06. Kelas Prancis

Comments 8 Standar

vector-cartoon-marriage-clipart-of-a-wedding-runaway-or-late-bride-by-ron-leishman-837

“Di mana si sapi itu??”

Jessie menggerutu sambil melihat-lihat jam. Dia sangat yakin bukan jarum jamnya yang bergerak terlalu cepat, karena sedari tadi M.Wandolf—sang guru Prancis—terus memandanginya, menunggu dengan raut muka yang bosan dan tidak sabar.

“Bagaimana, Mlle.Walter? Apakah aku masih harus menunggu lagi?”

Jessie benar-benar kesal pada Julie. Ingin sekali rasanya ia menjambak rambut anak itu, mencincang-cincang dagingnya, lalu memanggangnya di pemanggang roti. Segera setelah anak itu menampakkan batang hidungnya.

“Lima menit lagi kelas akan segera berakhir, Mademoiselle. Kuharap Mlle.Light bisa datang sebelum itu, sebab kalau tidak kalian tidak akan punya kesempatan lagi untuk mengumpulkan tugas itu padaku,” jelas M.Wandolf. “Setelah ini aku akan ada satu kelas lagi—dan setelah itu, aku akan keluar karena ada urusan. Kuharap kalian berdua bisa mengumpulkannya sekarang juga.”

Jessie mengangguk lemah. Ini benar-benar sudah keterlaluan, pikirnya. Apa Julie tidak bisa bangun pada jam normal, di mana semua orang-orang normal bangun dengan normal untuk melakukan rutinitas yang normal, yaitu berangkat ke sekolah tepat waktu dan tidak datang terlambat? Paling tidak jangan terlambat hari ini. Jangan terlambat saat seluruh laporan tugas ada padanya.

Jessie mengomel dalam hati.

Jessie tak henti-hentinya mengerutuki keputusannya telah memilih Julie sebagai partnernya dalam tugas Prancis kali ini. Ia lebih menyesal lagi bahwa ia mempercayakan laporan tugas itu berada di tangan Julie. Tadinya, ia bermaksud menolong Julie karena ia tahu anak itu benar-benar payah dalam bahasa Prancis. Tapi, bukannya membantu dirinya sendiri, Julie Light—sang Ratu Terlambat—malah mengacaukan semuanya dengan tidak datang tepat waktu di hari deadline tugas itu harus dikumpulkan.

Dia bahkan belum datang sama sekali.

Jessie mengumpat sekali lagi.

Bel berdering, mengubah raut wajah dua orang manusia dalam waktu yang hampir bersamaan. Yang satu mendesah panjang, yang satunya lagi menahan napasnya secara mendadak dan memperlihatkan raut wajah luar biasa panik.

“Jam pelajaran kita sudah habis. Aku rasa aku sudah tidak bisa menunggu lagi, Mlle.Walter,” ujar M.Wandolf. “Baiklah, anak-anak. Sampai jumpa lagi minggu depan. Oh, ya. Seperti yang kukatakan tadi, hari Senin kita tidak ada kelas, karena aku akan ada di Owksward untuk mengikuti seminar. Jangan lupa kerjakan tugas yang kuberikan hari ini.”

M.Wandolf merapikan buku-bukunya di atas meja, meletakkan kamus tebal bahasa Prancis pada posisi yang paling bawah, berurutan ke atas buku-buku lain yang lebih kecil, hingga buku catatannya sendirilah yang akhirnya menempati kedudukan paling atas. Laki-laki gendut setengah botak itu beranjak dari kursinya dan mendekap buku-buku itu sambil berjalan keluar kelas.

Monsieur, tunggu sebentar!” Jessie berteriak, saking paniknya. “Kurasa Julie sakit hari ini, sehingga ia tidak bisa datang. Apa boleh aku meminta kompensasi, atau semacamnya?”

Jessie berusaha membujuk guru gendut itu dengan nada memelas. “Besok? Aku janji besok kami akan mengumpulkannya. Tepat waktu. Bahkan sebelum itu. Bagaimana, Monsieur?”

M.Wandolf menghela napas. Matanya memancarkan aura kebapakan yang menyenangkan, senyumnya nampak tulus yang tanpa ragu-ragu diperlihatkannya pada Jessie. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak bisa menjanjikan apa-apa.

