05. Pertemuan

Comments 5 Standar

cafeteria-clipart-vector-of-a-cartoon-woman-carrying-cafeteria-food-coloring-page-outline-by-ron-leishman-20566

Siang itu, kelima gadis The Lady Witches menghabiskan jam makan siang mereka dengan santai. Mumpung anggota keenam belum datang—Cathy Pierre, entah apa yang dilakukan gadis itu—Julie memanfaatkan kesempatan sebesar-besarnya menikmati siang itu dengan perasaan puas dan merdeka.

Tak ada Cathy, berarti tak ada topik tentang Richard—karena biasanya Cathy-lah yang selalu memulai topik pembicaraan nonstop tentang anak laki-laki itu.

Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah, menu makanan hari ini—dimsum. Julie sangat menyukai makanan itu seperti halnya ia menyukai fettucini carbonara, makanan favoritnya. Julie bersorak senang, mensyukuri betapa bahagia hidupnya siang itu. Semuanya terasa sempurna.

Sekarang mereka berlima sedang asyik membicarakan tentang Steve Addison dan Nicholas White. Dua anak laki-laki yang sedang disukai oleh Kayla dan Jessie.

Kayla berkenalan dengan Steve di klub paduan suara. Kebetulan Steve adalah salah satu senior kelas sebelas yang menjadi pelatih paduan suara untuk junior kelas 10. Akhir-akhir ini mereka menjadi semakin dekat—terlihat dari intensitas pertemuan mereka yang semakin sering—tampaknya Steve juga menyukainya.

Sementara itu, Jessie saat ini sedang dekat juga dengan Nick, teman satu klubnya di klub renang. Kemarin, anak laki-laki itu menawarinya tumpangan kendaraan sepulang sekolah, dan hal itu membuat Jessie geer setengah mati.

Kedua gadis itu sedang dalam keadaan berbunga-bunga sekarang.

Tidak perlu diragukan lagi, sejak awal perjumpaan mereka kedua anak laki-laki ini telah memikat hati mereka. Dua-duanya sama-sama keren dan—menurut gosip—termasuk anak laki-laki incaran gadis-gadis kelas 10 saat ini.

Mereka berdua juga termasuk ke dalam daftar ‘Cowok-Cowok Terganteng di Nimber’ yang dibuat oleh gadis-gadis The Lady Witches dalam beberapa minggu terakhir ini. Steve berada di urutan ketujuh, sedangkan Nick berada di urutan kesebelas. Pemegang urutan pertamanya adalah Richard Soulwind—tentu saja. Sementara itu, Jake Williams—sang senior idola, menempati urutan kedua.

Tidak seperti halnya peringkat kedua yang bisa ditentukan dengan mudah—semuanya setuju soal Jake Williams—penentuan peringkat pertama diperoleh dari hasil perhitungan suara yang berbeda, 5:1. Tidak perlu ditanya lagi, siapa orang yang paling ngotot menentang pemenang urutan nomor satu. Hingga saat ini, Julie Light tetap bersikeras menganggap kalau masih ada pria lain yang jauh lebih ganteng daripada Si Lampu Petromaks itu.

Mr.Bouncer.

Menurut Julie, Mr.Bouncer—satpam penjaga sekolah mereka—adalah pria tertampan di dunia yang paling pantas mendapatkan gelar ‘Cowok Terganteng di Nimber’. Mr.Bouncer tidak hanya baik hati—karena sering menyelamatkannya saat hampir terlambat masuk sekolah, kandidat pilihannya itu juga adalah seorang laki-laki dewasa yang bertubuh tinggi besar dan gagah, berotot tebal dan mantap seperti kuda, memiliki bibir mungil yang lucu, serta kumis mungil keriting yang sangat imut. Berbeda jauh dari Richard, Si Cowok Ganteng Standar, yang badannya kerempeng dan loyo, seperti balita kurang gizi.

