06. Kelas Prancis (3)

Comments 11 Standar

ConversationClipart1

“Coba sekali lagi kau ulang pernyataanmu,” ujar Cathy. “DIA APA?”

Salah besar kalau Julie mengira semuanya telah berakhir di kelas itu tadi. Entah bagaimana caranya, kejadian siang itu bisa menjadi topik utama gosip jam makan siang di kafetaria Nimberland. Tidak hanya The Lady Witches, sepertinya semua orang sudah tahu—atau akan segera tahu—apa yang telah terjadi di ruang 305 siang itu. Seperti sesendok sirup strawberry yang langsung dikerubungi oleh semut-semut hitam yang kelaparan di atas lantai, berita itu langsung menyebar dengan cepat dalam satu kedipan mata.

Dan tentu saja, Julie sama sekali lupa akan reaksi dramatis sang Drama Queen.

“LUCY?”

Cathy mengernyitkan keningnya.

Lucy menelan ludah. Ini pertama kalinya ia menjadi narasumber langsung gosip yang diedarkan di kalangan gadis-gadis The Lady Witches—yang akhir-akhir ini semakin menggila dengan gosip-gosip apapun, termasuk gosip-gosip murahan seperti tentang kisah cinta antara Julie dan Mr.Bouncer—entah mengapa masih ada saja yang mempercayainya.

Lucy merasa agak grogi.

“Julie masuk ke kelasku tadi pagi,” kata Lucy perlahan-lahan. Ia berusaha menyiapkan kata-kata terbaiknya. “M.Wandolf menyuruhnya melakukan percakapan dengan Richard dalam bahasa Prancis.”

“Julie dengan SIAPA??” tanya Cathy dengan nada yang mengerikan.

“Dengan Richard.”

“APA!?”

Cathy terkejut setengah mati, seakan-akan kedua biji mata itu benar-benar hendak meloncat keluar. “Ke?? KENAPAAAA!!???”

Julie mendengus santai.

“Itu gara-gara Jessie yang memaksaku pergi ke sana, tahu?” gerutu Julie. “Sudah kubilang, aku tidak mau, tapi nenek-nenek pemarah itu masih saja memaksa. Kalau kau mau marah, marahi saja Si Buntalan Kentut itu.”

Jessie cemberut.

“Lho, kok gara-gara aku, sih?” protes Jessie. “Salahmu sendiri kenapa datang terlambat. Aku cuma tidak mau kehilangan nilaiku, tahu?”

Julie memainkan jari-jari tangannya dengan lincah untuk menirukan gerakan mulut Jessie yang sedang bercuap-cuap seperti burung. Ia paling suka menggoda Jessie dengan cara ini. Biasanya Jessie akan berusaha menjitak kepala Julie—yang akhirnya memang benar-benar terjadi—tapi untungnya Julie berhasil menghindari serangan tersebut.

“Julie! Awas kau!”

Kayla tertawa cekikikan. Ia sebetulnya sama sekali mengabaikan soal tugas Prancis itu, apalagi soal pertengkaran mereka berdua, karena menurutnya ada hal lain yang lebih menarik.  Hal yang pastinya menarik bagi semua gadis yang ada di Nimberland.

“Pasti asyik banget, ya, bisa ngobrol bareng Richard!”

Julie mencoba merekonstruksi gagasan itu di pikirannya. Pada kenyataannya—dengan logika manapun yang tersisa di ruang otaknya yang sempit itu—ia tidak menemukan satupun adegan dari tragedi kemanusiaan tersebut yang bisa disebut ‘asyik’.

“Sinting,” kata Julie.

Jessie pura-pura tidak mendengar pernyataan itu.

“Betul, Kay!” lanjut Jessie. “Memang keparat si Julie itu. Seandainya saja aku tahu di sana ada Richard, aku pasti bakal mengumpulkan tugasku sendiri.”

“Dan kalau aku yang disuruh ngobrol bareng Richard,” celetuk Cassandra. “Aku pasti akan langsung minta jadi pacarnya.”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Yang benar saja,” ujar Julie skeptis. Cassandra bahkan tak pernah bisa mengucapkan sepatah kata dengan lancar pada Richard, tanpa membuat kakinya gemetaran dan jepit rambutnya berguguran.

