01. Franchophobia

Comments 40 Standar

Lily menghela napas. Ia melirik kembali jam dinding di koridor, memastikan kalau ia tidak salah lihat. Tepat seperti perkiraan.

Ini benar-benar menjengkelkan, pikirnya.

Lily mengangkat kakinya yang berat itu dengan sisa tenaga dan harapan. Ia semakin mendekati kamar itu, membuka gagang pintu yang tampak mencolok dengan stiker Garfield kuning raksasa yang menempel di daun pintunya. Ia melihat sesosok manusia yang meringkuk di atas kasur.

“Julie.”

Tidak ada respon.

“Julie!”

Lily agak mengeraskan suaranya. Lagi-lagi tidak ada respon.

Lily berjalan mendekat. Ia menghela napas panjang. Lily berdehem singkat. Ia mengoptimalisasi suara seriosa.

“JULIEEEEEEEEEEEE!!!”

Lily bisa merasakan kaca jendela kamar sedikit bergetar. Apa boleh buat. Bukannya Lily tidak peduli kalau teriakannya itu akan membangunkan tetangga, tapi ia memang tidak pernah punya pilihan lain. Lagipula, para tetangganya sudah maklum dengan aktivitas mereka setiap pagi.

“BANGUN!”

Gadis itu menggeliat.

Untuk sekali ini saja Lily berharap itu adalah pertanda kalau gadis itu akan segera beranjak dari ranjangnya. Tapi itu hanyalah harapan semu. Gadis itu menggeliat untuk mencari posisi kasur yang lebih empuk.

“JULIE,” geramnya.

Perlu kesabaran tingkat tinggi untuk bisa menghadapi permasalahan kehidupan ini, sampai-sampai Lily ingin bermeditasi. Masalahnya, ia tidak punya waktu untuk melakukannya. Sekarang yang paling ia inginkan adalah kembali ke dapurnya yang tercinta untuk melanjutkan eksperimen pai apelnya yang luar biasa. Dan ini tidak bisa dilakukan selama gadis ini masih terkapar di sana.

Padahal Lily sudah yakin teriakannya tadi memekakkan telinga.

“JUL—”

Tenggorokannya terasa kering dan gatal, terutama akibat kebanyakan mencicipi bahan-bahan kue di dapur tadi. Ia berubah pikiran. Suaranya yang indah itu terlalu berharga. Terpaksa, ia tidak punya pilihan lain.

Ia meloncat ke atas tubuh gadis itu.

Gadis itu berteriak terkejut. “Mooom!!”

Lily menyeringai jahat. Dengan tindihan berat badannya yang naik 5 kilo pagi itu, gadis itu pasti akan terbangun dalam sekejap. “Kalau kamu masih mau tidur, sih, boleh-boleh saja. Aku senang di sini.”

Gadis itu meronta-ronta. Di dalam setengah tidurnya itu ia bermimpi sedang tertimpa king kong.

“Mau bangun, tidak?” goda Lily.

Julie meronta-ronta lagi tanpa hasil. Kali ini ia benar-benar tidak berdaya.

“Masih mau tidur juga, Missy?” ujar Lily dengan nada nakal. Ia mengguling-gulingkan tubuhnya, berpura-pura seakan-akan sedang menggiling sebuah adonan kue yang sangat besar.

Gadis itu tampaknya tidak akan menyerah. Ia masih berusaha untuk melawan, tapi tubuh Lily terlalu besar dan berat untuk gadis sekecil dia. Dengan segala daya upaya ia berusaha untuk terbebas dari tindihan itu, tapi semakin keras dia berusaha, ia semakin kehabisan napas.

“Tidak bergeming juga? Serius?” Wanita itu sekarang berjingkrak-jingrak.

Mooooooom!” jerit Julie histeris.

Terdengar bunyi berderit-derit dari spring bed yang dinaiki oleh mereka berdua. Lily tidak peduli, kalaupun kasur itu harus jebol atau roboh. Anak ini tetap harus diberi pelajaran sekali-sekali.

Moom!! Aku tidak bisa bernapas—”

Gadis itu menggelinjang seperti cacing. Lily sama sekali tidak berniat untuk berhenti begitu saja sampai anak itu benar-benar terbangun dari tidurnya. Ia tahu benar kalau anak itu sebentar lagi akan menyerah.

