6. Kelas Prancis (2)

Comments 13 Standar

toonvectors-10097-940

Normalnya, hanya butuh waktu lima menit untuk sampai ke ruang kelas 305. Tapi untuk Julie Light, gadis itu baru bisa tiba di sana setelah memakan waktu hingga lebih dari dua puluh menit.

Franchophobia ini benar-benar membuatnya kesulitan berjalan. Kakinya terasa berat sekali, rasanya seolah-olah seperti tumbuh akar di kesepuluh jari kakinya, yang memaksanya untuk mencengkram erat tegel-tegel lantai di koridor sekolah, dan mengisap sari-sari makanan di tegel-tegel itu. Julie bahkan hampir percaya kalau kakinya akan berkecambah.

Ia menggenggam map hijau di tangan kanannya dan  membuka pintu kelas itu dengan tangan kirinya, sambil mengintip-intip isi di dalamnya secara perlahan-lahan.

“Permisi.”

Tak satupun dari mereka yang menyadari kehadirannya. Perhatian semua orang sedang tertuju pada seorang anak laki-laki yang berdiri di depan kelas, yang baru saja menyihir mereka dengan keindahan syair dalam lantunan bahasa Prancis yang ia bacakan. Julie bisa melihat bahwa mereka kini tenggelam dalam aura kekaguman dan nuansa keterpukauan yang begitu nyata. Karena penasaran, Julie pun mulai memperhatikan sosok anak laki-laki yang tengah menjadi pusat perhatian itu.

Richard Soulwind.

“Haduh,” Julie menelan ludahnya.

Dia lagi!

Julie menarik napasnya dalam-dalam. Ia menghembuskannya perlahan-lahan, lalu menarik napas sekali lagi. Keberadaan Richard di kelas Prancis, adalah hal terakhir yang diinginkannya di dunia ini. Sebisa mungkin Julie berusaha mengendalikan jantungnya agar tidak meledak. Ia berpura-pura tidak melihat anak laki-laki itu—tidak sedetik pun—meskipun keberadaan Richard saat itu benar-benar mengacaukan konsentrasinya.

Matanya menyapu ke seluruh ruangan.

“Siang, Monsieur,” kata Julie. Ia menemukan pria gendut tua berkepala setengah botak yang dicari-carinya itu sedang duduk di kursi pojok kanan paling belakang.

Julie bisa merasakan lututnya gemetar hebat, terutama saat orang-orang di kelas itu menatap wajahnya sekarang. Rasanya ia ingin sekali segera kabur dari tempat itu, melarikan diri ke Papua Nugini, dan mendaftarkan diri menjadi penduduk asli di sana. Tapi, bayangan wajah Jessie yang begitu menyeramkan seketika langsung membuat nyalinya menciut.

“Maaf, M.Wandolf. Ak—”

Lidah Julie terasa kelu. Perlahan-lahan ia mencoba mengumpulkan keberaniannya sekali lagi. “Ak-Ak-Aku, sebenarnya ingin..”

“Richard Soulwind,” sela M.Wandolf. “Puisimu sangat brilian, Nak. Terutama yang versi bahasa Inggrisnya—karena terus terang untuk beberapa hal kecil grammar Prancis-mu masih ada yang perlu diperbaiki. Tapi itu tidak masalah sama sekali.”

“Kurasa kau sangat berbakat di bidang sastra, M.Soulwind.”

M.Wandolf kini bermain dengan ballpoint merah tuanya. Ia sama sekali tidak menghiraukan Julie. Diacuhkan seperti itu, Julie praktis bisa merasakan tubuhnya menciut dan mengecil menjadi tuyul. Tubuhnya terus mengecil sampai akhirnya ia mendengar sebuah suara merdu yang ada di depannya, suara itu terlalu merdu sehingga—mau tak mau—ia tak dapat lagi menghindari menatap wajah orang itu.

Merci, Monsieur,” kata Richard sambil tersenyum.

Julie tak dapat melukiskan bagaimana tampannya Richard dalam senyum bibir tipisnya yang berlekuk itu. Semakin ia tersenyum, maka lekukan itu terlihat semakin manis dan menyegarkan—ditambah lagi dengan rona merah pada pipinya yang terlihat putih bersinar seperti porselen bercahaya. Julie sampai lupa kalau seharusnya dia sudah berukuran mikroskopis sekarang.

