01. Franchophobia (4)

Comments 23 Standar

215303-Royalty-Free-RF-Clipart-Illustration-Of-A-Happy-Plump-Cow-In-Love

Suasana di Kelas Inggris ternyata tidak jauh berbeda daripada suasana jam pergantian kelas tadi. Anak-anak masih mengobrol dengan asyik, saling berkenalan satu sama lain, sehingga kelas jadi terdengar cukup riuh. Kebetulan Mr.Johnson—sang guru Kelas Inggris—sedang berhalangan mengajar, sehingga anak-anak diberikan jam bebas, asalkan mereka masih tetap berada di kelas.

Sebenarnya Julie tidak mengerti kenapa Mrs.Lautner—kepala sekolah Nimber–bisa memperbolehkan murid-murid di kelasnya beraktivitas tanpa guru pengganti di hari pertama. Ia lebih tidak mengerti lagi ketika wanita itu berdalih bahwa dengan memberikan jam bebas, ia telah memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bisa berlatih, mempraktekkan, dan melancarkan komunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Dengan kata lain, ngobrol artinya sama dengan belajar. Alasan yang sungguh-sungguh konyol.

Mungkin mereka sedang kekurangan tenaga pengajar hari ini.

Di kelas ini Julie bertemu dengan sahabat karibnya, Kayla. Dan kejutan lainnya, ternyata di Kelas Inggris ia sekelas lagi dengan Jessie, sahabatnya yang tadi juga sekelas dengannya di Kelas Prancis.

“Jessie! Kayla!” teriak Julie saat melihat gadis-gadis itu di ruangan yang sama dengannya. Julie merasa keberuntungannya hari ini benar-benar sudah berada di level maksimal. Ia tentu saja langsung memilih duduk bersebelahan. Bahkan jam kosong Kelas Inggris sekarang membuatnya bebas mengobrol dengan kedua sahabatnya.

“Julie!” kata Kayla. “Kukira kau tidak jadi mendaftar di Nimber.”

Kayla Shaker adalah sahabat dekat Julie di Springbutter. Ia berambut panjang tebal lurus dan sedikit ikal di ujung yang berwarna hitam legam. Bentuk mata dan hidungnya terlihat jelas bahwa ia adalah gadis dengan garis keturunan Lebanon, negeri asal ayah dan ibunya.

Kayla adalah yang paling bijaksana. Bisa dibilang, Kayla merupakan gadis yang berperilaku paling normal di antara mereka bertiga. Kayla memiliki kemampuan sosial yang sangat bagus, ia bisa memahami isi pikiran orang lain tanpa perlu mereka ucapkan. Dan kedewasaan Kayla seringkali membantu mereka keluar dari masalah-masalah sulit. Kemampuan persuasinya juga selalu dapat diandalkan.

Wajahnya yang teduh dan mata coklatnya yang lembut menyiratkan sifat Kayla yang juga lembut dan hangat. Karakter Kayla yang manis adalah karakter kakak perempuan idaman Julie sejak kecil—mengingat ia sendiri adalah anak tunggal. Sifat keibuan Kayla adalah penyejuk di kelompok mereka, yang sangat disukai Julie.

Sementara itu, Jessica Walter mengisi posisi yang berbeda. Jessie adalah belahan jiwa Julie. Mereka sering sekali bertengkar, bahkan untuk hal-hal sepele, tapi Jessie selalu jadi tempat Julie menempel kapan pun di mana pun. Seluruh siswa Springbutter menjuluki pasangan ini sebagai kembaran yang tidak terpisahkan.

Mereka memiliki begitu banyak kesamaan tekstur wajah dan postur tubuh, namun perbedaan warna rambut, mata, dan bintik-bintik di wajah Jessie akhirnya menjadi ciri khas pembeda yang cukup mencolok dari keduanya. Mata Julie berwarna hijau zamrud, sementara mata Jessie berwarna biru muda. Tubuh Jessie pun sedikit lebih tinggi daripada Julie, sekitar satu inci.  Di samping itu, Julie memiliki rambut lurus pirang, sedangkan rambut lurus pirang Jessie berwarna kemerahan. Dan berbeda dari Kayla dan Julie yang selalu menggerai rambut panjang mereka, Jessie sangat identik dengan kuncir kudanya. Ia tidak pernah kemana pun tanpa mengikat rambutnya.

