07. Liputan (3)

Comments 16 Standar

Seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun tengah berjalan menapaki trotoar di sepanjang Jalan Prophet, menyedot perhatian orang-orang di sekelilingnya. Setiap orang dapat melihat bola matanya yang begitu indah, yang berkilau jernih seperti batu safir, dengan warna biru cemerlang seperti birunya air laut yang diterpa sinar matahari. Kulitnya memancarkan cahaya putih cerah, seputih salju, seolah-olah diciptakan Tuhan hanya untuk menegaskan kerupawanan fisiknya. Tak ada yang bisa mengerti mengapa aktivitas yang sedang mereka lakukan saat itu tiba-tiba saja berubah menjadi kehampaan yang tidak begitu menggairahkan, bila dibandingkan dengan kesempatan menikmati lekukan wajahnya yang mengagumkan itu. Wajah yang melekuk indah—seperti porselen—yang diukir langsung oleh tangan Tuhan.

Dengan detail yang sempurna.

Anak lelaki itu kemudian berhenti di sebuah kedai dan terdiam sejenak. Ia mendongak melihat papan nama yang tergantung di atas pintu masuk kedai itu, memastikan kalau ia benar-benar tidak salah tempat. Setelah terdiam selama beberapa saat, ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kedai itu.

Di detik yang sama, Julie Light baru saja memperhatikan angka jam digital yang tertera pada ponselnya. Ia sudah tiba di kedai Steak~Stack sejak tiga puluh menit yang lalu, karena kebetulan kedai itu terletak tidak jauh dari rumahnya, sehingga ia pun bisa langsung berlari ke sana segera setelah bel pulang sekolah berbunyi. Khusus untuk sore ini, ia mempunyai motivasi penuh untuk datang tepat waktu—demi menggagalkan tugas liputan itu—dan ia sangat berharap semoga anak itu tidak jadi datang. Atau setidaknya ia berharap agar anak itu tidak datang tepat waktu, sehingga ia bisa mengkambinghitamkan keterlambatannya.

Julie baru menyadari beberapa detik kemudian kalau ternyata anak laki-laki itu sudah berjalan mendekat, yang membuatnya panik setengah mati.

Sebentar lagi.

Sebentar lagi pertemuannya dengan anak laki-laki itu tidak akan bisa dihindarinya lagi.

“Ergh. Sial.”

Napasnya menderu cepat ketika anak laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya. Ia bisa merasakan hawa yang tidak menyenangkan yang selalu menghantuinya tiap kali berdekatan dengan Si Anak Laki-Laki Dari Neraka. Insting yang telah dilatihnya untuk menghindari Richard selama ini, segera mengarahkannya untuk menundukkan kepala—atau bahkan bersembunyi di bawah meja—agar anak laki-laki itu tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi percuma saja. Ruang kosong di meja kedai itu terlalu sempit. Untuk sekedar menyelipkan pantat saja dari tadi ia sudah kepayahan. Ia akhirnya terpaksa menyerah, terkulai lemas tak berdaya ketika anak laki-laki itu sudah menampakkan diri di depan wajahnya.

“Hai, Julie,” sapa Richard.

Julie tersenyum pahit.

“Hai.”

Julie berusaha mengontrol gerakan-gerakan tubuhnya yang kini mulai tidak karuan. Ia tahu persis, masa depannya sekarang telah berakhir. Berbulan-bulan ia berusaha mati-matian untuk menghindari anak laki-laki itu—Richard Soulwind, Sang Lampu Petromaks Perenggut Cahaya Kehidupan—dan hari ini, seluruh usahanya menjadi sia-sia. Dan ia tidak bisa berbuat apapun untuk menghindarinya lagi.

Tamat sudah.

Richard mengamati jam tangan yang menggantung di tangan kirinya. “Ternyata baru jam 4,” ujarnya sambil tersenyum. Lesung pipit yang melekuk di pipi kanannya terlihat sangat menggemaskan. “Aku sedikit terkejut melihatmu sudah ada di sini. Kukira aku benar-benar sudah terlambat.”

Julie tahu persis apa maksudnya. Richard pasti menyinggung soal kebiasaannya datang terlambat ke sekolah. Lelucon itu memang cukup populer di Nimber akhir-akhir ini.

“Yeah,” ucap Julie dengan nada datar. Tidak hanya Jessie, bahkan sekarang anak laki-laki itu—yang bahkan baru ditemuinya hari ini—sudah mulai mengungkit-ungkit soal kebiasaannya yang terkenal itu. “Apa aku sepopuler itu, huh?”

Pertemuan pertamanya yang langka dengan anak laki-laki itu—sejak tragedi di Kelas Prancis—entah kenapa dimulai dengan topik pembicaraan yang konyol.

“Aku tidak selalu terlambat, kok. Aku pernah tidak terlambat.”

“—dua kali.”

Richard tertawa kecil. Ia tak bisa menahan gelinya, meskipun ia tahu saat itu Julie tidak bermaksud untuk bercanda. Gadis itu sepertinya terlihat jengkel, tapi Richard sendiri tidak benar-benar yakin, karena—berkebalikan dengan sikap ketus yang berusaha ditunjukkannya, intonasi suara gadis itu justru terdengar lucu dan menggelikan.

“Maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu, Julie,” kata Richard sambil tersenyum. Ia mengoreksi ucapannya dengan ramah. “Iya. Kau tidak selalu datang terlambat, kok.”

Richard berbicara dengan nada yang sangat sopan.

Julie tersenyum sekedarnya.

“Baiklah. Kita langsung saja ke pokok permasalahannya saja,” ujar Julie cepat. Ia harus segera menyelesaikan wawancara ini secepatnya, sebelum kepalanya mengempis karena kekurangan oksigen. “Kau tahu kan, kita di sini mau wawancara?”