“Kenapa sih selalu saja Julie yang bisa bermesra-mesraan dengan Richard? Benar-benar mengesalkan,” keluh Jessie.

“Dan sangat hoki,” sambung Kayla.

“Cih, siapa juga yang mau mesra-mesraan dengan Lampu Petromaks itu,” cibir Julie. “Ini semua gara-gara Jessie, ya! Kalian semua kan sudah tahu kalau aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Lagipula, pria pujaanku itu sudah pasti,”

“—Mr.Bouncer.”

Gadis-gadis itu tertawa lagi. Akhir-akhir ini, gosip spekulatif tentang hubungan Julie dan Mr.Bouncer itu memang selalu dimanfaatkan oleh Julie untuk menghindari gosip-gosip spekulatif lainnya. Sementara itu, Julie sangat berharap semoga pembicaraan ini cepat berakhir.

“Wah, sayang sekali aku tidak sekelas dengan kau, Jess. Kalau aku sekelas dengan kau di kelas Prancis, aku pasti bakal sengaja sering-sering datang telat mengumpulkan tugas,” ujar Cassandra.

“Belum tentu seberuntung itu, Cass,” jelas Lucy. “Waktu itu kebetulan saja Richard sedang berada di depan kelas dan M.Wandolf sedang melakukan pengambilan nilai praktek bahasa Prancis—puisi—lebih tepatnya. Dan tepat setelah itulah Julie datang.”

Jessie menggigit bibirnya. Tak bisa dipungkiri, kenyataan itu masih terasa menyakitkan bagi dirinya sebagai orang yang telah memungkinkan peristiwa itu untuk terjadi. Jessie tak henti-hentinya menyesali, kalau saja ia mengantarkan tugas itu sendiri—atau setidaknya berdua dengan Julie—segalanya pasti akan sangat berbeda.

Hidupnya pasti akan jadi jauh lebih bahagia.

“Huu,” cela Jessie.

Julie terkikih.

Moo—” ledek Julie. “Mau tukaran peran denganku, Jess? Mau, mau? Besok aku datang terlambat lagi, deh!”

Jessie terlihat semakin emosi.

“Sapi!”

Julie masih ingin menggoda Jessie lagi, tapi sekarang perhatian mereka semua sedang terpaku pada satu titik bercahaya yang datang dari arah pintu kafetaria. Meski tidak bisa melihatnya—karena cahaya itu ada di arah belakang tempat duduknya—tapi Julie sudah bisa menebak siapa yang baru saja datang.

Richard Soulwind.

The Lady Witches langsung menjadi gadis-gadis kalem dalam seketika.

Dalam waktu yang bersamaan, Julie melihat seekor lalat lewat di atas meja mereka, namun tampaknya hanya Julie yang benar-benar memperhatikannya. Dan Julie—tentu saja—lebih memilih untuk mengagumi lalat yang indah itu, ketimbang mengagumi apa pun yang ada di belakang sana. Sesuai dengan yang Julie perhitungkan, dalam hitungan detik gadis-gadis itu pun mendapatkan kesadaran mereka kembali—tepat di saat lalat itu pergi. Dan seperti biasa, segera setelah orang itu duduk—dua puluh lima kaki jauhnya dari meja mereka—mereka pun melanjutkan obrolan mereka kembali.

“Lalu, apa saja yang terjadi saat itu, Lucy?” tanya Kayla.

Lucy tertawa membayangkannya.

“M.Wandolf meminta Richard untuk menggantikan dirinya menanggapi Julie, tapi harus dalam percakapan bahasa Prancis. Kalian bisa bayangkan kan, bagaimana penasarannya aku?” kata Lucy. “Sudah lama sekali aku ingin mendengar bahasa Prancis Julie yang terkenal itu.”

Semua mengangguk. Di antara mereka berlima, memang hanya Jessie dan Kayla saja yang pernah menyaksikan bahasa Prancis Julie secara langsung.