“Sekarang aku akan memberikan kehormatan untukmu untuk menunjukkan keahlianmu dalam berkomunikasi dalam bahasa Prancis—di samping keahlian sastramu yang luar biasa itu,” kata M.Wandolf.

“Tolong wakilkan aku untuk meladeni Mlle.Light, M.Soulwind. Sekalian, tanyakan apa yang menjadi keperluannya datang ke kelas ini. Voulez-vous?[1]

Julie sangat terkejut mendengarnya. “APA?”

Beberapa orang terkikih mendengar teriakannya itu. Julie sendiri sama sekali tidak menyadari kalau teriakannya telah menggema dengan jelas di dalam kelas. Ia masih mengira kalau ia sedang berteriak dalam hati.

Si, Monsieur,” Richard mengangguk sambil tersenyum kembali.

Julie merasa perutnya bergejolak hebat. Perasaan itu sedemikian hebat sehingga seakan-akan ada tornado mahadashyat yang menghantam tubuhnya dan membuyarkan seluruh isi perutnya. Ia tidak bisa menghentikan detak jantungnya yang terlalu cepat, seakan-akan jantungnya akan copot sekarang. Ia juga tidak bisa membayangkan betapa merah mukanya saat itu.

Richard menatap mata Julie. Julie menahan napasnya. Tatapan mata biru itu seakan menyengat jantungnya, tepat di tengah.

Julie. Puis-je vous aider?[2]” Richard menyapa Julie sambil tersenyum ramah. Suaranya terdengar sangat lembut dan merdu, bagaikan suara piano.

Julie berusaha untuk mengendalikan dirinya dan menjadi setenang mungkin, meskipun ia yakin tubuhnya sedari tadi sudah melakukan gerakan yang aneh-aneh—di luar kemauannya, yang semakin nyata memperlihatkan kegugupannya. Meskipun tidak begitu mengerti, tapi Julie mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini harus segera diselesaikan. Ia setidaknya bisa menebak kalau Richard sekarang pasti sedang menanyakan apa keperluannya datang ke kelas ini—seperti yang diinstruksikan M.Wandolf tadi. Ia sudah menyiapkan kata-kata terbaiknya.

U.. U zank rezambe mey howa[3],” ucap Julie dengan logat asal-asalan.

Seisi kelas tertawa. Julie menyadari kalau logatnya mungkin terdengar lucu, tapi ia yakin apa yang diucapkannya itu benar. Lagipula, kalau pun salah, Julie tidak peduli. Toh semua orang di Nimber juga sudah tahu reputasinya di kelas Prancis.

Julie melihat Richard tersenyum padanya. Senyumnya tampak begitu anggun, melekuk indah dari wajahnya yang setampan malaikat. Wajahnya terlihat jauh lebih tampan dari yang terakhir kali diingat Julie. Dalam tatapan mata birunya itu, wajahnya terlihat begitu mempesona.

Richard tersenyum padanya, dan bertanya dengan nada yang sangat sopan.

Voulez-vous dire, vous voulez récupérer vos devoirs?[4]

Julie praktis kehilangan kewarasannya. Telinganya berdenging dan matanya berkunang-kunang.

HUELEH APA??

Julie tidak mengerti ceracau apa lagi yang sedang diucapkan oleh Richard. Ia terlalu depresi untuk menjawab dengan benar, biar bagaimana pun ia pasti akan tetap ditertawakan juga karena lafal pengucapannya yang menyedihkan. Akhirnya, Julie memutuskan untuk mengucapkan sebuah kalimat asal-asalan.

Akuente parlente, mente harapente.

Seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka terdengar jauh lebih keras daripada yang pertama tadi, sehingga kau perlu menutup kupingmu untuk tidak menjadi tuli.

Akuente parlente?” tanya Richard tidak mengerti. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang terlihat sangat menggemaskan.

Julie menyengir seperti kuda. Tadi ia memang sengaja asal berceloteh, mengucapkan kata-kata yang tidak ada artinya—yang penting sudah terdengar seperti bahasa Prancis di telinganya. Sudah terlanjur basah, pikirnya.

Moracio horanto kapente honte,” Ia mengucapkan satu kalimat asal-asalan lagi.  “Gracia hola monalisa.”

