07. Liputan (2)

Comments 36 Standar

girl-at-computer-clipart-clip-art-4359

Rencana pertemuan sudah siap. Menurut skenario yang telah direncanakannya, wawancara itu akan ia lakukan pada jam 4 sore, hari Kamis—tepat satu hari setelah Jerry memerintahkannya—dan akan dilangsungkan di kedai Steak~Stack, sebuah kedai kecil yang berada tak jauh dari rumahnya.

Julie berharap semoga ia bisa cepat menyelesaikan pembicaraan yang menguras kebahagiaan itu dan segera berlari pulang ke rumahnya—menonton DVD—untuk memulihkan kembali semangat hidupnya yang bakal direnggut oleh Sang Anak Laki-Laki dari Neraka tersebut.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara Julie meyakinkan Richard untuk datang ke tempat itu? Apakah ia akan menemuinya dan langsung memohon?

Tak perlu ilmu ramal setingkat Nostradamus untuk bisa menebak jalan seperti apa yang cenderung diambilnya. Cukup amati saja bagaimana kecenderungannya terhadap hal-hal yang tidak disukainya selama ini. Pendaftaran siswa baru Nimberlack, misalnya—sebuah gambaran kemalasan yang cukup representatif. Ia tetap berguling-guling seperti babi di atas tempat tidurnya, sementara ibunya menyuruhnya pergi mendaftar hingga mulutnya berbusa. Pada kenyataannya, kalau saja waktu itu tidak dipaksa Lily—dengan cara yang ekstrim—pada akhir masa registrasi sekolah, Julie tidak akan pernah menjadi siswa kelas satu di Nimberland High School.

Paling tidak, bukan tahun ini.

Khusus untuk kali ini, Julie harus meredam rasa malasnya dan mengerjakan tugas wawancara ini—setidaknya mencoba mengerjakannya—minimal sekali. Kalau saja Julie tidak berhutang budi pada Jerry yang telah membantunya mencari replika naskah Traktat Fontainebleau untuk keperluan tugas Sejarah Dunia tiga minggu yang lalu, ia pasti tidak akan pernah mau menerima tugas yang sangat menyebalkan ini.

Sekarang ia harus membuat janji bertemu untuk wawancara dan untungnya, sudah ada teknologi modern yang memungkinkan Julie untuk meminta kesediaan Richard tanpa perlu bertatap muka secara langsung, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Julie berterimakasih yang sebesar-besarnya pada penemu e-mail.

Siapapun orang itu.

Julie mengirim e-mail ke Richard pada hari Senin tengah malam, jam 1.10 pagi. Lebih tepatnya, secara astronomis sebenarnya saat itu sudah hari Selasa—hari yang sama dengan hari wawancara tersebut. Ia benar-benar berharap semoga Richard tidak sempat membaca e-mail yang sengaja dikirimnya secara mendadak itu, sehingga ia bisa punya kesempatan untuk membatalkan tugas wawancara yang menyebalkan ini dengan alasan bahwa Richard tidak bisa dihubungi. Dan ia berharap semoga Jerry akan menerima alasan itu dengan hati yang terbuka dan riang gembira.

Beginilah isi e-mail yang ia tulis.

Halo Richard,

Aku Julie Light, reporter koran sekolah. Aku ingin mewawancarai seputar kemenanganmu dalam turnamen catur antar sekolah. Apakah kau ada waktu nanti?
Aku harap kau bisa, sebab aku tidak punya waktu lagi selain hari Selasa ini.

Julie.

Keesokan harinya, Julie bangun lebih awal untuk mengecek e-mail. Berkat Richard, hal paling ajaib yang pernah ia lakukan seumur hidupnya akhirnya terjadi juga pagi itu. Selama 15 tahun hidupnya, baru kali ini ia berinisiatif bangun pagi-pagi sekali. Jam setengah 5 pagi. Tanpa dibangunkan oleh siapapun.

Mom,” gumam Julie sambil mematikan bunyi alarm yang gaduh dari jam weker perkampungan ayamnya. Ia mengusap kedua matanya.

“Aku sudah bangun.”