“Keren,” kata Cassandra.

Tidak ada keren-kerennya, pikir Julie. Ia tak pernah bisa mengerti kenapa semua orang tergila-gila pada bahasa Prancisnya yang amburadul itu. Julie mulai merasa kalau mungkin ada baiknya mulai semester depan ia mengambil kelas Jepang. Atau kelas Mandarin. Atau mungkin merealisasikan gagasannya yang terdahulu, mendaftar di kelas Papua Nugini dan berinisiatif menjadi penduduk asli di negara tersebut.

Kalau saja ada kelas Papua Nugini.

“Dan tak lama kemudian, Richard pun bertanya pada Julie, kurang lebih seperti ‘Apa yang bisa kubantu?’—yaa tentu saja dalam bahasa Prancis juga. Dan lalu—”

Lucy mengatur helaan napasnya.

“Lalu—“

Lucy sibuk menahan tertawa, dan hal itu membuat Kayla menjadi semakin penasaran. “Lalu apa? Julie tidak bisa menjawabnya, ya?”

Lucy berusaha mengontrol pernapasannya. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya menjadi terasa amat pendek. Ia benar-benar gugup karena menyadari betapa sulitnya menjadi pusat perhatian, tapi tak bisa ia pungkiri, sensasi ini rasanya pun menyenangkan.

“Tidak, tidak. Dia menjawabnya, seperti orang kumur-kumur,” kata Lucy. “Tadinya kupikir dia alien.”

Kelima gadis itu tertawa.

“Lucu,” kata Julie datar.

Gadis-gadis itu sama sekali tidak mempedulikan perkataannya. Mereka masih terus saja tertawa dan melanjutkan obrolan mereka.

“Aku bisa membayangkannya, Lucy,” ujar Kayla. “Setahun lebih aku sekelas dengan dia. Aku tahu persis kalau bahasa Prancisnya seperti kapal pecah.”

Jessie mengangguk dengan tidak sabar.

“Apalagi aku,” timpal Jessie. “Meskipun sudah berpuluh-puluh kali aku mendengar bagaimana dia berbahasa Prancis, aku tak pernah bosan-bosannya menertawai dia kalau dia mulai berbahasa Prancis lagi. Di kelasku, dia jadi sasaran empuk M.Wandolf dan anak-anak.”

Julie mendengus.

“Aku tahu, Jess. Bahasa Prancisnya Julie memang parah,” kata Lucy. “Tapi, aku sungguh-sungguh tidak menyangka kalau memang separah itu. Kalian tahu apa yang dia bilang?”

Mereka menggeleng.

MORACIO HORANTO, KAPENTE HONTE,” kata Lucy. “GRACIA HOLA MONALISA.

Gadis-gadis itu tertawa berguling-guling di kursi mereka.

“Tak ada yang lucu, tahu?” kata Julie. Walaupun tidak banyak gunanya, setidaknya ia masih ingin menyelamatkan image-nya dari kebodohan yang makin parah lagi. “Memangnya kalian mengharapkan aku mengucapkan apa?”

Julie mencari kosa kata yang cukup terdengar Prancis di telinganya.

Michael Angelo? Jennifer Lopez?”

Gadis-gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.

“Kau ini tidak bisa membedakan bahasa Prancis dengan bahasa Spanyol, ya? Gracia kan bahasa Spanyol,” kata Kayla. “Apa pula itu MONALISA.”

Jessie memukul kepala Julie. “Dasar kau ini, Bodoh!”

Julie meringis kesakitan sambil membalas pukulan Jessie dengan melempar irisan lemon yang menempel di gelas jus ke wajahnya. Jessie mengelak.

“Tidak kena. Wek!”

Jessie balas melempar irisan mentimun dari piringnya. Irisan mentimun itu tepat mengenai muka Julie.

Julie kaget sekali.

“JESS!”

Julie sudah tidak peduli dengan lendir sayuran yang menempel di mukanya. Ia segera memungut irisan mentimun itu, lalu berusaha memasukkannya ke dalam mulut Jessie. Jessie meronta-ronta, berusaha melawan.