Julie bisa merasakan dengan jelas bagaimana ratusan monyet-monyet Jumanji yang sedang berjingkrak-jingkrak di ruang kepalanya saat ini. Pokoknya, segera setelah wawancara ini selesai, ia akan mewujudkan rencana penyelamatan diri yang sudah dirancangnya dengan sempurna.

Kabur secepat mungkin dan menonton DVD semalam suntuk. Nonstop. Menikmati seluruh episode film serial Star Wars nanti malam tampaknya akan jadi ide yang sangat bagus.

“Aku akan bertanya dan kau langsung menjawab, oke?” ujar Julie. Tanpa merasa perlu berbasa-basi, ia langsung mengambil buku catatan dan pena hitam dari tas kulit miliknya dan bersiap-siap menanyakan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Richard mengangguk.

“Oke.”

Julie membaca daftar pertanyaan yang tertera di buku catatannya. Pertanyaan pertama mungkin akan terdengar bodoh, tapi biar bagaimanapun pertanyaan ini sudah menjadi protokol wajib dalam setiap wawancara yang biasa dilakukannya.

“Pertanyaan pertama, Richard,” ujar Julie. “Nama lengkapmu?”

Richard menjawab dengan santai.

“Richard Soulwind.”

Julie berusaha menggerakkan tangannya sekuat tenaga. Lima belas huruf yang sangat familiar itu entah mengapa terasa sangat sulit untuk ditulis. Tiba-tiba tangannya mengeras seperti batu dan beratnya bertambah hingga sepuluh ton. Setiap anggota tubuhnya berusaha untuk memberontak, dan ia harus berjuang keras untuk mengalahkan kemalasannya demi mengakhiri wawancara ini. Sesegera mungkin.

Ia akhirnya menulis huruf inisial anak laki-laki itu.

R.S.

Singkat. Jelas. Tepat.

Jenius.

Inisial itu bahkan sudah bisa mendeskripsikan segalanya. Dan halaman profil ini juga sudah tidak dibutuhkan sama sekali. Nama lengkapnya, tanggal lahirnya, hobinya, warna kesukaannya, semuanya. Semua gadis di Nimberland pasti tahu segalanya tentang Richard—terutama The Lady Witches.

Mungkin ia bisa pulang sekarang.

Julie kembali bergumul dengan kelenjar otaknya, sebelum anggota tubuhnya yang lain memulai gagasan yang aneh-aneh lagi. Meskipun seluruh dunia tahu kalau menulis profil Richard untuk koran sekolah adalah pekerjaan yang sia-sia, tetapi ia harus melupakan gagasannya untuk kabur alih-alih segera menuntaskan tugas ini. Ia berharap seandainya saja ia benar-benar bisa pulang sekarang.

“Pertanyaan kedua. Di mana tempat tinggalmu?”

“Jalan Red Orchid nomor 5A.”

Julie menggambar bunga anggrek dan membubuhkan angka 5 dan huruf A di dalam lingkaran bunga itu. Julie tak sadar kalau di samping tempat duduknya, Richard sedang mengamati gaya tulisannya yang menurutnya unik dan mengesankan. Ia terlalu sibuk dengan gambar-gambarnya.

Julie mungkin terlihat seperti seorang jurnalis yang kreatif—sangat kreatif—ibarat Van Gogh di dunia lukis, atau Ludwig van Beethoven di dunia musik. Pada kenyataannya, Richard perlu tahu kalau sebenarnya di kamus hidup Julie, kreatif adalah sinonim dari kata malas.

“Pertanyaan ketiga. Nama orangtuamu?”

“Ayahku Thomas Soulwind,” jawab Richard. Julie pura-pura menggoreskan penanya. “Ibuku Agatha Soulwind.”

Jawaban kali ini cukup panjang, sehingga tidak memungkinkan bagi Julie untuk membuat inisial atau gambar-gambar. Paling tidak, ia masih harus menuliskan kata Thomas dan Agatha, yang disusul oleh huruf ‘S’. Dan menulis dua kata yang cukup sederhana itu, entah mengapa terasa berat, panjang, dan sangat melelahkan.

“Apa kau perlu nama gadis ibuku?” tanya Richard.

“Tidak,” jawab Julie sigap.

Ia sudah pasti ingin melewatkan pertanyaan itu—karena dia memang tidak mau tahu—tapi kebijaksanaannya tiba-tiba muncul dan kini ia menyadari kalau tindakannya itu bukanlah sikap seorang jurnalis profesional.

“Baiklah. Iya.”

Julie berusaha mengalahkan kemalasannya. Ia menarik napas panjang.

Richard tersenyum. “Agatha Wilson.”

Julie menggoreskan penanya di atas buku catatan itu, membentuk kata Wilson, tepat di bawah ‘Agatha’. Ia memindai daftar pertanyaan yang masih tersisa di buku catatannya, sambil bertanya pada dirinya sendiri kapankah wawancara ini akan berakhir. Ternyata masih ada dua belas pertanyaan lagi. Dan berita buruknya, kemungkinan jawaban untuk masing-masing pertanyaan berikutnya nanti akan menjadi semakin panjang.

“Pertanyaan keempat. Tempat dan tanggal lahirmu?”

“Eastcult, 11 November 1995.”

Julie membuat dua tanda panah dan menulis inisial ‘EC’ untuk nama kota, dan ‘11-11-95’ untuk tanggal lahir. Julie tahu, Richard memang lebih muda 4 bulan darinya. Di tanggal yang sama dan tahun yang sama pula. Dan itu sudah diketahuinya sejak berabad-abad yang lalu—berkat The Lady Witches yang sinting yang selalu membicarakannya setiap hari.