Dan tentu saja, tidak ada yang setuju dengan pendapat Julie yang satu ini.

“Tebak! Aku punya berita apa??!”

Tiba-tiba Cathy datang dari belakang dan langsung menggebrak meja dengan keras, mengagetkan semua orang. Dimsum yang berada di sumpit Julie sampai terjatuh ke atas lantai.

“Cath! Kau menjatuhkan makananku!” teriak Julie. Ia meratapi dimsum berharganya, yang terlihat benar-benar enak.

“Aku berpacaran dengan Jake,” kata Cathy.

“Kau—Ap-p??”

Gadis-gadis itu terperangah.

“Aku jadian dengan Jake. Jake Williams. Senior kita yang super tampan itu,” kata Cathy. “Kemarin.”

“Haa?”

Jake Williams adalah senior idola yang pernah mereka bahas beberapa waktu yang lalu. Mantan pacarnya Emma Huygen, gadis kelas dua belas yang pernah melabrak Cathy. Setelah sekian lama dibicarakan, anak laki-laki itu akhirnya mulai mendekatinya dua hari yang lalu. Itu pun hanya sebentar. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun kalau Cathy akan berpacaran dengannya. Apalagi histeria Richard-holic yang selama ini selalu Cathy kumandangkan, membuat hal ini menjadi semakin mustahil untuk dibayangkan.

Ini benar-benar mengejutkan.

“Masa??” tanya Jessie.

“Tentu saja,” ujarnya sambil tersipu-sipu.

Sepintas Julie merasa ada untungnya dimsumnya tadi tidak jadi masuk ke mulutnya. Bisa jadi, pasti makanan itu langsung keluar lagi—dalam bentuk muntahan. Ini benar-benar aneh.

Tidak hanya Julie saja, teman-temannya yang lain pun masih tidak percaya dengan berita ini. Terutama Kayla.

“Kok bisa?” tanya Kayla penasaran.

Cathy tersenyum bangga.

“Kemarin malam, Jake mengajakku kencan. Kami pergi ke Raffletu Café. Tempatnya romantis sekali. Aku merasa bagaikan di adegan-adegan cinta film-film Hollywood. Dia memesankan sebuah candle light dinner untukku,” kata Cathy. “Jake tersayangku itu, dia sangat, sangat—”

Mata Cathy berbinar-binar.

“Romantis.”

Terdengar bunyi ‘huu’ secara bersamaan.

“Aku juga pernah candle light dinner,” kata Cassandra. “Dulu pernah sekali waktu aku makan dengan Ronald, di Birmingham. Dia sepupuku. Waktu itu dia mengajakku sambil—”

“Jangan komentar!” desis Cathy. Ekspresinya dingin dan ketus. “Belum dibuka sesi komentar.”

Cassandra langsung terdiam. Gadis-gadis yang lain cekikikan menahan geli.

Julie juga sempat dihardik Cathy kemarin. Itu gara-gara Julie merusak image ‘Selebriti Nomor Satu di Nimber’ saat Cathy bercerita tentang dirinya yang diwawancarai oleh klub koran sekolah. Julie menjelaskan kalau alasan mereka mewawancarai Cathy saat itu adalah karena kebetulan klub mereka memang sedang membutuhkan berita apa pun untuk menambal pojok iklan yang kosong. Berita apa pun. Termasuk berita tentang Cathy. Cathy langsung mengamuk seperti sapi gila.

Untung saja kali ini ia tidak memberi komentar apa-apa.

“Kalian tahu, tidak? Malam itu dia bertanya padaku apakah aku sudah mempunyai pacar? Tentu saja aku bilang yang sebenarnya,” kata Cathy sambil tersenyum malu. Ia menyapukan jemarinya di sela-sela rambut coklatnya yang indah, seperti membayangkan halusinasi yang paling menyenangkan.

“Aku mengatakan padanya kalau saat ini aku sedang dalam proses mencari cinta sejatiku,” lanjutnya. “Cinta dan gelora asmara yang belum pernah kutemukan.”