“Hei, hei. Kalian ini, benar-benar,” lerai Kayla. “Sudah sebesar ini, masih saja bertengkar. Sudah, sudah! Kalo mau berkelahi, di luar saja sana. JANGAN DI SINI!”

Kayla menegakkan alis matanya.

“Mengganggu saja. Ayo, lanjutkan lagi ceritanya, Lucy.”

Berkat asuhan keibuan—yang tadinya lemah lembut—disertai omelan menyeramkan yang ekstrim dari Kayla, Julie dan Jessy pun kembali duduk tenang—seperti bayi. Lucy kembali melanjutkan ceritanya.

“Kalian harus lihat sendiri, betapa lucunya dia tadi. Badannya terus bergoyang-goyang seperti leher boneka anjing yang biasa kita pasang di dashbor mobil. Kalian mengerti kan maksudku?”

Cassandra dan Cathy—yang belum pernah melihat aksi Julie di kelas Prancis—hanya tersenyum-senyum saja membayangkan seperti apa tingkah Julie yang konyol itu. Sementara itu, Jessie dan Kayla sudah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka.

“Seperti ini, kan?”

Jessie bergoyang-goyang memutar-mutar badannya ke kiri dan ke kanan seperti sedang menari salsa. Julie menarik rambutnya.

“Aduh!”

Jika yang diperagakan Jessie memang selucu itu, Julie sendiri juga tidak pernah mengerti mengapa tubuhnya bisa bertingkah yang aneh-aneh setiap kali ia merasa gugup. Semuanya terjadi begitu saja. Meskipun demikian, ia merasa perlu berdalih untuk menyelamatkan image-nya dari prasangka yang lebih buruk lagi.

Well. Itu kan trik supaya aku bisa tetap rileks,” ujar Julie. “Kalian tidak tahu kan betapa tegangnya aku tadi. Rasanya seperti jantungku mau copot.”

Lucy menggeleng.

“Kurasa tidak juga. Malah kelihatannya kau sangat menikmatinya,” sanggah Lucy. “Anak ini tak henti-hentinya menyeringai dan cengengesan di kelasku, padahal kami semua jelas-jelas sedang menertawainya. Aku sampai-sampai kehabisan napas karena tak bisa berhenti tertawa.”

Lucy mulai bisa mengendalikan tarikan napasnya.

“Menurutku, kau jadi pelawak saja, Julie. Aku yakin, kau pasti akan laris manis. Tanpa lelucon pun, gelagatmu itu sangat menggelikan.”

Julie menelan ludahnya. Ia sudah tahu apa yang Lucy pikirkan. Profesi itu memang sudah ada di benaknya sejak tadi. “Jadi badut, maksudmu?”

“Badut? Kalau kupikir, malah sebaiknya kau tetap jadi sapi saja, Julie,” ledek Jessie. “Sapi atau badut, kurasa dua-duanya sama bagusnya buatmu.”

Julie siap-siap mengambil side dish lagi yang bisa langsung dilemparkan ke muka Jessie.

“Uwaa! Tolong! Ada sapi mengamuk,” ujar Jessie.

Ia segera menyembunyikan wajahnya di balik punggung Cathy. Cathy memperlihatkan ekspresi wajah tidak senang.

“Pengecut,” cela Julie. “Bisanya cuma berlindung di balik ketiak ibumu. Sini hadapi aku kalau berani.”

Cassandra tertawa.

“Kapan-kapan kau harus menunjukkan padaku secara langsung bagaimana cara kau mengucapkan bahasa Prancis, Julie,” kata Cassandra. “Aku benar-benar penasaran.”

Julie mendengus.

“Ah, kau takkan mau mendengarkannya, Cass,” ujar Julie. “Aku sendiri juga malas mendengarkan ceracauan itu keluar dari mulutku.”

Jessie dan Kayla cekikikan.

“Tapi, kurasa sekarang kau sudah ada kemajuan, Julie,” Kayla menimpali. “Seingatku dulu kau benar-benar putus asa setiap kali disuruh berbicara bahasa Prancis—seperti orang mau bunuh diri saja. Sekarang, kulihat kau sudah mulai mendapatkan kepercayaan diri.”