Selain kesamaan fisik, Julie dan Jessie juga sering dikaitkan karena sifat mereka yang sama-sama konyol dan suka mengolok-olok. Jessie sendiri tidak pernah ingin disamakan dengan Julie. Dari sisi intelektual, Jessie selalu merasa dirinya jauh lebih baik. Kebodohan Julie di Kelas Prancis adalah salah satu justifikasi dari setiap argumen yang dilontarkannya setiap kali bergulat dengan Julie.

Dan Jessie paling suka menjuluki Julie, SAPI.

Julukan favoritnya sepanjang masa.

“Tentu saja, Kay. Kalau bukan dibantu Mrs.Light, Julie tak mungkin mendaftar di Nimber,” kata Jessie. “Aku sekelas dengannya tadi. Dan kalau kau lihat bagaimana Julie terlambat di kelas pertama tadi pagi, aku yakin dia baru mendaftar di Nimber di hari penghabisan.”

Jessie mengedipkan sebelah matanya pada Julie. “Dunia akan kiamat kalau Julie datang tepat waktu dan tidak membuat kehebohan di Kelas Prancis. Bahkan di hari pertamanya, dia berhasil memukau seluruh anak-anak baru dan guru Kelas Prancis kami dengan suara kumur-kumurnya yang terkenal.”

“Sungguh?” tanya Kayla antusias.

Yeah—kupikir hari ini aku beruntung,” kata Jessie. “Bisa sekelas dengan Julie di hari pertama di Nimber dan Kelas Prancis, ini akan jadi hiburan sepanjang tahun.”

Jessie memegangi perutnya menahan geli. Kejadian tadi pagi sedikit banyak telah mengobati rasa kangennya pada suara kumur-kumur Julie. Ini memang sudah menjadi rahasia umum di sekolah mereka yang dulu. Tidak hanya pronounciation-nya saja yang kacau, Julie juga tidak pernah hapal kosakata bahasa Prancis.

“Bukannya kau selalu mengeluh tiap kali sekelas dengan Julie di Kelas Prancis, Jess? Karena Julie selalu dihukum?” kata Kayla mengingatkan. “Kau sekelas lagi dengannya di Nimber. Kau harus membantunya lagi di Kelas Prancis.”

Jessie terperangah. “Benar juga. Aah! Aku lupa.”

“Setidaknya aku punya seseorang yang bisa kuandalkan saat kesusahan. Kau harus mensyukuri keberuntunganmu, Jess,” kata Julie sambil tertawa.

Jessie cemberut. “Sapi.”

“Bicara soal beruntung, kupikir hari ini juga hari keberuntunganku,” lanjut Julie. Pembicaraan Jessie barusan mengingatkannya kalau ia juga sempat memikirkan hal yang sama. “Kalian tahu? Aku telat tapi masih bisa masuk ke sekolah. Ini keajaiban! Bahkan penjaga sekolah menyambutku dengan ramah. Aku tidak bisa melupakan kumis chocochip-nya yang lucu. Seperti Charlie Chaplin.”

“Apa?” kata Jessie.

Julie mengangguk bangga.

“Tunggu dulu,” gumam Kayla sambil menopang dagunya, “Penjaga gerbang sekolah. Maksudmu—Mr.Bouncer, ya?”

“Mr.Bouncer?” tanya Julie.

Kayla mengangguk.

Yeah. Mr.Bouncer. Aku mendengarnya dari teman sekelasku tadi. Dia mendapat julukan itu karena badannya sangat berotot dan kekar seperti seorang Bouncer—Tukang Pukul,” kata Kayla. Ia bergidik. “Dia benar-benar mengerikan.”

Jessie tersentak.

“Maksudmu yang kumisnya seperti Adolf Hitler itu?” sambung Jessie cepat. “Gila! Tadi aku dihardik, gara-gara membuang sampah sembarangan di depan matanya. Kupikir dia akan membunuhku.”

“Masa?” sergah Julie tidak percaya. “Tapi dia tadi baik padaku.”

Kedua gadis itu menatap Julie keheranan. Wajah polos tak berdosa Julie jelas-jelas tidak menunjukkan pengalaman traumatis apa pun bersama Mr.Bouncer. Ini membingungkan. Bagi Kayla maupun Jessie, tampang laki-laki itu lebih mirip pemimpin pasukan Nazi yang mengerikan, alih-alih Charlie Chaplin yang berkumis chocochip lucu.

“Kau sih punya feromon yang terlalu kuat, Julie. Wajar saja kalau Mr.Bouncer ramah padamu,” ujar Kayla akhirnya, mencari penjelasan. “Aku yakin, kalau Hulk hijau bertemu denganmu, dia pun pasti langsung berubah jadi Bruce Banner yang tampan.”

