01. Franchophobia (3)

Comments 10 Standar

Julie tidak bisa bilang kalau kelas pertamanya di Nimber terasa menyenangkan. M.Wandolf akhirnya menyuruhnya duduk di bangku paling depan. M.Wandolf selalu menunjuk Julie ketika membahas kembali materi pelajaran di sekolah menengah pertama. Peragaan-peragaan singkat yang dibuatnya selalu sukses membuat murid-murid lainnya tertawa. Seperti sebuah kuis berhadiah, lafal pengucapan Julie yang terlalu kacau membuat semua orang begitu bersemangat untuk memperbaikinya.

Dan berkat atraksinya yang tak terlupakan di Kelas Prancis pada pagi itu, Julie segera menjadi pusat perhatian pada jam pergantian kelas. Topik Ada-Anak-Baru-Yang-Bahasa-Prancisnya-Jeblok dengan cepat menjadi buah bibir di kalangan anak-anak baru.

Semula Julie tidak menyadari ini, tapi ketika ia mulai memergoki beberapa anak sedang menatapnya dengan ganjil, menunjuk-nunjuk, melirik dengan cara aneh, akhirnya ia sadar sedang menjadi bahan pembicaraan hampir seluruh siswa kelas sepuluh. Tapi Julie tak terlalu memikirkannya. Ia memang selalu begitu. Ia biasanya memilih tidak memusingkan hal-hal yang tidak penting.

Julie tak tahu apa yang terjadi pada anak-anak laki-laki ini, tapi yang jelas mereka getol sekali ingin dekat-dekat dengannya. Dua di antaranya adalah Kevin dan Josh–mereka sudah menghampirinya dan berbasa-basi sebentar. Sekarang giliran anak laki-laki ketiga.

“Hai, Julie,” kata anak laki-laki itu, memamerkan senyum terbaiknya. Ia mengulurkan tangannya dengan wajah bersahabat. “Mark McGollen. Aku tadi duduk persis di belakangmu di kelas Prancis. Masih ingat?”

Anak laki-laki itu terlihat menarik dengan gigi yang bagus dan rahangnya lebar sempurna. Matanya berwarna hijau toska dengan bulu mata yang pendek. Dada bidangnya terlihat begitu kokoh dan cukup berotot. Bentuk tubuh yang akan membuat iri anak laki-laki mana pun di ruang ganti laki-laki.

Julie ingat anak ini.

“Hai,” kata Julie. Julie menyambut jabatan tangannya dengan mantap.  “Mark. Mark McGollen. Tentu saja aku ingat. Kau kan tadi yang tertawa paling keras di kelas. Tepat di belakang kupingku.”

Anak laki-laki itu tergelak.

“Maaf—habisnya kau ini lucu sekali, Julie. Aku belum pernah melihat gadis selucu kau,” ujar Mark, memamerkan senyum lebarnya. “Jadi—kau ini tak bisa bahasa Prancis ya? Apa benar-benar begitu?”

Julie mengangguk. Dari tadi anak laki-laki yang mendekatinya menanyakan pertanyaan yang sama. Josh dan Kevin malah sempat mengajak belajar bersama. Pada kenyataannya justru topik ini adalah topik yang biasanya selalu dihindarinya. Tapi demi teman baru, Julie berusaha menjawab ramah.

“Aku bisa meminta nenek mengajarimu,” kata Mark.

Julie terbatuk-batuk.

“Apa?” kata Julie. “Nen—tidak. Tidak perlu repot-repot, Mark.”

“Tidak apa-apa. Nenekku pernah tinggal di Swiss sewaktu masih muda dulu. Beliau bisa lima bahasa. Kadang-kadang mengajariku,” kata Mark. “Bahasa Inggris, Prancis, Polandia—”

“Baiklah, mungkin. Akan kupertimbangkan,” kata Julie, menggaruk-garuk kepalanya. “Terima kasih atas tawarannya.”

Anak laki-laki itu mencoba pendekatan yang lain. Ia mencondongkan tubuhnya dengan “Umm—Julie,” kata Mark sekali lagi.

Julie tertawa. “Baiklah, Mark McWandolf.”

Anak laki-laki itu terkejut, melambaikan kedua tangannya.

“Tidak, tidak,” kata Mark dengan ekspresi sangat serius. “Aku Mark McGollen. Nama keluargaku McGollen, bukan McWandolf. Nama belakang ibuku juga Jackson, bukan McWandolf. Jadi, namaku Mark McGollen, bukan Mark McWandolf.”

Julie memutar bola matanya. Sepertinya Mark tidak menangkap maksud dari leluconnya tadi. Julie padahal hanya menggabungkan namanya dengan nama belakang guru Kelas Prancis mereka–M.Wandolf.

“Kau mengerti, kan?” tanya Mark sekali lagi.

Yeah,” kata Julie. “Mengerti.”

“Eh. Um—Julie.”

“Ya?”

