05. Pertemuan (2)

Comments 15 Standar

toonvectors-10199-140

Tepat setelah jam makan siang adalah kelas Musik, salah satu kelas favorit Julie setelah kelas Inggris. Kelas itu sangat menyenangkan. Dan Mr.Kennedy—guru Musik mereka, adalah guru terbaik sepanjang sejarah sekolah Nimberland.

Sayangnya, justru di kelas ini Julie tidak sekelas dengan gadis The Lady Witches manapun. Cathy dan Lucy di kelas Inggris, Kayla dan Cassandra di kelas Sejarah Dunia, sedangkan Jessie di kelas Biologi. Ini adalah satu-satunya kelas di mana Julie tidak sekelas dengan teman-teman satu gengnya, tidak satu pun dari mereka. Oleh karena itu, kericuhan ala The Lady Witches pun tidak pernah terdengar di kelas favorit ini.

Bisa jadi, justru itulah penyebab mengapa kelas ini jadi kelas favorit Julie.

Damai dan sejahtera.

Meskipun begitu, di kelas ini Julie sekelas dengan Nicholas White—Nick, anak laki-laki kelas sepuluh yang sedang disukai Jessie. Mereka berdua sering sekali menjadi partner dalam tugas-tugas kelompok. Kebetulan Nick cukup jago dalam bermain musik dan Julie, paling sukses dalam urusan menghibur.

Terutama berkat reputasinya yang terkenal di kelas Prancis. Reputasi itu benar-benar membantu.

Julie tidak pernah mengerti, tapi setiap kali mereka tampil di depan kelas orang-orang selalu saja tertawa. Bahkan, ini bukan di kelas Prancis. Entah apa yang aneh dari penampilannya, yang jelas berkat perpaduan yang kompak antara Julie Si Aneh dan Nick Si Jago Musik, kelompok mereka selalu tampil dengan hasil yang memuaskan.

Dan tentu saja, seperti yang The Lady Witches bicarakan tadi siang di daftar ‘Cowok-Cowok Terganteng di Nimber’ yang telah mereka buat, Nick adalah salah satu anak laki-laki yang tertampan yang banyak disukai oleh gadis-gadis Nimberland.

Nomor tiga tertampan di seantero kelas 10.

Nomor sebelas tertampan di seantero Nimber.

Rambut hitamnya yang lurus dibelah tengah serta bulu mata hitamnya yang lentik dan menarik, sangat terkenal di kalangan para gadis. Darah Spanyol mengalir deras dalam tubuhnya—berasal dari ibunya, pun membuat anak laki-laki ini semakin terlihat seperti Zorro, si ahli pedang yang tampan. Namun, sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang menarik—atau justru tidak—dari anak laki-laki ini.

“Nick,” bisik Julie.

Nick sibuk menata kertas-kertas partiturnya.

“Nick,” Julie berbisik sekali lagi.

Anak laki-laki itu tetap tidak mendengar Julie. Ia tampak serius dengan kertas-kertas partiturnya, memperhatikan kertas-kertas partitur itu dengan seksama, dan berusaha menyusun kertas-kertas itu sesuai dengan urutan simfoni yang telah diajarkan oleh Mr.Kennedy pada pertemuan sebelumnya.

“NICK.” Julie bersuara lebih keras. Kali ini ia sudah tidak tahan lagi. Bulu hidung Nick, benar-benar membuat perutnya geli. “Bulu hidungmu.”

“BULU HIDUNGMU.”

Bulu hidung itu berwarna hitam legam. Bentuknya agak keriting—ikal di bawah, sangat panjang, dan selalu saja menjulur keluar. Kadang menjulur di hidung sebelah kanan, kadang menjulur di hidung sebelah kiri. Bulu hidung itu terlihat berkibar saat Nick menarik dan menghembuskan napasnya.

Dan kata Jessie, bulu hidung itu sangat seksi.

“Kenapa, Julie?”

Nick menoleh. Ia akhirnya menyadari ada seseorang yang memanggil namanya, namun sayangnya tidak benar-benar mendengar apa yang tadi diucapkan oleh Julie. Terpaksa Julie mengucapkan hal menggelikan itu lagi.

