04. Julukan (2)

Comments 8 Standar

school_crying

“Baiklah. Sekarang ceritakan pada kami apa yang terjadi padamu tadi.”

Segera setelah bel pulang berbunyi, Julie, Jessie, dan Kayla mengerubungi Cathy dan mengajaknya duduk di bangku taman. Cassandra dan Lucy sudah pulang lebih dulu. Cassandra sedang ada jadwal kursus kepribadian, sementara Lucy sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga. Mereka kini sedang menunggu penjelasan Cathy tentang apa yang dilihat Julie tadi siang.

“Aku dilabrak Emma Huygen,” ujar Cathy pelan.

Tidak seperti biasanya, Cathy terlihat tidak percaya diri dan mengatakannya dengan nada yang sangat lemah. Bibirnya mengerucut dan matanya menunduk lesu, menandakan kalau ia benar-benar tidak suka kejadian siang tadi itu.

Emma Huygen.

Gadis itu adalah gadis yang paling populer dari kelas dua belas. Julie pernah mendengar nama itu—sepintas lalu. Kabarnya, Emma sangat sering diutus sebagai duta sekolah dan menjadi ujung tombak dalam berbagai kompetisi akademis. Gadis itu tak hanya gadis yang cantik, tetapi juga sangat cerdas.

Benar-benar tipe gadis yang sangat ideal.

Meskipun begitu, sayangnya Emma juga dikenal sebagai senior yang berkelakuan buruk. Ia terkenal ketus serta semena-mena terhadap junior perempuan. Dua minggu yang lalu, misalnya, Julie mendengar kabar bahwa Tania Lawless sempat hampir ingin berhenti sekolah karena terus-menerus diganggu oleh Emma dan teman-temannya, hanya karena Emma tak suka mobil Tania menghalangi tempat parkirnya. Julie bersyukur karena tidak pernah bertemu dengan gadis itu secara langsung.

“Kau dilabrak?” tanya Jessie. Gadis itu mengangguk.

“Kenapa?”

Raut wajah Cathy langsung berubah drastis. Ia tersenyum dan mengambil sisir dari tasnya. Ia menyisir rambut, perlahan-lahan, sambil menikmati helaian-helaian rambutnya yang halus dan bergelombang. Terkadang ia terkekeh-kekeh sendiri, sambil melirik teman-temannya yang kebingungan.

“Cath,” tanya Kayla. “Kau sakit, ya?”

Cathy menggeleng.

“Aah, memang sulit hidup menjadi seorang gadis cantik,” keluh Cathy, menyesalkan kecantikannya yang melegenda itu. Ia berusaha terlihat depresi luar biasa dan menyeka dahinya yang tidak berkeringat.

Si Ratu Drama sudah kembali.

“Emma khawatir kalau aku akan merebut pacarnya,” lanjut Cathy. “Jake Williams, senior super ganteng yang kita bicarakan kemarin. Kalian ingat, kan?”

Kayla terperangah.

“Lho, bukannya mereka berdua sudah putus?”

Julie mengangguk mengiyakan, sambil menoleh ke Cathy berusaha untuk meyakinkan lagi. Ia ingat, kemarin mereka sibuk membahas soal Jake habis-habisan—satu hari libur bagi telinganya untuk beristirahat dari histeria Richard-holic yang melelahkan. Setidaknya gadis-gadis itu sudah punya idola baru.

“Dia mengancamku untuk tidak macam-macam dengan Jake. Heh, dia pikir dia itu siapa?”

Cathy mendengus dan mencibir.

Julie termenung sejenak. Ia tidak mengerti mengapa Cathy sampai perlu berurusan dengan Emma. Cathy memang sering membicarakan senior-senior tampan secara dramatis, dengan ekspresinya yang khas, seolah-olah para anak lelaki tampan itu adalah malaikat-malaikat indah yang sengaja diturunkan Tuhan dari surga untuknya. Tapi setahu Julie, Cathy sama sekali tidak pernah mengincar Jake.

Sudah jelas gadis itu tergila-gila pada Richard.

“Aku tidak mengerti,” kata Julie. “Kenapa juga dia khawatir? Kau kan tidak pernah menggoda Jake.”

