CATATAN PENULIS (62)

Comments 204 Standar

Hai semua! :D

Ada dua berita yang ingin kusampaikan kali ini:

– Perubahan baru layout blogku

Update kali ini

Bab Keberanian – Part 1 dan Bab Keberanian – Part 2

Aku sangat senang kalau kalian berkenan meninggalkan komentar dan saran-saran untuk setiap update yang kulakukan. Tulisan-tulisan dari kalian selalu membuatku bersemangat untuk menulis kembali. Semoga aku bisa memberikan update terbaru secepatnya ya!

Selamat membaca! ;)

BACA DARI AWAL (DAFTAR ISI)

tbird@NAYACORATH || facebook-like-button@NAYACORATH

Daftar Isi

Comments 58 Standar

Blog novel kali ini adalah seri Friday’s Spot : JULIE LIGHT DAN KELAS PRANCIS. Update yang kulakukan biasanya dua minggu sekali, kadang-kadang lebih sering, kadang lebih lama.. Tergantung ilham dari Tuhan. Hehehe.

Kisah ini menceritakan tentang Julie Light dan kekonyolan-kekonyolan yang dilakukannya saat menghadapi Kelas Prancis di sekolah barunya, Nimberland High School (NIMBER). Ada beberapa konflik kecil yang kutambahkan, beberapa seru-seruan ala SMA, sedikit komedi yang bisa menghibur di kala kalian merasa suntuk (yaa sedikit haha).. It’s just for fun… So, I hope you guys like it! :D

Berikut ini aku paparkan daftar isi dari masing-masing bab yang ada di blog post ini (silakan klik link-nya untuk mengakses halaman tersebut):

BAB I – FRANCHOPHOBIA

  1. Franchophobia – bagian 1
  2. Franchophobia – bagian 2
  3. Franchophobia – bagian 3
  4. Franchophobia – bagian 4

BAB II – CATHY PIERRE

  1. Cathy Pierre – bagian 1
  2. Cathy Pierre – bagian 2

BAB III – SANG PANGERAN

  1. Sang Pangeran – bagian 1
  2. Sang Pangeran – bagian 2
  3. Sang Pangeran – bagian 3

BAB IV – JULUKAN

  1. Julukan – bagian 1
  2. Julukan – bagian 2

BAB V – PERTEMUAN

  1. Pertemuan – bagian 1
  2. Pertemuan – bagian 2

BAB VI – KELAS PRANCIS

  1. Kelas Prancis– bagian 1
  2. Kelas Prancis – bagian 2
  3. Kelas Prancis – bagian 3

BAB VII – LIPUTAN

  1. Liputan – bagian 1
  2. Liputan – bagian 2
  3. Liputan – bagian 3
  4. Liputan – bagian 4

BAB VIII – PERUBAHAN

  1. Perubahan – bagian 1
  2. Perubahan – bagian 2
  3. Perubahan – bagian 3

BAB IX – PENYELAMAT

  1. Penyelamat – bagian 1
  2. Penyelamat – bagian 2
  3. Penyelamat – bagian 3

BAB X – KRISIS

  1. Krisis – bagian 1
  2. Krisis – bagian 2
  3. Krisis – bagian 3
  4. Krisis – bagian 4

BAB XI – KEJUTAN

  1. Kejutan – bagian 1
  2. Kejutan – bagian 2
  3. Kejutan – bagian 3

BAB XII – RAHASIA

  1. Rahasia – bagian 1
  2. Rahasia – bagian 2
  3. Rahasia – bagian 3

BAB XIII – HARI YANG DITUNGGU

  1. Hari yang Ditunggu – bagian 1
  2. Hari yang Ditunggu – bagian 2
  3. Hari yang Ditunggu – bagian 3

BAB XIV – PERAYAAN

  1. Perayaan – bagian 1
  2. Perayaan – bagian 2
  3. Perayaan – bagian 3

BAB XV – ANCAMAN

  1. Ancaman – bagian 1
  2. Ancaman – bagian 2
  3. Ancaman – bagian 3
  4. Ancaman – bagian 4
  5. Ancaman – bagian 5

BAB XVI – SESI KEJUJURAN

  1. Sesi Kejujuran – bagian 1
  2. Sesi Kejujuran – bagian 2

BAB XVII – YANG SEBENARNYA

  1. Yang Sebenarnya – bagian 1
  2. Yang Sebenarnya – bagian 2
  3. Yang Sebenarnya – bagian 3
  4. Yang Sebenarnya – bagian 4

BAB XVIII – BAYANGAN

  1. Bayangan

BAB XIX – PERANG DINGIN

  1. Perang Dingin – bagian 1
  2. Perang Dingin – bagian 2
  3. Perang Dingin – bagian 3
  4. Perang Dingin – bagian 4

BAB XX – RENUNGAN

  1. Renungan – bagian 1
  2. Renungan – bagian 2
  3. Renungan – bagian 3
  4. Renungan – bagian 4

BAB XXI – KEBERANIAN

  1. Keberanian – bagian 1
  2. Keberanian – bagian 2

21 – Keberanian (2)

Comments 10 Standar

smirking-girl-illustration-smiling-43576960

Cathy menghindari Jessie dan Julie di Kelas Sejarah Dunia tadi. Walaupun gadis itu sekarang hanya duduk sendirian—tanpa teman-teman barunya, tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk mengubah keadaan itu. Jessie sama sekali tidak berminat menanggapi gadis itu dan berpura-pura bersikap seolah-olah gadis itu tidak pernah ada. Sedangkan Julie–Julie sempat mendekati Cathy sebentar, hanya untuk mendapatkan tatapan mengerikan yang menciutkan nyalinya.

Ia mundur perlahan-lahan.

Dan siang ini, kafetaria kembali sepi. Hanya ada Jessie, Kayla, dan Julie di meja mereka. Bertiga saja, seperti hari-hari sebelumnya.

Julie melihat sekeliling. Pinky Winky belum datang, ia tidak bisa menemukan Cathy dan Cassandra di mana pun. Nick tak pernah duduk bergabung dengan mereka lagi, sejak Richard memutuskan untuk menghindar dari mereka. Richard pun tak pernah muncul di kafetaria, entah kenapa. Gosip-gosip masih terus bermunculan dan mengerubunginya, tapi Julie tidak mau ambil pusing soal itu. Menurutnya ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan. Ia menginginkan penyelesaian, tapi nasib tak memberinya petunjuk sama sekali tentang apa yang harus ia lakukan. Kayla dan Jessie masih saja tidak mau membahas soal Cathy.

“Hari ini makanannya enak,” kata Kayla suatu ketika.

Julie tersenyum. Tidak ada yang spesial dengan menu hari ini, tapi koki baru di kafetaria Nimber sepertinya lebih tahu bagaimana caranya memanjakan lidah. Ia mengangguk. “Iya—”

Tiba-tiba segerombolan gadis kelas dua belas menghampiri meja di sebelah mereka. Rambut-rambut mereka tertata dengan sangat baik—dengan style potongan terbaru, aksesori pakaian  berkualitas tinggi, disertai dandanan make-up minimalis yang terlihat sangat elegan, menarik perhatian. Wangi parfum mahal dengan segera semerbak menyengat hidung semua orang. Salah seorang dari gadis itu terlihat mencolok dibandingkan yang lain.

Emma Huygen.

Jessie, Julie, dan Kayla saling menatap dengan wajah tegang.

Dalam sekejap, suasana hening membosankan yang tadinya menemani makan siang mereka berubah menjadi sebentuk olahraga jantung yang tidak disangka-sangka. Perut Julie mengejang, bergejolak seperti letusan gunung Vesuvius, napasnya tercekat seperti dicekik zombie. Kedatangan grup Emma di sebelah meja mereka bukanlah hal yang biasanya terjadi. Bukan hanya karena Emma adalah seorang legenda–lebih dari itu. Mereka tidak pernah berurusan dengan Emma karena selama ini Cathy yang menginginkannya. Dan sekarang, gadis dominan itu justru duduk tepat di sebelah mereka.

Untuk pertama kalinya.

Julie menyeruput es tehnya dengan gaya kaku. Jessie memberikan kode-kode dengan bola matanya yang berputar ke kiri dan ke kanan. Kayla mengangguk tipis untuk memberikan tanda paham. Meski tidak berbicara satu sama lain, mereka bertiga mengetahui persis bahwa mereka sedang memanggil kembali ingatan mereka akan percakapan tentang Emma yang pernah mereka lakukan secara diam-diam.

