02. Cathy Pierre

Comments 2 Standar

pretty-girl-3-preview-300x300

Julie baru terbangun dari tidurnya. Jam weker di meja belajarnya menunjukkan kalau sekarang sudah jam delapan lewat tiga puluh, tapi ia malas sekali beranjak dari tempat tidurnya. Tubuhnya mungkin sudah terlatih untuk bermalas-malasan selama beberapa bulan terakhir, sehingga bangun pagi untuk pergi ke sekolah menjadi hal yang sangat—sangat menyengsarakan.

Ia sengaja tidak menyetel alarm tadi malam—suara ayam di perkampungan ayam itu benar-benar gaduh. Meskipun demikian, ternyata sudah ada suara lain juga yang mengganggu mimpi indahnya dan membuatnya terbangun pagi itu. Suara yang lebih gaduh lagi—suara ibunya. Untuk menghindari malapetaka, Julie segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Julie hanya sempat membawa sepotong kecil sandwich—sebelum ibunya ngomel-ngomel lagi—meskipun sebenarnya pagi itu dia belum merasa lapar. Dengan langkah terburu-buru dia berjalan menyusuri trotoar sambil memakan sandwich-nya dengan napas yang berantakan.

Sekolah Nimberland sebenarnya tidak begitu jauh dari rumahnya, hanya dua puluh menit perjalanan kaki. Selain merupakan sekolah menengah akhir dengan kualitas pendidikan terbaik di kota Eastcult, Nimberland juga adalah sekolah yang paling mudah dijangkau kendaraan apa pun. Apalagi jalan kaki. Tapi jika baru berangkat jam sembilan nyaris kurang sedikit, wajar saja kalau siapa pun akan datang terlambat.

Julie mempercepat langkahnya.

Ia sebenarnya tahu kalau keterlambatannya itu adalah salahnya sendiri, tapi novel Angels & Demons karangan Dan Brown itu benar-benar worth it untuk dibaca semalaman. Julie mengeluh panjang. Ia merasa tak pernah punya cukup waktu untuk bersenang-senang tanpa harus terlambat datang ke sekolah.

Masih sempat.

Jarum-jarum panjang raksasa yang bergantung di jam besar Nimberland—terletak di bagian luar bangunan, menghadap ke gerbang—menunjukkan pukul sembilan kurang satu menit saat Julie bertemu dengan Mr.Bouncer. Dengan senyum lebar ia menyapa laki-laki berbadan kekar tersebut dan setelah beberapa belas langkah Julie berjalan dari gerbang, ia mendengar suara pintu gerbang sekolah ditutup. Ia langsung berlari ke dalam bangunan, mencari-cari kelasnya.

“Di mana??”

Julie merasa tidak bisa lagi mengandalkan intuisinya, karena hari keberuntungannya telah lewat kemarin. Apalagi pelajaran pertama hari ini adalah kelas Sejarah Dunia, bukan kelas Prancis. Tidak ada ceracau konyol menyebalkan yang membuatnya bisa mengidentifikasi keberadaan kelas tersebut.

Julie memutar otak. Ia mencoba mengingat percakapannya dengan Jessie kemarin.

 

“Besok pagi kau kelas apa? Kalau aku Sejarah Dunia dengan Ms.Watson,” tanya Jessie saat itu.

“Sama. Aku juga,” jawab Julie. “Ruang kelasnya yang mana?”

Jessie tersenyum. “Dekat kafetaria. Ngomong-ngomong, aku senang kita sekelas lagi. TAPI INGAT, JANGAN TELAT! Besok aku akan menunjukkan ruangannya, tapi kau jangan sampai telat.”

“Iya. Ya, ya, ya. Aku tidak akan telat,” ujar Julie sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

Sekarang dia terlambat lagi.

Julie bergegas ke arah kafetaria. Ia akhirnya menemukan sebuah kelas yang pintunya masih terbuka. Dengan setengah berharap ia mengintip ke dalamnya, berdoa pada keberuntungannya, dan di sana ia menemukan Jessie.

“Itu dia.”

Julie berlari menuju kursinya seperti hantu. Ia sangat berterima kasih pada Tuhan yang sangat berbaik hati padanya akhir-akhir ini. Kemarin kelas Prancis, sekarang kelas Sejarah Dunia. Tidak ada keberuntungan yang berulang tiga kali. Ia bertekad harus bangun lebih pagi besok.

“Ke mana saja kau!?” hardik Jessie, memantau setiap gerakannya dengan gelisah. “Untung Ms.Watson belum datang. Kau duduk di sini.”

Julie melihat bangku kosong tepat di sebelah kanan yang sengaja disiapkan Jessie untuknya dari tadi. Saat ia berjalan ke arah bangku itu, dalam selayang pandang matanya dikejutkan oleh wajah seorang gadis muda berwajah Latin yang duduk tepat di depan bangkunya.

Gadis itu terlihat cantik sekali.

“Selamat pagi!”

Seorang guru wanita berusia paruh baya baru saja memasuki ruangan kelas mereka. Julie segera duduk di bangkunya. Ms.Watson memperkenalkan diri sebagai guru kelas Sejarah Dunia mereka. Rambut merahnya yang berwarna merah menyala menarik perhatian para siswa yang mulai berbisik-bisik. Tapi rambut kuning kecoklatan yang berada tepat di depannya sekarang jauh lebih menarik perhatian Julie.

Gadis itu.

