03. Sang Pangeran

Comments 11 Standar

8b65e91d67031e0ae88cb17d561c8f48

Sudah lebih dari satu minggu Julie bersekolah di Nimber. Manajemen waktunya agaknya sedikit membaik, setidaknya ia tidak pernah telat lagi selama beberapa hari terakhir—meskipun seringkali datang tepat pada detik-detik penghabisan. Dan sekarang—selain Jessie, Kayla, dan Cathy—kini Julie mendapatkan dua orang teman baru lagi.

Si Pintar—Lucy Stone. Dan Si Modis—Cassandra Taylor.

Lucy Stone, gadis bertubuh kecil yang berambut pirang lurus berponi dan memakai kacamata. Julie berkenalan dengannya di kelas Aljabar. Lucy selalu saja menolong Julie saat ia kesulitan mengerjakan soal-soal Aljabar yang memusingkan. Bahkan tidak hanya di kelas Aljabar, Lucy juga suka membantunya mengerjakan PR-PR yang lain, dengan prestasi yang sama baiknya.

Lucy tidak banyak bicara, tapi sangat sering tersenyum atau tertawa. Ia gadis yang agak pendiam dan rupa-rupanya juga sangat pemalu. Misalnya, setiap kali ia tertawa ia selalu menyentuh bibirnya sambil menunduk.

Cassandra Taylor adalah gadis yang berwajah lokal. Rambut pirangnya benar-benar keriting, senantiasa dihiasi berbagai jenis hiasan rambut yang diperoleh dari toko aksesori milik ibunya. Pergelangan tangannya pun tidak pernah sepi dari aksesoris yang serasi dengan warna pakaiannya. Kepribadiannya tidak terlalu menonjol, tapi secara keseluruhan ia adalah gadis yang berpenampilan sangat menarik dan sangat modis—bahkan jauh lebih modis daripada Si Cantik Jelita, Cathy Pierre.

Cassandra biasanya sangat lihai memilih barang-barang bagus dengan harga yang murah. Entah kenapa barang-barang murah yang dipilihnya selalu terlihat mahal dan keren, dan Cassandra selalu berhasil menawar harga barang sampai ke angka yang tidak masuk akal. Kesenangan dan kepiawaian gadis itu berbelanja rupanya benar-benar bermanfaat bagi mereka. Belanja jadi terasa semakin menyenangkan.

Bahkan Julie pun sekarang jadi ikut-ikutan suka belanja.

Dan sejak tiga hari yang lalu, para gadis ini membentuk sebuah geng yang mereka namakan The Lady Witches–Wanita-wanita Penyihir.

Awalnya, Cathy menginginkan nama The Lady Bitches. Ia memaksa semua orang untuk menerimanya secara membabi buta. Menurutnya, nama itu sangat seksi. Cocok sekali untuk menggambarkan kepribadian mereka yang seksi.

Usulan ini tidak diterima oleh gadis-gadis lainnya.

Lucy mengusulkan nama Smart Fun untuk nama geng mereka—plesetan dari kata smart phone—tapi usulan itu serta merta ditolak oleh Julie. Menurutnya, sebuah geng dengan nama yang mengandung kata ‘smart’ seharusnya tidak punya anggota yang sangat bolot di kelas Prancis.

Semuanya setuju dengan pernyataan Julie.

Kayla sebenarnya punya ide yang lebih baik lagi. Fame Us—Kita Terkenal. Simpel tapi keren. Kelima gadis itu sangat menyukai nama ini. Tapi Cathy tidak menyukainya. Ia bersikukuh menganggap nama itu terlalu pasaran dan terlalu membosankan.

Menurutnya, The Lady Bitches masih jauh lebih seksi.

Gadis-gadis itu tetap tidak menyukai usulan Cathy dan mereka memutuskan untuk menerima ide Kayla. Mereka bahkan sempat memakai nama Fame Us di sekolah selama setengah hari. Tak lama kemudian, Cathy ngambek dan mogok bicara selama seharian. Dia benar-benar diam tidak bergerak dan menghabiskan setengah hari itu dengan raut wajah yang ditekuk yang terlihat sangat mengesalkan.