Kelas menjadi riuh sekali.

Entah berapa anak yang sudah meneteskan air mata saking senangnya. Lucy juga terlihat sangat terhibur—Julie baru saja melihatnya—ia duduk di barisan tengah, dua baris dari dinding sebelah kanan. Julie baru teringat, ini pertunjukan perdananya di depan Lucy. Dan gadis itu terlihat sangat menikmati pertunjukan itu.

Julie tidak pernah mengerti apakah ia memang sebegitu lucunya, sampai-sampai orang-orang ini sebegitu girangnya mendengar hal yang baginya terdengar biasa-biasa saja ini. Julie mulai berpikir kalau mungkin pada dasarnya ia memang berbakat—sebagai badut sirkus. Ia akan mempertimbangkan untuk menerima pekerjaan di sana, jika suatu saat nanti memang sudah tidak ada lapangan pekerjaan lagi yang bisa mentoleransi kebodohan intelektualnya.

Richard menahan tawanya. Laki-laki itu menatap Julie dengan mata birunya, dan sekali lagi membuat Julie terkena serangan jantung.

“Sebenarnya aku hanya sedang meluruskan ucapanmu, Julie. Kau bilang, kau ingin mengumpulkan tugasmu, kan?”

Julie mengangguk.

“Cara mengucapkannya semestinya, je veux rassembler mes devoirs.[5]

Suara Richard terdengar begitu berirama, seperti alunan musik klasik yang dimainkan pada sebuah grand piano. Julie baru tahu kalau suara Richard memang seperti itu—dentingan suara piano. Antara satu silabel dengan silabel lain yang diucapkannya terdengar memiliki nada-nada yang memiliki perbedaan yang jelas, mengalun teratur namun tetap terdengar merdu. Julie penasaran, apakah orangtuanya memberi makan anak itu piano di rumah—dalam arti yang sebenarnya.

“Oh,” kata Julie. “Yeah.”

Hanya itu yang mampu Julie ucapkan. Setidaknya, hanya itu yang ingin ia ucapkan sekarang. Perbedaan kemampuannya dengan Richard jauh sekali, seperti bumi dan langit, sehingga ia merasa apapun yang dikatakannya nanti hanya akan membuatnya kelihatan semakin tolol.

Dan entah apalagi yang merasuki otak anak-anak di kelas itu, sampai-sampai perkataannya yang terakhir itu pun masih ditertawakan juga.

“Kupikir aku yang sinting, ternyata mereka lebih sinting dariku,” gumam Julie dalam hati.

Julie menghela napasnya.

M.Wandolf benar-benar sudah mengerjainya hari ini. Seandainya saja ia bisa balas mengerjai M.Wandolf seperti ia balas mengerjai ibunya beberapa waktu yang lalu—ia memasukkan seekor cicak ke dalam daster ibunya. Waktu itu Lily menjerit-jerit minta tolong sampai-sampai semua tetangga datang ke rumah mereka membawa sekop, pemukul baseball, dan senapan. Julie tidak henti-hentinya tertawa sepanjang hari itu, meskipun pada malam harinya ia dihukum tidak boleh makan malam.

Tapi tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Meskipun rasanya ia sangat ingin sekali berbuat iseng—seekor ulat bulu yang menggeliat di kamus Bahasa Prancis bisa sangat menggoda—tapi ia sungguh-sungguh tidak ingin membuat masalah lagi sepanjang waktunya bersekolah di Nimber. Hukuman membersihkan toilet setiap hari di Springbutter dulu benar-benar menimbulkan kenangan yang buruk dan menyebalkan di benaknya. Dan untungnya, di Nimber sejauh ini belum ada tanda-tanda menuju ke arah sana.

Yah. Mudah-mudahan saja, pikirnya.

Meskipun tidak bisa berbuat banyak, yang bisa Julie lakukan sekarang hanyalah berharap dengan pasrah, semoga permainan konyol ini segera berakhir. Lalu ia pulang, segera melarikan diri dari kelas itu dan tidak akan menampakkan diri lagi.

Selamanya.

“M. Wandolf. Elle veut rassembler ses devoirs à vous, maintenant[6],” Richard berbicara pada M.Wandolf. “Souhaitez-vous s’il vous plaît juste prendre ses devoirs et de la laisser aller? Elle a l’air si satisfait maintenant.[7]

Ceracau itu sama sekali tidak jelas, tapi entah kenapa terdengar indah—kalau Richard yang mengucapkannya.