Julie menyengir.

Yeah, pada saatnya kau akan terbiasa juga dengan tertawaan orang-orang yang mencela ketololanmu, Kay.”

Ia mengambil tisu dan mengelap tangannya yang kotor dan basah oleh cairan dari bahan makanan yang akan dilemparkannya ke Jessie tadi.

Well, makin lama mungkin aku makin menikmati kenyataan kalo aku ini memang bodoh, Kay. Lagipula, semua ceracauan aneh menyebalkan itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa sempat kompromi dulu dengan otakku. Bukan mauku, tahu.”

Jessie mengambil tisu juga untuk mengelap tangannya. “Yeah, benar. Kau memang bodoh. Absolut.”

Julie mengacungkan kepalan tangannya.

“Setidaknya kau beruntung karena M.Wandolf sangat baik, Julie,” ujar Kayla. “Kalau kusimpulkan dari cerita-ceritamu tentang kelas Prancis itu, sepertinya ini sudah yang kesekian kalinya M.Wandolf memaafkan kecerobohan-kecerobohanmu. Kurasa dia menyukaimu, Julie. Seperti yang selalu kubilang, feromonmu bekerja dengan sempurna.”

Kali ini gosip itu terdengar begitu absurd. Julie tergelak. Gosip tentang hubungan asmaranya dengan Mr.Bouncer saja sudah cukup konyol, dan Julie tidak tertarik untuk menambah rumit hidupnya dengan satu gosip yang tidak masuk akal lagi. Ia pun segera mengklarifikasi pernyataan tersebut.

“Lucu sekali, Kay. Jadi kau mau bilang apa? M.Wandolf naksir padaku? Konyol,” kata Julie. “Aku ini cuma beruntung, kok. Lagipula, M.Wandolf memang orangnya baik sekali.”

Julie teringat lagi dengan guru Prancisnya yang dulu.

“Kalau itu Madmazel Ellene, aku pasti sudah babak belur sejak pertama kali masuk sekolah. Tapi untungnya M.Wandolf—dia sangat toleran,” sambung Julie. “Mereka berdua seperti surga dan neraka.”

“SURGA dan neraka?”

Gadis-gadis itu secara serentak menaikkan sebelah alis mereka. Entah mengapa, pernyataan Julie terdengar seperti bertolak-belakang dengan apa yang selalu mereka dengar darinya setiap hari.

Julie menyadari kesalahannya.

“Um, oke, oke. Dua-duanya SAMA-SAMA neraka,” ralat Julie. “Tapi, M.Wandolf neraka yang lebih dingin. Sudah dilengkapi AC,”

Mereka tertawa.

“Kalau aku sih tidak peduli, ya,” kata Jessie. “Mau itu karena feromon, mau karena M.Wandolf naksir Julie, atau karena neraka M.Wandolf  dipasangi AC—yang penting tugasku harus sudah dikumpulkan. Aku tidak peduli bagaimanapun caranya.”

Jessie menegaskan kembali intonasi suaranya.

“DAN,” sambung Jessie. “Tidak akan ada ceritanya lagi tugas-tugas kelompok kita ada di tanganmu! Lama-lama aku bisa gila gara-gara keterlambatanmu, Julie!”

Julie mendesah panjang. Ia sudah menduga pernyataan ini pasti akan keluar dari mulut Jessie.

Cepat atau lambat.

“Iya, iya. Aku juga tak mau terlambat lagi, kok!” ujar Julie. “Amit-amit, jangan sampai—jangan sampai kejadian tadi pagi terulang lagi. Cukup sudah penderitaanku, tahu?”

Pernyataan itu tentu saja mengundang kontroversi dari banyak pihak. Gadis-gadis yang mendengar pembicaraan mereka—pembicaraan yang benar-benar jelas terdengar—menatap dengan sangat iri akan keberuntungan Julie.