Kayla pernah bertemu Emma dulu saat ia berkunjung ke kelas Steve. Menurutnya, Emma  adalah seorang gadis yang sangat cerdas dan cantik. Penampilannya yang anggun dan berkelas secara eksplisit menunjukkan kualitas di dalam dirinya. Ia memiliki kharisma yang mampu menyihir orang-orang di sekelilingnya untuk mengaguminya, tapi entah kenapa Kayla pun meyakini kalau Emma  memiliki aura jahat yang tidak bersahabat.

Beberapa waktu yang lalu, Jessie pernah secara tak sengaja bertemu dengannya di Klub Renang. Emma saat itu berada di sana hanya untuk berbicara dengan Mr.Howard, pelatih renang mereka yang menjadi guru olahraga di kelas Emma. Menurut Jessie, gadis itu baik, sopan, dan benar-benar menyenangkan. Siapa pun yang melihatnya akan merasa ingin menghormatinya. Kebaikan yang terpancar di wajahnya akan mrmbuat siapa pun sangat sungkan untuk berpikiran buruk tentangnya.

Ini benar-benar penjelasan yang membingungkan. Tapi entah kenapa ini adalah penjelasan yang paling benar tentang seorang Emma. Dua wajah yang berbeda. Lucy membenarkan hal tersebut.

Lucy bertemu dengannya di awal-awal keikutsertaannya dengan tim akademis sekolah. Pada awalnya, Lucy melihat kesan yang baik dari kepribadian Emma Huygen. Emma adalah senior yang sangat pintar, menginspirasi, dan  disukai para guru. Tapi suatu ketika, Lucy menyadari kalau Emma hanya bersikap baik pada orang yang diinginkannya. Hanya pada orang yang diinginkannya. Ketika tidak ada seorang guru pun yang melihatnya, Emma bisa berubah menjadi seorang penindas yang merendahkan siapa pun dengan cara yang tidak berkeprimanusiaan.

Emma dapat menekan murid-murid perempuan yang berperilaku tidak sesuai kemauannya, berkata jahat, dan membuat seseorang merasa   benar-benar tidak berarti. Kesempurnaan telah memberinya ruang untuk bersikap sewenang-wenang pada orang-orang yang tidak disukainya. Sifat egoisnya, entah bagaimana mengingatkan mereka pada sifat Cathy. Namun Julie, Jessie, dan Kayla menyadari kalau ada satu perbedaan besar di antara mereka berdua.

Cathy hanya seorang egois pasif. Pasif. Itu saja. Dari dulu selalu begitu. Seburuk apa pun sikapnya, Cathy tidak pernah berani menghadapi seseorang  langsung, atau mengkonfrontasi secara  spontan. Ia hanya merajuk, menghindar, dan mengungkapkan ketidaksukaannya lewat ekspresi verbal yang tidak berbahaya.

Sebaliknya, Emma Huygen memiliki keegoisan yang agresif, dominan, dan mengancam. Seperti sebuah rahasia gelap yang tidak terucapkan. Dan aura mengerikan itu, sekarang tepat berada di sebelah mereka. Sensasi yang mengintimidasi ini, dengan ajaib membuat mereka segera kehilangan nafsu makan.

“Koran sekolah!”

Julie memutar kepalanya.

Seorang anak laki-laki dari klub koran sekolah membawa setumpuk koran sekolah. Ia menghampiri meja mereka, meletakkan koran sekolah itu di atas meja, sambil tersenyum pahit penuh simpati.

“Maafkan aku, Julie,” kata anak laki-laki itu. Ia menarik ujung bibirnya dengan masam.

Julie meraih koran itu dengan dada yang berdebar. Ia penasaran artikel seperti apa yang akan ditulis Jerry tentangnya. Ia sudah memastikan bahwa tidak ada satu pun dari Jessie, Kayla, Nick, atau Lucy yang mengatakan apa pun pada jurnalis koran sekolah–namun cepat atau lambat para wartawan itu pasti akan berusaha mengendus berita dari segala arah. Cathy dan Cassandra mungkin berkata sesuatu–atau mungkin tidak–tapi Julie sangat berharap semoga saja berita di koran sekolah hari ini tidak seburuk yang ia pikirkan.

Ada tiga artikel yang membahas kejadian minggu lalu. Jeremiah Hunt, Natalie Hortner, dan Claire McGuire–ketiganya mencoba membahas kejadian itu dari sudut pandang yang berbeda.

Artikel Jerry secara khusus membahas Richard. Ia dalam hal ini memposisikan Richard Soulwind sebagai seorang playboy kelas kakap yang gemar berburu wanita. Jerry menggarisbawahi peringatan pada para gadis agar lebih berhati-hati lagi dalam memilih pasangan. Dunia ini dipenuhi oleh tipu muslihat yang tidak terlihat, sehingga kita harus ekstra berhati-hati. Jangan terlalu gampang jatuh cinta dan terpedaya, karena yang orang yang kita cintai bisa jadi justru berbalik menjadi orang menyakiti kita. Contohnya saja Julie serta Cathy yang terkenal telah menjadi korban permainannya.

Isi artikel itu sama persis seperti yang Jerry ucapkan pada Julie minggu kemarin, dengan sentuhan sentimentil yang dramatis. Tak lupa, ia menambahkan akhir penutup artikelnya dengan khas Jerry yang penuh dengan nasehat-nasehat tentang pentingnya masa depan. Benar-benar khas Jerry.

Tulisan Natalie secara intensif membahas Cathy. Natalie memang tidak suka Cathy dari dulu. Lima belas paragraf panjang didedikasikan Natalie untuk menjelaskan bahwa Cathy Pierre adalah gadis egois manja yang tega meninggalkan sahabat-sahabatnya hanya karena seorang anak laki-laki. Kecantikan telah membuat Cathy menjadi gadis sombong yang lupa daratan, sehingga sangat wajar jika akhirnya karma Tuhan datang dan Richard memilih Julie yang berhati mulia dibandingkan dirinya. Ini lebih mirip artikel balas dendam ketimbang artikel yang bernada berita faktual.

Artikel dari Claire lebih fokus untuk mengisahkan Julie sebagai gadis jahat. Claire bercerita bahwa untuk mempertahankan julukan “The Unbeatable” yang terkenal, Julie Light telah berubah menjadi orang yang tega menusuk temannya dari belakang, merusak kisah cinta antara Cathy dan Richard. Julie selama ini hanya berpura-pura baik, bahkan bisa jadi berpura-pura bodoh, padahal ia sendiri merencanakan kejahatan jangka panjang itu hanya untuk menunjukkan betapa berharganya  dia di Nimberland.

Julie tersenyum. Ini jelas-jelas bukanlah presentasi berita ideal yang diinginkan oleh Jerry. Ini lebih mirip cerita gosip murahan dari opera sabun hari Minggu pagi yang sering ditonton Lily.

Artikel-artikel ini memang berlebihan, cenderung spekulatif, berlandaskan pada gosip–bukan tipikal Jerry sama sekali. Anak laki-laki itu pasti berharap bumbu-bumbu cerita yang lebih sensasional, tapi bisa jadi putus asa kekurangan bahan dan dikejar deadline.

Di akhir halaman, mereka membuat semacam gagasan polling baru untuk menentukan siapa pihak yang sebenarnya bersalah versi para pembaca.  Opini publik sementara minggu ini tidak ditampilkan, mungkin karena kurangnya bahan, kurangnya waktu, atau kurangnya sumber daya manusia–meskipun itu agak aneh.

Julie mendesah lega. Tidak seburuk yang ia pikirkan.

Walaupun ketiga tulisan itu cukup brutal, setidak-tidaknya ketiga artikel tersebut sama-sama memojokkan Julie, Cathy, dan Richard dengan kadar yang seimbang. Baginya itu yang paling penting. Dan Jerry cukup baik hati dan santai untuk membiarkan hal itu terjadi.

Julie menyerahkan koran sekolah itu pada Kayla dan Jessie yang dari tadi sudah sangat penasaran. Berbeda dengan reaksi Julie, Jessie justru mendumel saat melihat kata-kata buruk tentang Julie yang dituliskan oleh Claire di artikel itu. Ia tidak henti-hentinya protes dengan wawasan sempit Claire yang membuatnya jadi penulis payah dan tidak bermutu yang tidak pantas ada di klub koran sekolah.

