04. Julukan

Comments 4 Standar

Basic RGB

Julie pikir tidak banyak yang tahu apa yang terjadi dengan masa lalunya di Springbutter. Keinginannya memulai lembaran hidup baru tanpa jejak masa lalu yang suram di Nimber itu ternyata tidak selalu berjalan mulus.

Karena iklim gosip di Nimber yang ternyata sangat kondusif, rumor dengan segera menyebar cepat. Semua orang di Nimber sekarang sibuk membicarakan apa yang membuat Julie sangat terkenal di sekolahnya yang lama. Mereka mulai membicarakan soal dua reputasi Julie yang ternyata sangat melegenda sejak bertahun-tahun lamanya.

Pertama—adalah reputasinya yang terkenal di kelas Prancis.

Kebodohannya di kelas Prancis adalah rahasia umum di Springbutter. Rahasia itu sekarang sudah tersebar luas di Nimberland dan menjadi lelucon yang menyenangkan. Tidak ada yang tidak tahu soal ini. Semua orang sekarang selalu menantikannya berbuat hal-hal aneh di kelas Prancis.

Julie tidak bisa berbuat banyak terhadap rumor ini. Ini adalah hal yang berada di luar kendalinya, sel-sel otaknya yang memalukan. Pada kenyataannya, Julie masih bisa bersyukur karena setidaknya di Nimber ia tidak perlu berurusan dengan toilet sekolah. Hingga hari ini, M.Wandolf memang belum pernah mencanangkan ide hukuman yang berbau toilet. Ia berharap mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi.

Hukuman terburuk yang pernah diterimanya di Nimber sejauh ini hanyalah membacakan buku teks pelajaran Prancis. M.Wandolf sangat suka memintanya mengucapkan bahasa Prancis, untuk dikoreksi bersama-sama di depan kelas. Dan Julie percaya kalau itu adalah bentuk hukuman yang efektif untuk membuatnya berubah menjadi iguana secara perlahan-lahan.

Reputasi Julie yang kedua adalah reputasinya yang terkenal di dunia percintaan.

Tidak hanya karena pesona anehnya misterius—yang entah mengapa bisa memikat anak laki-laki di tengah seluruh keterbatasan fisik dan kemampuan otaknya itu–hanya Teori Feromon Kayla yang bisa menjelaskan ini. Tapi di atas itu semua, ketidaktertarikannya pada siapapun benar-benar mengundang rasa penasaran. Setiap orang akhirnya bertanya-tanya apa yang terjadi pada Julie di sekolahnya yang lama, ternyata gadis itu pun telah mendapatkan banjir perhatian dari semua anak laki-laki Springbutter sejak kelas Tujuh. Tidak ada yang menarik perhatiannya–tidak satu pun. Bahkan playboy kelas kakap pun tidak berdaya menaklukkannya. Julie tetap menjadi legenda di Springbutter yang tidak pernah tertaklukkan, sampai akhir kelulusannya di Springbutter.

Daya tarik yang aneh itu sekarang mulai mempengaruhi para anak laki-laki di Nimberland High School. Cepat dan pasti, Julie memperoleh kepopuleran yang sama seperti yang dimilikinya di Springbutter dulu. Sebagai murid baru kelas Sepuluh, kepopulerannya langsung melesat seperti roket.

Entah bagaimana mulainya, akhir-akhir ini Julie jadi sering didekati senior-senior kelas Sebelas dan Dua Belas. Tom, Stanley, Mitch, Carl, Dion, Jim–dan lusinan senior lain yang bahkan Julie sudah lupa namanya–pernah mengajaknya kencan dan belajar bersama. Para anak laki-laki kelas Sepuluh sudah mengantri mendekatinya sejak awal semester pertama, tapi tak ada satu pun yang menarik perhatian gadis itu. Kadang-kadang Julie menerima permintaan perkenalan, tapi lebih sering gadis itu melarikan diri dengan berbagai cara.

Julie bisa saja memperkenalkan teman sekelasnya yang kebetulan lewat lalu ia segera menghilang dari peradaban, berpura-pura tolol, berpura-pura tuli, berpura-pura sakit perut atau mengganti topik–yang merupakan jurus andalannya.