Cathy terkikih mendengar ucapannya sendiri. Gadis-gadis yang lain pun ikut tertawa geli.

“Pulang dari tempat itu, dia mengantarku dengan mobil birunya yang keren. Di tengah perjalanan, dia memutar lagu ‘Oh, My Love’ dan kemudian ia memintaku menjadi kekasihnya. Kalian tidak bisa bayangkan, kan??” Cathy menggigit bibirnya dengan gemas. “TOOO SWEEET! OHHH!!

“Dan kau langsung menerimanya?” tanya Kayla.

“Tentu saja!” Cathy merespon dengan cepat, tertawa dengan riang. “Dia kan ganteng banget.”

Julie berusaha mencerna berita ini dengan kewarasannya yang masih tersisa. Selama ini, ia selalu meyakini kalau Cathy pada akhirnya akan jadian dengan Richard, sang pangeran pujaannya itu. Tapi sekarang, Cathy malah jadian dengan Jake Williams—sang senior idola. Julie masih tak habis pikir bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi.

Dan satu hal lagi.

“Lalu Emma Huygen bagaimana?”

Tawa Cathy berhenti. Mukanya berubah menjadi tidak senang, tapi dalam sekejap berubah lagi menjadi sebentuk kepercayaan diri.

“Siapa?” Cathy mendengus. “Siapa takut?”

Sikap gadis itu berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan reaksinya beberapa hari yang lalu, sewaktu ia dilabrak Emma Huygen.

“Ah! Paling-paling kau menangis lagi,” timpal Jessie. Jessie lalu berpura-pura merengek dan meraung-raung seperti bayi.

“Ssshh.” Cathy menutup mulut Jessie dengan paksa, membuatnya jadi kesulitan bernapas. “Awas kalau kau bilang-bilang ke orang lain. Sudah kubilang, waktu itu aku cuma kelilipan.”

Julie menirukan adegan menangis tadi, menggantikan Jessie.

“JULIE!” seru Cathy. Ia berusaha menjambak rambut Julie. “Awas kau, ya!”

Bagi Julie, sebenarnya dengan siapapun Cathy berpacaran bukanlah suatu masalah. Mau dengan Jake Williams atau siapapun, sepanjang semuanya itu akan berujung pada satu akibat yang sudah lama dinanti-nantikannya, ia siap menerimanya dengan senang hati.

Hidupnya bisa kembali normal.

Akhir-akhir ini memang sudah kembali normal. Benar-benar seperti yang diinginkannya. Aman, tentram, tanpa gangguan.

Santai dan damai.

Dan sekarang, jumlah anak laki-laki yang mendekatinya pun sudah mulai berkurang drastis. Para anak laki-laki itu sepertinya sudah memahami kalau Julie memang bukan tipe gadis yang mudah ditaklukkan, sehingga lambat laun mereka mengurangi usaha mereka untuk mendekati Julie. Dan akhirnya, benar-benar bersikap seperti teman biasa.

Satu hal lagi. Soal Richard.

Sudah bukan masalah. Julie sudah mulai terbiasa menghindari anak laki-laki itu. Ia tak pernah bisa mengerti kenapa anak laki-laki itu selalu membawa aura yang mencekam untuknya, tapi ia berusaha menghindarinya. Berkat pengalaman sehari-hari, tubuhnya akhirnya telah terlatih secara baik untuk membentuk gerakan refleks yang begitu cekatan sehingga setiap kali matanya mendeteksi tanda-tanda keberadaan laki-laki itu, secara otomatis tubuhnya akan berbalik dan mencari arah yang berlawanan, tanpa lagi menimbulkan reaksi-reaksi yang mengkhawatirkan.

Julie pun telah mulai hapal titik-titik posisi duduk yang tak akan ada Richardnya. Kafetaria bukan lagi sebuah ancaman.