Akhirnya Kayla memutuskan untuk mengalah. Hari itu nama geng mereka akhirnya berganti menjadi ‘The Lady Bitches’—sesuai dengan nama yang diusulkan oleh Cathy. Tapi Kayla mengajukan satu syarat.

Dia harus mengganti satu huruf. B dengan W.

Cathy menerima negosiasi itu.

Dan siang itu mereka berkumpul lagi di kafetaria. Sudah menjadi aktivitas rutin di geng mereka sekarang bahwa pada jam makan siang mereka selalu membuat laporan harian untuk dibahas dan ditertawakan bersama-sama.

Kali ini adalah giliran Cathy yang akan menyampaikan laporan hariannya. Ia berusaha tampak senang dan muram dalam waktu yang bersamaan, yang membuat wajahnya jadi terlihat aneh sekali.

“Kenapa kau, Cath?” ujar Julie kebingungan. “Sakit jiwa?”

Julie ingat pertemuan pertamanya dengan Cathy seminggu yang lalu. Gadis ini terlihat sangat bergairah dan suka sekali mencari perhatian. Dia benar-benar dramatis, seperti seorang aktris yang sedang berakting di panggung. Tadinya Julie pikir, mungkin ini disebabkan karena Cathy ingin menciptakan kesan pertama yang menarik di awal perkenalan mereka. Tapi setelah bergaul dengan gadis ini selama beberapa hari, Julie baru menyadari kalau gadis ini memang selalu bersikap dramatis sepanjang waktu.

Setiap hari.

Cathy hanya menyengir saja. Ia belum mengatakan apa-apa, tapi tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang menggelikan. Setelah menelan satu suapan makan siangnya, akhirnya ia angkat bicara.

“Aku tidak sakit,” ucapnya dengan nada berlebih-lebihan. Ia memegang dadanya dengan wajah yang terpukul campur bahagia. “Hatiku yang sakit. Sakit karena sedih dan senang. OHHH!!

Gadis-gadis itu mengalihkan perhatian mereka ke piring-piring mereka, pura-pura tidak melihat. Julie pun melanjutkan menikmati spaghetti-nya. Suasana berlangsung dengan sunyi dan senyap.

Cathy memang suka membawa berita yang aneh-aneh. Tapi Julie dan teman-temannya telah belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Cathy selalu menunda berita dan mengulur-ngulur waktu untuk membuat kesan dramatis. Selalu saja begitu. Satu-satunya cara untuk membuat ia langsung bercerita adalah dengan pura-pura tidak tertarik pada sama sekali.

“Payah! Nggak romantis,” protes Cathy.

Jessie sesekali mencomot kentang gorengnya Julie, padahal kentang gorengnya sendiri sebenarnya masih cukup banyak. Mereka berdua pun bertengkar gara-gara hal sepele itu.

Cathy menyadari dirinya sedang diacuhkan, tapi tidak putus semangat untuk menarik perhatian mereka semua. Ia tetap melanjutkan ucapannya dengan kata-kata yang menggoda dan mengundang rasa penasaran. 

“Baiklah. Aku punya dua berita,” kata Cathy. Ia berbicara dengan gaya menggoda sambil menggebrak meja.“BAGUS, yang satunya lagi berita buruk. Jadi, kalian pilih yang mana??

Jessie menghela napas panjang“Kami tidak punya waktu untuk bermain-main, Cath. Kau tahu kan kita semua sudah berumur 15 tahun?” kata Jessie. “Kalau kau ingin menceritakan sesuatu, cepat katakan apa maksudmu. Kau tahu? Tanpa basa-basi.”

Gadis-gadis yang lain tertawa cekikikan. Mereka mengangguk mengiyakan. Mereka tidak bisa memungkiri kenyataan kalau mereka sebenarnya sangat penasaran dan tak bisa menahan rasa penasaran itu lebih lama lagi. 