Bien[8].”

M.Wandolf menatap Julie. Ia mendesah panjang.

“Karena kau tidak bisa berbahasa Prancis, Mlle.Light, aku akan mengucapkannya dalam bahasa Inggris saja. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa aku harus menerima laporanmu itu sekarang. Jam pelajaranku di kelasmu sudah lewat, dan sekarang keberadaanmu di sini mengganggu murid-muridku.”

Julie tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka M.Wandolf akan berbicara seperti itu. Berada di sini saja sudah merupakan mimpi buruk buatnya, apalagi kalau ia kembali dengan tangan hampa ke Jessie nanti. Ia bisa-bisa dihajar sampai babak belur.

Julie berusaha untuk memutar otaknya. Mencari-cari celah kesempatan adalah kemampuan yang sangat diperlukannya saat ini. Julie memang tidak sepandai Kayla dalam memenangkan hati orang, tapi ia telah cukup lama bergaul dengan anak itu untuk bisa memahami sedikit trik berdalih dengan cerdik.

“Jam pelajaranmu di kelasku memang telah lewat, Monsieur, aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi kalau soal apakah murid-murid di kelas ini merasa terganggu—umm, kurasa tidak juga. Kurasa mereka sangat senang karena ada aku di sini,” kata Julie.

“Oh, ya? Yang benar?” tanya M.Wandolf dengan nada yang menantang. Julie mengangguk penuh semangat.

M.Wandolf menopangkan dagu di atas tangan kanannya. “Buktikan.”

Entah mengapa suara jarum arloji di tangan kiri Richard terdengar begitu jelas di telinganya, meskipun kemungkinan besar itu hanya halusinasinya saja. Julie sangat berharap kelas itu segera berakhir, tapi tentu saja itu tidak mungkin karena kelas itu baru saja dimulai.

“Baiklah,” kata Julie. Julie menghadap ke kelas dan berakting sebaik-baiknya. Tak lupa ia membubuhkan nada memelas yang menyentuh hati dalam intonasi suaranya. “Teman-temanku sekalian. Apakah aku dirasa mengganggu bagi kalian?”

“TIDAAAAK,” jawab mereka beriringan. Semuanya menampilkan senyum riang menyiratkan kalau mereka menerima dengan senang hati kehadiran Julie di kelas mereka.

“Apakah aku menyenangkan?”

“IYAAAAAA,” jawab mereka lagi.

“Apakah kelas Prancis hari ini jadi semakin menyenangkan?”

“IYAAAAAA,” jawab mereka sekali lagi.

Semakin lama Julie merasa semakin mirip badut sirkus, tapi ia sebenarnya sudah pasrah pada suratan takdir sejak detik pertama ia berada di kelas itu. Ia bisa melihat Lucy di sebelah sana sedang tersenyum-senyum sambil menutup mulutnya dengan jari-jari lentiknya.

“Tuh, kan, Monsieur. Anda dengar sendiri mereka bilang apa,” ucap Julie. “Bahkan aku yakin mereka sebenarnya merasa sangat terhibur dengan keberadaanku di sini.”

Julie teringat pada senyum malaikatnya yang dulu pernah berhasil meluluhkan hati M.Wandolf pada hari pertamanya masuk sekolah. Tanpa ragu-ragu ia langsung mempraktekkannya ke guru gendut tua berkepala setengah botak itu sekali lagi, dan berharap trik yang sama masih berfungsi dengan baik.

“Um,” gumam M.Wandolf.

Sesaat kelas menjadi hening, menunggu pernyataan M.Wandolf berikutnya mengenai keputusannya terhadap Julie. Tapi M.Wandolf terus saja mengulur-ulur waktu, berpikir terlalu lama, seolah-olah begitu berat baginya untuk menerima tugas Julie begitu saja.

“Umm. Sebenarnya terlalu sulit bagiku untuk mempertimbangkannya, Mademoiselle,” katanya. “Aku sudah pernah bilang padamu kan, kalau aku tidak suka keterlambatan. Aku tidak ingin bersikap kejam, tapi di sisi lain aku juga tidak mau menanggung resiko atas keputusanku memaafkan keteledoranmu.”