“Oke, oke,” ujar Julie sesak napas. “Aku bangun, aku bangun.”

Lily tersenyum menang. Gadis itu akhirnya bangkit dari tempat tidurnya—segera setelah Lily membebaskannya dari tindihan. Dengan napas yang masih terengah-engah, gadis itu terbatuk-batuk sebentar. Ia mengusap kedua bola matanya sambil menguap panjang.

“Jam berapa sekarang, Mom?” tanya Julie.

Lily menarik selimut tebal yang tergeletak di lantai, melipatnya dengan rapi, dan meletakkannya kembali ke atas ranjang.

“Hampir jam sembilan,” jawab Lily santai.

“Apa!??”

Gadis itu berlari kencang seperti dikejar hantu. Ia hampir tersandung oleh kakinya sendiri. Dalam sekejap, ia meraih jam weker di atas meja belajar dengan panik. Lily benar. Delapan lima puluh lima.

“Sial!” umpatnya, menggerutu. “Aku terlambat!” Gadis itu segera mengemas peralatan sekolahnya.

Lily berdecak.

Lily sering heran, kenapa anak itu tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya saja. Salah satu alasan Lily menikahi Ethan adalah dengan harapan garis keturunan Ethan yang baik dapat memperbaiki sifat-sifat keturunannya yang terancam pemalas, ceroboh, dan susah diatur. Ethan jelas-jelas lebih baik darinya—dia seorang pria yang disiplin dan bertanggungjawab. Di luar harapan, Julie—anak satu-satunya mereka, sekarang malah tumbuh persis sekali seperti Lily saat masih muda. Benar-benar mengkhawatirkan.

Ia tiba-tiba teringat dengan satu hal penting.

“Jangan sekali-sekali berpikir untuk tidak mandi, Julie,” ancam Lily. “Kau tahu kan apa yang bisa kulakukan?”

Gadis itu melenguh.

“Aaah, Moom—” keluh Julie. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bergerak malas ke kamar mandi, tapi sebelumnya menghampiri cermin panjang yang berdiri di dekat kamar mandinya. Ia terkesiap melihat wajahnya sendiri. Rambutnya kusut seperti sapu ijuk dan matanya bengkak seperti balon. Julie berbalik ke arah Lily. Saat mereka bertatap mata, ia tertawa cengengesan.

“Aku seperti monster.”

“Cepat mandi,” perintah Lily tegas. “Aku sudah menyiapkan sandwich untukmu sejak berjam-jam yang lalu. Sekarang pasti sudah dingin dan keras seperti batu. Lagipula—bukannya kau tadi sudah bangun, ya?”

Julie ingat. Tadi pagi ia sebenarnya memang sudah terbangun—hanya untuk mematikan suara ayam dari jam wekernya. Sangat berisik. Rasanya seperti tinggal di perkampungan ayam.

“Umm—yeah,” gumam Julie tanpa ekspresi. Gadis masuk ke kemar mandi secepat kilat, menutup pintu kamar mandi dan menyalakan shower-nya sambil bernyanyi.

“Cepat,” kata Lily. “Sebentar lagi jam sembilan.”

Lily menghela napas panjang. Ia sebenarnya tidak ingin terlalu ikut campur lagi dalam urusan pendisiplinan Julie. Lima belas tahun—gadis itu sudah jadi gadis yang dewasa sekarang. Tadinya Lily percaya bahwa dengan penambahan umur, gadis itu akan mulai berubah jadi gadis lebih mandiri. Tapi pada kenyataannya jauh dari harapan. Gadis itu masih sama membuat frustrasinya, ia tidak akan bergerak jika tidak diperintah. Mau tidak mau, kali ini Lily tetap harus berbuat sesuatu.

“Kalau sudah selesai, jangan lupa ambil sandwich-mu,” kata Lily. Gadis itu tidak menjawab. Lily akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur Julie dan berjalan keluar kamar.

Tugas hariannya telah selesai. Sekarang ia bergegas kembali ke dapur—melanjutkan eksperimen besarnya yang tertunda.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

40 thoughts on “01. Franchophobia

  1. Wah , bagus banget ceritax .
    Gw juga suka ngarang” cerita , tapi …

    Yah , jelek” gitu dech ..