“Penderitaan, apanya? Kau itu diajak ngobrol sama Richard—Cowok Terganteng Di Dunia,” protes Lucy. “Aku yakin semua gadis di sekolah ini pasti rela mengantri berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, untuk bisa mendapat kesempatan yang sama denganmu.”

Julie sangat heran di bagian mananya tragedi kemanusiaan ini yang bisa dianggap sebagai anugerah.

“Dan kalian tahu? Tadi itu Richard manis sekali. Kalau kalian dengar bagaimana cara dia membacakan puisinya tadi, sumpah aku jamin kalian pasti akan lupa bagaimana caranya bernapas,” kata Lucy sambil tersipu-sipu. “Puisinya bagus sekali. Suaranya juga merdu.”

Untuk pernyataan yang terakhir, Julie sejujurnya merasa setuju dan tidak berniat untuk membantahnya. Harus diakuinya, di luar dugaan, suara anak laki-laki ini ternyata memang enak didengar. Entah kenapa, kali ini ia bisa menyimak percakapan bahasa Prancis—bahkan terlibat di dalamnya—tanpa mengalami sakit kepala.

Kayla memperhatikan Cathy yang sedari tadi diam saja.

“Kau kenapa, Cath? Dari tadi diam saja,” kata Kayla. “Kau sakit, ya?”

“Tidak,” jawabnya singkat.

Julie baru menyadari hal ini saat Kayla menanyakannya. Biasanya gadis ini paling ramai kalau sedang bergosip di kafetaria, tapi entah kenapa hari ini Cathy tampak tidak bersemangat untuk menimpali obrolan mereka. Tidak satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya—perubahan ini terlalu aneh, mengingat biasanya Cathy-lah anggota The Lady Witches yang paling ekspresif dalam menanggapi setiap gosip di Nimberland.

Apalagi, ini tentang Richard.

“Kenapa, Cath? Kau ingin cerita sesuatu, ya? Apa kau bertengkar dengan Jake?” tanya Julie.

“Tidak,” jawab Cathy.

“Apa Emma Huygen mengganggumu?” tanya Jessie.

“Tidak,” jawab Cathy ketus. “Dia terlalu sibuk dengan urusan beasiswa ke luar negerinya.” Ia tersenyum sinis. “Mulut besar saja, perempuan itu.”

Meskipun sudah terlihat setidaknya sedikit perubahan ekspresi, tapi jawaban Cathy masih tidak memuaskan sama sekali.

“Jadi?”

Cathy menghela napas. Ia menatap serius ke Jessie, seakan-akan Jessie adalah buronan polisi yang siap dihukum selama dua belas tahun penjara. Tingkahnya yang tidak lazim ini pun membuat semuanya menjadi bingung.

“Jess.”

“Apa?” tanya Jessie. Jessie yang merasa tidak berbuat dosa apa-apa, praktis menjadi salah tingkah, takut akan diapa-apakan oleh Cathy. “Kenapa kau ini?”

“JESS.”

Tekanan pada suara Cathy bertambah tinggi. Jessie pun merasa semakin bingung. “Apa??”

Tidak satupun dari mereka yang mengerti apa yang diinginkan olehnya. Mereka pun tidak merasa Jessie punya kesalahan yang begitu fatal yang membuat Cathy sampai sebegitu marahnya. Satu-satunya yang bisa menjelaskan hanyalah Cathy sendiri.

Cathy memulai aksinya yang dramatis. Seisi kafetaria seakan-akan terdengar hening, serta-merta menambahkan sensasi efek dramatis yang melodramatis.

“KENAPA, JESS?? Kenapa!? Kenapa Julie?? Kenapa kau bukannya memilih aku?? KENAPA????”

Cathy mengerang putus asa.

“Seharusnya aku yang ngobrol dengan Richard! Tapi kau malah melupakanku. Kau pilih kasih. Kau malah pilih Julie. Kau jahat. Kau jahaat..”

Jessie terbahak-bahak.

Ekspresi wajah Cathy yang terluka dan isakannya yang dramatis itu terdengar begitu menggelikan. Tadinya dia pikir Cathy akan menuduhnya telah memprakarsai tragedi 11 September 2001. Atau lebih hal yang parah lagi, Teror Kehancuran Umat Manusia di dunia. Pada kenyataannya, Cathy cuma ngambek gara-gara kejadian hari ini.