Jessie tertawa. “Benar. Kau tahu, Kay? Feromon itu juga yang telah menyihir guru Kelas Prancis kami. Dan beberapa anak laki-laki yang mengelilinginya pada jam istirahat tadi. ”

Julie mengibaskan tangannya. “Tidak! Tidak. Jangan feromon lagi.”

Teori Feromon diterbitkan Kayla saat mereka masih duduk di kelas Tujuh. Teori ini menjelaskan bahwa Julie sengaja mengeluarkan cairan feromon di ketiaknya yang mengakibatkan disfungsi rasionalitas pada siapa pun yang mendekatinya. Ketika itu Julie pertama kalinya dikerubungi anak laki-laki di Springbutter, tak ada yang bisa mengerti mengapa gadis itu bisa punya banyak penggemar—mengingat keterbatasan fisik dan kecerdasan otaknya yang meresahkan. Tapi sejauh ini penjelasan itulah yang paling memuaskan. Julie sendiri tidak pernah suka pada teori ini. Ia terdengar seperti ratu serangga dengan cairan lendir di ketiak.

“Kalau begitu apa dong?” tanya Kayla. “Ulat bulu?”

Gadis-gadis itu tertawa geli.

“Megan Fox,” kata Julie mantap.

“Iya. Versi manula,” ejek Jessie. Kedua gadis itu tertawa lagi.

Setelah membahas soal Teori Feromon, mereka mulai mengobrol soal kesibukan mereka di masa liburan sekolah kemarin. Jessie bercerita kalau ia sekeluarga pergi ke Hawaii selama tiga minggu—pulau Maui yang seperti surga. Kayla menghabiskan hari liburnya di rumah bibinya di Ukraina dan bersenang-senang dengan keluarga besarnya di sana. Sementara Julie, tak ada yang bisa ia banggakan karena seluruh hari liburnya ia habiskan di rumah dengan makan dan tidur.

“Kau ini sama sekali tidak berubah. Tetap saja pemalas seperti sapi,” kata Jessie. “Kapan pun mendapat hari libur, kau selalu saja tidur.”

“Masa liburan tiga hari seperti itu saja bisa mengubah sifatku?” tukas Julie santai sambil tertawa kecil. “Itu tidak mungkin.”

“Julie. Kalau kau terus-terusan bermalas-malasan dan tidur seperti itu, bisa-bisa kau kehilangan semua penggemarmu. Sebab badanmu akan jadi gendut dan bulat seperti babi,” kata Kayla.

“Tidak mungkin,” kata Julie.

“Tenang saja, Kay. Julie masih belum kehilangan pesonanya, kok. Tadi saja sudah ada lima anak laki-laki yang mendekatinya,” kata Jessie. Ia melambaikan pensilnya ke arah Julie. “Eits, eits. Kau tak bisa mengelak, Julie. Aku menghitungnya, lho.”

Kayla memajukan kursinya dengan antusias. “Julie, aku serius nih. Sangat serius. Sebenarnya ada berapa banyak sih cadangan feromon di tubuhmu?”

“Berapa suntikan setiap hari?” sambung Jessie.

Jessie tertawa cekikikan dengan intonasi yang mengesalkan. Julie menutup mulut Jessie dengan kedua tangannya dan gadis itu menggigit tangannya.

“Feromon lagi,” gerutu Julie. “Aku ini manusia normal. Bukan semut rang-rang. Dan aku tidak punya peralatan suntik di rumah. Jadi, tolong hentikan teori feromon konyolmu itu. Harus berapa kali aku bilang ini padamu?”

Julie mendesah panjang.

“Dan Jess,” jelas Julie sambil mengelap tangannya yang bau. “Untuk membantu matematikamu, tadi anak laki-laki yang mendekatiku itu cuma tiga orang. Cuma TIGA ORANG. Oh. Okelah kalau kau menghitung Tony dan John juga—”

“—tapi mereka kan cuma mau tanya di mana letak toilet pria. Kurasa mereka tidak bisa masuk hitungan.”

Jessie dan Kayla tertawa keras. Saking kerasnya sampai-sampai seisi kelas terdiam saat mendengar gelak tawa mereka yang mengagetkan. Julie sendiri tidak mengerti di mana letak lucunya pernyataannya tadi.

“Ya. Tidak lucu,” gerutu Julie.

Gadis-gadis itu masih saja memegangi perut mereka dengan geli. Julie cemberut karena tidak mengerti apa yang mereka tertawakan. Ia merasa tidak salah hitung.

