02. Cathy Pierre (2)

Comments 3 Standar

fashion_girl

Saat bel istirahat berdering, Julie langsung melompat ke luar kelas. Kelas Sejarah Dunia yang membosankan benar-benar sukses membuat pantatnya menjadi daging panggang setengah matang yang siap dihidangkan tepat pada jam makan siang. Jessie pun menyusulnya keluar sambil memegang pantatnya yang juga terasa panas. Di saat itu juga, Cathy keluar dari kelas sambil terkantuk-kantuk.

“Mau ikut makan siang dengan kami, Cath?” tanya Jessie saat Cathy mendekat dan menghampiri mereka.

“Boleh,” kata Cathy sambil tersenyum. Di wajahnya terlihat jelas bahwa ia memang sudah sangat tertarik pasangan dengan Julie dan Jessie sedari tadi. “Sepertinya kalau makan siang dengan kalian bakal seru.”

Gadis itu terlihat sangat bersemangat dan enerjik. Di pertemuan pertama ini, Julie setidaknya sudah tahu kalau Cathy memang adalah gadis yang luar biasa cantik. Tapi kali ini ia juga baru menyadari bahwa ternyata gadis ini juga sangat lincah.

Jessie tertawa girang.

“Tentu saja. Kita punya Ratu Kelas Prancis di sini,” ujar Jessie, memamerkan Julie dengan antik seolah-olah seperti memperkenalkan binatang piaraan di rumah. “Kau mau dia mengucapkan apa? Tinggal sebut saja. Nanti aku bisa menyuruhnya menghiburmu.”

Julie mendengus kesal. Tapi demi Cathy yang baru saja dikenalnya ia terpaksa berdiam diri dan berusaha bertahan dari serangan ababil Jessie. Ia tak mau merusak image-nya lebih banyak lagi.

Julie melihat belasan orang hilir mudik keluar masuk ruangan kefataria yang berada beberapa kaki di depannya. Kelas Sejarah Dunia letaknya benar-benar dekat dengan kafetaria, hanya berjarak dua ruang kelas saja. Dalam waktu sebentar saja mereka bertiga sudah tiba di sana.

Sekarang mereka bertiga mengantri untuk mengambil makanan. Tidak butuh waktu yang cukup lama bagi mereka untuk sampai di antrian paling depan, mengambil makanan, dan menempati tempat duduk yang tadi sudah mereka incar. Untungnya tempat itu masih kosong saat mereka kembali.

Julie langsung melahap kentang gorengnya, segera setelah mereka bertiga mendapat tempat duduk. Potongan sandwich tadi pagi terlalu kecil. Sementara itu, Jessie dan Cathy memakan porsi mereka dengan santai.

Tiba-tiba muncul Kayla Shaker dari arah luar. Ia segera bergabung dengan kelompok itu begitu ia melihat mereka.

“Teman baru, nih?” goda Kayla. “Cathy Pierre! Benar, kan?”

Cathy tersenyum anggun dan menjulurkan tangannya. “Tepat sekali.”

Kayla menjabat tangan Cathy sambil memperkenalkan dirinya. “Aku Kayla Shaker. Salam kenal.”

Kayla jelas-jelas tampak sangat senang saat melihat gadis cantik yang selalu jadi bahan pembicaraan ini di antara mereka. Matanya tak henti-hentinya menatap wajah Cathy yang cantik dengan takjub. “Ternyata yang mereka katakan memang benar. Kau sangat cantik,” pujinya.

Cathy hanya tersenyum sebentar. Ia menyeruput es lemonnya dengan asyik seolah tidak terjadi apa-apa. Ia kembali mengunyah makanannya dengan santai.

Julie pun tak bisa berhenti mengamati perilaku gadis ini. Mungkin Cathy memang sudah terbiasa mendengar pujian dari orang-orang di sekelilingnya. Kalau saja Julie yang mendapat pujian itu, pasti hidungnya sudah kembang kempis seperti balon.

“Kau tidak mengambil makanan?” tanya Julie kepada Kayla.

Kayla menggeleng.