“Kudengar,” kata Emma tiba-tiba, mengagetkan semua orang dengan suaranya yang berwibawa. “Ada seorang gadis yang merasa dirinya sangat cantik, sehingga ia dapat menaklukkan semua laki-laki tampan di sekolah ini.”

Emma tersenyum miring, terlihat sangat percaya diri. Emma mengambil gelas jus jeruk yang ada di hadapannya, menyeruputnya dengan santai, seolah-olah sengaja ingin membuat semua orang memusatkan seluruh perhatian padanya.

Gadis itu melanjutkan pernyataannya dengan sarkasme pelan yang jahat.

“Dan ternyata dia keliru. Rupanya dia tidak secantik yang dia kira.”

Ketiga gadis itu langsung terdiam membisu. Kayla menatap Jessie, memberi kode dengan kedua matanya. Jessie menyenggol tangannya ke lengan Julie, yang juga menyadari sandi yang sedang dikirimkan oleh mereka berdua. Julie tidak bisa memberikan sinyal balasan, karena jantungnya sedang berlarian dan ototnya sangat kaku, tidak bisa digerakkan. Suara itu terdengar begitu menakutkan.

Emma mengelap bibirnya dengan anggun.

“Aku percaya, kesombongan dan keangkuhan akan dibalas secara langsung pada orang yang melakukannya, bahkan tanpa perlu aku turun tangan. Bukankah begitu, teman-teman?” kata Emma, masih berpura-pura sedang berbicara dengan teman-temannya. “Tidakkah aku selama ini sungguh berbaik hati karena kemurahanku? Atau perlukah aku MENGINJAK orang yang telah menusukku, di titik terendah orang tersebut? Itu akan jadi pembalasan yang sangat manis.”

Ia tersenyum jahat.

“Dan mungkin di sini ada seseorang yang setuju denganku. Tidak, tidak, tiga orang,” kata Emma. “Apakah aku benar, Ladies?”

Emma tiba-tiba memutar tubuhnya ke arah Julie, mengamati Julie dengan mata elangnya sambil tersenyum sinis.

Julie menatap kaku seperti robot. Sekujur otot dan tulangnya tegang, seperti disuntik air es yang sangat dingin, yang membekukan pernapasannya. Ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Kayla menelan ludahnya. Sekarang Kayla bangkit dari kursi, mengajak Julie dan Jessie untuk ikut pergi meninggalkan meja itu. Julie terpaksa mengikuti tarikan tangan Kayla, padahal otot-otot tubuhnya masih menolak untuk bergerak dari tadi. Mereka pergi tergesa-gesa, Julie hampir saja tersandung.

Dari kejauhan terdengar suara tawa gerombolan Emma yang terdengar seperti jeritan gagak yang memekik di tengah malam.

“Mengerikan,” kata Jessie, saat mereka keluar dari kafetaria.

Julie baru bisa bernapas dengan normal karena dari tadi jantungnya berdegup sangat kencang dan pipa paru-parunya menyempit. Ia tak begitu mengerti apa yang Emma katakan tadi, tapi cara gadis itu mengucapkannya benar-benar membuat merinding.

“Dia membicarakan Cathy,” kata Kayla menjelaskan. “Jelas, ia ingin melakukan sesuatu terhadap Cathy. Dan mengetahui bahwa kita juga sedang bermasalah dengan Cathy, ia sedang menawarkan diri pada kita untuk membalas dendam.”

“Balas dendam?” tanya Julie.

“Iya. Balas dendam,” kata Kayla. “Kurasa ada kaitannya dengan Jake Williams yang dulu direbut Cathy dari Emma.” Kayla menelan ludah, kerongkongannya terasa kering.

“Sekarang aku mengerti bahwa Emma sedang menyusun rencana,” kata Kayla. “Ia telah mengatakan bahwa ia sengaja menunggu momen pembalasan yang paling menyakitkan untuk Cathy. Momen ketika Cathy berada pada titih terbawahnya.” Kayla bergidik.

“Mengerikan. Gadis itu benar-benar mengerikan.”

Jessie pada awalnya juga merasakan sensasi horor yang sama yang dirasakan teman-temannya. Namun tak lama kemudian ia mengubah raut mukanya.

“Biarkan saja,” kata Jessie.

Julie dan Kayla mengerutkan kening mereka. “Apa?”

Jessie sengaja berpura-pura menguap dan menjawab skeptis.

“Kalau ia memang ingin melakukan sesuatu pada Cathy, seharusnya ia lakukan itu dari dulu,” kata Jessie. “Aku tak peduli dengan rencana apa pun yang dia lakukan. Kalau dia memang ingin Emma memberi pelajaran pada Cathy–kalian tahu kan–ITU SEHARUSNYA DARI DULU.”

Julie merengut tidak setuju. “Apa maksudmu?”

Jessie sambil memutar bolanya.

“Baiklah. Kalau sekarang juga tidak apa-apa. Aku bahkan bersedia membantu.”

Julie terlihat tidak senang.

“Dia itu masih sahabat kita,” kata Julie dengan nada ketus. “Kenapa kau ini?”

“Benarkah?” tanya Jessie retoris. “Definisi yang menarik dari sahabat. Aku tidak peduli padanya sama sekali.”

“Kau tidak boleh begitu,” protes Julie.

Jessie mulai kesal. “Aku sedang membelamu, kau malah membelanya. Kau membuatku terlihat seperti orang jahat. Kau ingin menyalahkanku sekarang?”

Jessie mendelik dan memandang sengit. Julie mengerutkan alis dan wajahnya  mengeras.

“Hey. Sudah, sudah,” kata Kayla. “Sekarang tinggal kita bertiga, mengerti? Tidak ada gunanya kita bertengkar. Kalian tidak ingin kita bertiga akhirnya terpisah juga, kan? Kalian mau kita semua berhenti bersahabat?”

Jessie dan Julie menggeleng lemah.

“Tidak.”

“Maka ita harus lebih kokoh daripada sebelumnya. Jika Lucy dan Nick sudah bisa bergabung dengan kita lagi, kita akan memecahkan masalah ini bersam-sama. Kita akan menemukan caranya. Kita akan membuat Cathy dan  Cassandra kembali.”

Julie menatap pesimis.

“Bagaimana jika Cathy dan Cassandra tidak ingin kembali?” tanya Julie.

“Bagus,” kata Jessie.

Kayla mendesah. “Jess.”

Jessie menghela napas panjang. Pembicaraan semacam ini selalu membuat perasaannya memburuk. Tak lama kemudian, ia berusaha untuk menampilkan wajah lebih cerah.

“Oke. Kuakui mood-ku sangat jelek hari ini. Maafkan aku,” kata Jessie. “Bagaimana kalau kita menghampiri Lucy di perpustakaan saja? Barangkali ada yang bisa kita bantu. Setidaknya kita tidak perlu membicarakan hal yang menyebalkan ini lagi.”

Julie mengangguk setuju.

***

 

21 – Keberanian

Comments 17 Standar

images (7)

Sudah empat hari berlalu sejak hari Kamis sore yang tragis itu, sejak Cathy menampar Julie dengan marah. Hari di mana Richard akhirnya mengakui rasa sukanya pada Julie. Dan tiga hari sejak Cathy dan Cassandra memutuskan untuk berpisah dari geng mereka. Tidak banyak yang berubah siang itu. Julie, Jessie, dan Kayla masih duduk bertiga saja di meja mereka. Nick tidak bisa ikut bergabung, Lucy masih sibuk dengan kompetisinya. Sementara itu Cathy dan Cassandra—mereka berdua memilih duduk di tempat yang sangat jauh di ujung sana.

Mereka tampak asyik dengan teman-teman baru mereka.

Semua orang di Nimber benar-benar sibuk membicarakan perpecahan yang terjadi di dalam internal geng The Lady Witches. Bahkan di kafetaria sekalipun, orang-orang dari meja di sebelah Jessie, Julie, dan Kayla menanyakan apa yang terjadi pada geng mereka. Kayla berusaha menjawab dengan jawaban yang baik, Jessie tidak peduli sama sekali, sedangkan Julie hanya diam saja.

Siapa pun tahu kalau ada yang tidak beres yang terjadi di antara mereka.