“Pertanyaan kelima. Sejak kapan kau belajar catur?”

“Baru lima bulan terakhir ini. Maaf, boleh aku memesan segelas jus dulu?”

Julie terhenyak. Ia baru ingat kalau dari tadi Richard belum memesan makanan. Bahkan, ia sama sekali lupa mempersilahkan Richard untuk duduk. Untung saja, tampaknya tadi Richard sudah bisa duduk sendiri tanpa perlu disuruh-suruh lagi.

“Ya,” jawab Julie datar. Ia berpura-pura untuk bersikap biasa aja, seolah segalanya berjalan dengan normal, meskipun segelas jus melon yang bertengger manis di atas mejanya sejak tadi, telah membuatnya merasa sangat dungu seperti sapi.

Richard beranjak dari tempat duduknya dan memanggil seorang pelayan wanita yang berdiri di meja pemesanan. Pelayan itu terlihat gembira saat Richard berbicara padanya. Sementara itu, Julie sedang menarik udara segar sebanyak-banyaknya ke paru-parunya.

Ia sangat menyesali keputusannya memilih tempat itu sebagai tempat pertemuan mereka. Posisi duduknya tadi benar-benar tidak nyaman. Anak laki-laki itu duduk terlalu dekat dengannya—tepat berada di sampingnya—hanya berjarak beberapa inci dari kulit terluarnya. Ia berusaha untuk duduk sejauh mungkin dari anak laki-laki itu, tapi tetap saja ia tak bisa menghindar dari sinar radiasi kosmik beracun yang menghujaninya dari arah sana. Terima kasih pada kedai Steak~Stack yang membuat desain tempat duduk menyamping yang sempitnya luar biasa itu.

Julie menyeruput jus melonnya untuk menurunkan adrenalinnya.

Richard sekarang kembali lagi ke bangkunya, kembali menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan bagi Julie. Setelah susah payah mengumpulkan semangat dan keyakinan untuk bisa sampai sejauh ini, entah kenapa tiba-tiba saja ia kehilangan gairah untuk melanjutkan semuanya. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya kembali terasa kelu, lehernya terasa berat untuk digerakkan, dan kakinya terasa dingin, sedingin es di Kutub Utara.

Mereka berdua duduk terdiam, tidak saling bicara satu sama lain.

Keheningan itu pecah ketika seorang pelayan kedai datang menghampiri mereka, membawa gelas minuman yang dipesan anak laki-laki itu. Segelas jus cranberry berwarna merah segar, dengan aroma yang menggugah selera. Aroma manis dari jus itu mengingatkan Julie akan sesuatu.

“Apa kau sedang datang bulan?” tanya Julie.

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya—tanpa sempat dipikirnya terlebih dahulu. Ia bahkan tidak memperhatikan konteks dari situasi yang terjadi saat itu. Mendengar pernyataannya itu, beberapa pelayan wanita yang sedang berada di dekat mereka langsung memegangi perut mereka sambil tertawa geli.

Richard menatap Julie kebingungan. “Datang bulan?”

Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang diucapkan oleh Julie. Sekarang ia memandangi embun yang menetes di permukaan gelasnya, mengurungkan niatnya untuk minum meskipun tadinya ia merasa haus sekali.

Di sisi lain, Julie sedang sibuk melakukan konfrontasi dengan organ tubuhnya sendiri. Hancur sudah image dingin dan ketus sempurna yang sudah susah payah dibangunnya sejak tadi. Mulut dan otaknya lagi-lagi tidak bisa diajak bekerja sama. Ucapannya tadi benar-benar membuatnya semakin tolol.

“Um—,” gumam Julie.

Ia sekarang bingung harus berkata apa.

“Eh, iya. Um—begini,” Julie berusaha menjelaskan. “Ibuku selalu menyuruhku meminum jus cranberry setiap aku datang bulan. Apa kau sedang menstruasi?”

Habislah sudah.

Ia tidak pernah bisa mengerti mengapa anggota tubuhnya yang satu itu selalu saja menempatkan dirinya di situasi yang memalukan. Ingin sekali rasanya ia mengasingkan organ tubuhnya sendiri di pulau terpencil, mencari donor organ yang baru di Organisasi Transplantasi Nasional, atau membeli penggantinya di supermarket. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi anak laki-laki itu terhadap ucapannya yang benar-benar konyol.

“Mungkin,” kata Richard.

Julie terkejut, tidak percaya pada apa yang baru didengarnya. “Ha?”

Jawaban tadi benar-benar di luar dugaannya.

“Ini menstruasi pertamaku.”

Kalimat yang didengarnya itu begitu absurd dan tak masuk akal, sampai-sampai Julie mengira sel-sel otaknya yang sedang berputar-putar, atau justru bersorak-sorai.

“Apa?” tanya Julie terperanjat. Kali ini telinganya tidak berdenging atau sebagainya, ia hanya tidak percaya—benar-benar tidak percaya—apa yang baru saja ia dengar. Tanpa bisa menahannya, Julie tertawa meledak.

Gagasan ini benar-benar konyol, dan ia tidak bisa menyingkirkan gagasan konyol ini dari benaknya. Organ tubuhnya bergegas melakukan sebuah inisiatif spektakuler.

Lagi.

Pancingan kali ini benar-benar menggoda.

“Kau sudah pakai pembalut?”

Julie jelas-jelas sudah melupakan masa lalunya yang suram. Pertanyaannya kali ini sebuah kalimat yang sangat konyol yang pernah diucapkannya kepada seorang anak laki-laki. Apalagi—kepada Richard Soulwind—Sang Anak Laki-Laki dari Neraka. Seluruh image ketus sempurna yang susah payah telah dibangunnya sejak tadi, telah hancur tak bersisa, tak berwibawa lagi.