“Nanti saja,” kata Kayla. “Aku masih mau mengobrol dengan kalian. Apalagi ada Cathy di sini. Aku benar-benar senang!”

Cathy tertawa. “Betul sekali! Ayo kita mengobrol.”

Kayla mengambil posisi duduk yang lebih rileks sambil mengambil kentang goreng milik Jessie. Jessie melotot, menyeret kentang gorengnya, dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Julie mencuri beberapa potong kentang goreng itu sebelum Jessie sempat melihatnya.

“Ngomong-ngomong, kalian kenal di mana?” tanya Kayla.

“Kami bertiga satu kelas tadi!” jawab Cathy antusias. Ia mengunyah sambil berbicara. “Gadis-gadis ini duduk di persis belakangku. Dan mereka benar-benar berisik!”

“Jessie yang berisik,” kilah Julie.

“Gara-gara kau yang terlambat, Bodoh!” timpal Jessie. “Sudah setengah jam aku menungguinya, dia tidak muncul-muncul juga. Kau pikir aku pembantumu? Dasar Julie sapi.”

“Memangnya bukan?” kata Julie.

Mereka berkelahi seperti anak kecil.

Kayla tidak menghiraukan kedua gadis itu. Daripada mendengarkan pertengkaran mereka dan cerita tentang keterlambatan Julie yang sudah jadi makanan sehari-hari bagi mereka sejak dulu, Kayla lebih tertarik untuk tahu lebih banyak tentang teman barunya yang cantik.

“Bagaimana hari-hari pertamamu di Nimber sejauh ini, Cath? Pasti sangat menyenangkan, ya?” tanya Kayla dengan ramah.

Cathy mengangguk-angguk santai.

“Ya, tidak terlalu buruk. Sekolah di Nimber ternyata lumayan seru juga,” jawabnya mantap. Gadis itu terdengar sangat memainkan intonasi suaranya saat berbicara, seperti sedang memainkan sebuah drama.

“Hari-hariku sempat buruk setelah putus dengan mantan pacarku. Tapi sekarang aku sudah dapat yang baru! Lebih tepatnya—kemarin. Ia sangat suka tertawa. Dan badannya sangat bagus.”

“Benarkah?” Gadis-gadis itu terkesiap. Cathy mengangguk lagi.

Jawaban Cathy barusan membuat Julie berpikir ulang tentang Cathy. Gadis ini benar-benar menarik, berbeda dari yang lain. Ini bukan pembicaraan yang biasanya dilakukan oleh orang yang baru saling mengenal satu sama lain. Tadinya Julie pikir Cathy akan menjawab dengan jawaban-jawaban standar, gadis ini malah membahas soal pacar. Gadis-gadis itu pun langsung mendengarkan ucapan Cathy dengan penuh perhatian.

“Siapa dia?” tanya Kayla penasaran. “Siswa baru juga?”

“Mark,” jawab Cathy.

Julie langsung tersedak. Separuh dari makanan di mulutnya keluar semua, separuhnya lagi masuk ke hidung. Dengan susah payah ia menghilangkan sedakannya dengan minum sebanyak-banyaknya.

“Mark McGollen, maksudmu??”

Cathy mengangguk santai.

“Iya. Mark McGollen,” jawab Cathy dengan nada biasa. “Aku berkenalan dengannya kemarin, dan kupikir dia cukup menarik. Dia langsung kujadikan pacar. Kau kenal dengannya?”

“Ap–kalian langsung pacaran??” tanya Kayla tidak percaya. Cathy mengangguk.

Julie masih sibuk dengan sedakannya yang tidak sembuh-sembuh. Kayla memberikan minum. Julie telah menceritakan tentang pertemuannya dengan Mark McGollen pada mereka kemarin, dan berita ini sama mengejutkannya bagi Kayla dan Jessie. Sambil menunggu Julie sembuh dari sedakannya, Kayla berinisiatif untuk bertanya lagi.

“Memangnya, apa yang kau suka dari Mark, Cath?” tanya Kayla sekali lagi. “Apa dia tipe pria yang romantis?”

Cathy menggeleng.