Gosip-gosip spekulatif akan hubungannya dengan Richard pun samar-samar mulai menghilang. Meskipun sedari awal Julie memang tidak pernah memperhitungkan gosip ini, tapi bisa terbebas dari olok-olok tak bermutu yang membuat telinganya gatal itu sedikit banyak jadi kabar baik juga buatnya.

Paling-paling yang hal-hal masih akan mengganggunya hanyalah obrolan remeh gadis-gadis, dan kelas Prancis—yang satu ini sih tidak akan ada habisnya. Tapi setidaknya, satu masalah akan selesai. Dengan munculnya kabar baik ini, Julie yakin masalah besar yang cukup mengusiknya itu, akhirnya bisa ikut menghilang.

“Jadi artinya sekarang kita sudah tidak perlu membicarakan Richard lagi, kan? Cathy sudah punya pacar sekarang.” kata Julie lega. “Dan akhirnya telingaku ini bisa beristirahat juga.”

Ternyata pendapat Julie ini tidak sepenuhnya benar.

“Lho?! Mana bisa begitu?” protes Kayla.

“Kami berempat kan masih ada,” timpal Jessie tidak setuju. “Meskipun Cathy sudah jadian dengan Jake, kami berempat kan belum jadian dengan siapa-siapa. Biar bagaimanapun, Julie, kami ini pengagum setia Prince of Sunshine.”

“Ya! Betul sekali!”

“SELAMANYA.”

Julie terhenyak. Ia benar-benar kehabisan akal melihat tingkah laku gadis-gadis ini. Ia semakin yakin kalau sepertinya dirinyalah satu-satunya anggota yang paling waras di antara kelompok mereka. Gadis-gadis ini, semuanya sinting.

“Kay! Kau kan sedang dekat dengan Steve!” cetus Julie. “Dan Jess! Kau bilang kau naksir Nick. Bagaimana kalian ini!?”

Julie ingat betapa ramainya mereka saat membicarakan kedekatan mereka dengan para anak laki-laki ganteng itu tadi. Dan sekarang mereka seperti lupa dengan ucapan mereka sendiri.

“Lagipula kurasa, tak ada perlunya sama sekali kita membicarakan dia setiap hari. Setiap hari!” kata Julie. “Kalian tidak bosan, apa?”

Julie menggunakan jurus ‘Tatap Mata Lawan Bicara’ ala Dale Carnegie, untuk meningkatkan efek dari persuasinya itu. Jurus ini pernah terbukti sangat ampuh, khususnya sewaktu dulu ia meminta dibelikan laptop baru pada ayahnya.

Kayla merenungkan ucapan Julie.

Untuk kali ini, ia merasa sependapat dengan gadis itu. Akhir-akhir ini ia memang sedang dekat dengan Steve dan menurutnya Steve adalah anak laki-laki yang baik dan menarik. Memang tidak setampan Richard, tapi Steve lumayan juga, dan yang terpenting—Steve sangat menyenangkan.

“Iya,” kata Kayla akhirnya. “Benar juga kata Julie. Buat apa kita terus-menerus membahasnya sepanjang hari.”

Julie bersorak.

“Kalau aku sih, fleksibel. Tidak tahu deh kalau yang lain,” kata Jessie. “Tapi sejujurnya, memang lebih asyik sih kalau kita ngomongin dia terus. Dia kan ganteng banget—LEBIH GANTENG dari Jake.”

Lucy mengangguk setuju.

Cassandra ikut memberikan pendapat.

“Kalau aku sih, daripada membicarakan soal Richard, aku lebih ingin jadi pacarnya saja.”

Tampaknya alurnya kembali kurang menguntungkan, tapi Julie optimis kalau masih ada peluang untuk mengembalikan alur situasi ini ke jalan yang benar. Ia bersiap-siap untuk mengeluarkan persuasi yang berikutnya.

