahaaaaa….konyol banget kata2 julie untuk menggoda The Lady Bitches tentang bagaimana ia “mencintai” Richard Soulwind…..
    Semakin sukaaaa ;D
    Like it..Like it..Like it..
    Love it..Love it..Love it…

    • #semakin ingin tau kemesraan julie richard di adegan2 selanjutnya….
      #semakin penasaran dg komentar dan reaksi The Lady Bitches….
      mari menunggu 😀
      kak sonya fighting!!!!!

  2. yach ampun julie konyol banget
    kira” richard denger gak yach ?
    lalu gimana tanggapannya dgn kta” julie
    jgan” dia anggap serius lagi kta” julie. . . .
    semangat kakak
    selalu menunggu lanjutannya 😀

    • Untungnya nggak denger (kali ya hehehe :P)
      Siip, makasih yaa Pitaa! 😀
      Selamat membaca update terbaru-nya, yaa 😉

  3. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  4. Ping-balik: 07. Liputan (4) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s