Sampai di sini, Julie masih tidak bisa menerka apa yang akan dilakukan M.Wandolf. Apakah ia akan menerima tugasnya, atau tidak? Mengapa laki-laki itu tidak segera memaafkannya saja, menerima tugasnya, lalu membiarkannya pergi, jadi dia bisa kembali mengajar dengan tenang di kelas ini?

Julie mendongkol dalam hati.

“Jadi,” lanjut M.Wandolf, “Biar kuserahkan keputusan ini di tangan Mr.Soulwind. Apapun yang diputuskannya, apakah tugasmu akan diterima atau tidak, benar-benar akan jadi hak mutlak untuknya. Kau tidak boleh protes lagi padaku nanti, Mademoiselle. Oleh karena itu, entah bagaimanapun caranya, bersikap manislah pada Mr.Soulwind agar ia mau berbaik hati memberikanmu pengampunan.”

Julie tercengang.

Hukuman ini tidak ada habis-habisnya.

Kekesalan Julie sudah sampai di ubun-ubun. Guru Prancis itu memang paling senang mengerjainya. Tidak hanya jadi semakin lama berada di kelas Prancis itu, sekarang Julie malah jadi harus mengobrol lagi dengan Richard. Ingin sekali rasanya ia terbang ke luar angkasa.

“Bagaimana, Mlle.Julie?” tanya M.Wandolf sambil tersenyum nakal. “Apakah kau keberatan? Kalaupun keberatan juga tidak apa-apa. Tidak masalah.”

Walaupun sebenarnya Julie merasa SANGAT KEBERATAN, tapi ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Daripada harus menghadapi masamnya muka Jessie nanti, biarlah ini diselesaikan sampai di sini. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak keberatan,” bohongnya.

Sekali lagi Julie mengukuhkan tekadnya. Menghadapi Richard bukanlah hal yang sulit, ia terus mengulang-ulang kalimat itu di pikirannya. Ia meyakinkan dirinya kalau Richard bukanlah makhluk yang luar biasa. Laki-laki itu hanyalah manusia biasa, yang sok tampan dan sok dipuja-puja banyak orang. Ia tentu saja takkan takluk hanya karena wajah Richard yang tampan. Semua ini dilakukannya semata-mata hanya demi tugas Prancis.

Tidak lebih.

Julie menarik napas. Siang ini terasa begitu panjang untuknya. Sekarang sebaiknya ia menuntaskan dulu semuanya.

“Richard,” ujarnya sambil memutar kepalanya ke arah Richard. “Aku tahu kau teman yang baik. Walaupun aku belum begitu mengenalmu, meskipun bahasa Prancisku hancur-hancuran—bahkan sebenarnya tadi aku cuma asal sebut saja—tapi kau begitu baik dan ramah padaku. Maukah kau—menolongku satu kali lagi?”

Julie akan habis-habisan. Senyum malaikatnya pun segera diluncurkan.

“Terimalah tugasku. Kumohon.”

Richard ikut tersenyum. Bibirnya melekuk dengan indah, memamerkan gigi atasnya yang berderet rapi. Senyumnya terlihat manis sekali.

“Dengan senang hati,” ujarnya sambil membungkuk hormat.

Julie bersorak. Ia bersyukur karena ternyata Richard berhati emas. Perak. Berlian. Permata. Intan.

Semuanya.

Dan semua orang di kelas ini bertepuk tangan—entah untuk apa. Julie merasa orang-orang di ruangan ini adalah orang-orang yang aneh dan sinting yang haus dengan hiburan konyol. Bahkan untuk hal sekonyol ini pun. Tapi Julie tak peduli. Yang penting baginya adalah sekarang ia bisa segera bebas dari hukuman, segera mengumpulkan tugas, lalu segera kabur dari tempat itu.

“Bagaimana, M.Wandolf? Aku sudah bisa bebas kan sekarang?” tanyanya.

M.Wandolf mengangguk-angguk. Julie segera berlari ke tempat M.Wandolf berada dan menyerahkan tugasnya. Begitu tidak sabarnya ia ingin segera cepat keluar dari kelas itu.

M.Wandolf menerima tugas itu dengan wajah sumringah.