“Tidak juga. Mantan pacarku yang dulu masih jauh lebih romantis. Tapi aku suka bentuk tubuh Mark—atletis sekali! Wajahnya juga enak dilihat,” jawab Cathy. “Lagipula, sekarang aku memang lagi butuh seseorang. Mantan pacarku sudah punya yang baru. Yah. Paling tidak sekarang kami seri. Ya, kan?”

Gadis-gadis itu terhenyak.

“Lalu kalau kau sudah berpacaran dengan Mark, kenapa kau tidak makan siang dengan Mark sekarang?” tanya Jessie. “Malah dengan kami?”

Julie juga ingat bahwa tadi di kelas Sejarah Dunia pun mereka sekelas dengan Mark McGollen, tapi mereka bertiga sudah keluar lebih dulu begitu bel istirahat berbunyi. Ini benar-benar ganjil.

“Tidak. Malas.” Cathy menggeleng enggan. “Lagipula, kurasa lebih seru makan siang dengan kalian.”

Cathy meneruskan makan siangnya dengan lahap. Kayla, Jessie, dan Julie saling berpandangan.

Ini adalah kesan yang unik dari pertemuan pertama mereka dengan Si Cantik Jelita. Suasana yang tadinya hangat tiba-tiba berubah sedikit dingin. Julie tak bisa memungkiri kalau keegoisan ini cukup mengusik pikirannya. Ia memang tidak terlalu mengenal Cathy—tapi ia adalah yang pertama kali memperkenalkan Mark pada Cathy. Sedikit banyak, ia merasa agak bersalah.

Tapi akhirnya, Julie menyadari kalau biar bagaimana pun itu adalah urusan mereka berdua. Ini adalah urusan privasi dan ia tidak berhak untuk ikut campur. Apalagi Cathy baru saja dikenalnya hari ini. Kayla dan Jessie pun sepertinya sependapat dengannya.

“Oh, ya, Cath. Kau ini keturunan campuran, ya, atau apa?” tanya Kayla, melirik ke arah Julie. “Kurasa Julie sudah gatal ingin menanyakannya dari tadi.”

Cathy tersenyum lebar. Setiap gerakan yang dibuat Cathy benar-benar mengundang perhatian. Gadis itu sepertinya tahu benar bagaimana cara membuat suasana percakapan mereka menjadi lebih hidup dan segar.

“Aku?” tanya Cathy balik. Ia memegang dadanya dan alisnya tiba-tiba naik sebelah. Jawabannya cukup dramatis. “Ayahku Amerika-Prancis, ibuku Spanyol.”

Ia memainkan intonasinya sedemikian rupa dengan profesional.

“Banyak orang yang menanyakan ini, tapi sesungguhnya aku lebih suka kalau dianggap sebagai keturunan Prancis,” kata Cathy. “Walaupun hanya mendapat porsi sedikit dalam garis keturunanku, tapi kalian tahu—namaku Pierre. Aku orang Prancis. Je suis français. Orang Prancis sangat romantis.”

Telinga Julie mulai berdenging.

“Mungkin kau tertarik mengulangi kalimat itu dalam bahasa Prancis, Julie,” goda Jessie sambil tertawa.

“Bagaimana denganmu, Kayla? Apakah kau juga campuran? Ya, ya! Kurasa begitu,” kata Cathy enerjik, menjawab pertanyaannya sendiri. “Mukamu benar-benar Asia. Apa kau keturunan Turki?”

“Lebanon,” jawab Kayla sambil tersenyum. “Orangtuaku dari sana.”

“Kau tidak ingin bertanya pada Julie, Cath? Julie juga keturunan blasteran,” timpal Jessie. Julie langsung mengangguk cepat. Berdarah campuran yang seksi dan eksotis memang adalah sudah menjadi impiannya sejak dulu.

“Alien dengan sapi.”

Ketiga itu langsung tertawa. Julie mengamuk dan menarik kuncir rambut Jessie dengan geram sebelum gadis itu sempat menghindar. Jessie berteriak kesakitan.

“Oke. Aku mau mengambil makanan sekarang,” kata Kayla. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju etalase yang tidak terlalu jauh dari meja mereka.