Kayla berdehem singkat.

“Begini, Julie,” kata Kayla sambil mendekatkan wajahnya. “Coba pikirkan baik-baik. Kita anak perempuan. Mana ada anak anak laki-laki yang bertanya di mana letak toilet pria pada anak perempuan seperti kita? Apa lagi maksudnya kalau bukan untuk menghabiskan waktu denganmu?”

“Benar juga,” kata Julie, menyadari kebodohannya. “Baiklah. Kenapa kita tidak membahas hal-hal yang lain saja? Katanya—”

Kayla segera memotong.

“Lihat saja ya nanti, Julie? Kau belum bertemu senior-senior kita di Nimber, kan? Mereka sangat keren! Dan kau juga belum lihat semua anak laki-laki kelas Sepuluh, kan?” kata Kayla dengan penuh semangat. “Kau harus lihat Richard Soulwind! Anak itu sangat tampan. SANGAT TAMPAN! Tadi aku sekelas dengannya.”

“Kau sudah bertemu Richard, Kay?” tanya Jessie dengan antusias. “Seperti apa orangnya?”

Julie mendengus. Ia mulai malas membicarakan hal ini. Ia mencoba mencari-cari cara untuk mengalihkan perhatian mereka lagi dengan hal lain yang lebih menyenangkan. Julie melihat setitik harapan yang berwarna merah jambu yang mengintip di balik poni Jessie.

“JESS!” teriak Julie, mengguncang bahu Jessie. Teriakannya yang tiba-tiba itu membuat Jessie dan Kayla tersentak kaget. “Lihat itu, jerawatmu besar sekali!”

Jessie mulai panik.

Kayla memperhatikan jerawat itu dengan seksama. Benda bulat itu tersembul rapi di balik helai-helai rambut yang menutupi dahi Jessie. “Benar, Jess. Kalau diperhatikan baik-baik, jerawatmu memang cukup kelihatan.”

Jessie meraba-raba jerawat gemuk yang bertengger di dahinya. Jerawat itu memang sudah seminggu tidak menghilang dan itu membuatnya frustasi. Ia tak menyangka Julie akhirnya menyadari keberadaan jerawatnya.

“Padahal sudah kututupi pakai poni. Ah!” Jessie melenguh kesal. “Kenapa masih kelihatan juga!?”

Kayla mencoba merapikan poni Jessie. “Dengan posisi poni yang sekarang, kalau ponimu tersibak sedikit saja, Jess, ujung jerawatnya pasti langsung terlihat. Kau harus melakukan sesuatu untuk menutupinya.”

Julie menyeringai puas. Triknya benar-benar sukses. Sekarang ia ikut merapikan tatanan poni Jessie dan merusaknya lagi. Beberapa kali Julie sempat sengaja menyenggol jerawat Jessie yang gemuk itu, sehingga anak itu menjerit.

“SAPI!!”

Jessie menimpuknya dengan buku. Mereka tertawa.

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

23 thoughts on “01. Franchophobia (4)

  1. lanjutannya dari Franchophobia mana? sampai bulan juni tidak ada lanjutannya, apa sudah tamat? thanks ^^

      • Hehe.. Maaf ya, Christian, navigasi webnya masih kacau.. ^^x
        Sekarang blog ini sudah kutambahkan dengan kategori (lihat di sebelah kanan atas), jadi pembaca bisa memilih blog post ini berdasarkan bab-babnya.
        Semoga memudahkan, ya! ^__^

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Makasih yaa sudah berkunjung ke blog saya kemarin..
    Btw, novelnya keren. Walaupun baru baca satu bab sih hehehe. Lanjutkan yaaa!

    Keep writing dan terus semangat..

  4. novelnya keren banget, serasa baca novel terjemahan 😀 pasti kak corath itu udah dewasa n banyak pengalaman nulis yak
    kapan aku bisa bikin beginian…….hahaha
    aku baru nemuin blog ini, dan mau baca dari awal 🙂
    karakternya julie mirip bgt sama aku. kebo, idiot, cuek bebek, bikin orang ketawa tapi nggak tau letak lucunya-,- aku jg krlas 10 XD tapi di sini julie banyak yang suka, sedangkan aku jones kak

    jadi curhat deh
    pokoknya ini keren banget kak, aku ini bukan tipe orang yg kuat baca lama2
    tapi ini…aku bakal lanjuuuut 😀
    salam kenal kak corath^^

  5. Ping-balik: 01. Franchophobia (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s