Orang-orang mulai membuat spekulasi-spekulasi yang memanaskan telinga, menciptakan gosip-gosip baru tentang hubungan segitiga antara Cathy, Julie, dan Richard. Topik itu adalah topik terpanas di Nimber saat ini. Cerita tentang Richard yang berselingkuh diam-diam, Julie yang mempermainkan perasaan sahabatnya, atau Cathy yang mendapat karma atas perbuatannya—gosip-gosip semacam itu berlalu-lalang seperti burung merpati. Beberapa orang membuat teori baru tentang siapa anak laki-laki berikutnya yang akan ditaklukkan oleh Julie, siapa yang akan jadi pelampiasan Cathy, dan bagaimana Richard akan menghadapi penggemarnya yang patah hati. Simpang siurnya kejelasan tentang gosip ini disebabkan karena tidak ada konfirmasi sama sekali baik dari pihak Julie, Cathy, maupun Richard. Mereka bertiga tidak tertarik untuk memberikan penjelasan apa-apa, bersikap dingin dan membungkam mulutnya, bahkan Cathy pun tampaknya tak bicara terlalu banyak pada geng barunya tentang perselisihan itu.

Julie akhirnya memutuskan untuk mengikuti permintaan Jerry untuk membantunya di klub koran sekolah. Sikap Jerry yang ditunjukkannya minggu lalu memang mengesalkan—dan biasanya selalu begitu. Tapi Julie menyadari kalau akan lebih bijaksana jika ia terlibat di dalam tim. Insiden puisi Richard yang dulu pernah terjadi tidak boleh sampai terulang lagi. Ia harus mengawasi apa pun yang ditulis Jerry nanti tentang ia dan teman-temannya di koran sekolah minggu ini.

Julie benar-benar lupa kalau keputusannya itu justru adalah sebuah kebodohan besar. Sekarang, ia justru harus lebih banyak menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang paling haus akan sumber berita.

Para jurnalis klub koran sekolah.

Di ruangan klub koran sekolah sore itu, gadis-gadis anggota klub yang biasanya jarang menampakkan diri akhirnya mulai memadati ruangan klub mereka. Tidak hanya dari kelas sepuluh, bahkan ada yang dari kelas sebelas, dan sesepuh kelas dua belas. Motivasi utama mereka hanya satu—mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan Cathy, Richard, dan Julie. Mereka tak henti-hentinya menanyakan Julie pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang membuat telinganya sangat kebas.

“Kenapa kau tega merebut Richard dari Cathy, Julie?” tanya seseorang.

Sebagian besar dari mereka adalah gadis-gadis yang tidak senang dengan kenyataan bahwa Richard menyukai Julie. Mereka lebih bisa menerima ketika Cathy berpacaran dengan Richard, karena gadis itu sangat cantik. Tapi Julie–bagi mereka  adalah pengecualian yang tidak masuk akal.

Pada awalnya, mereka memang memulai dengan pertanyaan yang cukup sopan. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya lebih memojokkan, bahkan ada yang dengan terus terang menyatakan ketidaksukaannya.

“Apa yang kau lakukan sehingga Richard menyukaimu? Apakah kau memasang guna-guna atau semacamnya?”

“Aku tak tahu kalau ada yang bisa mengalahkan wajah cantik, yaitu kebodohan.”

“Kau tidak pantas dengan Richard,” kata seseorang yang lain.

Meskipun telah berusaha untuk tidak menghiraukannya, kata-kata itu sedikit banyak membuat Julie terluka. Ia tahu, mereka tidak pernah bermaksud jahat–hanya cemburu saja. Beberapa menyampaikan keberatan mereka dengan gaya setengah bercanda, beberapa sedikit lebih sinis, ada juga yang hanya diam saja, tapi jelas-jelas api kecemburuan yang menggelora telah membakar wajah mereka. Dalam hal ini, Julie sendiri tidak menyangkal tuduhan-tuduhan itu. Ia merasa layak untuk dipersalahkan. Ia memang tidak pantas untuk anak laki-laki sebaik Richard.

Julie hampir saja menyesali keputusannya untuk menghabiskan waktu di ruangan klub koran sekolah, kalau saja tidak ada Jerry yang kemudian datang dan memarahi gadis-gadis itu. Selama hampir setengah jam anak laki-laki itu mengomeli mereka semua, karena komitmen mereka yang sulit diandalkan.

Jerry memberikan kesempatan pada mereka untuk meliput berita itu dengan cara yang lebih elegan.

“Jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang peristiwa menghebohkan itu, lakukanlah dengan cara terhormat. Sebagai seorang reporter profesional,” kata Jerry. “Aku tak butuh gosip berkepanjangan yang tidak tercetak di atas kertas.”

Mereka terdiam dan tidak terlalu bersemangat memberikan jawaban. Semua orang tahu bahwa Jerry adalah seorang perfeksionis, jadi para anggota yang biasanya jarang datang memilih untuk menghindar dari tanggung jawab tambahan.

“Tidak ada yang berani?” kata Jerry.

Natalie mengacungkan tangan, dengan syarat Julie bersedia menjadi narasumbernya. Julie mendelik dan mengurutkan kening. Ini bukan bagian dari kesepakatannya dengan Jerry waktu itu.

“Tidak akan,” kata Julie, menyatakan keberatannya. “Seperti perintahmu, Jerry. Aku ke sini untuk membantumu mengedit tulisan. Bukan untuk wawancara.”

“Ayolah,” kata Jerry. “Demi klub koran sekolah.”

Julie tetap bergeming.

Jerry memegang dagunya untuk memikirkan pancingan seperti apa yang akan membuat Julie berubah pikiran.

“Aku butuh sudut pandangmu, Julie. Tidak pernah ada yang tahu kebenarannya, kecuali kalau salah satu dari kalian bercerita,” kata Jerry.

“Kau bisa membela diri. Atau kau bisa menyalahkan seseorang. Bayangkan itu? Selama ini orang-orang hanya bisa menebak-nebak. Tidak tahu siapa yang jahat–kau, Cathy, atau Richard. Mungkin Richard yang jahat. Kau dan Cathy hanya korban permainannya.”

“Apa?” tanya Julie.

“Kita butuh peran di sini. Pencitraan,” kata Jerry. “Kau pasti tahu. Tulisan yang menarik butuh peran tokoh yang tertindas dan yang jahat. Kalau kau setuju menjadi narasumberku, kau bisa memilih tokoh jahat mana yang kau inginkan. Berhubung Cathy adalah sahabatmu, kurasa Richard-lah yang bisa kita persalahkan untuk perpecahan kalian berdua.”

“Tidak!” Julie mulai terlihat jengkel. “Tidak ada yang jahat. Kenapa kau ini?”

Perkataan Jerry barusan benar-benar keterlaluan. Julie mulai kehilangan kesabaran.

“Kalian boleh menulis apapun, tapi aku tidak akan pernah berkata hal-hal buruk tentang teman-temanku,” kata Julie dengan ketus.

“Aku butuh berita, Julie.”

Julie menggeleng tegas.

“Kau tidak akan mendapatkannya dariku. Paham?”

“Hanya sedikit saja, ayolah. Kau bahkan tidak perlu–”

“Tidak,” kata Julie tegas. “Tidak, tidak, tidak.”

Jerry tiba-tiba berubah ekspresi.

“Lalu kenapa kau di sini? Kau seorang reporter,” kata Jerry kesal, meninggikan suaranya. “Ingat?”

Julie naik pitam.

“Karena kau yang menyuruhku ke sini. Untuk MEREVISI.” Julie membalas kesal. “Ingat?”

Percekcokan mereka berdua begitu sengit, sehingga anggota-anggota klub koran sekolah lainnya hanya menonton dan membiarkan. Sadar sedang diperhatikan, Julie menahan emosinya dan mengalihkan pandangannya.

Julie keluar dari ruangan itu untuk menyegarkan kepala dan dadanya yang panas. Napasnya menderu cepat, seolah berkejar-kejaran. Baru kali ini ia merasa sangat marah, untuk hal yang benar-benar sepele. Biasanya ia dengan mudah tidak menghiraukan tingkah Jerry yang menjengkelkan, tapi entah kenapa hari ini ia tidak bisa menahan dirinya. Akhir-akhir ini, perasaannya memang jadi sangat sensitif.