Cathy berpura-pura galau.

Ayo cepatKalau kau mau cerita, ceritakan sekarang,ancam Jessie. “Atau–kentang gorengmu aku campur mayonaise.

Cathy menarik piringnya.

“Oke, oke! Jangan mayonaise,” ujar Cathy. “Berita buruk. Aku putus dari Mark.”

Julie, Kayla, dan Jessie terbatuk-batuk.

“Apa!?”

Cathy tak segera menjawab. Ia mengunyah dan menelan dua suapan dengan santai, sengaja meninggalkan jeda dalam pembicaraannya. Ia baru melanjutkan pernyataannya satu menit kemudian.

Yeah. Aku memutuskannya kemarin soalnya bosan,” kata Cathy dengan angkuh. “Kalian tahu kan, sebenarnya aku tidak begitu suka padanya. Jadi, kuputuskan saja.”

“Secepat itu?” tanya Cassandra. “Hubungan kalian bahkan baru satu minggu? Kasihan dia, kan.”

Cathy berkerut.

“Justru karena aku kasihan padanya makanya aku putuskan,” bela Cathy. “Kalau aku terus-menerus bersama dia padahal jelas-jelas aku tidak mencintainya, itu kan tidak adil baginya. Benar, kan?”

Julie sudah menahan diri untuk tidak ikut campur urusan mereka sejak Mark dan Cathy berpacaran, tapi kali ini Julie merasa Cathy keterlaluan. Ini sama sekali bukan gayanya, tapi ia merasa bersalah atas keterlibatannya dalam mempersuasi Mark mendekati Cathy waktu itu.

“Kalau kau memang tidak menyukainya, seharusnya kau tidak menerimanya sejak awal. Itu hanya akan menyakiti perasaan Mark,” kata Julie tegas. “Apa pun alasannya, Cath, kau tidak boleh bersikap seperti itu.”

Gadis-gadis yang lain ikut mengangguk mengiyakan.

Cathy terlihat sangat gusar. Berbeda dari ekspektasi awalnya, bukannya mendapatkan simpati, ia justru merasa dipojokkan.

“Aku tidak minta nasihatmu,” kata Cathy kesal. “Ah, sudahlah! Aku tidak mau melanjutkannya lagi!”

Cathy sekarang berdiam diri menyantap makan siangnya sambil cemberut. Terkadang para gadis ini mesti bersabar dengan sikap Cathy yang terlalu emosional dan kekanak-kanakan. Kalau ia tidak suka pada sesuatu atau jika ia dituduh melakukan kesalahan, ia akan marah-marah dan ngambek seperti anak kecil. Ia tidak bisa dinasehati sama sekali. Tidak sedikit pun.

Dan biasanya hanya Kayla yang bisa menenangkan hati Cathy.

“Cathy sayang,” kata Kayla, merangkulnya dengan lembut. “Tenanglah. Lihat, aku tidak ikut-ikutan menceramahimu, kan? Sekarang kau lanjutkan ceritamu padaku—ingat, padaku saja.”

Cathy mendengus.

“Baiklah. Hanya padamu saja, Kay. Heh, awas ya kalau kalian menguping!” Cathy mengacungkan kepalan tangannya pada keempat sisa teman-temannya yang lain. Raut wajahnya langsung berubah saat ia melanjutkan dengan berita selanjutnya yang sangat menyenangkan hatinya.

“Sudah lama sekali aku ingin melihat wajah anak laki-laki itu, yang katanya tampan seperti pangeran. Aku sangat penasaran!” ujar Cathy dengan semangat berapi-api. Ia berteriak histeris dengan dengkingan yang mengerikan.

“Tadi pagi, akhirnya aku bertemu RICHAARD!!!!!!”