Julie tidak pernah ambil pusing soal ini. The Lady Witches gengnya sering membicarakan ini, tentang bagaimana Cathy dan Julie menjadi selebriti yang sangat terkenal di Nimberland, tapi Julie selalu memilih untuk mengganti topik yang lebih menarik. Kehidupannya di Springbutter dulu sudah cukup kacau untuk dikenang selama-lamanya sehingga ia lebih menginginkan kehidupan baru di Nimber yang aman dan bebas masalah.

Bagi Julie, menghindari pembicaraan yang menjurus ke arah-arah situ sangat baik untuk masa depannya di Nimberland.

Sekarang Julie akan menemui Lucy untuk meminjam buku tugas Aljabar yang telah Lucy janjikan. Walaupun tidak sekelas dengan Lucy selama beberapa jam ke depan, jam kosong di antara pergantian kelas memungkinkan Julie untuk mendatangi gadis itu dan meminjam buku tugas Aljabar-nya untuk beberapa waktu. Julie hampir saja akan tiba di kelas Lucy saat seorang anak laki-laki berkacamata tebal menghampirinya.

“Julie,” kata anak laki-laki itu ramah. “Apa kabar? Senang bertemu denganmu lagi. Kau masih ingat padaku?”

Julie menyengir polos. “Tentu saja aku ingat. Jerry, kan? Yeah. Seperti biasa—luar biasa.”

Jeremiah Hunt—biasa dipanggil Jerry, wakil ketua klub koran sekolah yang kemarin dikunjungi oleh Julie bersama dengan murid-murid kelas Sepuluh yang lain. Jerry memiliki senyum simpatik yang biasanya tidak dimiliki oleh anak laki-laki yang bertipe geek seperti dia. Kemampuan bicaranya hampir menyamai Mitch—sang ketua klub, yang kemarin juga sempat mendekati Julie. Tapi Jerry memiliki ciri khas sendiri dengan gaya bicaranya yang sangat dewasa.

“Aku suka semangatmu,” puji Jerry sungguh-sungguh. “Semangat seperti itulah yang dibutuhkan oleh klub kita. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang bersemangat dan enerjik—visioner dan pekerja keras.”

Anak laki-laki itu memperbaiki posisi kacamatanya. Kacamata itu terlalu tebal, menyaingi ketebalan alisnya. “Aku menunggu namamu ada di daftar nama calon anggota,” kata Jerry mantap.

“Tentu saja ada,” jawab Julie. Gadis itu menyeringai seperti kuda. “Sebagai ketua klub. Menggantikan Mitch.”

“Apa?”

Jerry mengerutkan keningnya. Ia terkesiap, tidak menyangka akan mendengar jawaban itu dari anak baru yang baru saja dikenalnya. Pernyataan barusan mengubah seluruh kesan pertamanya terhadap gadis itu.

“Baiklah, Nona Ketua,” kata Jerry. Ia berpikir sebentar, lalu tersenyum nakal. “Mau melangkahi jabatanku, ya?”

“Jangan khawatir, Jerry. Saat aku menjabat sebagai ketua, kau akan kutempatkan di kolom masak-memasak,” kata Julie sambil tertawa.

“Coba saja kalau bisa,” balas Jerry.

Mereka mengobrol selama beberapa menit, saling berdebat tentang siapa yang lebih pantas berada di jabatan ketua klub koran sekolah, sampai akhirnya Jerry menyadari ada sesuatu yang harus dilakukan.

“Baiklah, Julie. Aku harus pergi dulu. Ada laporan yang harus kukirim ke Mitch siang ini,” kata Jerry. “Senang berkenalan denganmu. Kau sangat menyenangkan.”

Julie mengucapkan salam pada Jerry yang berlalu semakin jauh sambil terus tersenyum lebar. Klub koran sekolah adalah klub yang sudah lama diinginkannya. Meskipun kecerdasannya sangat-sangat terbatas, setidaknya ada satu hal di dunia ini yang bisa dikuasainya dengan baik.