“Bulu hidungmu.”

Mata Julie tidak bisa lepas dari bulu hidung Nick.

“Apa?”

“BULU HIDUNGMU.”

“Oh? Itu,” tukas Nick. “Kepanjangan lagi, ya?”

Nick mengorek lubang hidungnya dengan santai. Ia akhirnya menemukan selembar bulu hidung yang sangat panjang di lubang hidung kanannya, dan menyadari kalau bulu hidung itulah yang telah merusak mood Julie hari ini. Ia berusaha mencabutnya dengan ujung jarinya, lalu meringis kesakitan ketika telah berhasil mencabut bulu hidung itu. Kelakuannya terlihat menjijikkan.

“Sinting,” celetuk Julie.

“Tapi kau suka, kan?” goda Nick.

Julie mencibir. Wajah Nick yang tampan memang membuatnya pantas menduduki posisi kesebelas daftar ‘Cowok-Cowok Terganteng di Nimber’—Jessie sangat beruntung bisa mendapatkan hati anak laki-laki itu. Tapi sesungguhnya, kelakuannya yang jahil dan bulu hidungnya yang selalu menari-nari setiap kali ia bernapas itu benar-benar merusak nilai keseluruhan rapornya di mata Julie. Seratus delapan puluh derajat.

Terutama bulu hidungnya.

Yeah, tunggu saja sampai kiamat,” kilah Julie. “Aku heran. Kenapa Jessie bisa-bisanya berkencan dengan orang sinting sepertimu?”

Nick tertawa sambil mengupil. “Yah, begitulah. Aku pria pujaan wanita.”

Julie memonyongkan bibirnya.

“Pria pujaan wanita?” kata Julie skeptis. “Aku tahu. Kau pasti pakai vodoo. Iya, kan? NICK. Buang upilmu sana! Menjijikkan.”

Nick menyeringai.

Yeah, tapi sayangnya vodoo-ku tidak mempan padamu, Julie. Seandainya saja waktu itu kau tak menolak cintaku, pasti cinta kita akan bersatu,” kata Nick. “Sayang sekali, sekarang semuanya sudah terlambat, Julie. Kau tidak bisa memintaku kembali. Jiwaku ini sudah kupersembahkan hanya teruntuk Jessie-ku seorang.”

Julie melenguh frustasi.

“Wah! Melihat mukamu saja sudah bikin aku mau bunuh diri,” cetus Julie. “Serius. Bulu hidungmu itu lho. Minta dikepang.”

Julie berusaha berekspresi jijik dengan mengerahkan seluruh otot wajahnya. Tadinya ia berniat meniru ekspresi Cathy yang dramatis—tapi bukannya terlihat kesal, wajah Julie justru malah terlihat seperti badut sirkus yang sedang kena stroke.

Nick tertawa terbahak-bahak.

“Jangan salah!” kata Nick. “Justru berkat bulu hidung ini, aku jadi pria yang sangat tampan, sampai-sampai kau jatuh cinta padaku, ya, kan, Julie? Kenapa mukamu?”

Julie menjawab datar. “Jatuh cinta dari Hongkong.”

Nick mengedipkan sebelah matanya.

Tak lama kemudian, Mr.Kennedy memasuki ke kelas mereka dan memulai pelajaran musiknya. Kelas Musik hari ini menggunakan ruang kelas biasa, dengan kursi, meja, dan papan tulis—tanpa piano. Mr.Kennedy menggambar papan tulis dengan coretan-coretan not balok.

“Julie,” panggil Nick.

Julie melenguh lagi seperti sapi.

“Sore ini Jessie akan datang ke klub renang, kan?”

Julie  berpikir sejenak. The Lady Witches sudah membicarakan hal ini tadi siang. Sejak berminggu-minggu yang lalu, mereka sepakat ingin menonton pemutaran premiere film ‘Lie to Me’ di bioskop yang jatuh tepat pada hari ini. Dan dengan demikian, tentu saja Jessie harus membolos dari kegiatan klub renang.