Sama seperti Julie, Cathy memang belum pernah bertemu dengan Richard Soulwind sama sekali. Jika Julie Light tidak pernah sekelas dengan Richard, Cathy justru pernah sekelas dengannya namun tidak pernah bertemu dengan anak laki-laki itu karena Richard tidak masuk sekolah. Di hari-hari berikutnya, entah dia dan Richard yang tidak sekelas lagi, atau Cathy yang berhalangan hadir. Di kafetaria pun mereka tidak pernah melihat Richard. Di koridor, gadis-gadis yang lain pernah melihatnya—kecuali Cathy dan Julie.

Akhirnya hari ini ia mendapatkan kesempatan itu. Ia dan Richard sama-sama hadir di kelas yang sama. Cathy tidak bisa menyembunyikan kedramatisan kegembiraannya yang terlihat jelas dari wajahnya.

“Oh, ya?” tanya Kayla. “Lalu bagaimana? Benar kan, dia tampan?”

“Tampan? Tampan katamu??” Cathy langsung melihat Kayla sambil melotot. “Tidak! Dia tidak tampan. Dia itu, SANGAAAAAAAAT TAMPAN!!”

Hanya seminggu menghabiskan waktu dengannya, gadis-gadis The Lady Witches sudah tahu kalau Cathy selalu berlebih-lebihan dalam menyampaikan sesuatu. Tapi berhubung yang dibicarakan ini adalah Richard Soulwind, mereka semua setuju dengan cara Cathy menggambarkan ketampanan Richard. Mereka mendukung segala bentuk kedramatisan yang Cathy gambarkan tentang Richard.

Julie sebagai satu-satunya anggota geng yang belum pernah melihat Richard menyangsikan kebenaran ucapan Cathy. “Huh, tampan apanya?”

Secara serentak semua gadis itu memandang Julie dengan tatapan tidak senang. Pernyataan Julie terdengar sangat skeptis dan kenyataan itulah yang tidak mereka sukai.

“Kau belum lihat orangnya, Julie!” protes Jessie.

Cassandra ikut menimpali.

“Iya, kau belum lihat orangnya!”

Bahkan Lucy yang pendiam pun terlihat kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Kayla juga ikut-ikutan memandang sebal. Cathy merasa senang sekali karena banyak yang mendukungnya kali ini.

Julie mendesah.

“Baiklah, baiklah. Aku memang belum pernah lihat orangnya,” kata Julie, menyerah kalah. “Tapi memangnya orangnya setampan apa sih, sampai-sampai kalian begitu kesetanannya padaku?”

Cathy yang paling jago mendramatisir keadaan langsung mengambil alih pembicaraan. “Kulitnya putiiiih bersih bersinar, matanya biruu sekali seperti air laut, wajahnya beniiing sekali seperti kilauan permata di padang pasir. Dan suaranyaa??”

Cathy menyentuh dahi dengan punggung tangannya.

OOOOOHHHH!!

Julie mendengus dan memandangnya seperti orang tolol. Gadis ini sudah gila.

“Jess?”

Jessie mengangkat bahunya.

“Cathy memang benar, Julie. Aku sendiri tak tahu bagaimana cara menggambarkan Richard dengan tepat padamu, soalnya dia benar-benar—” Jessie terdiam sejenak, berusaha mencari kata-kata yang pas.

“—tak terlukiskan.”

Sekarang Julie bisa membayangkan sebuah kanvas putih polos yang baru dibeli dari toko. Tidak ada lukisannya.

“Tidak adakah satu saja di antara kalian yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang normal?” tanya Julie lagi. “Kayla? Cassandra? Lucy? Siapa saja?”

Sementara Cassandra bilang ‘idem,’ Lucy cuma menggeleng-geleng. Julie yang mengharapkan jawaban yang lebih banyak dari Kayla sepertinya harus kecewa karena gadis itu juga menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maaf, Julie,” kata Kayla mengangkat pundak. “Susah sekali menjelaskannya padamu. Dia memang sangat tampan. Kurasa kau memang harus melihat orangnya secara langsung.”