“TIDAK,” bantah Cathy. “Yang akan jadi pacarnya Richard itu aku!”

Semua menoleh ke arah Cathy, tercengang. Tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar.

“Cath! Kau sudah pacaran dengan Jake,” protes Kayla.

“Iya, jangan rakus, dong!”

“Yang benar saja, Cath! Kami bahkan belum punya pacar sama sekali.”

Gadis-gadis itu bergemuruh.

Cathy menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.

“Oke, oke. Kalian tenang saja,” sahut Cathy. “Kalau begitu nanti setelah Richard Soulwind berpacaran denganku, aku akan segera memutuskan Jake Williams. Bagaimana? Adil?”

Tidak ada satu pun yang setuju dengan pendapat Cathy ini.

“Curang!”

“Cath! Kau tidak boleh curang begitu!”

“Iya! Harusnya kau ini jadi pacar yang setia, dong. Bukannya malah menelantarkan pacarmu setelah mendapatkan yang baru.”

“Apa kau tidak kasihan pada Jake? Itu sangat kejam, Cath. Mark saja sekarang sudah tak bersemangat lagi sejak putus denganmu.”

“Terserah.. Terserah.. Terserah..,” Cathy bersiul-siul sambil menutup telinganya.

Julie tiba-tiba teringat dengan dimsumnya yang terjatuh di lantai. Menu makan siang hari ini terlalu berharga untuk dilewatkan, apalagi menu dimsum hanya muncul satu kali sebulan di kafetaria sekolah mereka. Untuk mengganti dimsumnya yang terjatuh tadi, Julie merasa perlu untuk mengambil dimsum sekali lagi. Ia beranjak bangkit dari tempat duduknya.

“Cath. Aku mau mengambil dimsum. Mau ikut?” tanya Julie. “Kau belum makan, kan?”

Cathy menggeleng.

“Tidak. Aku sedang diet, supaya aku semakin cantik,” jawab Cathy. “Demi Jake tampanku tersayang.”

Ungkapan yang terakhir disebutkan itu masih terlalu janggal di telinga Julie. Biasanya, Cathy selalu menyebutkan nama Richard di setiap kalimat-kalimat romantisnya, dan sekarang sudah berganti nama menjadi—Jake.

Rasanya masih terdengar aneh saja.

Mungkin ia masih perlu membiasakan diri.

Julie tiba-tiba merasakan firasat aneh yang mengkhawatirkan. Sayangnya, ia sudah sampai di pertengahan antrian di depan etalase makanan ketika ia baru menyadari siapa yang sedang berada dua baris di depannya.

Orang yang tidak diharapkannya berada di dekatnya.

Richard.

Ia sama sekali tidak melihat orang itu tadi. Tadinya Richard terhalang oleh tubuh temannya yang sangat gendut dan tinggi besar yang ada di belakangnya, sehingga Julie tidak bisa melihatnya. Tapi sekarang, temannya yang gendut itu malah memotong antrian, memaksanya bertukar posisi.

Richard kini tepat berada di hadapannya.

Julie mengumpat dalam hati. Kakinya sudah bersiap-siap untuk bergerak, tapi ia menyadari bahwa sekarang sudah sangat terlambat. Kalau ia kembali ke mejanya sekarang, teman-temannya akan bertanya-tanya kenapa ia tidak jadi mengambil dimsumnya. Mereka akan melihat anak laki-laki itu dan membuat kesimpulan. Dan akhirnya, mereka akan mengetahui kalau selama ini Julie selalu menghindari Richard.

Kapan pun, di mana pun.

Ini terlalu berbahaya.

Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah berusaha bertahan di tempat itu, sampai akhirnya ia berhasil keluar dari antrian.