“Sayang sekali, Mademoiselle. Bukannya aku tak mau menolongmu—aku mengerti situasimu saat ini—tapi mulai besok aku sudah tidak berada di Eastcult. Jadi aku sudah tidak bisa menerima tugas itu lagi,” terang M.Wandolf. “Kecuali kalau nanti Mlle.Light bisa datang sebelum aku pulang mengajar hari ini.”

Jessie sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tidak bisa menahan M.Wandolf lebih lama tapi ia pun juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Setelah memberikan ucapan terima kasih dengan hormat kepada M.Wandolf, ia kembali ke kelas dengan lemah lunglai dan wajah yang tidak bersemangat.

Berjalan satu langkah saja terasa begitu berat untuknya, apalagi menghabiskan seharian itu dalam kedongkolan karena kekonyolan dan keteledoran Julie.

Jessie baru saja akan menekan tombol speed-dial pada ponselnya ketika ia mendengar derap langkah kaki yang bergema di koridor kelas. Mendengar pola langkah kakinya, dan mendengar suara berisik yang khas dari sepatu yang dipakai orang itu, Jessie tahu siapa yang datang.

“Jessie!” teriak orang itu sesampainya di pintu kelas.

Tubuh gadis itu bercucuran keringat dan napasnya terengah-engah. Tampak di tangan kanannya tergenggam sebuah dokumen laporan tugas yang terbungkus plastik transparan, berwarna hijau, dan dijilid dengan rapi.

“ANAK SAPI!” geram Jessie.

Dahinya mengkerut dan wajahnya menjadi merah. Tangannya kirinya sudah mengepal keras dan tangan kanannya meraba-raba sesuatu. Ia sangat berharap ia tidak serta merta melempar papan tulis ke kepala anak itu sekarang. Paling-paling yang bisa dilemparnya hanyalah sebuah penghapus pensil.

“Kemana saja kau!”

Jessie menatap tajam pada Julie, sementara Julie—ditatap seperti itu—hanya nyengir malu-malu menyadari kalau dirinya memang tersangka yang sudah didakwa bersalah oleh hakim dan juri.

“Aku—ehm, eh—aku terlambat bangun. Maaaff!!”

Julie segera menghampiri Jessie dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

“Gila, Jess!” ujar Julie penuh semangat. “Aku baru bangun jam setengah sepuluh. Mom sebenarnya sudah membangunkanku sejak jam tujuh, tapi aku langsung tidur lagi sewaktu dia pergi. Aku tak tahu kenapa aku bisa semengantuk ini. Kurasa karena tadi malam aku menonton serial TV Inggris. Empat film sekaligus! Kau tahu kan, yang kemarin kupinjam di Zuppa’s Shop. Sinting, film-film mereka bagus-bagus banget, aku sampai—”

“Sudah selesai ceritanya?” potong Jessie.

Julie terdiam sejenak. Ia menyadari kalau ini bukan saat yang tepat untuk bercerita. Ia melihat Jessie menghela napas berkali-kali, memperlihatkan diafragmanya yang naik turun dengan ekstrim, menunjukkan kalau ia sedang mencoba untuk menahan diri agar kepalanya tidak meledak.

“Aku ini sedang marah, tahu! Bukannya mau mendengarkan ceritamu,” protes Jessie.

“Oh, maaf ya, Jess,” kata Julie.

Jessie masih tidak mengubah raut wajahnya.

“Baiklah,” Julie mulai merasa sangat bersalah. Tampaknya kecerobohannya hari ini benar-benar membuat Jessie marah padanya. “Kali ini aku yang salah, Jess. Aku memang bodoh. Tapi jangan marah padaku, ya. Please? Lain kali aku tidak akan terlambat lagi, deh. Janji.”

Masih merasa belum cukup puas, Julie menambahkan satu pernyataan lagi, “Kau boleh jambak rambutku sepuasmu, asal kau tidak marah lagi. Dan—”

Jessie menatap lekat ke arah Julie sambil menunjuk-nunjuk dokumen laporan tugas dengan map hijau yang sedang dipegangnya.

“Oh, ini?” ujar Julie. “Apa masih bisa dikumpulkan, ya? Kurasa jam pelajaran Prancis kita sudah habis. Benar kan?”