    Ajarin dong !

    Hhe .
    Gw suka ceritax !

    • Makasih ya, Stella.. Aku senang banget kamu main ke sini….. :D!
      Aku juga udah liat-liat blog-mu,, tulisanmu bagus kok.. ^_^
      Btw, nama tokoh kita hampir sama, yaa.. Juliette Rosalind.. Aku juga suka nama itu.. Hehehe..!
      Ayo kita lanjutin terus novel kita yuk, Stella.. 😉
      Ditunggu kelanjutannya..!

    • Makasih, Mika! ^__^
      Semoga tulisanku menyenangkan, ya… ^__^

      Ditunggu yaa kritik dan sarannya… 😉

  2. kita sama-sama suka nulis dan yang membuatku tertarik adalah nama-nama karakter tokoh kita banyak kesamaan … keren senang bisa mengenal anda

    • Halo, Edward!
      Waah, masaa..? Jadi pengen liat.. ^__^

      Aku juga senang bisa mengenal kamu.. 😀
      Boleh dong liat2 tulisannya.. 😉

  3. kk liat blog kamu di fb trus iseng liat..
    ternyata udah nulis cerita aja..
    kk baru baca yg bag.pertama..
    krna ngga trlalu suka novel jadi ngga bisa kasih masukan,
    but i think its interesting..
    latarnya belum dijelasin tapi kayaknya di usa or europe di tahun 2009-2011..
    nama tokohnya juga catchy, (just guessing, sonya suka banget ma juliette n bunga lily)
    oiy, nebak lagi, sifat si”mom” ada yg mirip ya ma sonya 😛

    • Hahaha.. Jelas dong, kak, ini kan novel cewek..
      Hehehe 😉

      Wuahh, sifat Mom yang mana nih?? #purapuragatahu 😛

      Makasih yaa kaa udah mampir-mampir.. ^_^

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

    • Salam kenal juga, Yuyun. 🙂
      Kebetulan aku dari dulu ingin membuat novel yang bergaya terjemahan.
      Oh ya, aku mampir ke blog-mu, tapi sudah dihapus, ya?
      Ayo kita menulis lagi! Saling menyemangati, yaa! 😉

  5. aku lupa kapan nge-follow blog kamu, tapi aku selalu dapat update-annya di imel. awalnya aku kira berita apa gitu, jadi nggak pernah gubris. dan baru sekarang aku niat baca, ternyata novel dan udah bab 12. aku sempat ngira novel terjemahan beneran lho. hihihi. aku suka sama gaya bahasanya 😀 mampir ke blog aku juga ya^^
    salam kenal 😀

  6. Baru mampir kesini berkat rekomendasi tmen, blum bsa komen apa” cz msih awal prmulaan tkoh julie yg lmyan mrip aku #curcol
    lanjut baca ya

  7. hallo kak naya, aku gak sengaja nemu blog ini di komenan situs gitu. aku suka gaya penulisannya kak, kayak novel terjemahan hehehe atau karena aku emang suka baca novel terjemahan ya? aku pembaca baru di blog ini, salam kenal :))

  8. Hai kak, Naya 😀 oh ya kak aku juga suka buat novel buat iseng2 ajja sih, tapi hasil nya uhhh jelek!!! Maklum baru permulaan menyukai novel dan baru belajar buat nya .Aku suka novel kaka, ceritanya bagus yang paling aku suka bahasanya. Kayak novel terjemahan , niatnya sih aku mau belajar dirumah buat novel yang gaya bahasa nya kayak punya kakak, tapi aku ga bisa ajarin dong kaka 😀 .

  9. Oh ya kak, satu lagi. Aku tertarik banget sama jalan cerita kaka, bagus , keren dan sangat kreatif. Apalagi julie dan kelas prancisnya dan betapa hebohnya para The Lady Bitches. Menjadi sekelompok atau komunitas para pecinta dan pemuja Richard soulwin, si lampu petromaks perenggut cahaya kehidupan yang biasa membuat Julie menjadi salah tingkah. Dan seperti ada penghalang antara mereka berdua, seperti magnet yang menghasilkan gaya tolak menolak. Huuh membayangkan itu aku sangat sedih, karena aku tdk bisa membuat cerita sebagus itu. Ajari aku dong kak dari mana mendapatkan nama nama keren sebagus itu, dan bahasa ceritanya, dan jalan ceritanya, dan masih banyak lg kak, darimana kaka mendapatkan semua itu kak gimana caranya maaf klo kk tidak mau juga tdk papa, oh ya kalo mau memanggilku jangan Siti , panggil saja YuLie aku sangat suka nama sekeren itu kak, sama seperti Julie . Maaf banyak yah trima kasih 😀