Julie tahu, Jerry tidak pernah bermaksud untuk membuatnya marah. Ia hanya menjalankan tugasnya, seperti yang biasanya ia lakukan. Mungkin Julie merespon terlalu berlebihan.

Atau mungkin justru sebaliknya. Barangkali anak laki-laki itu memang sudah merencanakan itu selama ini. Julie sekarang mulai curiga, jangan-jangan tawaran membuat revisi itu sebenarnya hanya jebakan dari Jerry, untuk memaksanya masuk ke dalam perangkap ini. Sejak awal, Jerry memang ingin menjadikannya sebagai bahan berita untuk koran sekolahnya.

Julie merengut. Ini benar-benar membuat kesal.

Julie masuk kembali ke dalam ruangan itu, membuat semua orang menatapnya dengan kaku.

“Aku butuh libur,” kata Julie. “Aku tidak akan datang ke ruangan ini dalam beberapa hari ke depan. Lagipula, kau sudah tidak butuh aku lagi, kan?” Julie memandang sekeliling. “Pasukan reportermu sudah banyak sekali. Kau pasti sangat senang.”

“Kau yakin?” tukas Jerry dingin. “Aku akan menulis apa pun yang aku inginkan.”

“Terserah,” kata Julie.

Julie keluar dari ruangan itu sekali lagi, tanpa mempedulikan reaksi dari orang-orang. Ia ingin meninggalkan tempat itu sesegera mungkin, mendinginkan hatinya yang sedang panas. Saat berjalan menuruni tangga di lantai dua, Julie terhenyak. Seseorang yang bercahaya dari kejauhan menarik sudut matanya.

Ia melihat Richard.

Anak laki-laki itu sedang berbincang dengan seorang anak perempuan. Gadis berambut pirang yang berbeda. Julie tak mengenalnya. Dan entah kenapa, mereka terlihat sangat akrab.

Sekarang kepala Julie benar-benar pusing.

***

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan (4)

Comments 8 Standar

friends

Setelah menghabiskan waktu terlalu lama bersenang-senang, kelompok itu menghentikan obrolan mereka karena langit telah mulai menggelap. Mereka lalu berpamitan dengan Julie dan Mrs.Light, dan ketika mereka tiba di ujung pintu, Jessie memberikan kejutan untuk Mrs.Light. Sebatang coklat Cadbury Dairy Milk kesukaan Lily. Wanita itu girang bukan main. Tentu saja, coklat itu hanya sebatang. Julie tidak kebagian jatah sedikit pun.

Dua jam berikutnya, Julie tertangkap basah sedang mengendap-endap di ruang makan untuk menjemput makan malamnya secara diam-diam. Julie meloncat kaget saat melihat Lily menyempil di sela-sela sofa. Suara Lily mengagetkannya seperti hantu.

“Kenapa tidak makan di sini?” kata Lily sambil menikmati potongan coklatnya dengan santai. “Kau ingin makan di kamarmu lagi, huh?”

“Umm,” kata Julie.

Lily terkikih penuh arti. “Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?”

Julie tidak tahu bagaimana cara Lily melakukan itu, tapi tebakan Lily memang benar. Itulah alasan kenapa ia sengaja tidak ingin bertatap muka dengan Lily hari ini. Insting wanita ini sangat tajam.

“Umm,” Julie berdengung lebih panjang.

“Kau tidak ingin aku membahas sesuatu, kan Julie? Apa itu ada hubungannya dengan Cathy? Karena aku memang baru saja akan menanyakannya.” Lily menjilat sisa coklat yang masih menempel di jarinya. Ia menjorok untuk mengambil tisu. “Oh. Apa itu berarti ada hubungannya dengan Richard juga?”

Julie menelan ludahnya. Tepat pada sasaran.

Lily adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui seperti apa perasaan Julie yang sebenarnya pada Richard. Kalau saja bukan karena demam yang dialaminya beberapa waktu lalu, mungkin ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Apa lagi Lily. Wanita itu akan selalu mem-bully-nya setiap ada kesempatan.

“Ummm, tidak,” kata Julie akhirnya.

Julie bisa saja menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya sekarang pada Lily dan berharap semoga ibunya bisa menenangkan hatinya, seperti ibu-ibu normal pada umumnya. Tapi Lily bukanlah ibu yang senormal itu.

Lily tertawa.

“Tidak apa-apa. Aku tahu. Kurasa ada pasti hubungannya dengan Richard,” kata Lily dengan intonasi yang aneh. “Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan?”

Lily tidak bisa berhenti menggoda gadis itu–dengan dua kata yang sama yang selalu diulang-ulang yang membuat Julie hampir muntah. Julie segera mendaki tangga menuju kamarnya dengan kecepatan halilintar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

“Sudah kuduga,” kata Julie. Ia menghela napas lega.

Julie membawa piringnya ke atas kasur dan menikmati makanannya pelan-pelan. Sisa makan siangnya tadi masih terasa sangat enak. Masakan Lily—dan kedatangan teman-temannya hari ini—adalah dua hal yang telah membuat mood-nya membaik. Lily selalu mampu menyenangkan hatinya dengan makanan-makanan enak, walaupun itu berarti ia harus bersiap-siap dengan kejutan gila yang kadang-kadang disisipkan Lily untuknya. Dan teman-temannya—adalah hal terbaik yang pernah dimilikinya dalam hidupnya. Julie tidak bisa mengharapkan apa pun lebih dari ini.

Julie telah menghabiskan makan malamnya. Ia meletakkan piringnya di atas meja belajar, sambil melihat ke arah jendela yang masih terbuka. Ia memandang lurus ke pemandangan luar, mengamati burung-burung gereja yang terbang rendah dari balik jendelanya yang masih terbuka. Sesaat kemudian, ia memutuskan untuk menyeret kursi meja belajar itu dan duduk di atasnya.

Ia terdiam selama beberapa menit.

Julie menghela napas, merasakan sesak di dadanya sendiri. Renungan ini membuatnya berpikir terlalu keras, menyeretnya ke dalam kesedihan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Meskipun kedatangan teman-temannya tadi sangat menyenangkan, sesuatu yang sangat penting telah menghilang.

Tidak ada lagi Ratu Drama. Ia telah pergi.

Tidak ada lagi aksi menggebrak meja, mencakar muka, atau teriakan histeris seperti yang biasanya mereka lakukan. Atau gaya aktingnya yang menarik perhatian. Dan intonasi suara berlebih-lebihan yang selalu dimainkannya yang membuat mereka tertawa. Julie tersenyum lemah, mengingat betapa ia merindukan suara sahabatnya yang dramatis itu. Ciri khas yang biasanya selalu mewarnai setiap keriuhan dan menghidupkan suasana The Lady Witches selama ini.

Nick benar.

Tanpa Cathy, semuanya terasa berbeda.

 

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan (3)

Comments 4 Standar

stock-photo-broken-toy-25151990

Julie harus mengakui, kunjungan teman-temannya telah membuat perasaannya hari ini menjadi lebih baik. Walaupun Lily terus-menerus menceritakan aib yang membuat mukanya memerah seperti tomat, tapi memiliki teman-teman yang tertawa bersamanya sangat menyenangkan.

Atau lebih tepatnya, menertawakannya.

Setelah Lily pergi, mereka tidak lagi membicarakan Cathy, Cassandra, atau Richard. Percakapan dengan Lily membuat mereka menjadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di Springbutter. Jessie mengatakan kalau ia telah mengenal Julie di kelas Tujuh, sejak semester pertama. Sementara itu, Kayla baru sekelas dengannya di kelas Delapan.

“Jadi,” kata Nick kemudian, “Julie benar-benar terkenal di sekolah lamanya, ya? Kenapa kalian tidak pernah membicarakan hal itu?”

Cerita Lily tadi tentang kehidupan Julie di Springbutter membuat Nick menjadi sangat penasaran. Kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di sekolah lama mereka memang tidak terlalu banyak dibicarakan.

“Tidak ada yang spesial—kenakalan standar,” kata Julie ringan. “Hanya beberapa kenakalan standar.”

“Kenakalan standar?” Jesssie tertawa. “Teman-teman, kalian tidak punya ide sama sekali betapa gilanya Julie dulu.”

Jessie memutar telunjuknya di dekat pelipis untuk menggambarkan kekonyolan yang pernah dilakukan Julie di masa lalu. Jessie baru menyadari betapa sedikitnya hal yang pernah diceritakannya pada Nick tentang masa lalu mereka.

