01. Franchophobia (2)

Comments 4 Standar

Julie berlari terengah-engah menuju gerbang yang telah ditutup. Ia yakin kalau ia  sudah terlambat hampir tiga puluh menit. Ini memang pertama kalinya Julie menapakkan kakinya di halaman sekolah Nimberland—sebagai siswi baru kelas Sepuluh. Tidak banyak peristiwa yang bisa mengizinkan Julie masuk ke dalam sekolah ketika ia datang terlambat, apalagi jika sudah seterlambat ini.

Ia melihat seorang pria penjaga gerbang sekolah sedang berdiri di balik jeruji. Ia menyapa pria itu dengan penuh optimisme.

“Selamat pagi,” kata Julie.

Tubuh laki-laki itu tinggi besar dan berotot tebal seperti kuda, urat-urat di gumpalan ototnya terlihat sangat mengerikan. Rambutnya hitam dan dipotong sangat pendek seperti tentara. Kontras dengan penampilannya yang tampak sangar, laki-laki itu malah menjawab salamnya dengan suara bass yang sangat ramah.

“Selamat pagi, Nona.”

Kumis mungil seperti chocochip tersembul lucu dari atas bibir laki-laki itu.

“Boleh aku masuk?” tanya Julie, melebarkan senyum.

Tidak butuh waktu lama–seperti yang Julie harapkan, pria itu membuka pintu gerbang yang terkunci dan memperbolehkannya masuk.

“Silakan,” kata laki-laki itu sambil membalas senyumnya.

Julie bersyukur sebesar-besarnya pada Tuhan. Ini adalah hadiah terindah dalam hidupnya. Ia memberikan senyuman terbaiknya pada penjaga gerbang sekolah itu dan mengucapkan terima kasih.

Julie melangkah ringan ke dalam bangunan sekolah, menyisiri setiap ruang kelas yang terlihat. Di bangunan sebesar ini, Julie sama sekali tidak tahu kelasnya pertamanya ada di mana. Kelas Prancis. Hanya itu saja petunjuk yang dimilikinya.

Petunjuk yang sama sekali tidak membantu.

Kelas Prancis tidak pernah mudah bagi Julie. Ia memiliki ketakutan sendiri terhadap pelajaran itu. Kalau ada yang namanya phobia terhadap kelas Prancis—anggap saja Franchophobia—Julie sudah pasti adalah pengidap Franchophobia kronis. Jika Franchophobia adalah penyakit mematikan, maka Julie pasti sudah mengidap kanker Franchophobia stadium akhir, dengan harapan hidup nol. Alias benar-benar sudah tidak bisa terselamatkan lagi.

Awal mulanya adalah ketika ia duduk di kelas Delapan di Springbutter, ia pernah dipermalukan oleh guru Kelas Prancis pertamanya. Julie mungkin memang tidak terlalu cakap dalam belajar bahasa asing, tapi kata-kata celaan dari guru Kelas Prancisnya pada waktu itu—Mlle.Ellene—benar-benar membekas sampai ke tulang sumsumnya.

“Mademoiselle Light,” kata wanita itu. “Kau ini benar-benar tolol. Membuat frustrasi. Lebih baik aku mendengar suara monyet daripada mendengar bahasa Prancismu.”

Itu adalah kalimat terakhir yang pernah diucapkan Mlle.Ellene tepat sebelum wanita itu mengundurkan diri dari pekerjaannya karena menyerah dengan keadaan Julie. Kata-kata itulah yang telah membuat semangat berbahasa Prancis Julie terjun bebas. Menabrak bumi dan tewas seketika. Julie sendiri yakin, syaraf linguistik berbahasa Prancis di seluruh penjuru sel otaknya pun telah meninggal dunia.

Sejak saat itu, Julie selalu gagal dalam kelas Prancis. Mlle.Ellene memang bukan favorit semua siswa—karena gaya mengajarnya yang buruk, ia banyak diprotes oleh orangtua murid—tapi bahkan setelah Mlle.Ellene diganti dengan guru lain pun, traumanya terhadap bahasa Prancis seakan tidak pernah tersembuhkan. Kelas Prancis telah membuatnya berkali-kali terancam tidak naik kelas dan memperkenalkannya pada Hukuman Toilet Springbutter yang tidak pernah bisa dilupakan.

Julie terhenti sejenak.