    • Hai Yulie! 😀
      Nama Richard terinspirasi dari film “Richie Rich” (enak disebut dan enak dilihat)
      Nama Julie terinspirasi dari film “Detective Monk” (anaknya asisten Teeger yang namanya Julie cantik banget)
      Nama Cathy terinspirasi dari film “Power Ranger” (jaman dulu pas aku kecil, hahaha.. ada ranger Pink namanya Catherine aku ngefans banget hehe)
      Soal nama tokoh, kita bisa terinspirasi dari mana saja, bahkan bisa juga gabungan dari imajinasi-imajinasi kita sejak kecil 😀

  10. Oo gitu ya kak makasih dah balas. Tpi aku bingung gimana aku follow tweet kk, klo akukan ga punya twitter kk punya fb ga klo ada apa biar aku add terus aku bisa Chatingan bareng kaka ngebahas soal itu. Oh ya kak, makasih buat infonya dan yg aku bingung lg d mana kk dapet alur cerita se kreatif dan sekeren itu. Dan sejak kapan kk mulai mnggemari tulis menulis atau membuat novel? Apakah dari kecil kk biasa menonton serial film luar negri sampai besar. Jadi kk bnyk terinspirasi? Maaf y kak aku bnyk tanya nya soalnya aku kurang paham . Dan maaf agak belibet smoga mudah d fahami

    • Halo Yuli 😀
      Kamu bisa add/follow personal Facebook-ku di http://www.facebook.com/sonya.p.putri (pastikan memberi pesan message terlebih dahulu)
      atau
      like page Naya Corath di http://www.facebook.com/nayacorath

      Aku suka menulis sejak bisa menulis (mungkin TK?)
      Aku suka menonton film apa saja, Indonesia, Hollywood, Korea, India, dll. Dan yup, benar.. menonton film adalah salah satu cara yang sangat baik untuk menambah wawasan, kreativitas, dan inspirasi. 😀

      Gapapa.. Kalau mau tanya lagi boleh kok ^_^

  11. Halo kak, aku baru pertama kali baca novel kakak langsung suka sama novel kakak krn novel kakak bagus bngt, aku jg sk sih buat cerita sendiri tp tulisan ku jelek makany engk brn d publis.. 🙂

    • Halo Jilly. 😀

      Friday’s Spot aku buat sejak tahun 2011, lho.. Dan saat itu cara menulisku masih jelek dan kurang menarik.
      Saat itu aku sengaja memutuskan untuk mem-publish cerita ini ke blog nayacorath sebagai motivasiku untuk mau belajar menulis.. Dan berkat itu, sekarang cara menulisku sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
      Jadi.. Jangan malu mem-publish tulisanmu, ya!

      Semangat menulis! 😉

  12. halo kak.. aku reader baru,izin bca ya ^_^.blum baca semua sih.tp aku yakin pasti keren.semangat nulis nya ya kak

    • Terima kasih Wira.. Semoga bisa menghibur kamu yaa
      Selamat membaca! 😉


      launching-yesterdayinbandung

      Jangan lupa, tanggal 14 FEBRUARI 2016 ini, jam 11 siang di AULA GRAMEDIA MATRAMAN…. kalian bisa ketemu aku, 9 penulis Elex, dan Jenny T. Faurine sang penulis best seller #1 Elex Media, di acara launching novel kolaborasiku ETERNAL FLAME“.

      Kalian juga bisa hunting tanda tangan, karena 10 penulis yang berasal dari berbagai kota ini akan hadir semuanya, LENGKAP!

      Oh yaa… Nanti di sana ada PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA DAN KUIS JUGA. YANG MAU IKUT LOMBANYA, KLIK DI SINI YAA.

      Sampai ketemu di Gramedia Matraman! 😉

      1866450-130525000143

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s