Richard tergelak.

“Sudah.”

“Ah, bohong,” kata Julie. Ia tak bisa menghentikan tawanya, hingga seutas senyum tipis Richard membuatnya terpaksa mulai memandangi bibir yang seperti gulali itu.

Ia malah terpikir ide yang lebih bagus lagi. “Atau—mungkin mau beli di minimarket di depan sana? Aku akan meminta tolong pelayan itu untuk membelikannya untukmu. Tunggu sebentar, ya.”

Julie berusaha bangkit dari tempat duduknya. Richard terlihat panik. Dibelikan pembalut oleh perempuan adalah hal terakhir yang diinginkannya di muka bumi ini. Ia—tentu saja—hanya bercanda. Tapi sepertinya, ia harus ekstra hati-hati jika ingin bergurau dengan gadis itu. Julie terlihat sangat serius ingin memanggil pelayan ke meja mereka. Bisa-bisa, Richard benar-benar harus membawa pulang pembalut ke rumah.

“Tidak, tidak—aku sudah pakai, kok,” kata Richard. Ia terjebak dalam permainan yang dimulainya sendiri, dan sekarang ia tidak tahu harus berkata apa. Ia berbisik lirih sambil merendahkan suaranya.

“Hari ini sudah dua lapis. Nanti aku tambah lagi.”

Perut Julie benar-benar sakit.

Jika itu adalah Lucy dan Cassandra, mereka pasti akan menghindari topik ini, karena menurut mereka topik seperti ini adalah topik yang aneh dan paling menjijikkan untuk dibahas—apalagi kalau dibicarakan ke anak laki-laki. Sebaliknya, Julie justru sangat menikmati lelucon ini. Benar-benar menggelikan.

Anak laki-laki ini memang betul-betul tidak mengerti apa yang diucapkannya.

“Mana boleh dipakai berlapis-lapis, Bodoh,” Julie tertawa geli. “Memangnya kau pikir itu sandwich?”

Richard tercenung. Alisnya terangkat sebelah. Bibirnya yang tipis itu mengerucut dan melekuk indah ketika ia mulai kebingungan.

“Oh, ya?” tanya Richard. “Tidak bisa, ya?”

“Tentu saja tidak bisa,” kata Julie sambil tertawa. “Dan aku tak habis pikir kau membicarakan hal konyol ini denganku. Kukira kau korban trans-gender. Hampir saja aku mengira kalau kau ini bencong.”

Richard berdehem singkat. “Ya—sejujurnya aku tadi cuma asal menebak saja. Aku kan tak pernah menstruasi.”

Mereka berdua tertawa.

Julie tidak tahu ke mana perginya suasana horor yang dirasakannya tadi. Jangankan untuk bisa bersikap ketus kembali, dalam situasi aneh ini ia malah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman dengan kehadiran Richard. Dan entah bagaimana caranya, dalam sekejap suasana horor itu pun surut dan menghilang di balik awan, bersamaan dengan renyahnya suara tawa mereka yang menggema di kedai kecil itu.

Respon yang mengejutkan dari Richard telah mengubah segalanya.

“Baiklah. Kita kembali ke pertanyaan tadi,” kata Julie, setelah bisa menenangkan dirinya sendiri. Panas yang membakar dadanya tadi kini telah berganti menjadi sensasi dingin yang rileks dan menyegarkan. “Sejak kapan kau belajar catur?”

Julie tidak lagi menunduk atau melototi buku catatannya. Kali ini ia bertanya sambil memandangi wajah anak laki-laki itu.

Ia mulai mengelaborasi pertanyaannya.

“Maksudku, ceritakan bagaimana kau mulai belajar catur.”

Julie merasakan sensasi yang aneh saat matanya bertemu dengan mata biru anak laki-laki itu. Biru safir yang indah dan menyilaukan, dan ia kini memandangnya dari jarak dekat. Tidak lagi dari kejauhan seperti dulu. Bulu kuduknya terasa merinding dan lututnya pun mendingin seperti es. Tapi entah mengapa, sensasi kali ini justru terasa segar dan menyenangkan.

Richard berusaha mengingat kenangannya selama liburan panjang kemarin.

“Kakekku mengajariku saat aku berkunjung ke rumahnya di peternakan Willow Oak lima bulan yang lalu,” kata Richard. “Sebelumnya aku tidak begitu tertarik pada catur, tapi selama aku menghabiskan waktu di sana, kakek selalu mengajakku bermain catur. Bermain catur lagi, catur lagi, dan catur lagi. Setiap hari sarapan dengan catur—pagi, siang, dan malam.”

Richard menarik napasnya.

“Mau tidak mau, aku akhirnya jadi terbiasa dengan sendirinya. Seperti sudah mendarah daging.”

Suaranya yang lembut dan berdenting seperti piano, akan membuatmu terenyuh mendengar bahwa ia sangat mencintai hobi yang diperkenalkan kakeknya itu. Tapi, mengetahui bahwa anak laki-laki itu hanya baru belajar catur lima bulan lalu—bukan lima tahun yang lalu—Julie merasa istilah itu terlalu berlebih-lebihan.

“Mendarah daging?” tanya Julie sambil tertawa. “Kau kan baru belajar catur lima bulan yang lalu. Apanya yang mendarah daging?”

Richard hanya tersenyum. Terlihat dengan jelas bahwa ia menyadari pilihan katanya yang terlalu ekstrim, namun ia merasa kata itu cukup pantas untuk diucapkan.

“Lagipula,” tambah Julie, “Memangnya kau tidak bosan bermain catur tiap hari?”

Richard mengangkat pundaknya.