“Ada yang mau ikut?”

Gadis-gadis itu menggeleng. Tiba-tiba Cathy berteriak histeris. Teriakan gadis ini benar-benar mengejutkan. Cathy menunjuk ke arah makanannya.

“ULAT!” teriak Cathy. Ia berteriak seperti orang kesetanan.

“ADA ULAT DI SALADKU!!! AAHHHH TIDDAAAAAKKK!!!!”

Entah kenapa, kedramatisannya itu justru mengundang gelak tawa. Ia mendesah-desah dramatis seperti sedang berakting di drama opera. Jessie dan Julie yang jahil menanggapi kehisterisannya dengan antusias.

“Mana?!” kata Jessie.

“Itu—tolong,” kata Cathy terbata-bata. “TOLONG!!”

Julie mencari ulat itu, mengaduk-aduk salad dengan sendok, dan menemukan ulat yang hanya sebesar ujung kuku. “Ini?”

Cathy mengangguk cepat.

“Ini?” Julie menyerahkan ulat itu ke hadapan Cathy. Cathy mengintip sebentar. Ia berteriak lagi. Ia menutup matanya. Ia juga menutup mukanya. “BUANG! BUAAAAAAAAANG!”

“Kenapa dibuang? Ulatnya cantik—mirip denganmu,” kata Jessie. “Makan saja. Mungkin dia bisa menjadi kupu-kupu di perutmu.”

Cathy tiba-tiba terdiam, tidak lagi berteriak histeris. Gadis itu tidak berbicara selama beberapa detik. Ia terlihat sangat serius, seperti akan marah.

“Kau saja yang makan. Aaa.”

Jessie meloncat kaget. Cathy malah menangkap tangan Julie dan mengarahkan ulat itu ke muka Jessie. Ia meronta-ronta berusaha untuk menghindari ulat menjijikkan tersebut. Ia sekarang gantian berteriak saat ulat itu jatuh di bajunya.

“CATH!”

Cathy dan Julie tertawa.

“Hey. Ada apa ini?” tanya Kayla yang baru saja kembali dari etalase makanan. Jessie menggeliat-geliat untuk mengusir ulat itu dari tubuhnya. Ulat itu terlempar ke baju Kayla, membuat gadis itu berteriak histeris.

Mereka semua tertawa.

“KAU!” ancam Kayla. “JESSIE!”

Kayla terpaksa menahan napasnya sambil meletakkan bakinya dengan hati-hati di atas meja, lalu setelah itu ia langsung menyambar Jessie yang menjerit kencang.

“TOLONG!” kata Jessie.

Cathy menikmati pemandangan itu sambil tertawa keras-keras.

Sekarang Julie menyadari, Cathy memang bukan gadis yang sempurna. Dia memang sangat cantik—meskipun sifatnya cukup angkuh—tapi secara keseluruhan ia ternyata adalah teman yang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Cathy tak segan-segan bersikap dramatis tanpa mempedulikan image-nya sama sekali, yang membuat suasana kelompok mereka menjadi sangat ramai. Julie mulai meyakinkan dirinya untuk bisa menerima Cathy sebagai salah satu teman dekatnya.

Julie memasukkan merica ke mulut Cathy yang sedang lengah. “Cath. Hap! Makan ini.”

Cathy terperanjat, menjerit histeris seperti akan diperkosa. Semua orang di kafetaria terkaget-kaget mendengar teriakan gadis itu, mengira telah terjadi pemerkosaan atau semacamnya.

Mereka berempat tidak bisa berhenti berkelahi dan saling berteriak sampai lima belas menit kemudian, saat koki kafetaria datang dan melerai mereka dengan spatula kayunya yang besar. Jessie pura-pura cedera. Cathy menangis terisak-isak, dengan ekspresi yang berlebih-lebihan. Kayla dan Julie sakit perut menahan tertawa.

Pertemuan mereka hari ini benar-benar menyenangkan.

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

3 thoughts on “02. Cathy Pierre (2)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Ping-balik: 02. Cathy Pierre | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s