03. Sang Pangeran (3)

Comments 12 Standar

Pada kesempatan berikutnya, Julie sudah tidak pernah bisa berpapasan dengan Richard lagi. Bukan kebetulan yang aneh, karena kejadian itu pun bukan suatu kebetulan.

Jika Julie melihat Richard dari kejauhan, praktis seluruh anggota tubuhnya membimbingnya untuk berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Dengan demikian, Julie tidak pernah lagi melihat Richard dari jarak dekat—kecuali hanya selama satu atau dua detik dalam sebuah kecelakaan yang tidak disengaja, sebelum akhirnya dia sadar kalau ada Richard sedang berada di sekitarnya.

Dan tentu saja, dengan berbagai macam alasan brilian yang muncul di otaknya saat itu, ia akan segera pergi menjauh. Sejauh-jauhnya.

Kafetaria adalah perangkap kematian untuknya. Jam makan siang menjadi saat-saat yang paling tidak ditunggu-tunggunya sekarang, karena setiap jam makan siang para The Lady Witches akan memesan kursi paling awal dan keluar dari kafetaria paling akhir, menghabiskan makanan dengan selambat-lambatnya agar bisa memakai tempat itu selama mungkin—setiap hari. Sebenarnya tujuan mereka itu hanya satu.
Mereka menanti selama itu karena ingin melihat Richard di kafetaria lalu menghabiskan sepanjang sisa jam makan siang itu untuk membicarakan, mengamati, dan mengagumi anak laki-laki itu.

Rutinitas seperti ini sangat menjengkelkan bagi Julie. Mereka saling berebut posisi duduk paling strategis yang paling enak untuk memandang Richard. Kebalikannya, Julie akan selalu memilih yang paling tidak tercapai Richard. Kalau bisa ia ingin tempat duduk yang paling pojok yang menempel ke samping dinding yang membentuk sudut 90 derajat dengan dinding lain yang berada di hadapannya. Pokoknya jangan sampai menghadap pintu masuk kafetaria, dan sedapat mungkin berada pada posisi yang selalu memunggungi Richard.

Julie tak selalu beruntung. Untuk sebagian besar kesempatan, ia memang selalu dapat posisi duduk yang paling bagus, sehingga matanya tak pernah menjangkau Richard. Tapi tak jarang juga ia bernasib apes. Richard duduk satu meja di depannya, di belakangnya, di samping kiri atau kanannya, bahkan pernah lebih apes lagi—Richard duduk tepat di sebelahnya—dalam meja yang berbeda.

Ia tak pernah menghabiskan makanannya jika ia mendapatkan posisi sial seperti ini. Bulu kuduknya merinding, otot-ototnya kram.

Julie tak mengerti mengapa ia merasakan perasaan yang aneh tersebut. Ia tak yakin apakah ia menyukai anak itu, sebab—berkebalikan dengan teman-temannya yang selalu meronta-ronta bahagia setiap kali bertemu dengan Richard—entah mengapa berada dekat-dekat Richard membuat perasaannya menjadi sangat tidak nyaman.

Alih-alih membuat pingsan atau histeris seperti yang dirasakan gadis-gadis lain, keberadaan Richard di sekitarnya justru hanya membuatnya merasa stress tanpa alasan. Rasanya seperti ada aura negatif jahat yang menyelubunginya, mencengkram tubuhnya, dan mengikatnya dengan siksaan-siksaan batin tanpa akhir.

Julie tidak pernah mengatakannya pada siapa pun—semua hal tentang Richard dan tetek bengek remeh lainnya yang ia rasakan. Apalagi ke para gadis The Lady Witches. Ia akui, ia memang tolol, tapi setidaknya ia tidak cukup tolol untuk melakukan aksi bunuh diri dengan cara membocorkan rahasia tersebut. Mereka pasti ngamuk-ngamuk kalau mereka menemukan kalau Julie telah menjatuhkan citra pangeran tampan sempurna pujaan mereka.

Tidak.

Ini sama dengan bunuh diri, pikirnya.

Tapi, meskipun begitu, Julie tidak pernah habis pikir mengapa gadis-gadis ini tidak pernah berani untuk melakukan aksi nyata untuk menyatakan perasaan cinta pada Richard. Tidak satupun dari mereka yang melakukannya—bahkan tidak juga Cathy. Meskipun mereka suka membicarakan anak laki-laki ini sepanjang hari, tapi Julie menduga kalau sepertinya rasa suka itu hanya sampai batas kekaguman saja. Mereka tak jarang juga membicarakan anak laki-laki lain di Nimberland.

Meskipun, tentu saja tidak ada topik yang lebih sering dibicarakan daripada Richard Soulwind.