Julie menangkap kesunyian yang tidak wajar di sekelilingnya. Biasanya setiap kali ia bangun tidur, suara Lily akan terdengar heboh di lantai bawah—mengomelinya karena tidak bangun-bangun juga—atau kadang-kadang malah menggema tepat di gendang telinganya. Namun, pagi itu suasana di rumahnya justru sunyi senyap. Hening, tanpa sedikitpun ada tanda-tanda kehidupan di bawah sana.

Ternyata ibunya belum bangun.

Julie menguap lebar, berusaha keras menahan kantuknya. Menurut rencana mutakhir yang telah dirancangnya tadi malam, ia akan segera pergi ke sekolah sepagi mungkin—sebelum Richard sempat membaca dan membalas e-mail yang sudah ia kirim. Julie merasa kalau ia harus sudah berada di sekolah saat Richard mengirim balasannya, dan ia akan menghindar dari Richard sepanjang jam sekolah—seperti biasanya—sehingga ia bisa berdalih kalau Richard terlalu lama membalas e-mailnya dan ia sudah tidak punya waktu lagi untuk membuat appointment yang baru. Setidaknya karena ia sudah pernah mencoba, dan karena Richard susah dihubungi, ia bisa membatalkan tugas itu untuk selama-lamanya.

Yang penting, ia akhirnya bisa mengelak dari tuntutan Jerry yang tidak masuk akal itu.

Atau setidaknya itulah yang ada di khayalannya. Ketika Julie mengecek kembali inbox-nya pagi itu, ada satu e-mail baru yang masuk. Jam 1.20 pagi.

Dear Julie.

Tentu saja bisa. Waktuku benar-benar luang seharian ini. Jam berapa dan di mana tepatnya, kira-kira?

Richard. 

Perut Julie mendadak mual.

Anak laki-laki itu membalas tepat sepuluh menit setelah ia mengirimkan e-mail dadakan itu. Padahal Julie tadinya memprediksi kalau Richard sudah tidur jam segitu dan tak akan membalas e-mailnya setidaknya sampai ia bangun tidur di pagi hari. Pada kenyataannya, Richard belum tidur, dan hal itu mengingatkannya pada satu hal yang sangat mendasar yang telah dilewatkan oleh sel abu-abu otaknya.

Richard memang terlihat seperti pangeran, tapi dia bukan anak TK. Wajar saja kalau seandainya ia ingin tidur di atas jam dua belas malam—dengan alasan apapun.

Julie menggerutui ketololannya sendiri.

Satu-satunya solusi yang mampu ia hasilkan sekarang hanyalah menuliskan e-mail balasan yang konyol, dengan harapan yang sangat besar kalau Richard tak akan membalasnya dalam waktu lima menit.

Kedai Steak~Stack, jam 4 sore. Jangan pakai seragam sekolah, ya.
Maaf, bisakah kau membalasnya sekarang? Aku sedang buru-buru. Sebentar lagi aku harus berangkat ke sekolah.
Aku hanya bisa menunggu jawabanmu sampai lima menit lagi.

 Julie.

Julie mendongak, melihat jam weker perkampungan ayamnya yang menunjukkan pukul 5.05 pagi.

Memangnya mau apa dia di sekolah sepagi itu?

Julie merasa tak punya cukup waktu untuk berpikir cerdas. Bahkan otaknya—yang kapasitasnya sangat terbatas itu—sedang jumpalitan sekarang. Tapi setidaknya, harapannya cukup besar bahwa Richard tak akan segera membalas e-mailnya kali ini. Richard mungkin saja tidur larut semalam, tapi dia tidak mungkin bangun sepagi ini.

“Ayolah, siapa sih yang bangun jam 5 pagi di hari dingin begini?” pikirnya.

Tidak sampai satu menit, inbox-nya sudah terisi lagi oleh satu pesan yang baru masuk.

Oke. Tidak masalah. Aku akan menemuimu jam 4 di Steak~Stack.

Richard. 

Perkiraan Julie meleset lagi. Ternyata Richard sudah bangun. Dan sialnya, ia membalas e-mail itu secepat kilat. Julie menggaruk-garuk kepalanya, memikirkan dengan sungguh-sungguh betapa ganjilnya kejadian ini. Ganjil dan menyebalkan.