“Lebih dari yang pernah kami ceritakan.”

“Maksudmu, ada lagi selain soal feromon dan Kelas Prancis?” tanya Lucy kemudian.

Jessie mengangguk.

“Banyak.”

“Salah satunya Hukuman Toilet—” Jessie sesak napas saat Julie langsung menyergap mulutnya, sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. “—dan—umph—” Jessie meronta-ronta. “Julie!”

Nick menggangguk.

“Aku pernah dengar tentang Hukuman Toilet,” kata Nick. “Soal Julie yang tidak bisa bahasa Prancis kan? Untuk menyelamatkan nilainya saat itu, Julie akhirnya dihukum membersihkan toilet sekolah selama setahun. Supaya bisa naik kelas. Benar, kan? Cerita itu cukup terkenal kok, kami sering mendengarnya setiap kali anak-anak laki-laki membahas Julie.”

“Kita juga sering membahasnya,” Lucy menambahkan.

Jessie tampak sangat senang saat Nick dan Lucy mengangkat kenangan yang sudah lama terkubur dari ingatannya itu.

“Dan jadi Selebriti Toilet,” lanjut Jessie. “Begini teman-teman. Ada beberapa insiden penting yang tampaknya lupa kami ceritakan tentang masa lalu Julie. Kita sering membahasnya secara garis besar, tapi mendetail?”

Jessie berdehem singkat.

“Berbagai hal konyol terjadi di toilet sekolah. Hal-hal yang pasti akan membekas dalam ingatannya.” Jessie terdiam sejenak. Keningnya berkerut sebentar, merenungkan apa yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian, senyumnya melebar seperti baru saja mendapat pencerahan. “Ah! Aku mengerti sekarang! Pantas saja! Kalian tahu kan kalau Julie sangat bodoh? Aku selalu heran kenapa dia berubah jadi seperti ini. Dulu sebenarnya dia lebih bodoh lagi.”

Julie melemparinya bantal. Mereka tertawa.

“Kalian tahu? Julie telah memperkenalkan padaku kekonyolan dan keabsurdan yang paling absurd yang pernah ada di muka bumi ini.” Jessie bermain-main dengan bantalnya. “Sepertinya dia sudah dikutuk oleh takdir. Bodoh. Ceroboh. Sapi–”

Julie menarik kuncir rambutnya dengan gemas.

“Hanya saja kadar kecerobohannya sudah berkurang drastis sejak bersekolah di Nimber. Kalian harus tahu kalau Julie Light di Springbutter dulu jauh lebih parah daripada apa yang kalian lihat hari ini,” kata Jessie pada Nick dan Lucy. “Julie yang sekarang memang tolol. Julie yang dulu lebih tolol lagi. Seratus kali lipat. Kalian pikir memangnya kenapa aku memanggilnya Sapi?”

“Ceritakan padaku!” pinta Nick dengan sungguh-sungguh. Lucy pun tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Jessie memulai bercerita tentang kecerobohan Julie yang hampir membakar lab Biologi saat percobaan memasak reagen fehling dengan kompor bunsen yang menyala. Seluruh penghuni Springbutter menjadi luar biasa heboh, kecelakaan itu menyalakan alarm kebakaran yang membuat siswa-siswa panik, dan sampai-sampai kepala sekolah Springbutter mengundang petugas pemadam kebakaran ke sekolah khusus untuk memarahinya.

Cerita berlanjut dengan pembalasan dendam Julie pada anak perempuan yang bernama Donita, karena anak perempuan itu mengadukan Julie pada Miss Hellen–guru Kelas Prancis yang sangat dibencinya. Kayla ikut menambahkan dengan beberapa detil yang terlewat oleh Jessie, salah satunya rencana Julie untuk mengelem kursinya. Adegan itu berakhir dengan insiden Julie tertangkap basah oleh guru Kelas Prancis mereka itu karena rambutnya tersangkut di resleting tas Donita, saat Julie mencoba menyelundupkan kodok ke dalam tas anak itu.

“Aku tidak pernah mendengar cerita itu,” tukas Lucy.

Nick tertawa.

“Kenapa kalian tidak menceritakannya dari dulu? Sepertinya masa muda kalian sangat menyenangkan.” Nick terlihat antusias. “Aku sangat ingin sekali bisa hidup dan bergabung di masa itu.”

Julie mendengus.

Yeah,” kata Julie datar. “Bisakah kalian menghentikan ini? Aku hanya berusaha untuk menjadi orang normal sekarang.”

“Itu benar,” kata Kayla sambil tertawa. “Kau sudah cukup berubah sejak di Nimber, Julie. Aku juga heran kenapa kau tidak pernah dihukum lagi seperti di Springbutter dulu. Padahal Hukuman Toilet menjadikanmu sangat terkenal. Kurasa mereka perlu tahu tentang rincian ceritanya.”

“Tidak, tidak,” pinta Julie panik. “Kayla.”

“Hukuman Toilet?” tanya Nick sambil menyeringai. Jessie mengedikkan kepalanya, tersenyum lebar.

“Kayla.”

“Ya. Termasuk Loncatan Tai yang diceritakan Mrs.Light tadi,” kata Kayla sambil terkikih. “Jadi, semuanya berawal saat Julie hendak membawakan—”

Ini yang paling Julie takutkan. Selama bersekolah di Nimber, ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya yang terbaik untuk mengalihkan perhatian semua orang supaya tidak ada lagi yang membahas masa lalunya yang satu itu. Sekarang, hanya dalam sebuah kunjungan singkat, semua aibnya yang disembunyikannya selama ini benar-benar akan terbongkar.

Dan semua ini gara-gara ibunya.

***

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan (2)

Comments 23 Standar

0511-1007-1217-4411_Cartoon_of_a_Little_Boy_and_Girl_Waving_Hello_clipart_image

Julie baru saja menyelesaikan makan siangnya dan sedang berjalan menaiki tangga saat ia mendengar suara yang sangat gaduh dari arah ruang tamu.

“Kejutan!”

Jessie melesat seperti anak panah dan menghampirinya sambil meloncat menaiki anak tangga. “Kau tidak akan menduga kami datang, kan!?”

Julie melihat Kayla beberapa detik kemudian. Ia menyeringai senang saat melihat Nick dan Lucy menyusulnya dari belakang. Rasanya sudah seabad ia tidak melihat mereka berdua.

“Nick! Lucy!”

Julie menyambut keempat temannya itu dengan sumringah. Ia mempersilakan mereka untuk masuk ke kamarnya, dan ia sangat luar biasa bersyukur pada Tuhan karena tadi siang ia telah membereskan ruangan itu dengan baik.

“Berani taruhan,” kata Jessie. “Kau pasti belum mandi.”

Julie meringis. Ia menyemprotkan pewangi ke tumpukan kain kotor di atas keranjang laundry yang tadi belum dicucinya. “Bukan urusanmu.”

Jessie tergelak. “Sudah kuduga. Sapi sepertimu pasti tidak akan pernah mandi jika tidak diharuskan.”

Julie melempar sarung bantalnya ke muka Jessie.

“Senang melihatmu, Julie,” kata Nick. “Bagaimana keadaanmu? Apakah kau tiba-tiba insaf atau semacamnya? Terakhir aku ke sini, kamarmu tidak serapi ini.”

Julie menatap Nick dengan muka datar.

“Heh.”

Julie mendengar pintu kamarnya yang diketuk dengan sopan. Suara Lily terdengar setengah berbisik dari luar, meminta izin untuk masuk, membuat Julie harus menahan pandangan skeptisnya mengingat selama ini ibunya selalu masuk ke kamarnya tanpa mengetuk atau bahkan bisikan pemberitahuan. Biasanya adalah teriakan bar-bar.

“Permisi,” kata Lily dengan suara yang sangat lembut, seperti dibuat-buat. “Ada berapa orang dari kalian? Mau kubuatkan sesuatu? Es teh? Jus jeruk?”

“Jus jeruk boleh, Mrs.Light. Jika tidak merepotkan,” kata Nick. Gadis-gadis yang lain mengangguk setuju.