“Kupikir apa. Mengagetkan saja,” ujarnya. “Aku ini tidak pilih kasih, oke? Jangankan memberi tahumu, kalau saja aku tahu nantinya Julie bakal disuruh ngobrol sama Richard, pasti aku sendiri yang akan mengumpulkan tugas itu. Lagipula—”

Jessie melipat kedua tangannya.

“—kau kan tidak sekelas Prancis denganku, Cath. Bagaimana kau ini? Bodoh.”

Gadis-gadis itu hanya cekikikan saja. Kelakuan Cathy yang sangat kekanak-kanakan itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi mereka. Meskipun Cathy menyadari sikapnya memang terlalu berlebih-lebihan, tapi wajahnya tetap saja cemberut.

“Awas saja kalau nanti aku dekat-dekat dengan Richard, ya! Aku tidak akan mengajakmu!” ancam Cathy.

“Coba saja buktikan,” goda Julie. “Tuh, orangnya ada di sana.”

Cathy mendongak, karena kepala Julie menghalangi pandangannya dari Richard.

“Tidak.”

“Nah, nah,” kata Julie. Ia sudah tahu kalau pada dasarnya Cathy memang tidak pernah berani menyatakan perasaannya pada Richard. Anak itu cuma besar mulutnya saja. Meskipun ia sama tidak berdayanya ketika menghadapi Richard, setidaknya ia merasa masih jauh lebih baik daripada Cathy.

“Tuh, kan. Bilang saja kau takut. Di depan kami saja kau berani berkoar-koar kalau kau suka Richard. Kalau begini terus, mana mungkin kau jadian dengannya.”

Cathy terlihat sangat panik.

“Ssst!” Cathy mengacungkan jari telunjuk di depan bibirnya. “Di sana ada Jake, tahu! Gila apa kau?”

Julie membalik badannya. Ia mencoba untuk tidak menggubris sinar putih yang ada di sebelah kiri depannya, tapi tak jauh dari sinar putih itu memang ada sesosok laki-laki tampan lainnya yang sedang menghadap ke arahnya.

Jake Williams—bertubuh tinggi tegap idaman gadis-gadis, berambut coklat, dan rahang keras yang lebar dan perkasa seperti Arnold Schuasneger. Aktivitasnya di tim futbal sekolah dan menjadi kapten tim yang kuat dan terkenal tampan membuatnya menjadi bintang idola yang paling diincar-incar para gadis—tak hanyadi Nimber, bahkan di sekolah-sekolah lain juga.

Tapi popularitas Jake yang tak terkalahkan itu akhirnya menjadi sedikit surut sejak kedatangan Richard. Banyak senior perempuan yang akhirnya beralih ke Richard—karena Richard memang jelas-jelas lebih tampan, dan—tidak seperti Jake—Richard tidak punya Emma Huygens yang siap menghadang siapapun yang mendekatinya. Menurut Julie sendiri, meskipun Richard tidak terlihat seatletis dan semacho Jake, Richard masih beberapa poin lebih unggul dibandingkan Jake. Akhir-akhir ini ia menjadi tahu bahwa ternyata Richard murid yang cerdas. Bahkan dalam waktu dekat ini, kabarnya Richard akan mengikuti kejuaraan catur mewakili sekolah.

Tidak hanya lebih tampan—Richard juga lebih pintar.

“Ya, itu dia pangeranmu,” ujar Julie. “Kalau dia dengar apa yang kita bicarakan sekarang ini, pasti dia akan ngamuk-ngamuk seperti orang gila.”

“Makanya, kalian jangan bilang-bilang!” tegas Cathy. “Aku suka Jake, tapi aku juga suka Richard. Jadi sebaiknya kita biarkan saja keadaan ini seperti ini terus. Di satu sisi aku bisa bermesra-mesraan dengan Jake-ku yang keren, tapi di sisi lain aku masih bisa mengagumi Richard-ku yang tampan.”