“Entahlah,” kata Richard, sambil menyeruput jus cranberry-nya. Ia benar-benar haus, bahkan sejak sebelum Julie menggodanya tadi. “Yang jelas, ketika aku sudah mulai menyukai sesuatu, aku akan benar-benar menyukainya. Kurasa itulah sebabnya tak sulit buatku untuk akhirnya menekuni catur di kemudian hari.”

Julie bersorak, dalam hati.

Cerita tentang seorang jenius yang ulet dan setia dalam menekuni apa yang ia sukai, sudah pasti akan membuat gila para penggemar Richard-holic—yang sedari awalnya memang sudah gila. Ini akan jadi materi yang sangat bagus untuk penulisan artikelnya nanti, pikir Julie.

Julie mencatat informasi itu baik-baik di dalam buku catatannya.

“Oke,” gumamnya. “Selain catur, apalagi yang kau suka?”

Julie ingat benar, M.Wandolf pernah mengatakannya saat ia terjebak di kelas Prancis beberapa waktu yang lalu. Tiba-tiba ia ingin menggoda lagi. “Kudengar kau berbakat di bidang sastra, huh?”

Richard tertawa.

“Tidak, tidak juga,” katanya. “Aku tak tahu mengapa banyak orang yang mengatakan tulisanku bagus. Padahal menurutku itu biasa saja.”

“Hm?” Julie meragukannya. “Biasa saja?”

“Ya. Lagipula aku juga jarang menulis. Tidak begitu suka.”

Julie memandang sinis.

“Oh begitu?” Julie mulai menggodanya. “Merendah untuk menaikkan mutumu, ya?”

Richard tertawa. “Tidak, kok.”

Dalam keadaan normal, biasanya Julie tidak akan pernah tertarik membicarakan hal ini. Tapi sudah kepalang tanggung. Julie sudah memutuskan, hari ini semuanya akan benar-benar jadi sangat berbeda dari biasanya.

“Oke. Sejujurnya, aku memang belum pernah melihat tulisanmu, Richard. Tapi semua orang bilang tulisanmu bagus sekali,” kata Julie. “Teman-temanku, Lucy, Jessie, Kayla, Cathy, Cassandra, dan para guru, para gadis, dan para murid laki-laki—meskipun mereka tidak ingin mengakuinya—mereka sering membicarakan tulisanmu yang bagus itu.”

Julie bersyukur tidak ada The Lady Witches di sini. Mereka pasti akan berteriak gila jika mendengar apa yang akan ia ucapkan.

“Mereka bilang kau itu—um, Allan Poe muda yang berbakat,” tambahnya.

Richard tergelak.

“Tidak, aku jamin, mereka hanya berlebih-lebihan saja.” Richard mengibaskan tangannya dan memandangi Julie dengan heran. “Lagipula, dari mana kau mendengar istilah itu? Aku sama sekali belum pernah mendengar mereka mengatakannya.”

Richard tampak jujur dengan pernyataannya barusan. Ironisnya, Julie justru mendengar hal itu hampir setiap hari. Di kafetaria, setiap jam makan siang, non stop selama berjam-jam, dan Julie ingat rasanya itu benar-benar memuakkan.

“Tentu saja belum pernah,” Julie menyeringai lebar. “Itu julukan yang dibuat teman-temanku untukmu. Kalau aku sih punya julukan sendiri untukmu.”

“Oh, ya?” tanya Richard. “Apa itu?”

Otak Julie berputar cepat. Ia berupaya keras mengkondisikan supaya ia bisa mengendalikan organ-organ tubuhnya dengan baik. Mulutnya tidak boleh bergerak sebelum otaknya selesai bekerja.

“Stupid Genius—Jenius yang Bodoh,” katanya.

Entah dari mana asalnya kata-kata itu, tapi tentu saja Julie tidak mengatakan yang sebenarnya. Julukannya yang sebenarnya untuk anak laki-laki itu adalah ‘Lampu Petromaks’.

Sepanjang waktu.

Bahkan ia punya julukan baru yang baru saja diciptakannya pagi tadi, sebelum berangkat ke sekolah—Richard, Si Setan Drakula. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Richard jika ia mendengar julukan tolol itu keluar dari mulutnya. Untuk kali ini, ia merasa lebih baik berbohong—demi kebaikannya sendiri.

“Aku?” Richard tertawa.

“Ya,” jawab Julie. Seandainya saja Richard tahu apa yang sedang Julie pikirkan. “Kecuali kau bisa membuktikan padaku kalau julukan yang kuberikan itu salah.”

Richard mendengar pernyataan itu sebagai sebuah tantangan. Ia pun membuka tas sekolahnya. Beberapa kali ia membolak-balik buku-buku yang berada di dalam tas itu. Ia berhenti setelah menemukan sebuah buku tulis bersampul coklat dan menariknya keluar.

“Ini,” ujar Richard. Ia menyerahkan buku itu pada Julie. “Kau bisa lihat sendiri kalau tulisanku ini benar-benar biasa saja. Puisi-puisi yang pernah kubuat. Aku tak pernah menulis apa-apa lagi selain yang tertulis di sini.”

“Dan tugas sekolah, tentu saja,” sambungnya.

Julie menerima buku itu sambil kebingungan.

“Kebetulan hari ini aku membawanya. Aku masih membawanya di tas karena sepulang sekolah dan berganti baju tadi aku langsung buru-buru ke sini. Karena kau memintaku datang jam empat, kan?” kata Richard.

Julie tertawa masam. Ia sungguh berharap Richard tidak meminta penjelasan apapun untuk intruksinya yang satu itu.

“Ya,” jawab Julie sekenanya. Alasan yang sebenarnya adalah ia berharap Richard tidak akan sempat mampir ke tempat itu tepat waktu, meskipun itu adalah solusi yang sangat menyedihkan—tapi kapasitas otaknya memang terbatas. Ia tidak sanggup memikirkan ide yang lebih baik lagi.