Julie tidak perlu berlama-lama merasa kecewa karena tepat setelah Kayla menyelesaikan kalimatnya, Lucy langsung menepuk pundaknya sambil memperhatikan sesuatu di belakang Julie dengan mulut menganga.

“Itu dia,” ujar Lucy dengan mata berbinar. “Akhirnya kita bisa melihatnya di kafetaria.”

Julie menoleh ke belakang.

Sekitar tujuh atau delapan anak laki-laki memasuki kafetaria dan mencari tempat duduk. Salah satunya terlihat paling mencolok di antara yang lain. Dalam sekali lihat saja, sama sekali tak sulit untuk memfokuskan kedua matamu tepat hanya pada anak laki-laki itu saja, sementara yang lainnya akan berubah menjadi latar belakang yang buram dan remang-remang.

Anak laki-laki itu berkulit putih bersih dan seputih pualam. Auranya terasa sangat kuat. Rambutnya berwarna coklat keemasan. Tulang wajahnya sempurna. Hidungnya, matanya, dahinya, tulang pipinya, dagunya, bibirnya, semuanya terbentuk dengan sempurna. Seperti sengaja diciptakan Tuhan dengan seluruh jenis kesempurnaan. Sorotan mata birunya itu terlihat jelas sekali, meskipun dari kejauhan, seperti senter laser biru yang menyorot ke arah semua orang yang sedang memandang wajahnya. Dan Julie tak tahu cahaya itu datang dari mana, tapi yang jelas dari kulit anak laki-laki itu keluar cahaya aneh tak masuk akal yang semakin memancarkan ketampanannya. Kini Julie mengerti kenapa gadis-gadis itu selalu menjulukinya sebagai Pangeran Tampan Bercahaya.

Jantung Julie sedikit berdesir. Sedikit. Wajahnya memang benar-benar tampan, seolah-olah menyihir semua orang yang berada di sekelilingnya dengan cara yang tidak masuk akal. Sebuah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, tiga orang siswa laki-laki bertubuh luar biasa gendut menutupi tubuh Richard dan menghalangi pandangan mereka. Keenam gadis itu pun tersentak dan barulah mereka kembali ke alam sadarnya.

“Richard,” gumam Jessie dengan suara tercekik. “Aku mau pingsan.”

“Ganteng banget, ya,” ujar Jessie.

Julie tak mau mengakui kalau egonya telah dikalahkan oleh mitos pangeran tampan itu. Ia membalikkan tubuhnya kembali dan menyeruput minumannya dengan santai. “Standar.”

Kelima gadis itu terkejut mendengar pernyataan Julie yang terdengar sangat mustahil. “Apa?? Kau gila!”

“Sakit!” umpat yang lain.

“Kurasa kau perlu berobat ke psikiater,” cela Jessie. “Atau ke dokter mata. Mungkin saja matamu katarak parah.”

Para gadis itu tertawa.

“Kalian saja yang sinting. Masa anak laki-laki seperti itu saja kalian puja-puja setengah mati?” kata Julie,tertawa merendahkan. “Kurasa masih lebih imut kumis chocochip Mr.Bouncer.”

Seperti kebiasaan baru yang telah disepakati The Lady Witches, jika ada di antara mereka yang bersikap aneh dan pendapatnya berbeda sendiri dari gadis-gadis yang lain, maka orang yang aneh itu harus diabaikan. Maka kelima gadis lainnya tetap melanjutkan obrolan sambil mengagumi ketampanan Richard.

“Lalu, bagaimana saat kau bertemu dengannya di kelas, Cath?” tanya Cassandra, melanjutkan pembicaraan yang tadi.

Julie melenguh. Mau tak mau, ia mesti menyesuaikan dirinya dengan topik pembicaraan apapun yang sedang berlangsung saat itu—yang sebenarnya hanya satu yaitu tentang Richard—karena ia jelas-jelas kalah suara. Kalah telak.

“Kau bisa bayangkan kan bagaimana gugupnya aku saat dia duduk dua bangku di depanku??” tanya Cathy dengan dramatis. Ia langsung sesak napas.