Senyum Julie berubah beku ketika ia merasakan aura horor yang mencekik tenggorokannya. Ini adalah pertanda kalau ada Anak Laki-laki dari Neraka—julukan baru Julie untuknya—di dekatnya. Dalam hitungan sepersekian detik, ia menemukan anak laki-laki itu.

Richard Soulwind. Anak laki-laki itu sedang berdiri di muka pintu kelas Lucy dan berbicara dengan sang guru Prancis berbadan gemuk setengah botak. M.Wandolf yang tersayang. 

Dua malapetaka sekaligus!

Julie langsung berbalik arah secepat kilat, tapi ternyata Lucy telah melihatnya. Gadis itu melambai-lambai ke arahnya, menyebut namanya beberapa kali.

“Julie!” kata Lucy.

Julie pura-pura menoleh padahal ia masih berjalan menjauhi kelas Lucy.

“Ha,” gumam Julie. “Lucy.”

“Kenapa kau pergi lagi? Katanya mau meminjam tugasku?” tanya Lucy keheranan. “Aku baru saja selesai mengerjakannya.”

Julie ingin melontarkan alasan yang cerdas, tapi otak dan mulutnya tidak bisa diajak kompromi. “Umm,” gumam Julie. “Kalau nanti saja sepulang sekolah, bagaimana?”

“Tidak bisa, Julie. Sudah kubilang, aku ada urusan keluarga. Jadi, aku nanti minta izin untuk pulang di tengah-tengah pelajaran,” kata Lucy. “Lagipula, memangnya ada apa denganmu? Kenapa kau berubah pikiran?”

Julie mendesah. Tidak ada pilihan lain. Ia harus mengkambinghitamkan M.Wandolf dan Kelas Prancis dalam percakapan kali ini. Julie menarik Lucy dengan cepat.

“Lucy!” geramnya setengah berbisik. Ia menunjuk M.Wandolf yang sedang berdiri di pintu luar kelas. “Kenapa tak bilang padaku kalau kau ada di kelas Prancis??”

Lucy menoleh ke belakang dan ia melihat M.Wandolf. Ia melihat Julie lagi, yang tampak menderita. Ia tertawa kecil, menunduk memandangi tegel-tegel yang berjejer di kakinya.

“Maaf. Aku lupa.”

Julie mendesah lagi. “Kau ini. Masa hal sepenting ini bisa lupa? Apa yang akan terjadi jika M.Wandolf memanggilku dan memintaku mempraktekkan bahasa Prancisku di depan kelas kalian? Aku bisa mati.”

Lucy hanya tersenyum-senyum saja. Ia meminta maaf pada Julie dan meminta izin untuk kembali ke kelas. “Tunggu di sini, biar kuambilkan bukunya.”

Lucy berlari menuju kelasnya. Julie tak menoleh kembali ke arah kelas Lucy. Ia pura-pura bersiul dan menyapa beberapa orang tidak dikenal yang lewat di hadapannya.

“Ini dia,” ujar Lucy.

Thanks,” kata Julie,  menggeroyotkan bibirnya. “Lain kali jangan sampai lupa lagi. Kau tahu aku sangat tidak suka kelas Prancis.”

Lucy tertawa. “Baiklah.”

Julie segera kembali ke kelasnya, menghindar secepat-cepatnya dari sumber malapetaka itu.

Di tengah jalan, Julie berpapasan dengan Cathy. Matanya bengkak dan merah, menandakan kalau gadis itu baru saja menangis. Cathy juga sempat melihatnya, tapi gadis itu malah menunduk dan menjauh.

Ini sangat aneh.

Julie baru saja akan bergerak menghampiri gadis itu, yang semakin lama semakin menjauh, namun tak lama kemudian bunyi bel sekolah berdering. Kelas berikutnya akan segera dimulai.

Julie memutuskan untuk menunda ini hingga sepulang sekolah nanti dan bertanya padanya apa yang terjadi.

Ia hanya perlu bersabar sebentar.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

4 thoughts on “04. Julukan

  1. Wawawa makin seru !!
    Ayo kak, lngsung lnjut aj ketika julie dg richard 1 kelas.
    Wkwk
    bsok update lg ya kak
    please 😀

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Ping-balik: 03. Sang Pangeran (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s