Sekarang ia sedang membuka lembaran kertas putih yang menyusun buku tulis itu. Tulisan Richard tidak begitu bagus, seperti tulisan kucing. Sepintas ia berpikir apakah semua orang pintar tulisannya sejelek ini.

“Kenapa?” tanya Richard.

“Ah, tidak. Tidak apa-apa,” Julie tertawa geli. Ia tidak tahan untuk tidak mengatakan apa yang sedang dipikirkannya. “Tulisanmu jelek sekali.”

Richard mendongak melihat tulisannya sendiri. Ia pun tersenyum.

“Aku memang tidak pandai menulis. Seperti yang kubilang tadi, kan?”

Secara harfiah, memang iya, pikir Julie. Tulisan kucing itu benar-benar terlihat seperti tulisan milik seekor kucing yang mabuk setelah clubbing semalam suntuk. Tapi Julie sungguh tak ambil pusing. Berhubung hal-hal dramatis yang selalu diceritakan teman-temannya selama ini sekarang telah berada di depan matanya, ini saat yang tepat untuk membuktikannya secara langsung.

Puisi-puisi di buku itu tidak banyak. Bahkan tidak sampai sepuluh buah. Dari semuanya, Julie memilih satu judul yang menurutnya terdengar indah.

Dance ever the snow, snow drop white
On the white heal all, see my eyes of blue

It’s cold outside on a snowy night
But I’m warm inside with feeling so true

Julie terkesiap.

“Wow.”

Richard tersenyum.

“Apakah kau menyukainya?”

Julie sebenarnya bukan penggemar puisi, tapi ada sesuatu dalam syair puisi ini yang menarik perhatiannya. Daya pikat yang tidak biasa.

“Sangat indah,” kata Julie, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Richard tampak senang mendengar pernyataan itu.

“Kalau boleh, aku ingin sekali-sekali dibuatkan puisi olehmu.”

Julie langsung menyesali apa yang baru saja diucapkannya. Ia merasa sangat tolol.

“Dengan senang hati,” kata Richard sambil mengulangi lagi gaya santun yang pernah dilakukannya di kelas Prancis dulu. Ia tersenyum dan senyumnya terlihat menggemaskan.

Julie hanya menyengir seperti kuda.

Ini benar-benar memalukan—ia tak pernah bisa habis pikir kenapa tubuhnya selalu berbuat hal-hal yang aneh setiap kali berdekatan dengan anak laki-laki itu—tapi berhubung semuanya sudah terlanjur, ia memutuskan untuk menikmatinya saja. Barangkali, jauh di dalam sana, di balik rangka tengkoraknya, organ otaknya yang menyedihkan itu memang sudah bermutasi jadi seukuran flagellata.

“Aku akan buatkan puisi dari namamu,” kata Richard sambil mengambil buku catatan dan pena yang sedang dipergunakan oleh Julie. “Bolehkah?”

Sensasi segar muncul ketika kulit jari mereka bersentuhan. Julie menggigil dan tersentak. Ia langsung melepas pena itu dari tangannya.

“Um,” gumam Julie. “Iya.”

Richard mencoret sebuah halaman kosong di buku itu dengan tulisan kucingnya. Garis tulisan yang berantakan itu bertambah panjang cepat sekali—seperti stenografi atau semacamnya. Dan ia menulis dengan sangat cepat.

By the name of July, the summer of love
as flowers bloomed, danced with flying fluff
deliciated on the beauty, who would rise in might
as the rich art loved light in the middle of the night

Shall The Wind whispered to God
as there was a way kept the joy it got
shall The Wind sacrifice its soul
might it be by fair means or foul

How could it be everlasting for lifelong
where a life was to someone belong
along the path of Spring to rove
like destiny written by the One above

For every year in the wonderful life
For one July

Ketika Richard selesai menulis, Julie masih perlu waktu tambahan untuk menerjemahkan tulisan kucing Richard. Julie ingat betul, bentuk tulisan saudara sepupunya yang masih berusia enam tahun bahkan lebih bagus daripada bentuk tulisan yang kacau balau ini. Begitu selesai membaca tulisan itu, Julie melongo.

“Wow,” gumam Julie.

Julie tak mengerti bagaimana Richard melakukannya—ia membuat sebuah puisi singkat dalam waktu kurang dari dua menit, yang awalnya terlihat membingungkan—karena tulisan kucingnya—namun terdengar sangat manis dan indah.

“Ini,” kata Julie. Ia masih tak percaya apa yang sedang dilihatnya. “Puisi untukku?”

“Ya,” jawab Richard. “Kenapa? Kau tak menyukainya?”

Julie tak tahu apa yang harus dikatakannya. Lebih tepatnya, ia bingung akan reaksinya sendiri. Semua keabsurdan yang terjadi hari ini terjadi begitu tiba-tiba. Dan sialnya, itu justru terjadi di luar dari kebiasaannya selama ini. Bahkan masalah puisi ini.

Sastra adalah salah satu hal yang menarik perhatian Julie. Sastra populer, sastra kontemporer, sastra kuno, apapun yang diajarkan siapapun di kelas Inggris, ia akan sangat menyukainya.

Kecuali puisi.

Well, ia menyukai karya Shakespeare—tentu saja—dan karya penyair-penyair besar lainnya. Tapi puisi-puisi cinta yang dikumandangkan oleh para anak laki-laki penggemar Sang Ratu Feromon sejak di Springbutter Junior High School—bukan membuatnya terkesan, justru membuatnya mual setiap kali mendengar kata ‘puisi’ lagi. Sama mualnya seperti ketika The Lady Witches berkali-kali membicarakan soal Pangeran Tampan Bercahaya di depan mukanya.

