07. Liputan

Comments 21 Standar

1157339-Cartoon-Of-A-Reporter-Boy-Taking-Notes-Royalty-Free-Vector-Clipart

Minggu ini, klub koran sekolah baru saja mendapatkan bahan berita yang besar dan menggemparkan. Nimberland High School telah memenangkan sebuah kompetisi catur antar sekolah, padahal sepanjang sejarah sekolah itu—meskipun Nimber seringkali menggaungkan nama di kompetisi akademis dan non akademis—sekolah itu sama sekali tidak pernah menjuarai kompetisi catur mana pun.

Tidak sekali pun.

Tidak sebagai juara pertama.

Menyikapi berita ini, Jerry—yang baru-baru ini telah menggantikan posisi Mitch sebagai ketua klub—sekarang memberikan tugas meliput profil sang pemenang itu pada Julie. Dan Julie—demi kelancaran kariernya di dunia jurnalistik sekolah—sesungguhnya pasti akan menerima tugas itu dengan riang gembira dan gegap gempita, kalau saja ia tiba-tiba amnesia dan tidak tahu siapa sebenarnya anak laki-laki yang harus diliputnya.

Richard Soulwind.

“Jerry,” ujar Julie panik. “KENAPA MESTI AKU!?”

Julie merasa seakan-akan langit akan runtuh persis di hadapannya. Dan sepertinya, mimpi terburuknya dalam kariernya di dunia jurnalisme baru saja dimulai. Ia tak pernah membayangkan kalau keputusannya untuk ikut klub koran sekolah pada akhirnya malah membawanya pada anak laki-laki itu lagi.

Anak laki-laki yang paling tidak ingin ditemuinya, sampai kapan pun.

“Natalie, Jacquline, Diane, Cindy, Rossie,” lanjut Julie. “Lana, Timmy, Claire, Fiffy, Stephanie, apa perlu kusebutkan semua anggota klub kita satu per satu? Ayolah. Pokoknya jangan aku.”

Jerry menggeleng.

“Kau tahu sendiri gadis-gadis itu, Julie. Mereka gila,” kata Jerry. “Aku tidak tahu siapa lagi reporter yang bisa diandalkan. Cuma kau yang masih waras. Mereka terlalu tergila-gila pada Richard. Mereka bisa merusak artikelku!”

Pada kenyataannya, Jerry memang benar. Para anggota klub lainnya yang biasa menjadi reporter—yang kebanyakan adalah anak-anak perempuan—mereka semua tergila-gila pada Richard. Kelakuan gadis-gadis itu pun mulai menggila sejak Richard menjadi semakin populer dengan kecerdasannya. Kegilaan itu memang tidak separah histeria Richard-holic yang selalu dikumandangkan The Lady Witches setiap jam makan siang, tetapi sudah cukup memuakkan untuk membuat Julie sampai ingin berenang ke Kutub Utara. Tak ada satupun yang bisa menjamin apakah mereka bisa bersikap normal saat mewawancarai Richard dan apakah mereka akan berhasil mendapatkan profilnya dengan baik dan benar.

Kemungkinan yang paling besar terjadi adalah mereka justru akan menghabiskan seluruh waktu wawancara untuk mengagumi dan menempel-nempel dengan anak laki-laki itu.

“Tony? Junior? Evan? Michael?” Julie masih mencari cara untuk menghindar dari tugas itu. “Mereka kan bisa. Yang penting jangan aku. Pleasee.”

Jerry menghela napasnya.

“Tony dan Junior sakit. Evan ke China. Dan Michael kan sudah meliput acara kompetisi itu denganku kemarin,” ujar Jerry. “Kau tidak punya pilihan lain, Julie.”

Julie memicingkan matanya, memandang Jerry dengan sangsi. “Kyle? Arthur? Eddie? Mitch?”

“Mereka kan murid kelas dua belas, Julie,” kata Jerry. “Mereka sudah tidak ikut kegiatan klub lagi. Bukannya kau sudah tahu hal itu?”

Julie pura-pura tidak mendengar. Biar bagaimanapun, ia tetap bersikukuh menyebutkan nama-nama anggota kelas dua belas yang lain. “Nate? Abbie? Wayne?”

“Kau ini benar-benar keras kepala, ya!” timpal Jerry. “Bagaimanapun caranya, pokoknya artikel ini harus selesai dengan sempurna akhir minggu ini. Aku tak mau gadis-gadis gila itu menghancurkan artikelku. Dan aku juga tak mau kau—dengan segala alasanmu yang tidak masuk akal itu—merusak semua yang sudah kupersiapkan untuk koran sekolah edisi minggu depan.”

Julie merengut.

“Lagipula, kenapa pula kau menolak meliput Richard?” tanya Jerry. “Aku sempat mengira kalau kau adalah satu-satunya yang masih normal. Semua anak perempuan berebutan ingin mewawancarai anak laki-laki itu, tapi hanya kau yang menolaknya. Kalau kupikir-pikir lagi, kau ini sebenarnya tidak normal juga. ”

“Aku? Tentu saja aku normal,” tukas Julie. “Aku hanya tak sama dengan gadis-gadis itu. Dan aku tak mau disama-samakan dengan mereka.”