Dan dari kelima gadis itu, mungkin yang paling obsesif adalah Cathy. Ia lebih sering melakukan pendekatan-pendekatan langsung pada Richard—sementara yang lainnya tidak pernah sama sekali—hanya saja, sepertinya Richard tipe laki-laki yang pendiam dan tertutup, sehingga sulit bagi Cathy untuk menembus pertahanannya. Meskipun demikian, Cathy tidak pernah kehilangan semangat untuk tetap mendekati Richard. Ia percaya, suatu saat nanti Richard pasti akan bertekuk lutut padanya.

Jika teringat pada itu, Julie sering tertawa sendiri. Ia merasa Richard sedikit banyak mirip dengannya, dalam hal pertahanan dan daya tariknya yang membuat lawan jenisnya terus-menerus mendekatinya. Kalau Richard sih, Julie masih memaklumi dan mengerti mengapa hal tersebut bisa terjadi, sebab Richard itu tampan luar biasa, dan juga pintar. Wajar saja ia menjadi lebih pemilih dan banyak gadis yang mengantri untuk jadi pacarnya.

Cathy Pierre juga bernasib sama. Banyak anak laki-laki yang berbondong-bondong ingin jadi pacarnya, sementara Cathy tak pernah menerima mereka, karena satu-satunya yang paling ia inginkan sebagai pacar adalah Richard Soulwind.

Akhirnya, Julie justru tak mengerti mengapa ia bisa disejajarkan dengan mereka berdua. Padahal, dari segi fisik ia menyadari kalau penampilannya sama sekali tidak menarik, apalagi dari segi intelektual—semua orang sudah tahu bagian paling memalukan dari keterbatasan otaknya. Julie—dan Jessie—pernah membuat sebuah hipotesa. Mungkin semua laki-laki di dunia yang pernah menyukainya telah terkena radiasi matahari yang merusak beberapa sel syaraf otak mereka. Akibatnya, mereka jadi tidak bisa membedakan yang mana gadis yang mengagumkan dan yang mana yang tak punya nilai pesona—alias Julie.

Tentu saja ini adalah pengecualian untuk Richard dan Cathy. Tak perlu sinar radiasi kosmik untuk membuat orang-orang di sekitar mereka menyadari betapa menawannya mereka. Mereka berdua adalah pasangan yang sempurna. Cathy Pierre secantik bidadari dan Richard Soulwind—harus diakuinya—benar-benar tampan. Hanya masalah waktu saja sampai akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.

Julie sendiri merestui perjodohan itu, karena biar bagaimana pun, mereka sangat cocok jika bersama-sama. Kalau mereka menikah dan punya anak, pasti anaknya akan terlihat luar biasa sempurna seperti ayah dan ibunya.

Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya.

Ia alergi pada Richard.

Kalau Cathy berpacaran dengan Richard, bisa-bisa Julie jadi harus sering bertemu dengan anak laki-laki itu saat Cathy mengajaknya berkenalan dengan geng The Lady Witches mereka. Apalagi, gadis itu paling tahu bagaimana cara mendramatisir kehidupannya seperti adegan telenovela. Gadis itu akan menempel dengan anak laki-laki ini sepanjang hari dan membicarakannya sepanjang waktu, dengan intensitas yang semakin menjadi-jadi.

Padahal—seperti yang diyakini Julie sekarang, pertemuan dengan Richard dan pembicaraan tentang Richard adalah hal-hal yang sangat ingin dihindarinya. Ia benar-benar tidak bisa dekat-dekat dengan laki-laki itu. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuatnya seperti mau mati. Apalagi kalau harus bertatap muka setiap hari.

Tapi—berhubung hal itu masih belum terjadi—Julie tidak mau ambil pusing. Hidupnya terlalu berharga untuk memusingkan hal-hal remeh semacam itu. Baginya, jauh lebih seru memikirkan bagaimana ia akan menikmati hari-harinya di Nimber hari-hari ini, karena semakin lama aktivitas-aktivitas di sekolah terasa semakin menyenangkan.

Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera bergabung dengan klub sekolah favoritnya.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

12 thoughts on “03. Sang Pangeran (3)

    • Hehehe.. Makasih, Ikaa.. ^__^
      Tenang.. Dalam waktu dekat ini, update-nya bakal lebih sering lagi, kok.. Hehehe..
      Ditunggu, ya! 😉

  1. huaaaaaa
    #nangis d pojok kamar

    ane telat ane telat
    tp g ap2
    yg pnting ane bs bca
    haha
    makin bgus crita ny kak

    ayo lanjutt, jgn lama2
    fighting

  2. Kak, aku suka banget loh cerita,,,,,
    seru, kocak, unik menraik dsb lah,,,,,

    kak kpn nich lanjutannya di update,,,,
    penasaran bngt nih!!!!

  3. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  4. Ping-balik: 03. Sang Pangeran (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s