Julie mengungkapkan rasa penasarannya. Cathy hanya menatapnya dengan bingung.

Julie lebih bingung lagi.

“Ha? Kenapa?”

Cathy menggelengkan kepalanya sambil berdecak heran. Ia memamerkan senyum termanisnya dan berkedip-kedip manja. Ia memainkan gulungan-gulungan rambutnya sekali lagi.

“Menurutmu?” kata Cathy.

Julie semakin tidak mengerti.

“Kay?”

“Wow. Kau bikin aku malu saja, Julie,” ujar Jessie pongah. Ia menepuk dahinya frustasi. “Masa yang begitu saja harus aku jelaskan?”

Kayla terkikih.

Julie merengut kesal. Rasanya kredibilitasnya sebagai makhluk yang berakal selalu runtuh setiap kali Jessie mencemoohnya.

“Aku bertanya pada Kayla. Bukan kau,” kata Julie.

Jessie mencibir dan Julie menggeram. Mereka bersiap-siap untuk bertengkar lagi.

“Hei, hei! Kalian. Sudah, sudah.”

Kayla mencoba memisahkan mereka berdua dengan lembut, seperti seorang ibu baik hati yang sedang mendamaikan kedua putrinya yang sedang berebutan boneka.

“Begini, Julie,” sambung Kayla. “Cathy memang tidak pernah menggoda Jake. Tapi, kita semua tahu kan, kalau Cathy sangat cantik. Setiap hari anak laki-laki selalu berbondong-bondong mendekatinya. Wajar saja kalau Emma khawatir kalau suatu saat Jake akan menyukainya.”

Penjelasan yang cukup sederhana. Julie tidak habis pikir mengapa otaknya yang tumpul tidak bisa sampai ke kesimpulan itu dari tadi.

“Maklumlah, Kay. Julie kan bodoh,” cela Jessie.

Julie menarik kuncir rambut Jessie.

“AARGH!”

Mereka bertengkar lagi.

“Oh ya. Cath” ujar Kayla tanpa menggubris mereka berdua. “Setelah kupikir sekali lagi, kurasa Julie ada benarnya juga. Kenapa Emma bisa sampai begitu khawatir? Apakah kau sudah sebegitu terkenalnya di antara para senior tingkat atas?”

Julie dan Jessie berhenti berkelahi.

“Ya. Seperti yang kau bilang, mungkin aku memang sudah seterkenal itu bagi mereka,” kata Cathy. Ia tersenyum puas, merasa bangga pada dirinya sendiri. “Kau tahu? Emma bilang, mereka mempunyai julukan untukku yang terdengar menjijikkan buatnya.”

Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian.

The Mesmerizer—Si Begitu Memukau.”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Jangankan Emma, aku saja mau muntah,” kata Jessie. Ia mempraktekkan adegan muntah yang pernah dilihatnya di TV, Julie mengikuti gerakannya. Kayla tidak bisa berhenti tertawa. Perutnya jadi benar-benar sakit karena menahan geli.

“Ya, ya, ya. Apalah,” ujar Cathy sinis. “Kalian cuma sirik. Kalian bertiga tidak secantik aku. Pangeran William pun akan langsung jatuh cinta begitu ia melihat wajahku yang begitu cantik memukau ini. Cathy Pierre—Si Begitu Memukau.”

Mereka tertawa lagi. .

“Oh, ya. Ngomong-ngomong—”

Cathy tak langsung melanjutkan kelimatnya. Ia memilih untuk menunda kalimatnya sebentar, dengan jeda waktu sekitar 20 detik.

“—yang  mendapat julukan bukan cuma aku. Ada beberapa orang lagi yang mendapatkan julukan. Mau tahu, tidak??”

Cathy memainkan intonasinya lagi. Sekarang ia bertingkah seperti seorang pembawa acara kuis yang menawarkan jawaban pertanyaan di babak bonus.

Trik lama.

“Tidaak,” jawab mereka kompak.

“Ah, payah.”

Seperti dugaan. Dengan tidak meladeni kelakuan konyolnya, Cathy justru membeberkan berita itu dengan lebih cepat.