“Ms.Light, kau beruntung karena hari ini mood-ku sedang baik. Dan kau benar—keberadaanmu di sini benar-benar menghibur kelasku. Dan lagi, kau punya teman-teman yang sangat baik pula. Kau pastinya akan merasa sangat berterimakasih sekali pada mereka, bukan?”

Julie sama sekali tidak lupa. Ia tentu saja akan berterima kasih pada mereka semua—yang sebagian besar masih belum begitu dikenalnya. Biar bagaimana pun, mereka telah berbaik hati mengizinkannya mengganggu jam pelajaran mereka yang berharga itu.

“Terima kasih teman-teman semuanya! Gracia! Merci! Merci!

Terdengar gelak tawa di antara para murid.

“Terima kasih juga pada M.Wandolf—terima kasih yang sebesar-besarnya—karena beliau telah berbaik hati mengizinkanku mengganggu kelasnya siang ini. Dan mengerjaiku juga.”

M.Wandolf tergelak.

“Dan, tak lupa, aku berterima kasih sekali pada Richard yang telah menyelamatkan hidupku hari ini dari temanku sekelompokku. Kalau akhirnya kau bilang ‘tidak’ tadi, Jessie pasti akan membunuhku pada jam makan siang nanti.”

Richard membungkuk sekali lagi, dan tersenyum dengan amat manis.

“Aku senang sekali bisa menolongmu, Julie.”

Julie rasa Richard tahu benar bagaimana cara memperlihatkan ketampanannya, sebab dengan sikap yang sangat sopan dan manis itu, ia benar-benar terlihat seperti seorang pangeran. Julie semakin sebal dengan pesona yang dipancarkan laki-laki itu.

Seburuk apapun efek yang diakibatkan oleh keberadaan dan perilaku Richard, Julie berusaha untuk terlihat normal. Ia berpura-pura tidak merasakan kejanggalan apapun bersama dengan anak laki-laki itu, tetap bersikap santai dan cuek, seperti biasanya. Karena Richard tersenyum, maka akan terlihat aneh kalau Julie tidak membalas senyumannya. Lagipula, kejadian ini tidak akan berlangsung lama. Sebentar lagi, semuanya akan kembali seperti semula. Tak akan ada Richard lagi. Tak akan ada kelas Prancis sial itu lagi.

Dan tak akan ada tugas terlambat lagi.

Julie melangkah keluar kelas itu. Sebelum membuka pintu, ia menoleh sekali lagi untuk melihat wajah semua orang.

“Terima kasih, guys,” ujarnya sambil cengengesan.

Ia pun bergegas melarikan diri, meninggalkan ruangan itu dan menghampiri Jessie di kelasnya dengan tergesa-gesa.

***

[1] Bersediakah  kamu?

[2] Julie. Ada yang bisa kubantu?

[3] Aku ingin mengumpulkan tugasku (Je veux rassembler mes devoirs)

[4] Maksudmu, kamu ingin mengumpulkan tugasmu?

[5] Aku ingin mengumpulkan tugasku

[6]M.Wandolf. Dia ingin mengumpulkan tugasnya padamu sekarang

[7]Bolehkah jika Anda menerima saja tugasnya dan biarkan dia pergi? Dia terlihat sangat tidak nyaman sekarang.

[8] Oke

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

13 thoughts on “6. Kelas Prancis (2)

  1. Lumayan panjang dr yg sblumnya
    y ampun
    bnr2 bikin ak ketawa ngakak
    lucu sgt
    gomawo dah update *kissue author
    smoga next part nya
    cpt d update ya
    hahaha

  2. saya suka-saya sukaaa… 😀
    updaaaatee..
    ayo semangat! terus nulis!!
    tengs 4 da hard work, anyway! your da best!! :hugs♥:

  3. kak…sonyaaa..udah berkalikali aku baca bab 6 part II ini…..
    sambil nunggu kakak update lagi
    hahaaa….tetep aja gak ngebosenin

    ukkeee
    aku tunggu update.annya kak
    aku akan sllu setia menunggu kak….
    uhuuuyyyy ^-^

    • Hehehe.. Makasih atas kesetiaannya, yaa Dian..!
      #cie #geer.. >,<!

      Update-nya sudah ku-publish. Semoga penantiannya nggak sia-sia, ya! ^__^

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  5. Ping-balik: 06. Kelas Prancis | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s