Julie memperhatikan pergelangan tangannya dan kemudian baru teringat kalau hari ini ia tidak membawa jam tangan. Akhirnya ia mendongak dan mengintip ke dalam ruangan kelas untuk meyakinkan diri kalau ia memang sudah melewatkan waktu jam pelajaran itu secara penuh.

“Masih,” jawab Jessie datar. “Kau, ke ruangan 305 di lantai 3. Beliau sedang mengajar di kelas itu sekarang.”

Julie tidak percaya apa yang didengarnya.

“Apa?” Julie terperanjat. “Kau tidak menyuruhku pergi ke sana sekarang, kan?”

Jessie melotot.

“Tentu saja! Kau dan laporan tugas kita. KE RUANG 305. SEKARANG.”

Jessie tampak serius dengan ucapannya.

“Sini tasmu.”

Jessie menarik tas biru berbahan kombinasi jeans dan beludru itu—pilihan Cassandra—dan meletakkannya di atas meja. Julie sebenarnya tidak menginginkan hal ini, tapi ia cuma bisa menyerah pasrah dan berjalan keluar kelas dengan langkah yang terseok-seok.

Julie menoleh ke belakang, menatap Jessie sekali lagi, berharap belas kasihan.

“Benar nih, sekarang?”

“Iya,” jawab Jessie datar.

“Tapi, aku—” kilah Julie, “Aku—Aku bisa mati, Jess.”

Julie menatap Jessie dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya terlihat menyedihkan, jelek dan kumal seperti sapi tua yang baru akan disembelih. Lebih buruk lagi, ia sekarang mulai merasa lututnya akan mencair.

“Kalau kau tidak ke kelas Prancis sekarang, aku yang akan membunuhmu,” ancam Jessie.

Julie tidak menyangka problematikanya berkembang menjadi serumit ini. Tadinya ia pikir, keterlambatannya hari ini hanya akan beresiko tidak boleh masuk sekolah—jika Mr.Bouncer tidak mengizinkannya masuk, setidaknya ia masih terbebas dari kelas Prancis. Tapi sekarang, pilihannya antara hidup dan mati.

“Jess…”

“Apa lagi?”

Julie menampakkan raut muka sedih, ingin menangis—meskipun ia tidak benar-benar ingin menangis. Dia hanya ingin Jessie bisa lebih sedikit berbaik hati padanya. “Paling tidak, kau temani aku ke sana. Please? Aku bisa mati kutu nih…”

Jessie melipat tangannya di depan dada. “Tidak.”

“Jess…”

“Tidak,” tegas Jessie. “Ini supaya kau jera datang terlambat, Julie. Dan, ini juga supaya kau bisa cepat dewasa. Ayoo cepaaaat,” ujar Jessie sambil mendorong tubuh Julie keluar kelas.

Setelah mereka sampai di luar kelas, mukanya yang tadinya seram langsung berubah menjadi ceria. “SEMANGAT. SEMANGAT. SEMANGAT. OK!?”

Jessie mengedipkan sebelah mata. Dengan ceria ia kembali ke dalam kelas dan merapikan buku-buku yang masih berserakan di atas mejanya—buku-buku yang tadi diusainya karena jengkel saat menunggu Julie.

Julie tertunduk lesu, meratapi nasibnya yang malang. Sesungguhnya ia menyadari kalau memang kesalahannyalah yang telah menyebabkan dirinya datang terlambat, dan tugas itu belum dikumpulkan juga. Tapi, menyuruhnya masuk ke kelas Prancis—bahkan kelas orang lain—adalah hukuman yang teramat sangat mengenaskan untuknya.

“Sial.”

Julie membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

8 thoughts on “06. Kelas Prancis

  1. Trus..?

    Tak sabar menanti Julie ketemu Richard di kelas Prancis. Bagus juga alurnya, dikira Julie tiba2 sekelas sama Richard, ternyata telat dateng dan mesti ke kelas lain. Great! 😀

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

    • Aku baru nyadar kalo salah naruh link.. Hehehe
      Sudah kuperbaiki. Trims Nindri! ^_^

      Update berikutnya sudah muncul yaa.
      Selamat membaca! 😉

  3. Ping-balik: 05. Pertemuan (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s