Julie bergerak maju. Sekarang ia sudah sampai di etalase, tapi dimsum sialnya itu masih ada di bagian meja paling ujung. Menunggu dan bergeser-geser ke samping sangat menyiksa buatnya, karena yang ada di sampingnya sekarang adalah ‘Orang Yang Paling Ingin Dihindarinya di Dunia Ini’ dan sejalan dengan arah pergerakan antrian, ia malah harus terus-menerus menghadap ke samping kirinya tepat di mana wajah Richard berada.

Mau tak mau, ia jadi harus memandang wajah itu.

Wajahnya membentuk siluet indah yang melekuk dengan sempurna. Hidungnya tajam dan lurus, seperti hidung seorang bangsawan. Tulang pipinya sedikit tinggi, namun ramping dan indah, menegaskan pesona dari pancaran mata birunya.

Bagian yang paling disukai Julie adalah bibir dan dagu Richard. Bibir itu tipis namun membentuk lekukan khas yang sangat renyah. Bersamaan dengan bentuk dagunya yang sedikit mencuat—yang entah bagaimana caranya malah jadi terlihat sangat menawan—seutas senyum tipis yang bertengger di bibirnya akan benar-benar akan menyihir siapa saja yang melihatnya.

Termasuk Julie.

Napas Julie menderu. Baru kali ini ia melihat Richard sedekat itu, dan baru kali ini juga ia bisa memperhatikan wajah Richard selama itu. Teman-temannya memang benar. Richard sangat tampan.

Sangat tampan.

Julie berusaha untuk mengontrol napasnya sendiri, menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan-lahan. Jantungnya berdetak tidak normal. Terlalu cepat, seperti akan meledak.

Julie menjaga jarak sejauh mungkin—sejauh yang ia bisa—biarpun itu artinya ia harus berdempet-dempetan dengan seorang gadis Asia yang sedang berdiri di dekatnya.

“Hei! Kau menginjak kakiku,”

Gadis itu mendorong Julie. Tubuh Julie menabrak Richard. Spontan Richard menangkap tangannya. Tangan itu terasa sedingin es di kutub utara. Julie menggigil kedinginan. Dengan segera ia menarik tangannya kembali dari tangan Richard.

Ini adalah hal terkonyol yang pernah terjadi dalam hidupnya.

“Maaf—maafkan aku,” kata Julie pada Si Gadis Asia. Ia tidak menggubris Richard, lebih memilih sibuk meminta maaf pada si gadis Asia dan memunggungi Richard.

Gadis itu tersenyum dengan ramah. “Tidak apa-apa. Lain kali, hati-hati, ya.”

Julie sebenarnya berharap gadis Asia itu marah padanya. Dengan begitu, ia bisa balik marah-marah pada gadis itu, membatalkan rencananya mengambil dimsum, dan keluar dari antrian tanpa perlu kelihatan mencurigakan.

“Kenapa kau tak marah?”

Julie tak menyadari kalimat ini keluar dari mulutnya. Ia pikir ia masih bergumam dalam hati.

“Kenapa aku harus marah? Tidak apa-apa, kok.” Gadis itu tersenyum lagi.

Julie menyadari ketololannya. Dengan segera ia memperbaiki situasi itu dengan bersikap seolah-olah ia memang sedang bertanya.

“Tapi aku menginjak kakimu.”

Gadis itu tersenyum lagi. “Tidak apa-apa. Aku tadi cuma kaget saja, kok. Aku juga minta maaf karena tadi sudah mendorongmu. Kau tidak apa-apa, kan?”

Julie menyengir seperti kuda. “Tidak apa-apa.”

“Baguslah. Mungkin sebaiknya kita harus meminta maaf pada anak laki-laki yang kau tabrak. Kalau tidak salah dia—”

Julie memotong cepat.

“Tidak. Dia tidak apa-apa. Aku rasa dia baik-baik saja.” Julie menyengir kuda. Ia malas sekali kalau pembicaraan ini akhirnya jadi pembicaraan tiga arah. “Oh, ya. Kenalkan. Aku Julie Light. Siswa kelas sepuluh.”