Ia mendengar suara ceracau khas di sebelah kirinya. Terdengar persis seperti suara orang yang berbicara sambil tersedak dahak. Tubuhnya langsung menciut hingga berukuran mikroskopis.

Ini dia. Kelas Prancis.

Julie tak sempat untuk bersukacita. Kakinya gemetar karena gigil.

Setelah menarik napas panjang, ia memberanikan diri memegang gagang pintu dan membukanya perlahan-lahan. Ketika ia mendongak, seluruh mata memandangnya. Suara ceracau itu berhenti.

Seorang guru Kelas Prancis tengah berdiri tak jauh di depannya, memandangnya dengan mata yang tajam. Kepala setengah botak di bagian ubun-ubunnya menarik perhatian dengan cara yang ganjil.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk?” kata guru Kelas Prancis itu.

Rasa percaya diri yang tadi menyelimutinya langsung menghilang—tersapu oleh pekatnya aura hitam mencekam yang ada di ruangan itu. Ruangan kelas mendadak menjadi sangat hening dan tegang.

Julie melebarkan senyum malaikatnya.

“Aku sendiri.”

Kelas itu tertawa.

Guru itu mengernyitkan wajahnya. Tubuhnya yang pendek dan gembul bersatu padu dengan jas coklatnya membentuk siluet yang terlihat seperti kue muffin. Ia melambaikan tangannya dengan perlahan.

“Baik. Karena ini hari pertama, kau kumaafkan. Tapi jangan harap di lain hari kau bisa terlambat lagi.” ujar laki-laki itu. “Masuklah, Mademoiselle.”

Julie bersorak.

Merci, Monsieur!”

Lidahnya kelu. Sembilan orang sedang cengar-cengir di atas kursi mereka. Guru Prancis itu pun ikut-ikutan menahan senyum. Tapi Julie tak ambil pusing. Ia melihat sekelilingnya dan mencari bangku yang kosong. Ia menemukan sebuah bangku kosong sedang duduk manis di pojok kanan belakang—sangat jauh di ujung peradaban. Sebuah lokasi yang luar biasa strategis.

Belum sampai tiga kaki ia berjalan, tiba-tiba langkahnya ditahan oleh sang guru Prancis.

“Tunggu, Mademoiselle,” kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. “Siapa bilang boleh duduk? Ayo sini, dihukum dulu.”

Julie tercekat.

Laki-laki itu menganyunkan tangannya dan mengajak Julie untuk berdiri di depan kelas bersamanya. Julie tersenyum pahit. Ia mengikuti instruksi itu dengan langkah lunglai dan wajah depresi.

Mademoiselle,” kata laki-laki itu. “Tout d’abord, presentez vous![1],”

Tot de.. boh?

Guru itu tersenyum, “Oui.

Julie menelan ludah. Ia hanya tahu, oui itu artinya ya. Sisanya seperti suara kumur-kumur dan orang batuk berdahak. Lagipula—apanya yang tot!??

“Baiklah,” gumamnya. Ia berpura-pura berpikir keras. “Um.”

Matanya menari ke sana kemari untuk mencari bala bantuan dari wajah-wajah asing yang berada di depannya. Beberapa dari wajah itu ternyata sudah ia kenal—teman-teman satu sekolahnya di Springbutter. Mereka adalah Karen, Raul, Tom, Emily, dan—JESSIE!

Julie memutar bola matanya ke arah Jessie dan gadis itu langsung menangkap isyarat daruratnya. Jessie berusaha menggumamkan sesuatu, memberikan petunjuk penting, tapi Julie tidak bisa mendengarnya.

Julie akhirnya mengalihkan perhatiannya pada jam dinding yang tergantung di kelas. Dengan keahlian panca indra yang tiba-tiba muncul, ia bisa mendengar bunyi berdetik itu berdengung di kepalanya, dan kemampuan super lain seperti menajamkan matanya untuk melihat jarum detik jam itu bergerak melingkar mengitari poros jam yang berukiran paruh elang. Dentingan-dentingan yang khas dari jarum jam itu secara aneh terdengar seperti suara musik klasik yang indah.

“Halo?” panggil guru itu. “Mademoiselle?

Julie tersontak dari lamunannya. Ia tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Suasana kelas itu sekarang benar-benar sunyi senyap karena mereka semua sedang menantikannya untuk mulai membuka suara. Julie melihat ke sana ke mari. Tidak ada satu pun ilham yang datang. Ia akhirnya memutuskan untuk menyerah saja.