Anak laki-laki itu mendekati Julie lagi dengan senyum yang menggoda. “Apakah ada yang pernah mengatakan padamu kalau kau itu sangat menggemaskan?”

Julie mengernyit. “Apa?”

Mark tersenyum lebar. “Iya. Kau sangat menggemaskan.”

“Meng—gemaskan??”

Julie tertawa meledak.

Mark mengangguk.

“Baiklah,” kata Julie sambil terkikih geli. “Kurasa kau terlalu berlebihan. Aku tidak merasa diriku—ehm—menggemaskan. Ada lagi yang ingin kau sampaikan?”

Mark mengerucutkan bibirnya.

“Bukan menggemaskan? Hm, mungkin menarik?” kata Mark, meneruskan pembicaraannya. “Hmm, entahlah. Yang jelas entah kenapa keberadaanmu itu menarikku untuk mendekatimu.”

“Apa?”

Julie tertawa lagi. Kosa kata anak laki-laki ini benar-benar absurd. “Menarikku untuk mendekati—memangnya aku magnet?”

Mark menggeleng heran. “Tidak. Aku kan bukan besi.”

Julie menyerah.

Yeah,” kata Julie. “Aku setuju.”

Julie menarik napas panjang. Hari pertamanya begini lagi.

Mark memang bukan yang pertama yang pernah mendekatinya. Entah mengapa sejak kelas Tujuh, terlalu banyak anak laki-laki yang mendekati Julie. Tidak ada satupun yang menarik perhatian gadis itu, bahkan playboy yang paling terkenal pun sudah angkat tangan menghadapinya. Saking kebalnya Julie terhadap kaum pria, sempat muncul spekulasi di sekolahnya dulu bahwa ia sebenarnya adalah seorang lesbi. Spekulasi yang sangat, sangat, sangat konyol.

Julie mulai mencari topik pengalih yang menarik. Tak lama setelah jam Kelas Prancis berakhir, Julie sempat mencuri dengar dari beberapa siswa baru yang cukup heboh membicarakan soal dua murid baru Nimber yang sangat menonjol. Cathy Pierre, kabarnya adalah murid baru paling cantik–dan Richard Soulwind yang benar-benar tampan seperti pangeran. Ia akan mencoba topik Cathy Pierre, seperti yang tadi ia terapkan pada Kevin dan Josh. Sejauh ini cukup efektif.

“Oh, iya. Mark. Kau tahu Cathy Pierre?” tanya Julie, menggaruk-garuk kepalanya lagi. “Kudengar dia anak baru yang paling cantik di sekolah.”

Mark mengernyit.

“Ya, aku sudah pernah dengar,” jawab Mark. “Tapi aku belum pernah melihatnya.”

Julie menggeliat. Ia sendiri juga belum pernah lihat.

“Kurasa sebaiknya kau mencari tahu tentang dia, lalu kau dekati dia. Dia sangat cantik. Sangat, sangat, sangat cantik,” kata Julie. “Kudengar dia baru putus dari pacarnya.”

Julie harus berulang-ulang mengucapkan kata ‘sangat cantik’ dengan ekspresi yang berlebih-lebihan. Tak sulit untuk menebak kalau Mark telah terpengaruh oleh persuasi Julie. Julie telah mengucapkannya dengan gaya yang sangat meyakinkan.

“Dia sangat cantik. Kau harus segera mencarinya. Kalau tak cepat-cepat, nanti dia keburu disambar orang lain,” tambah Julie. “Sangat. Sangat. Sangat. Sangat. Cantik.”

Mark membelalak.

“Benarkah?” tanya Mark. “Kau tahu tidak di mana kelasnya?”

Julie menelan ludah. Sejujurnya ia tidak tahu apa pun tentang gadis itu kecuali hanya namanya saja. Itu pun hasil menguping. Ia terpaksa mengangkat pundaknya.

“Tidak,” kata Julie sambil memutar otak lagi. “Tapi bukankah lebih asyik kalau mencari tahu sendiri? Anggap saja ini bagian dari petualangan cintanu. Betapa sulitnya perjuanganmu mencari tahu tentangnya tentu akan menjadi kisah yang indah untuk cinta kalian berdua. Dia pasti akan senang mendengarmu memperjuangkannya.”

Julie tercengang mendengar kata-katanya sendiri. Ia tidak menyangka bisa mengarang alasan secerdas itu.

“Baiklah,” kata Mark antusias. “Kalau begitu, akan kucari tahu. Terima kasih, Julie!”

Julie tersenyum simpul. Anak laki-laki itu bergegas pergi, bergerak semakin jauh dan menghilang di antara kerumunan, tepat ketika bel sekolah berbunyi menandakan waktu jam istirahat yang telah habis.

Julie bersiap-siap mengikuti kelasnya yang kedua.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

10 thoughts on “01. Franchophobia (3)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Ping-balik: 01. Franchophobia (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s