“SIAL,” umpat Julie. ”Memangnya dia tidak tidur-tidur, ya!?”

Sementara ia berjuang keras untuk bisa bangun sepagi itu—bahkan ia masih perlu menggeliat-geliat di atas kasur selama beberapa belas menit untuk benar-benar membuka matanya, Richard malah tidak tidur sama sekali.

Seperti hantu.

Julie malah sempat curiga kalau Richard sebenarnya adalah seorang Drakula. Atau setidaknya, keturunan Drakula. Atau, jelmaan Drakula. Hal ini bisa menjelaskan mengapa Richard dapat membalas e-mailnya dengan cepat, mengapa Richard berkulit terlalu putih, dan mengapa Julie selalu merinding tiap kali berdekatan dengan anak laki-laki itu.

Dan ia jadi semakin yakin kalau anak laki-laki ini benar-benar datang dari neraka.

Ia sama sekali lupa mempertimbangkan bahwa setiap e-mail yang masuk bisa saja dilengkapi dengan alert-tone. Sebuah penjelasan yang masuk akal, bahwa wajar-wajar saja kalau Richard terbangun ketika mendengar alert tone di komputernya dan bisa segera membalas e-mail yang masuk di inbox-nya saat itu juga. Yang artinya adalah—kau tidak perlu terjaga semalaman hanya untuk membalas sebuah e-mail.

Apalagi menjadi Drakula.

“JULIE,” teriak Lily dari lantai bawah. “KAU SUDAH BANGUN, YA?”

Julie menguap sambil mengeluarkan air mata. Ia benar-benar mengantuk sekarang dan ingin sekali melanjutkan tidurnya yang nyaman, tapi berhubung ia sudah terlanjur mengatakan pada Richard kalau ia akan pergi ke sekolah pagi-pagi sekali, ia tidak bisa mengambil resiko ketiduran dan malah terlambat datang ke sekolah.

Bisa gawat kalau sampai Richard mengetahuinya.

Julie menguap sekali lagi. Ia terlalu lelah dan mengantuk untuk memikirkan rencana-rencana cadangan. Kenyataan bahwa Richard membalas e-mail itu dengan begitu cepat dan positif, membuat semua skenario Wawancara-Ini-Pasti-Bisa-Dibatalkan yang telah disusunnya menjadi berantakan. Dan sialnya, ia tak akan bisa menceritakannya pada siapa-siapa.

Apalagi The Lady Witches.

Mereka pasti akan menjadi gila kalau mengetahui berita ini.

Dan satu-satunya alasan mengapa ia masih tidak memberitahukan sedikitpun tentang tugas yang diberikan Jerry itu pada gadis-gadis itu adalah karena ia masih menyimpan harapan bahwa sore itu Richard tidak akan datang. Ia sangat berharap semoga Tuhan mau berbaik hati mengabulkan permintaannya yang satu ini, demi kesejahteraan dan kemaslahatan seluruh umat manusia.

Dan semuanya akan kembali seperti semula. Dan tugas itu akan menghilang untuk selama-lamanya.

Mudah-mudahan saja.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

36 thoughts on “07. Liputan (2)

  1. wahh kak sonya sengaja nih bikin pertemuannya makin lama biar makin penasaran. tau gak rasanya penasaran itu gimana? pasti masih lama dilanjutnya! 😦
    kira-kira dilanjut kapan kak?

  2. eciyee!!! Julie-richard mau dating, can’t wait to read next part!!!!
    Tapi masih penasaran kenapa richard cepet banget ngebales emailnya deh ka?
    Kayaknya ada telepathy sama julie

    • Hehehe.. Si Julie kayaknya juga punya pertanyaan yang sama dengan kamu.. 😛
      Well, sekarang sudah ada next part berikut revisinya, lhoo.. Selamat membaca, yaa! 😉

  3. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  4. Hahahahh yg ini juga lucu, aduh tengah malem ngakak sendiri. Richard bner” misterius yah, julie lucu banget ya ampunnn. Pngen ketawa guling” tentang emailnya.

  5. Ping-balik: 07. Liputan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s