“Oh. Kau lagi ya, anak tampan. Nicholas. Benar, kan?” kata Lily genit. “Aku ingat sekarang. Kau yang waktu itu juga pernah datang ke sini untuk berkencan dengan Julie. Apa kau mau kubuatkan lagi sepiring pancake spesial bernada cinta dari Mrs.Light untukmu?”

“Mom!” teriak Julie. “Dia pacarnya Jessie. Harus berapa kali kubilang padamu?”

Julie melenguh depresi.

“Lihat. Di sini juga ada Jessie, sebagai saksi mata, kalau kau tidak percaya. Nick adalah pacarnya Jessie, bukan pacarku. Kenapa kau selalu seperti ini?” kata Julie dengan jengkel. “Kau benar-benar membuatku stress, Mom.”

Lucy tertawa sambil menunduk.

“Baiklah, baiklah. Aku kan hanya bercanda, Cantik,” kata Lily. Ia menghitung sambil mengeja nama-nama mereka. “Jessie. Kayla. Nicholas. Daan—” Lily tersendat sebentar sampai Julie membantu menyebutkan nama orang yang terakhir, “Umm. Lucy. Ya, Lucy. Lucy Stone, benar bukan?”

Lucy mengangguk.

“Oh! Di mana gadis berwajah Latin?” tanya Lily. “Ms.Pierre. Benar kan? Umm—dan gadis yang satu lagi, dengan pita-pita di rambutnya—emm, aku lupa namanya. Ah! Cassandra. Ya. Cassandra, benar kan? Di mana mereka?”

Kayla menjawab sambil tersenyum.

“Cathy dan Cassandra sedang ada keperluan mendadak, Mrs.Light,” kata Kayla. “Mereka berhalangan hadir hari ini. Mudah-mudahan lain kali mereka bisa ikut mampir dan berkunjung lagi ke sini.”

Lily mengangguk penuh arti. “Apa dia sedang berkencan dengan Richard?”

Julie terbelalak.

“Mom!” kata Julie.

Julie mendorong ibunya ke luar kamar, sebelum wanita itu mengeluarkan kalimat yang aneh-aneh lagi. Lily tertawa cekikikan. Wanita itu melambai ke arah mereka sambil berkata, “Baiklah. Lima gelas jus jeruk. Segera datang!”

Nick terkikih geli.

“Ibumu benar-benar lucu, Julie,” kata Nick. “Apa dia selalu bersikap seperti itu atau ini hanya perasaanku saja?”

“Dia memang seperti itu,” jawab Julie. Ia menghela napasnya lagi. “Selalu membuat stress. Oh ya, kenapa kalian ke sini?”

Jessie menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia melempar bantal-bantal dari ranjang ke arah teman-temannya. Nick dan Kayla menangkapnya. Lucy mengambil sendiri sebuah guling dengan malu-malu.

“Tentu saja untuk mengganggu tidur siangmu,” kata Jessie, menggosok-gosok hidungnya yang gatal. “Aku tahu, ini jadwal kau tidur siang, kan? Mau sampai kapan kau tidur terus, Sapi? Aku heran padamu. Selalu saja tidur kapan pun ada kesempatan.”

Julie memicingkan matanya dengan kesal. Ia bergerak perlahan ke arah ranjang, lalu menyambar gadis itu dengan gegabah. Mereka bergulat dengan seru, dengan bantuan bantal.

“Lucy berkata ia ingin sekali bertemu denganmu, karena selama seharian kemarin ia tidak bisa menemani kita,” kata Kayla.

Julie menghentikan perkelahiannya. Lucy tersenyum.

“Aku sudah mendengar tentang kejadian dua hari yang lalu, Julie,” kata Lucy. Ia menunduk penuh simpati. “Aku minta maaf karena tidak bisa berada di sana untukmu.”

Julie menyengir santai. Keberadaan Lucy hari ini saja sudah sangat menyenangkan untuknya.

“Tidak apa-apa, Lucy. Oh, ya. Bagaimana dengan paper-mu? Apa kau sudah menyelesaikannya?” tanya Julie. “Aku sangat senang kau bisa mendapatkan posisi itu. Aku tahu kau pasti akan memenangkannya. Kau sangat pintar. Lebih pintar dari kita semua. Yang jelas dan pasti, kau lebih pintar dari Jessie.”

“Baru selesai sebagian,” kata Lucy. “Riset dan membaca buku membutuhkan banyak waktu. Aku sengaja menyempatkan waktuku hari ini untuk berkunjung ke rumahmu, karena aku khawatir aku mungkin tidak bisa sering menemui kalian lagi dalam beberapa hari ke depan. Kuharap kalian bisa mengerti, teman-teman.”

Kayla menyusul ke arah ranjang. Ia memilih duduk di sebelah Lucy, yang sedang duduk di salah satu sisi sambil memeluk guling. Ia meletakkan kembali bantalnya.

“Tidak apa-apa, Lucy,” kata Kayla. “Kami sangat mengerti kesibukanmu. Lebih dari itu, kami mendukungmu dan selalu mendukungmu untuk setiap prestasi yang akan kau torehkan untuk sekolah kita. Dan kau tahu, kau sangat membanggakan kami semua.”

Lucy tersenyum. Mereka berempat berpelukan—minus Nick. Anak laki-laki itu menatap mereka dengan seringai iri.

Oh! So sweet, ladies,” kata Nick. “Tidak adakah ruang lebih untukku? Aku ingin berpelukan juga.”

Nick bergerak mendekat, merentangkan kedua tangannya seperti burung. Jessie melempar bantal ke mukanya, sehingga anak laki-laki itu mengaduh.

Mereka mengobrol sebentar tentang perjalanan mereka sebelum berangkat ke rumah Julie. Mereka bertemu dengan seorang kakek-kakek tua nyentrik, yang memakai setelan jeans gombrong, kacamata ray band, dan sebuah kalung rantai besar di lehernya. Kakek itu lalu mengajak mereka berempat untuk high-five dengannya. Setiap tepukan tangan, ia lalu memamerkan gigi depannya yang ompong. Mereka tertawa cekikikan.

Saat gadis-gadis itu bercerita, Nick melihat sekeliling.

Ia mengambil kursi dari meja belajar dan menyeretnya ke arah ranjang. Ia membalik arah kursi itu, lalu duduk di atasnya, sambil melingkarkan tangannya di sandaran kursi.

“Kalian tahu? Sejujurnya aku merindukan Cathy di dalam kelompok kecil kita,” kata Nick tiba-tiba. “Dan Cassandra. Aku juga sudah dengar tentang Cassandra. Uh–itu tidak berarti kita berlima itu grup yang membosankan lho, ladies, tapi–yeah–harus kuakui rasanya kali ini sangat berbeda tanpa kehadiran Cathy.”

Jessie menatap Nick dengan kesal.

“Kenapa kita selalu membahas soal Cathy?” runtut Jessie.

“Hanya pendapat,” kata Nick sambil menyengir cantik.

“Tidak bisakah kau menerima kalau kelompok kita sekarang adalah lima orang keren yang super baik, tulus, setia kawan, dan menyenangkan? Kita justru harus bersyukur karena terbebas dari Nenek Sihir Ratu Drama itu,” kata Jessie. “Aku ingin mengusulkan pergantian nama.”

Mereka terkejut. “Apa?”

The Lady Witches adalah nama geng payah dengan Cathy dan Cassandra. Kita seharusnya kembali ke keputusan kita yang dulu, nama geng kita yang sebenarnya, yang dulu sempat dicetuskan oleh Kayla. Kita pernah memakai nama itu selama sehari, sampai akhirnya si Nenek Sihir itu ngambek dan memaksa kita untuk berganti nama,” kata Jessie. “Kalian masih ingat?”

Lucy menimpali. “Fame Us.

“Tepat! FAME US,” kata Jessie. “Bagaimana, Nick? Keren kan?”

Nick menyeringai aneh, antara menerima atau tidak menerima pendapat itu. Ia berdengung panjang. “Hmm. Entahlah. Kurasa lebih keren–ehm–The Lady Witches.”

Jessie mencubit Nick sampai anak laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Aku tidak ingin kita berganti nama,” kata Julie. “Kita masih dalam geng yang sama. Cathy dan Cassandra adalah sahabat kita. Aku tidak ingin itu berubah.”

Jessie mendesah.