“Mereka juga punya julukan untuk Richard. Pangeran kita,” kata Cathy. Ia berusaha mengucapkan kata ini dengan berdesah seksi. “Sunshine—sinar mentari.”

Sunshine?”

Julukan itu terdengar bagus. Setidaknya lebih bagus daripada julukan konyol yang tadi siang baru dibuat oleh The Lady Witches. Tapi Julie tetap punya satu julukan yang lebih menarik untuknya.

Anak Laki-laki dari Neraka.

Sunshine apanya?” cela Julie sambil tertawa terpingkal-pingkal. “Dia itu lampu petromaks.”

Gadis-gadis itu mempelototi Julie dengan wajah tidak senang. Tapi akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menggubrisnya.

“Cocok sekali. Sebaiknya ditambahkan lagi, jadi The Prince of Sunshine—Pangeran matahari,” ujar Kayla.

“The Prince of Sunshine! Oouuoohh,” ketiga gadis itu melenguh manja.

Julie benar-benar tak mengerti mengapa pembicaraan tentang Emma dan Jake ini tiba-tiba bisa beralih ke Richard. Sepertinya ia harus mulai bersiap-siap mendengarkan jenis pembicaraan yang membosankan itu lagi.

“Mereka juga punya julukan untukmu, Julie.”

“Aku?” Julie tersentak.

The Unbeatable—Yang tak tertaklukkan,” ucap Cathy.

Julie terbelalak. “Wow!”

Julukan itu membuatnya terdengar seperti legenda. Julie Sang Gadis Legenda sekolah Nimberland High School, sekolah yang paling terkenal di seantero kota Eastcult.

The Unbeatable.

Betapa kerennya.

Julie tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Lubang hidungnya mekar dan bibirnya tak henti-hentinya menyeringai bangga.

“Apa itu karena belum pernah ada seorang pun yang bisa menaklukkan hati Julie?” kata Kayla. “Julukan itu sangat cool, Julie. Sangat cocok untukmu.”

“Lebih keren dari punya Cathy,” ujar Jessie.

Cathy mendengus iri.

“Jangan keburu senang dulu, Julie,” kata Cathy. “Menurutku, julukan itu sama sekali tidak keren. Punyaku jauh lebih bagus. Lebih anggun. Lebih seksi. Buktinya saja, julukan ini sampai mengundang rasa khawatir para gadis, karena mereka semua takut aku merebut pacar-pacar mereka.”

Belum cukup puas, ia menambahkan satu pernyataan lagi.

“Dan sebenarnya, Emma tidak tertarik untuk mengganggumu karena—” Cathy tersenyum jahat.“—dia pikir kau ini lesbi.”

Tawa mereka meledak. Cathy, Jessie, maupun Kayla, mereka bertiga tertawa berguling-guling seperti orang sinting. Julie sudah pernah mendengar tuduhan ini sebelumnya.

“Tidak lucu,” kata Julie datar.

Cathy berusaha menahan tawanya. Sebenarnya Emma memang tidak pernah mengatakan hal itu, tapi gosip itu memang cukup panas beredar di Nimberland akhir-akhir ini.

“Jujur saja, Julie. Kadang-kadang aku juga pernah berpikir seperti itu, lho,” ucap Cathy. “Kau ini memang tidak suka pada laki-laki atau bagaimana?”

Kayla tertawa sambil mengayunkan tangannya. “Jangan tanya, Cath. Kau takkan pernah tahu jawabannya. Dia sendiri saja tidak tahu.”

Kayla memang benar.

Yeah. Aku juga tak tahu,” ujar Julie. “Aku tidak tertarik sama sekali pada mereka. Rasanya biasa saja. Dan aku juga tidak tertarik pada anak perempuan, oke? Yah, mungkin memang belum ada anak laki-laki yang menarik.”

“Belum?” tanya Cathy. “Anak laki-laki seperti apa sih yang kau suka? Bahkan yang setampan malaikat seperti Richard saja kau bilang standar. Gila.”

Richard lagi.

Yeah. Terserah,” kata Julie. “Yang jelas aku tidak tertarik pada satu pun di antara mereka. Aku juga tidak tahu kenapa.”