“Dan kau marah-marah padaku gara-gara aku tidak memilihmu mengumpulkan tugas itu dan ngobrol dengan Richard? Oh, Cath—kau adil sekali,” protes Jessie.

Gadis-gadis lainnya sependapat dengan Jessie.

“Hm? Kau bilang apa? Aku tidak dengar,” Cathy berpura-pura sibuk membereskan meja. “Oh, iya. Besok aku akan jalan dengan Jake. Kalian tahu ke mana? Ke Taman Bunga Bakersfield! Yang baru dibuka itu, lho! AHH, BETAPA ROMANTISNYA!!”

Gadis-gadis itu memandang Cathy dengan sinis.

“Eits, kalian tidak boleh ikut! Ingat, seharian besok aku tidak bisa diganggu. Oke?”

“Kau ini!”

Jessie—yang paling tidak sabar—menerkam Cathy, disusul oleh keempat rekannya yang lain yang sudah geram tidak tahan lagi ingin mengacak-acak rambut anak itu. Cathy menggeliat-geliat dan meronta-ronta, tapi dirinya tak kuasa melepaskan diri dari serbuan lima harimau yang lapar itu. Ia cuma bisa menjerit-jerit, membuat semua orang di sana memandangi mereka dengan heran, ragu-ragu antara akan menolong atau tidak.

“Aduh! TOLONG! Rambutku!! AAAAAARRRGGHHH!!!!”

Bel sekolah yang berdering menghentikan aksi mereka. Yang tersisa hanyalah Cathy dan rambutnya yang bergulung-gulung kusut seperti benang wol, karena teman-temannya yang saling bersekongkol itu telah kabur berlari kembali ke kelas mereka.

“Brengsek kalian!” umpatnya.

Ia berjalan keluar kafetaria itu, dihampiri oleh Jake Williams. Jake merangkul kekasihnya itu dan memberikan sebuah kecupan di pipi kanannya.

“Kenapa teman-temanmu, Sayang?” tanyanya.

“Mereka kena rabies,” ujar Cathy. “Jangan dekat-dekat mereka, ya, Sayang. Nanti kau bisa tertular.”

Jake merapikan rambut kekasihnya itu sambil tersenyum. Di benaknya, mendapatkan gadis secantik dan seliar Cathy adalah suatu pencapaian tersendiri. Dari seluruh gadis yang pernah dikencaninya, Cathy adalah yang tercantik—bahkan yang tercantik di antara semua gadis yang pernah ia kenal. Namun ia tidak begitu tertarik dengan teman-temannya. Menurutnya, akan lebih baik kalau hubungannya dengan Cathy dijalankan hanya oleh mereka berdua saja—menghadapi satu Cathy saja sudah sangat merepotkan, apalagi kalau harus menghadapi mereka berenam.

Bisa-bisa ia jadi gila.

Sementara itu, Cathy masih terlarut dalam imajinasinya bersama dengan Richard. Besok memang akan jadi hari yang bahagia untuknya bersama dengan Jake, tapi ia masih tak rela kalau harus melepaskan Richard dari angan-angannya. Ia tahu kalau tindakan-tindakannya itu berbahaya dilakukan karena saat ini ia sudah punya Jake. Sampai saat ini, hanya masalah keberuntungan sajalah yang membuat Jake masih belum tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Cathy.

Tentang siapa sebenarnya orang yang paling ia sukai.

Tapi bukan Cathy namanya kalau ia terlalu memusingkan hal itu. Sama seperti Julie, Cathy adalah tipe gadis yang hidup untuk hari ini. Ia tidak mementingkan hari esok, karena hari esok bisa jadi hari yang seperti apa saja. Hari esok bisa menjadi manis atau pahit, tapi itu bukan untuk dipikirkan sekarang. Bagi mereka berdua, menjadi sedih atau bahagia, adalah sebuah pilihan.

Dan tak perlu diragukan lagi, pilihan yang mereka pilih—tentu saja pilihan kedua.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

11 thoughts on “06. Kelas Prancis (3)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

  3. Ping-balik: 6. Kelas Prancis (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s