Julie menjadi penasaran, apakah julukan The Unbeatable sudah cukup terkenal di telinga Jerry. Setidaknya itu akan memberinya sedikit bantuan argumentasi untuk membela diri. Biar bagaimana pun, Julie tidak ingin Jerry berpikir yang tidak-tidak tentangnya, terutama karena ia—tentu saja—tidak merasakan perasaan yang sama dengan dirasakan gadis-gadis itu. Tanpa alasan yang jelas, ia memendam perasaan tidak suka yang amat sangat pada anak laki-laki itu. Dan Julie tidak ingin hal itu diketahui oleh siapapun.

Perasaan aneh yang tidak nyaman itu, siapa yang bisa mengerti? Pikir Julie.

“Dengar,” kata Julie. “Aku tak menyukai dia—Richard. Aku merasa dia itu orang yang agak angkuh—kau tahu? Yaa, karena ia merasa dirinya tampan, pintar, hebat, dan sebagainya. Aku tak suka orang sombong semacam itu. Ia pikir seluruh gadis tergila-gila padanya. Tapi tentu saja, itu bukan aku.”

Jerry menepuk pundak Julie sambil tersenyum senang.

“Sempurna! Kau netral, bahkan kau positif membelakangi dia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana lezatnya tulisan kita nanti,” kata Jerry. “Kalau begitu, kau saja yang mewawancarai dia, ya.”

Bukan reaksi seperti ini yang Julie harapkan. Ia benar-benar sudah salah bicara. Ia berusaha untuk memperbaiki kata-katanya.

“TAPI—”

“Aku tidak menerima kata tidak,” potong Jerry. “Pokoknya akhir minggu ini, laporan itu harus sudah ada di mejaku.”

“JERRY,” kata Julie.

“Yang harus kau tanyakan adalah profil hidupnya—tanggal lahir, hobi, dan semacamnya,” lanjut Jerry. “Dan kemudian yang tak kalah pentingnya adalah kau tanyakan bagaimana awal mula ia menekuni catur dan bagaimana ia memenangkan kompetisi catur itu—mulai dari usahanya, dukungan keluarga dan kerabatnya, dan perasaannya.”

Jerry sama sekali tidak mempedulikan ekspresi kebakaran jenggot dari wajah gadis yang ada di hadapannya itu.

“Yaa, kau tahulah itu, Julie. Kau kan sudah pernah meliput profil kepala sekolah kemarin. Nah, kalau berhasil, kau akan kuangkat sebagai editor junior. Oke?”

Julie menelan ludah. Tawaran itu terdengar begitu menggiurkan, terutama bagi seorang junior kelas 10 seperti dirinya. Namun, baginya kebahagiaan jiwanya saat ini masih jauh lebih penting. “Jerry, aku tidak ma—”

“Daagh.”

Jerry berlalu meninggalkan Julie yang masih melongo kebingungan. Sedari awal ia memang sudah memastikan bahwa Julie-lah yang akan meliput Richard, tidak peduli apakah orang yang bersangkutan bersedia menerimanya atau tidak.

Tak ada cara lagi untuk mengelak. Julie menarik napas panjang, menyiapkan jiwanya untuk ujian mental yang berikutnya.

Yang ia tahu, ia benar-benar sebal pada Jerry hari ini.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

21 thoughts on “07. Liputan

  1. THIS!!!! Kayaknya bab ini bakal jadi awal konflik, awal interaksi dan intinya part kayak gini yg aku tunggu lah! Mesti the lady bitches pada ngiri kan tuh xD
    tapi, belom nemu tokoh ketiga-pihak julie
    maksudnya yg bener2 suka julie dan bakal ngalangin sama richard, ada ga ka? Kalo ada seru sih, kaya misal sobat julie yg tetep care sama julie selalu nasehatin julie (ngomong apa sih gue)
    intinya semakin keren!!!

    • Halo, Julia.
      Namanya mirip yaa dengan Julie Light! Hehehe.. 😀
      Update yang terbaru sudah ku-publish, yaa Julia..
      Selamat membaca! 😉

  2. arrgghhhh……can’t wait anymore *.*
    huftt…kak,, kutunggu adegan konyol julie dihadapan richard selanjutnya ^_-
    love it

    fighting kak sonya…tambah banyak lho penggemarmu =D

  3. Aku suka baanget nih sama novel kamu!! konyol banget Julie nya! sambil ngebayangin juga seganteng apa sih Richard? hahhhh udah ga sabar buat baca Liputan bagian 2 nya! Ayo dilanjut!!!!!!! 😀
    #PenggemarBaru

  4. anneyong haseyo ^^
    Onnie, apa masih ada kelanjutan cerita dari liputan 2 ?
    Terima kasih..^^
    Like this 😀

  5. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  6. Ping-balik: 06. Kelas Prancis (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s