“Um. Baiklah. Begini,” ujar Julie, menyengir seperti sapi. “Sebenarnya aku sama sekali tak mengerti apa yang Anda ucapkan.

Julie tidak tahu di mana letak lucunya, tapi setiap orang di sana tertawa. Jessie malah tertawa terlalu geli, melebihi porsi normal yang seharusnya ia perlihatkan.

“Sebenarnya aku hanya memintamu memperkenalkan diri tadi, Mademoiselle,” kata guru Kelas Prancis itu, menjelaskan dengan sangat lembut. “Sekarang, coba perkenalkan dirimu.”

“Dalam bahasa Inggris?”

Julie menatap laki-laki itu dengan sungguh-sungguh.

Laki-laki itu tertawa. “Oui.”

Julie mendesah lega. Sekarang ukuran kepalanya telah kembali seperti semula. Jantungnya juga sudah mengalirkan darah beroksigen normal ke seluruh tubuhnya. Tidak ada yang membuatnya lebih berbahagia selain tugas sederhana ini.

Julie mulai memperkenalkan namanya (“Julie Light”), asal sekolahnya (“Springbutter Middle School”), tempat tinggalnya (“Yeaa—tak jauh dari Nimber”), dan hobinya (“Telat”).

Seisi kelas itu tertawa pada kalimat yang terakhir.

Julie tak lupa pula menambahkan pengetahuan umum kepada teman-teman barunya itu bahwa bahasa Prancis adalah hal yang paling tidak bisa dia kuasai di dunia ini. Julie menjelaskan kalau di sekolah menengah pertama ia sempat terancam tidak naik kelas gara-gara tidak pernah lulus pelajaran bahasa Prancis. Jessie dan beberapa teman lain yang dikenalnya pun mengangguk mengiyakan. Julie tidak berniat menambahkan detil yang terlalu banyak tentang aib itu.

“Jadi, Mlle.Light—namamu bagus sekali,” kata guru Prancis itu dengan sopan. “Apakah kau benar-benar tidak bisa berbahasa Prancis? Sedikit pun?”

Julie menggeleng.

“Tidak adakah sedikitpun dari beberapa tahun pelajaranmu di sekolah yang kau ingat? Kau tentu sudah sering mengikuti kelas Prancis sebelumnya, bukan?”

Julie mendesah panjang.

“Ya. Begitulah,” kata Julie akhirnya, menjawab pertanyaan guru Kelas Prancis berbadan gembul tadi. “Aku sangat bodoh dan tidak terselamatkan. Tidak usah kecewa kalau nanti aku tidak lulus pelajaranmu, Mr—”

M.Wandolf.”

Yeah, M.Wandolf,” ulang Julie. “Kurasa aku memang ditakdirkan tidak bisa berbahasa Prancis. Lagipula, aku sama sekali tidak menyesal. Ini sudah bakat—atau kutukan. Diolok-olok pun tidak ada pengaruhnya buatku.”

Pidato yang sama yang selalu Julie lancarkan setiap kali berhadapan dengan guru kelas Prancis yang baru. Itu benar. Masa lalunya di Springbutter terlalu suram. Saking suramnya, mereka harus mengganti guru Kelas Prancis berkali-kali demi Julie dan membuat kepala sekolahnya frustrasi.

M.Wandolf berdehem.

Well, aku tidak percaya kalau ada orang yang sebegitu bodohnya—maaf bukannya aku bermaksud menyinggungmu, Mademoiselle,” ujarnya. Ia terlihat sangat optimis. “Tapi aku yakin, kalau mendapat penanganan yang tepat, pasti kau akan bisa berbahasa Prancis. Comme un natif[2].”

Yeah,” kata Julie. “Kuharap begitu, Monsieur.”

Julie tahu apa yang laki-laki itu katakan adalah hal mustahil yang tidak akan pernah terjadi. Tidak ada seorang pun yang mampu mengobati penyakit Franchophobia yang telah berakar di alam bawah sadarnya. Tapi setidaknya Julie berharap semoga kehidupannya di Nimber tidak seburuk kehidupannya di Springbutter dulu.

Semoga saja.

***

[1] Pertama-tama, perkenalkan dirimu

[2] Seperti orang pribumi (native)

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

4 thoughts on “01. Franchophobia (2)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Ping-balik: 01. Franchophobia | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s