“Baguslah kalau begitu. Setidaknya, Richard-ku aman,” ujar Cathy sambil menyeringai sangat puas. “Walaupun aku juga yakin Richard tidak mungkin suka padamu.”

Cathy terlihat lega setelah ia menanyakan pertanyaannya itu. “Anak-anak banyak yang membicarakan kalian. Mereka berspekulasi kalau Richard akan berhasil menaklukkan hatimu. Ah, kalau aku sih lebih suka kau jadi lesbi saja, daripada kau jadian sama Richard.”

Julie tertawa miris. Dia juga sudah pernah mendengar gosip yang satu ini. Orang-orang di Nimber memang suka kurang kerjaan, sehingga mereka sering membuat gosip-gosip aneh yang cepat sekali beredar.

Dan seperti biasa, Julie tak mau ambil pusing. Lagipula ia rasa Cathy benar. Richard tidak mungkin suka padanya. Ini bukan hal yang penting.

“Kembali lagi ke topik,” ujar Kayla. “Jadi, apa yang akan kau lakukan terhadap ancaman Emma?”

Well. Emma?” kata Cathy. “Siapa Emma?”

Ia tertawa.

“Baiklah, jika kau mendadak menjadi amnesia,” timpal Jessie. “Emma adalah gadis yang membuatmu hari ini menangis. Emma Huygen. Jake Williams. Ingat sesuatu?”

Cathy meringis tak percaya.

“Aku? Menangis? Yang benar saja!”

Gadis ini tiba-tiba berakting seperti tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Ekspresinya terlihat jijik, dan mukanya seperti orang yang minta ditonjok. Julie, Jessie, dan Kayla bersiap-siap menyingsingkan lengan baju mereka.

“Ya, ya. Aku tadi memang menangis. Tapi itu cuma kelilipan. Itu saja. Aku tidak takut pada Emma. Dia jelek, aku cantik. Dia bau, aku wangi. Dia bodoh, aku pintar. Hey—kenapa kalian menatapku seperti itu?” ujar Cathy.

Cathy merasakan firasat buruk dari tatapan teman-temannya yang semakin menyeramkan. Mereka bersiap-siap akan menerkam dan mengacak-acak rambutnya, seperti yang biasanya mereka lakukan. Cemas akan rambutnya yang indah, Cathy akhirnya memutuskan untuk menawarkan jalan keluar yang menyenangkan.

“Baik, baik! Lupakan, lupakan,” kata Cathy dengan cepat, melambaikan gerakan tangannya sebagai simbol perdamaian. “Bagaimana kalau kita belanja saja? Hitung-hitung untuk melepas stress. Sayang sekali Lucy dan Cassandra tidak ada di sini. Tapi, kalian di sini untuk menghiburku, kan? Mari kita shopping!”

“Ayo,” sambut Jessie. Mukanya berubah menjadi sangat cerah. Mendengar kata BELANJA, mood ketiga gadis ini langsung berubah sangat baik. Cassandra telah melatih mereka untuk suka dengan kata BERBELANJA. Dan itu berhasil sangat baik. Bahkan walaupun gadis itu sedang tidak ada di sana sekarang.

“Kebetulan aku ingin membeli sweat shirt. Kay, kau harus membantuku memilihkan yang bagus.”

“Oke,” jawab Kayla. “Julie, kau ikut?”

Julie memandang aneh, seolah-olah itu bukan pertanyaan yang harus dijawab. “Tentu saja.”

 

BACA SELANJUTNYA >>

 

Iklan

8 thoughts on “04. Julukan (2)

  1. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    ceritanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    makinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

    update lg dong kak
    haha :paaaaaaaaa
    makinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

    update lg dong kak
    haha :p

    • Maaf baru sempat balas Hanaa, kemarin sibuk skripsi dan persiapan wisuda. ^_^
      Siip..! Udah ku-update banyak, yaa? Hehehe.. 😉

    • Terima kasih banyak, Gadis. ^__^
      Jangan lupa baca kelanjutannya ya.. Sudah ada update baru lhoo..
      Selamat membaca! 😉

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Ping-balik: 04. Julukan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s