Itulah sebabnya, jika menilik lagi dari asal muasal mengapa percakapan ini bisa sampai terjadi, Julie merasa ini adalah ironi yang dramatis untuknya.

Julie tertawa. “Kau gila.”

Tak sedetik pun ia mampu melepaskan pandangannya dari tulisan itu.

“July?” tanya Julie.

Ia masih tersenyum-senyum memandangi puisi itu.

Puisi itu terlalu bagus. Julie suka pada bagaimana cara Richard memainkan kata-kata dalam syair puisi itu. Padanan katanya terlihat polos—tidak berlebihan, meskipun ada beberapa kata yang tidak biasa—namun entah mengapa rasanya penuh arti. Elegan dalam kesederhanaan hati sang penyair.

Sekarang Julie mengerti mengapa The Lady Witches selalu berlebihan saat menggambarkan kepiawaian anak laki-laki itu dalam membuat syair—khususnya Lucy. Tak hanya berbakat dalam bermain catur rupanya, kemampuan sastranya juga sangat mengagumkan. Kali ini ia harus mengakui, anak laki-laki itu memang luar biasa.

“Ya,” jawab Richard pelan. “Itu namamu, kan?”

Julie mengangguk. Sangat manis dengan cara Richard menggunakan namanya dalam perumpamaan nama bulan. Setidaknya, tidak akan semembosankan sajak Julie, kekasih hatiku. Atau, Julie, akulah Romeo di hatimu.

Tiba-tiba Julie merasa mual lagi.

“Rimanya akan terdengar lebih indah, jika July dibaca dengan Julie,” lanjut Richard, sambil menunjukkan kata itu di dalam puisinya. “Seumpamanya, kita gunakan pelafalan bahasa Belanda untuk mengucapkan Juli.”

“July. Julie. Manis sekali,” kata Julie sambil tersenyum lebar. Hidungnya langsung kembang kempis karena kegeeran. Ia memandang Richard dengan penuh kekaguman dan tak bisa berhenti melebarkan senyumnya. “Ini bagus sekali, Richard!”

Richard memandang Julie dengan rasa ingin tahu. “Benarkah?”

“Ya. Ini, ini gila. Maksudku, bagaimana cara kau membuatnya? Secepat ini?” tanya Julie. Membayangkan bahwa ia minta dibuatkan puisi oleh Richard saja rasanya sudah sangat tidak masuk akal—dan anak itu benar-benar mengabulkan permintaannyaa—apalagi dibuatkan puisi sebagus ini dalam waktu yang benar-benar singkat. Super singkat. Pikiran logisnya benar-benar jungkir balik sekarang.

“Terjadi begitu saja,” kata Richard. “Namamu memang cukup indah untuk dibuatkan puisi. Kau menyukainya?”

“Sangat,” jawab Julie.

Menurut rumor yang beredar di dunia maya—well, sebenarnya Julie membacanya di novel Sherlock Holmes—seorang jenius memang membutuhkan orang lain untuk mengakui dan memuji hasil karyanya. Berhubung karya itu memang bagus dan brillian—dan berhubung tak ada The Lady Witches di sini—kali ini Julie tak segan-segan memberikan pujian untuknya. Richard memang jenius.

“Kurasa mereka memang benar,” kata Julie lagi, sambil membaca puisi-puisi lainnya. “Kau sangat berbakat, Richard.”

“Aku senang kau menyukainya,” kata Richard sambil tersenyum. Julie tak tahu entah sudah berapa kali ia mengatakan ini pada dirinya sendiri, tapi Richard memang terlihat sangat tampan dengan senyuman gulali itu.

“Baiklah. Sekarang kita kembali lagi ke wawancara koran sekolah, oke?” ujar Julie sambil tersenyum. “Sampai di mana kita tadi, ya?”

Richard tertawa. “Sampai ke bagian yang kau lupa, Julie.”

“Bodoh,” timpal Julie. Ia sibuk membolak-balik buku catatannya. “Nah, ini dia. Tadi kita membahas tentang bagaimana kau pertama kali belajar catur. Sekarang, pertanyaan berikutnya adalah, apa saja usaha yang kau lakukan untuk memenangkan kompetisi ini, Richard?”

Richard tersenyum dan menjawab dengan anggun.

“Aku berlatih bertanding dengan game catur di komputerku. Sangat bermanfaat, kau tahu?” kata Richard. “Dan kadang-kadang, aku menerapkan trik dari kakekku. Aku memaksa orang-orang untuk bermain catur melawanku.”

Mereka berdua tertawa. Wawancara ini berjalan semakin lancar, pikir Julie. Sepertinya ia tidak perlu menonton DVD semalam suntuk malam ini. Hari ini benar-benar berlangsung lancar di luar dugaannya.

“Bagaimana perasaanmu memenangkan kompetisi ini?” Julie menyentuh dagunya sambil memandang penasaran. “Aku yakin ini kemenangan pertamamu, kan? Maksudku di catur. Apa kau pernah menang kompetisi di bidang lain sebelumnya?”

“Tidak, aku tidak pernah ikut lomba-lomba,” jawab Richard. “Baru kali ini aku mengikuti sebuah kompetisi, dan kurasa aku sangat senang. Dan kaget juga. Maksudku, aku sama sekali tidak menargetkan untuk menang kali ini. Aku hanya ingin bersenang-senang saja. Tapi, sepertinya keberuntungan sedang ada di pihakku sekarang. Yah, aku memang cuma beruntung saja. Lawan-lawanku yang lain sebenarnya masih jauh lebih hebat dariku.”

“Masa?” tanya Julie.

Richard mengangguk.