Wajah gadis itu secara sepintas terlihat seperti campuran wajah artis Hollywood Keira Nightly dan Thalia “Maria Mercedes” si bintang telenovela Meksiko. Lekukan wajahnya terlihat indah dan eksotis. Mata dan hidungnya mirip sekali Keira, sementara Julie tidak begitu yakin bagian mananya yang mirip dengan Thalia. Entah mengapa pokoknya ada bagian dari wajahnya yang mirip dengan Thalia.

Tulang pipi dan bibirnya mungkin.

Kulit gadis itu berwarna sedikit kecoklatan, membuatnya terlihat semakin menawan. Rambutnya terurai indah hingga pinggang dan menjadi ikal di bawah. Ditambah dengan warna rambutnya yang kuning kecoklatan, ia semakin mengingatkan Julie dengan Thalia, meskipun tidak benar-benar mirip. Yang jelas ia cantik sekali.

“Julie,” bisik Jessie dengan suara yang agak keras.

Julie menoleh. Suara Jessie yang cempreng itu ternyata juga menarik perhatian si gadis berwajah Latin. Tanpa mereka sadari, gadis itu juga menolehkan sedikit kepalanya untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

“Kenapa kau terlambat lagi, Bodoh?” omel Jessie.

Julie menyengir salah tingkah.

“Aku ketiduran. Semalam mungkin aku baru tidur jam tiga atau jam empat,” ucapnya sambil menggaruk-garuk pipi, “—aku kan belum benar-benar terlambat. Ya, kan?”

“Sapi.”

Percakapan mereka terhenti sewaktu Ms.Watson meninggikan intonasi bicaranya. Cerita tentang perang Sparta itu mungkin kedengarannya seru sekali, tapi Julie lebih suka menonton versi layar lebarnya di bioskop.

Julie melihat-lihat sekeliling untuk menghilangkan kebosanannya. Tiba-tiba Julie melihat Mark McGollen di kelas itu, di kursi paling depan di sebelah kiri. Entah kenapa, anak laki-laki itu menatapnya sambil tersenyum aneh mencurigakan.

“Kau ingat Mark? Yang aku ceritakan kemarin,” Julie menatap Jessie dengan raut wajah yang terganggu. “Dia ada di kelas kita. Di dekat pintu. Dari tadi dia terus memandangiku.”

Jessie tertawa. “Jangan konyol,” kata Jessie. “Dia tidak sedang memandangimu. Kau pikir kau ini siapa?”

Julie terkikih. “Megan Fox.”

Jessie memutar bola matanya. “Kau lihat tidak anak laki-laki yang lain? Mereka semua memandang ke arah kita.”

Jessie menunjukkan sekeliling, Julie mengangguk.

“Tidak. Bukan ke arah kita. Mereka sedang memandangi gadis yang sekarang duduk di depanmu,” kata Jessie. “Dia. Cathy Pierre.

“Apa!?” Julie terperangah. Saking seringnya nama Cathy Pierre dibicarakan di sekolah kemarin, mendengar nama itu lagi sekarang rasanya seperti mendengar nama seorang selebriti.

Julie memperhatikan sosok gadis itu sekali lagi. Ia merasa bodoh karena baru saja menyadarinya.

Tentu saja, gadis cantik itu adalah CATHY PIERRE!

Gadis berwajah Latin itu langsung menoleh ke belakang, tersenyum simpul. “Kalian sedang membicarakan aku?”

Gadis itu menggoda mereka dengan senyumnya yang benar-benar menawan. Tak ada yang bisa memungkiri kalau siapa pun yang melihat wajahnya akan tersihir oleh kecantikannya. Dia adalah murid baru yang dibicarakan semua orang di koridor sekolah kemarin. Si murid baru yang paling cantik.

“Jessica Walter,” sapa Jessie. “Maaf, temanku yang satu ini memang bodoh. Dia tak mengenalimu. Harap maklum. Aku pun stress menghadapi kebodohannya. Senang berkenalan denganmu, Cathy.”

Julie memandang sebal pada Jessie, tapi langsung mengubah raut wajahnya saat melihat Cathy.

“Julie Light,” kata Julie.

Julie melebarkan senyum semanis mungkin. Ini adalah kesempatannya untuk memberikan kesan awal yang baik di pertemuan pertamanya.

“Aku tahu. Kau gadis yang tidak bisa berbahasa Prancis itu, kan?” kata gadis cantik itu. Ia tersenyum miring. “Semua orang membicarakanmu kemarin.”

“Err—Masa?” Julie pura-pura tidak tahu.

“Tentu saja,” jawab Cathy. “Kau kan sangat terkenal.”

Julie menelan ludah. Kepalanya mengempis bersamaan dengan udara yang keluar dari lubang hidungnya.

“Tapi yang jelas, Julie tidak seterkenal kau, Cath,” kata Jessie. Julie mengangguk mengiyakan. “Semua orang membicarakanmu. Mereka bilang kau sangat cantik. Dan kuakui, kau memang luar biasa cantik.”

Gadis cantik itu terkikih.

Sekali lagi, percakapan mereka harus berhenti. Ms.Watson mulai mengawasi kelompok mereka. Wanita itu beberapa kali berdehem dan mondar-mandir di sekitar mereka dengan wajah yang menyeramkan. Ketiga gadis itu pura-pura memasang tampang serius sambil membaca buku.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

2 thoughts on “02. Cathy Pierre

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Ping-balik: 01. Franchophobia (4) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s