“Dalisay,” kata gadis itu. “Kelas sebelas. Aku murid baru di sini, pindahan dari Filipina.”

“Filipina?” tanya Julie. “Dalisay?”

Gadis itu mengangguk ramah.

“Kau pasti sangat pintar, Dalisay,” kata Julie. “Apa arti dari namamu? Itu terdengar sangat unik.”

“Tidak. Aku biasa saja,” jawab gadis itu. Suaranya benar-benar lembut dan ramah, seperti Kayla. “Dalisay adalah sebuah kata dari bahasa Tagalog yang artinya murni. Pemberian ibuku.”

Julie mengangguk kagum. “Keren.”

Mereka bercakap-cakap lebih banyak tentang program pertukaran pelajar yang sedang diikuti oleh Dalisay yang membuatnya akan berada di kota Eastcult selama satu semester. Julie mengutarakan betapa inginnya ia pergi ke Filipina suatu saat nanti, dan Dalisay dengan senang hati menawarkan diri menjadi guide untuknya. Menurut Julie, itu adalah ide yang sangat bagus yang memang sudah ia idam-idamkan sejak dulu.

Pergi ke Asia.

Selagi mereka mengobrol, ternyata mereka sampai di ujung etalase. Richard sudah tidak ada di sampingnya lagi. Julie segera mengambil dimsumnya dan berpamitan dengan Dalisay.

Julie berjalan kembali ke mejanya sambil mengawasi lokasi target yang harus dihindarinya. Ia memang tidak perlu melihat sekeliling. Dalam satu sapuan saja, matanya sudah bisa mendeteksi di mana Richard berada. Cukup jauh dari meja mereka. Ia segera membuang pandangannya.

Saat Julie kembali ke tempat duduknya, ia sudah disambut dengan heboh.

“JULIE!!”

“Kau tadi mengantri di sebelah Richard!!” ujar Cathy histeris. “Kenapa kau tidak mengajakku?? Kau mau enak-enak sendiri ya?? CURAAAANG!!!”

Julie mendengus.

“Enak-enak kepalamu. Gara-gara kau kan dimsumku jatuh.” Julie menanggapi antusiasme Cathy dengan wajah cemberut. “Lagipula, kau tadi kan sudah kuajak.”

Jessie tak kalah bersemangatnya.

“Bagaimana rasanya tadi, Julie? Fantastis, kan?”

Julie menjawab dengan datar.

“Biasa saja.”

“KYAA! Kalau aku jadi kau tadi, aku pasti sudah curi-curi kesempatan,” ujar Cathy.

Julie mendelik. “Memangnya kau mau apa?”

“Aku mau—“ Cathy melolong, cuping hidungnya membesar. “—BEGITULAH! Kau pasti tahu maksudku.”

Gadis itu tertawa.

Julie segera melahap dimsumnya sebelum dimsum itu jatuh lagi. Ia tidak mau mengantri lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Kalau kau memang sebegitu inginnya, kenapa tidak kau hampiri saja dia ke mejanya sekarang,” ujar Julie. “Jangan cuma teriak-teriak di telingaku. Tunjukkan padanya kalau kau memang suka padanya.”

Julie mengunyah dengan mulut penuh.

“Apa? Gila kau, ah. Nanti Jake bisa ngamuk-ngamuk,” tolak Cathy.

Julie terkikih.

“Jadi kau sudah punya pacar sekarang?” goda Julie. “Aku pikir kau lupa.”

Cathy mencibir.

“Tentu saja aku ingat.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

5 thoughts on “05. Pertemuan

  1. Sorry kak, g blas sms kakak
    yeyeye, akhirnya diupdate jg
    huh, dah lama ana nunggu nya

    aaa lucu, byangin julie nabrak richard
    mkin suka aku dg crita nya

    kak ayo update lg
    hwaiting
    bnr2 bikin ana pnsran dg lanjutannya

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Ping-balik: 04. Julukan (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s