03. Sang Pangeran (2)

Comments 4 Standar

clutter-clipart

Julie bertemu lagi dengannya di koridor sekolah.

Dari kejauhan, muncul seberkas sinar terang berwarna putih kebiruan yang begitu mudah dideteksi oleh indra penglihatannya, yang bahkan sudah bisa ditangkap dari ujung matanya. Julie dengan segera langsung mengenali sosok bercahaya itu.

Richard Soulwind.

Meskipun tak pernah menyatakan ini pada teman-temannya, sejujurnya Julie mengakui pada dirinya sendiri kalau kesan pertama yang dilihatnya pada anak laki-laki ini memanglah menarik. Baru kali ini ia melihat seorang anak laki-laki yang memiliki aura ketampanan yang sekuat itu.

Julie memang baru sekali saja melihat wajahnya, di kafetaria. Saat itu ia hanya sempat melihat Richard selama beberapa detik—itu pun dari kejauhan. Dan tentu saja, Julie sendiri telah memutuskan untuk melarikan diri dari situasi tersebut. 

Kehadiran Richard secara ajaib telah mengubah situasi normal jam makan siang mereka. Dalam waktu singkat, The Lady Witches bertransformasi dari sekumpulan gadis-gadis normal yang mencintai kehidupan sehari-hari mereka yang seru, berubah menjadi sebuah fans club gila pemuja Sang Pangeran Tampan Bercahaya.

Dan itu membuat perutnya mual.

Julie sempat hampir berpapasan dengan Richard beberapa kali, ketika ia sedang bersama-sama dengan teman-teman satu gengnya. Namun, kehebohan gadis-gadis itu dalam menanggapi setiap kemunculan Richard di sekitar mereka benar-benar membuat perutnya semakin mual. Cathy, Kayla, Jessie, Lucy, Cassandra,  semuanya saling berebutan ingin melihat Richard. Dan Julie—tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menguap dan membersihkan kotoran di ujung kukunya.

Sekarang Julie ingin memanfaatkan kesempatan kali ini untuk memperhatikan wajah anak laki-laki itu dari jarak dekat. Mumpung ia sedang sendirian. Kalau saja ada teman-teman The Lady Witches-nya saat ini, gadis-gadis gila itu pasti akan mengganggu observasinya dengan teriakan-teriakan histeris mereka yang menyebalkan.

Ini memang saat yang paling tepat, pikirnya.

Julie berjalan santai sambil bersiul-siul. Kebiasaannya yang tak pernah bisa diam—ia memang suka berjalan sambil sibuk mengamat-amati sekelilingnya—membuat misi penyelidikan kali ini menjadi sedikit lebih mudah. Ia dapat mengerling sekejap ke sana dan ke mari—pura-pura menyapa Veronika, pura-pura menghitung jumlah pilar bangunan sekolah, pura-pura mengagumi ruang kelas Biologi yang baru saja dilewatinya—tanpa perlu takut ketahuan kalau sebenarnya target utama yang diincarnya adalah anak laki-laki misterius itu.

Anak laki-laki itu terlihat semakin mendekat. Julie bersiap-siap untuk mengamatinya dengan seksama.

Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang aneh yang menggerakkan tubuhnya sekarang. Seolah-olah terdapat medan magnet di antara mereka berdua, yang menghasilkan gaya tolak-menolak.

Julie tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri.

Julie merasa tubuhnya terdorong ke belakang, seakan-akan berjalan mundur itu terasa jauh lebih gampang daripada bergerak maju. Kakinya terasa berat sekali.

Ia juga kesulitan menggerakkan kepalanya sendiri. Semakin dekat jarak anak laki-laki tersebut dengannya, semakin berat pula kepalanya diarahkan untuk melihat fokus ke anak tersebut. Mata biru Richard terlihat sangat menyilaukan, mengacaukan semua usaha Julie untuk meliriknya, karena setiap kali ia menatap mata itu, ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak berpaling—saking silaunya.

Julie pun merasa kesulitan menggerakkan kedua matanya. Setiap kali matanya akan melihat ke arah depan, otot-otot bola matanya tiba-tiba bergerak mundur lagi ke belakang. Ketika mencoba untuk menggerakkan matanya ke sebelah kanan—posisi di mana anak itu berada—tubuhnya menghadap ke kiri dengan sendirinya tanpa diperintah olehnya, dan matanya kalau tidak melihat ke bawah pasti akan mencoba menangkap objek lain di sebelah kiri.

Sekarang, anak laki-laki itu berjalan ke arahnya. Sebentar lagi mereka akan berpapasan. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.

Sedikit lagi.

“Biancaa! Haai..!”  Julie melihat Bianca baru keluar dari kelasnya. Gadis itu terlihat segar dengan rona merah di kedua pipinya. Entah bagaimana caranya, Julie sekarang malah berbincang-bincang asyik dengan Bianca dalam posisi yang memunggungi Richard.

Persis di saat Richard berada tepat di sebelahnya.

Julie pun terus-menerus mengobrol dengan Bianca sampai Richard tak terlihat lagi. Dan semua itu terjadi di luar kesadarannya. Secara ajaib, seluruh anggota tubuhnya bisa berkoordinasi sendiri melakukan gerakan-gerakan yang aneh, sebelum sempat berkompromi dengan otaknya.

Trik Pura-Pura-Memperhatikan-Segala-Sesuatu Julie pun gagal total.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

4 thoughts on “03. Sang Pangeran (2)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Ping-balik: 03. Sang Pangeran | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s