“Lawanku di babak final adalah yang terkuat. Bahkan kupikir tadinya pertandingan itu akan berakhir dengan kekalahanku, atau paling tidak seri. Tapi, entah bagaimana aku bisa melakukannya. Tiba-tiba saja jalan itu terbuka. Aku berhasil mengalahkannya, di detik-detik terakhir.”

Julie menahan napasnya sesaat. Ia merasa sangat bersalah karena dulu sempat memvonis Richard sebagai Si Tampan yang Angkuh—semata-mata hanya untuk mencari alasan yang logis untuk membenarkan ketidaksukaannya terhadap anak laki-laki itu. Jauh dari perkiraannya semula, ternyata anak laki-laki ini sama sekali tidak sombong.

“Aku turut senang, Richard,” kata Julie sambil tersenyum senang. Pertemuannya dengan Richard hari ini telah memberikan sudut pandang baru baginya dalam menilai anak laki-laki itu. “Kurasa kau memang pantas mendapatkannya. Jangan lupa, keberuntungan pemula.”

“Ya, kau benar,” kata Richard sambil tertawa. “Keberuntungan pemula.”

Julie tertawa.

“Aku cuma bercanda saja, tahu? Kau itu memang hebat,” kata Julie. “Tidak ada pemula yang langsung memenangkan pertandingan kota kecuali kalau pemula itu memang benar-benar hebat.”

Richard hanya tersenyum malu.

“Oh!”

Julie merasakan sengatan listrik yang tajam di kulitnya. Suasana tiba-tiba menjadi hening, tanpa bisa dijelaskan. Ia baru menyadari, ternyata lengannya secara tak sengaja bersentuhan dengan lengan anak laki-laki itu.

Meja mereka memang sempit—sekali lagi Julie menyesali memilih tempat itu sebagai tempat pertemuan mereka—dan percakapan yang semakin akrab itu tak terasa telah memendekkan jarak di antara mereka. Julie pun salah tingkah. Tangannya terasa merinding, bahkan kakinya pun gemetaran. Ia mulai merasa tidak nyaman.

Julie menggeser lengannya menjauh dari Richard. Richard menyadari hal itu dan menggeser tangannya juga.

Kejadian tersebut membuat mereka saling diam selama beberapa detik.

Julie harus menemukan sebuah topik untuk dibicarakan sekarang. Keheningan itu terasa sangat janggal di antara mereka berdua, dan Julie tak ingin Richard berpikir ia sudah kehabisan kata-kata untuk diucapkan. Ia adalah reporternya.

“Olahraga,” kata Julie tiba-tiba, seolah-olah melupakan kejadian yang barusan. “Olahraga apa yang kau suka, Richard?”

Richard menopangkan dagunya di atas telapak tangan kanan, sebelum akhirnya tersenyum-senyum sendiri.

“Sejujurnya, aku tidak begitu suka olahraga,” katanya. “Tapi, akhir-akhir ini ayahku sering mengajakku lari pagi mengitari rumah.”

“Oh, ya?” kata Julie. Ia sudah tahu tubuh Richard memang tidak begitu atletis, jadi sebenarnya ia mengatakan ‘oh, ya’ untuk pernyataan yang kedua.

“Ya. Begitulah.”

“Kau harus berterimakasih pada ayahmu, kalau begitu,” kata Julie sambil tertawa. Tidak bisa dipungkiri, gagasan bahwa Richard sedang mulai berolahraga itu telah menggelitik perutnya. “Olahraga itu bagus untuk kesehatan, kan? Dan bagus juga untuk bentuk tubuhmu. Lihat, kau kerempeng sekali. Orang-orang bisa salah mengira kau sebagai gantungan topi. Jangan sering-sering berdiri di depan pintu, ya.”

Richard tertawa.

Kalau dipikir-pikir, anak laki-laki itu memang kerempeng, tapi Julie sebenarnya tidak bersungguh-sungguh menganggap Richard seperti gantungan topi. Dia memang tidak sekurus itu. Meskipun demikian, Julie rasa ada baiknya juga melebih-lebihkan hal-hal semacam itu. Julie membayangkan, kalau saja Richard menjadi berotot dan atletis seperti Mark McGollen, well, dia benar-benar akan jadi tipikal pria pujaan yang sangat sempurna untuk para penggemarnya.

Tampan, jenius, dan atletis.

The Lady Witches akan tergila-gila setengah mati padanya. Lebih dari itu, mereka bisa benar-benar sinting—kalau tidak masuk rumah sakit jiwa—dan tidak akan pernah selama-lamanya berhenti membicarakan tentang anak laki-laki itu. Untungnya, berkat kejadian hari ini, Julie tidak akan keberatan lagi dengan semua kegilaan itu. Anak laki-laki itu memang pantas mendapatkannya.

Julie baru teringat kalau ia sudah punya panduan pertanyaan di dalam buku catatannya. Sentuhan kulit yang tidak diduga-duga tadi membuatnya menjadi lupa apa yang seharusnya ia tanyakan saat itu. Setelah selesai mencatat jawaban dari Richard tadi, ia pun melanjutkan kembali dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang tertulis di dalam catatannya.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

16 thoughts on “07. Liputan (3)

  1. eciieee jadi akrab gitu.. gara2 jus cranberrie nih!! penasaran sama reaksi the lady bitches + anak2 sekolah setelah tau acara wawancara itu. hmm pasti heboh banget deh! 😀

    oia kak, kenapa ga langsung dibikin novelnya aja sih? nanti pasti aku beli! jadi kan ga penasaran nunggu kelanjutannya.. hehe

  2. kereeen ..
    haha
    lupa pada prinsip.ny sndri si julie .
    bkalan menarik nih klnjutan.ny

    Dtnggu kak lnjutan.ny

  3. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  4. Ping-balik: 07. Liputan (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s