“Tidak,” Julie menggeleng.

“Lho. Kenapa?”

“Hari ini Jessie akan dilamar.”

Nick terbelalak. “APA?”

Anak laki-laki itu terkejut setengah mati. Reaksinya tampak terlalu berlebihan, tapi sepertinya anak laki-laki itu memang benar-benar terperanjat. Kedua matanya melotot dan mulutnya menganga lebar. Wajahnya terlihat histeris dan sangat menyedihkan, pucat seperti ayam mati. Padahal tadinya Julie hanya ingin menggodanya saja.

“Bercanda.” Julie tertawa geli. “Hari ini kami mempunyai jadwal menonton film di bioskop. Dan sayangnya—tidak bisa tidak. Tidak boleh dibatalkan. Mutlak. Jadi, Jessie tidak bisa ikut klub renang hari ini.”

“Menonton film?” tanya Nick. Ia terlihat sangat lega. Ia memikirkan ide lain yang lebih menyenangkan. “Menonton denganku saja. Ajak Cathy sekalian.”

Nick menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-giginya. Seperti anak laki-laki lainnya, Nick juga termasuk anggota fans club penggemar Cathy. Ia sangat menggila-gilai gadis itu. Bahkan ia tak segan-segan mengutarakannya di depan semua orang.

“Oh iya. Jangan lupa. Kau tak boleh ikut,” sambungnya. “Jessie dan Cathy saja. Kalau kau tidak usah diajak. Tolong, ya Julie?”

“Heh,” Julie mendengus. Tawaran itu sama sekali tidak terdengar menguntungkan. “Well, begini saja, Nick. Kau yang antar aku ke sana. Kau tunggu di luar. Setelah kami selesai menonton, kau harus antarkan Jessie, Cathy, Kayla, Lucy, Cassandra, dan aku pulang ke rumah. Nah, nanti biar aku minta Jessie ceritakan sinopsis ceritanya padamu. Semua senang.”

Nick menyipit.

“Bagaimana kalau Jessie tetap ikut klub renang hari ini, Cathy ikut klub renang juga, aku ikut klub renang, kau yang menonton filmnya, dan besok kau tinggal ceritakan sinopsisnya ke Jessie, Cathy, dan aku? Nah. Adil, kan?”

Julie meringis pongah.

“Tidak. Mungkin.”

Nick menatapnya dengan sorot memohon. “Ayolah.”

Well. Kalau Jessie mungkin masih bisa dibujuk, tapi Cathy? Acara ini idenya, kau tahu? Perubahan rencana apa pun—ia bisa membunuhku,” kata Julie. Ia bergidik ngeri. “Lagipula, sekarang Cathy sudah punya pacar. Pacarnya pasti akan membunuhmu.”

Nick terperangah.

“PACAR?” Ia mengernyitkan wajahnya. Terlihat jelas di raut wajahnya bahwa ia sama sekali belum pernah mendengar berita terbaru itu. “Cathy sudah jadian dengan Richard?

Memang sudah menjadi rahasia umum di sekolah itu, bahwa Cathy sangat tergila-gila dengan Richard. Tidak hanya The Lady Witches, seluruh penduduk Nimber—siswa kelas sepuluh, kelas sebelas, dan kelas dua belas—tahu benar kalau sepanjang hari, sepanjang waktu, satu hal yang selalu menyedot seluruh perhatiannya di sekolah, membuatnya kehilangan kewarasannya, dan membuatnya terlihat seperti gadis depresi yang memiliki keterbelakangan mental, adalah seorang anak laki-laki yang bernama Richard Soulwind.

Sang Pangeran Tampan Bercahaya.

Dan sama seperti yang dirasakan oleh Julie, Nick juga menyangka kalau Cathy akan berakhir jadian dengan Richard. Tapi pada kenyataannya, perilaku gadis dramatis itu memang tidak pernah bisa diprediksi.

Julie tertawa.

“Bukan Richard, Nick. Pacar Cathy sekarang—Jake Williams, murid kelas dua belas,” ujar Julie menahan tawa, merapal dengan cepat. “Bintang sekolah kita dan ketua tim di klub basket Nimber. Kau pasti kenal kan?”