Ohh my God…!!”

Julie mendengarkan dengan muka datar.

“Waktu itu aku sengaja pura-pura tidak bawa pensil supaya bisa meminjam pensilnya Richard. Aku memanggil Richard dan ketika dia menoleh dan bertanya ‘Ada apa’ dengan suara merdunya. Oohhhhhh!!

Cathy memperagakan ekspresi berbunga-bunga, dengan gaya absurd yang mungkin tidak terpikirkan oleh pemain film mana pun di dunia ini. Ia berhenti sebentar untuk menambah efek dramatis dari peragaannya. Ketika ia melanjutkan ceritanya, wajahnya berubah menjadi kurang senang.

“Brengsek si Peter itu,” umpatnya. “Gara-gara Peter protes kenapa aku tidak meminjam pensilnya saja padahal dia duduk tepat di depanku, aku akhirnya tidak jadi meminjam pensil Richard. Richard memintaku untuk meminjam pensilnya Peter saja. Siiiaaaaaaal!!!”

Kelima gadis itu tertawa.

Selanjutnya, giliran Kayla yang bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan Richard. Saat itu hari pertama masuk sekolah dan ia sekelas dengan Richard di kelas Aljabar. Ia mulai menceritakan bagaimana anak laki-laki itu memasuki kelasnya dan memilih bangkunya yang hampir berdekatan dengan Kayla.

Ini akan menjadi panjang dan membosankan, pikir Julie. Masih ada Cassandra, Lucy, dan Jessie mengantri di belakang. Ia sungguh berharap jam makan siang saat itu cepat berakhir.

Pertolongan pun datang. Seorang anak laki-laki tiba-tiba menghampirinya. Roman Carter. Teman sekelasnya di Kelas Musik.

“Julie, boleh mengganggu sebentar?” ujar anak laki-laki itu. Ia tersenyum dan memandang Julie dengan tatapan romantis.

“Bagaimana kalau kita bicara di luar saja?”

Julie mengangguk ringan. Ia mengikuti Roman yang berjalan di depannya menuju ke luar ruangan. Meskipun tak terlalu tertarik, sesungguhnya ia rela melakukan apa pun itu demi terbebas dari topik membosankan tentang Si Anak Laki-Laki Tampan siang itu. Ia tahu itu akan jadi obrolan yang sangat panjang. Saat hampir tiba di ujung pintu, Julie melirik ke arah Richard secara diam-diam. Tanpa disangkanya, ternyata Richard sedang memandangnya juga.

Julie segera membuang muka.

Ini memalukan.

Julie menyelinap dengan cepat di antara orang-orang dan berusaha sebisa mungkin menutup diri agar tubuhnya tidak terlihat. Dicapainya pintu dengan secepat-cepatnya, sampai akhirnya ia bisa bernapas lega karena berhasil keluar dari situasi yang memalukan itu.

Sekarang Roman mendekatinya dan berbicara dengan gaya yang cool dan penuh percaya diri.

“Kudengar kau belum pernah pacaran, ya?”

Julie sudah tahu kelanjutan percakapan ini.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

11 thoughts on “03. Sang Pangeran

    • Hehe.. Aku juga gak sabar nih..! >,<
      Mudah-mudahan dalam waktu dekat aku bisa posting lagi kelanjutan dari bab 3.. 😉

      Ditunggu, yaa Avrila..! ^__^

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Bgus ceritanya wlw masih blum tau ada konflik apa sih hehe.
    Eh liat komen yg lain ternyata ini novel 2011 an ya, wah pas bgt lgi jamannya aku umur sama kya julie hahah

  3. Ping-balik: 02. Cathy Pierre (2) | Naya Corath

  4. I love Julie, please! Kak Naya dapet banget penggambaran Julie ini, dan aku suka sama karakternya. Dan part ini, nggak bisa ngomong pas Julie menghindar dari lirikan Richard. Ih, demi apa, jual mahal ini anak 😀

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s