Nick bersungut-sungut.

Nama yang melegenda itu membuat nyalinya menciut dan hormon pertumbuhan bulu hidungnya langsung bereaksi. Samar-samar Julie bisa melihat bulu hidungnya yang panjang menjulur keluar lagi, kali ini di hidung sebelah kiri. Terlihat seperti sulur kacang panjang yang keriting dan menjuntai-juntai.

“Erhh! Bulu hidungmu itu—TUMBUH LAGI,” protes Julie, menatap jijik. “Aku serius, kau sebenarnya makan apa sih di rumah? Bulu hidungmu panjang-panjang begitu. ”

Nick pura-pura tidak mendengar.

“Sini kukepang.”

Nick biasanya selalu menghindar saat Julie hendak mengepang bulu hidungnya, tapi entah mengapa kali ini Nick malah diam saja. Julie justru bergidik ngeri sendiri saat menyentuh hidung Nick yang penuh komedo dan bulu hidung itu. Sialnya, aksinya itu tiba-tiba ketahuan oleh Mr.Kennedy yang kebetulan sedang memperhatikan tingkah laku mereka berdua.

“Nona Light,” ujar guru musik itu. “Sesuatu bukanlah sesuatu.”

Julie melongo.

Mr.Kennedy memang suka sekali menyebutkan kalimat-kalimat yang aneh sepanjang jam pelajarannya, dan jika kalian tidak menyimak pelajarannya dengan baik, kalian pasti akan terjebak dalam jebakan Batman di menit-menit berikutnya.

“Apa yang ada di pikiranmu sekarang?” tanya Mr. Kennedy dengan cepat.

Bulu hidung Nick bukanlah kacang panjang,” jawab Julie spontan.

Seisi kelas tertawa.

Julie menyadari ketololannya. Lagi-lagi, otaknya tidak bekerja dengan benar dan wajar. Keterbatasan syaraf otaknya yang memalukan itu kini kembali memakan korban.

Muka Nick langsung berubah menjadi sangat merah.

“Bulu hidung Nick?” Mr. Kennedy terkikih. “Judul lagu yang bagus, Julie. Idemu brilian.”

Sejujurnya Julie benar-benar tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini. Sementara itu, Nick hanya tersenyum masam.

“Sekarang, dengan metode aransemen chord yang telah kuajarkan tadi, setiap kelompok akan membuat sebuah lagu dengan judul ‘Bulu Hidung Nick Bukanlah Kacang Panjang,’ sebanyak dua bait saja. Setengah jam lagi kita akan berkumpul kembali dan bersama-sama mendengarkan hasilnya. Silakan memulai.”

Julie dan Nick saling berpandangan.

Bulu Hidung Nick Bukan Kacang Panjang,” ujar Nick, “—itu judul lagu terkonyol yang pernah kudengar seumur hidupku.”

Julie tersenyum miris. Baginya, judul itu memang judul yang sangat aneh, bahkan sama anehnya dengan bentuk bulu hidung Nick itu sendiri. “Setidaknya dalam sejarah Nimber, namamu pernah didedikasikan untuk sebuah lagu, Nick. Tidak perlu berterimakasih padaku.”

Nick tertawa.

“Sebagai gantinya, aku akan buatkan lagu yang terkeren sepanjang sejarah Kelas Musik Nimberland,” tukas Nick. “Dan yang penting bersiap-siap saja, kita pasti akan ditertawakan lagi di kelas. Kali ini, pasti benar-benar riuh. Fiuh, untung saja ada kau.”

Julie tidak tahu apakah pernyataan ini pujian atau celaan, tapi ia tidak benar-benar peduli. Buatnya, tampil dengan keren di Kelas Musik adalah hiburan yang menyenangkan di tengah penatnya pelajaran-pelajaran sekolah yang memusingkan dalam seminggu itu.

Apalagi besok ada kelas Prancis.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

15 thoughts on “05. Pertemuan (2)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Ping-balik: 05. Pertemuan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s