“Bodoh,” kata Jessie. “Jangan bodoh, Bodoh. Mereka takkan kembali pada kita. Mereka terlalu egois dan kekanak-kanakan untuk bisa berpikir seperti orang dewasa. Situasi ini tidak akan pernah berubah, mau berapa kali pun kita mencobanya. Kalian ingat kan betapa kita tidak pernah sekali pun menang melawan keegoisan Cathy? Ujung-ujungnya, kita selalu mengalah karena dia ngambek dan mogok bicara. Ingat? Pernahkah kita berhasil membuatnya berubah? Tidak?”

Perkataan Jessie sebenarnya memang benar. Mereka tidak pernah sekalipun benar-benar berhasil mengubah pendirian Cathy ketika gadis itu benar-benar menginginkan sesuatu. Bahkan Kayla sekalipun, hanya bisa membujuknya untuk berhenti ngambek, tapi tidak berhasil membuatnya berubah pikiran. Mereka akhirnya akan mengalah untuk membuat Cathy lebih senang dan berhenti marah, sesuatu yang baru mereka sadari sekarang ternyata bukan keputusan yang bijaksana.

“Kenapa diam saja? Jadi kalian setuju kan dengan pendapatku barusan? Tidak ada gunanya kita menghabiskan tenaga untuk Drama Queen itu. Semuanya akan sia-sia saja, seperti yang sudah kukatakan padamu kemarin, Kayla,” kata Jessie. “Kita berusaha mendekatinya, dia menghindar. Kita mengejarnya, dia berlari lebih kencang lagi. Apakah ada tindakan yang lebih kekanak-kanakan lagi daripada itu?”

Kayla meluruskan punggungnya, mendesah panjang, merasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih banyak akan hal ini. Terlebih lagi, ia harus mengakui kalau yang dikatakan Jessie barusan memang benar. Gadis itu terlalu keras kepala untuk bisa dibujuk melawan kemauannya.

“Bagaimana dengan Richard?” tanya Kayla pada Nick. “Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?”

Nick mengangkat pundaknya.

“Beberapa hal,” kata Nick. “Sayangnya aku tidak bisa mengatakannya pada kalian. Rahasia anak laki-laki. Tapi yang jelas aku bisa memastikan kalau Richard akan menghindar dari kalian selama beberapa hari ini.”

Julie mendesah. Ia teringat lagi saat ia melihat Richard berbincang-bincang akrab dengan gadis kelas dua belas kemarin, penasaran apakah itu juga bagian dari rahasia yang ia sembunyikan dengan Nick sebagai sesama anak laki-laki. Apakah Richard telah menyukai gadis lain di sekolahnya? Gadis itu? Siapa gadis itu?

Apakah Richard sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padanya?

“Menghindar lagi, menghindar lagi,” omel Jessie. “Aku tidak mengerti dengan isi otak mereka.”

“Apakah aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu menyelesaikan masalah ini?” tanya Lucy.

Jessie menyambar dengan cepat.

“Tidak, Lucy! Tidak,” tukas Jessie. Ia mengibaskan jari telunjuknya dengan sangat gemas. “Jangan membuatku mengulangi apa yang aku ucapkan pada Julie kemarin.”

“Memangnya kau mengucapkan apa?” tanya Julie.

Jessie mendelik. “Kau tidak ingat apa yang aku ucapkan?”

“Tidak,” kata Julie sambil memutar bola matanya. “Tidak ingat. Sepertinya tidak penting. Oh. Mungkin. Apakah ada yang penting?”

Jessie melotot. “Ya.”

Julie memekik karena Jessie akhirnya langsung mencengkram kepalanya dan menggulung rambutnya dengan sungguh-sungguh. Perkelahian mereka terhenti saat Julie mendengar suara yang mengetuk aneh di balik pintu.

Lily meminta izin sopan, dan mengetuk pintu sekali lagi, meminta tolong untuk dibukakan pintu karena dari tadi ia mengetuk dengan menggunakan kakinya. Lucy tersenyum geli dan bangkit untuk membukakan pintu.

“Sangat seru sekali sepertinya,” kata Lily, sambil meletakkan gelas di depan masing-masing orang. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Jessie tersenyum aneh, terpikir sebuah ide cemerlang.

“Mrs.Light,” kata Jessie. “Apa kau sudah menceritakan pada Nick tentang kisah Julie yang dihukum membersihkan toilet di Springbutter? Soal LONCATAN TAI?”

Kayla langsung tertawa kencang.

“Loncatan tai?” tanya Nick.

Julie menjadi panik.

“Belum,” kata Lily. “Kukira kalian sudah mengetahuinya.”

“Tidak terjadi apa pun,” kata Julie cepat. “Mom. Cepat pergi dari sini sebelum kau menyesalinya.”

“Ah. Jadi kau merahasiakannya ya, Julie?” kata Lily dengan wajah licik.

Julie mendorong ibunya keluar pintu.

“Aku mengerti sekarang. Kau sengaja merahasiakan ini dari teman-temanmu di Nimber, ya? Untuk memulai hidup yang baru?” kata Lily dengan nada menggoda. “Bukankah mereka teman-temanmu, Julie? Mereka harus tahu semua masa lalumu.”

Jessie mengangguk antusias. Sementara itu, Kayla tidak bisa berhenti tertawa. Nick dan Lucy mendengarkan dengan penasaran.

“Dengar anak-anak,” kata Lily perlahan-lahan.

Ia mendorong balik tubuh Julie yang kurus dengan begitu mudahnya, lalu mendudukkannya di atas ranjang seperti bayi.

“Dua tahun yang lalu, saat Julie masih bersekolah di Springbutter Junior High School, dia dihukum membersihkan toilet sekolah setiap hari karena ia tak pernah bisa lulus kelas Prancis. Dan suatu hari, ia pulang dengan baju basah kuyup yang berlumuran warna coklat dan kuning—”

Julie meloncat dan berusaha menutup mulut ibunya dengan sekuat tenaga.

“MOOM!”

Lily dengan cepat menyingkirkan tangan Julie yang tak berdaya dan melanjutkan ceritanya hingga remaja-remaja itu tertawa berguling-guling menahan sakit di perut mereka. Lily bahkan menambahkan dengan cerita memalukan di Taman Bermain Wonderland saat Julie masih kecil, yang bahkan belum pernah Julie ceritakan pada Jessie dan Kayla.

Julie melolong depresi.

***

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan

Comments 21 Standar

jgirlcellphone

Julie bangkit dari tempat tidurnya, mengusap kedua matanya dengan malas, melihat jam weker yang tergeletak di atas meja belajar.

Jam 11.30 siang.

Julie selalu suka dengan akhir minggu. Hari Sabtu dan Minggu, keduanya adalah hari favorit yang selalu ia nanti-nantikan setiap pekan, setelah lima hari waktu sekolah yang melelahkan. Lebih dari segalanya, Julie bisa memanfaatkan waktunya untuk menonton DVD apa pun sepuasnya sebanyak yang ia inginkan di dua malam yang spesial itu tanpa perlu takut kesiangan atau dimarahi Lily karena bangun kesiangan. Satu-satunya yang akan membuatnya dimarahi hanyalah kebiasaannya meninggalkan sarapan di akhir minggu. Kadang-kadang Lily membiarkannya. Kadang-kadang Lily tetap membangunkannya. Tergantung mood wanita itu. Tapi pagi ini Lily tidak membangunkannya untuk sarapan, dan Julie sangat bersyukur untuk itu.

Kadang-kadang ia dan The Lady Witches menghabiskan hari Sabtu mereka untuk menonton film di bioskop Evergreen, tempat menonton favorit mereka. Tapi hari ini Julie tahu kalau itu tidak akan terjadi. Tanpa Cathy dan Cassandra, kegiatan menonton mereka akan menjadi sangat membosankan, terutama karena Cathy selalu yang membuat suasana menjadi heboh dan Cassandra adalah pemberi daya tarik yang luar biasa di dunia perbelanjaan—setelah atau sebelum mereka selesai menonton. Bahkan sejujurnya, sebelum mengenal mereka berdua, Julie, Jessie, dan Kayla hampir tidak pernah menghabiskan waktu mereka untuk menonton bioskop. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk saling berkunjung di rumah masing-masing. Atau bahkan tidak ada acara apa pun, yang memberikan waktu kosong yang panjang untuk Julie bangun kesiangan, dan tidur siang lagi sampai sore.

Itulah sebabnya Julie ingin di rumah saja hari ini.

Julie membuka pintu kamarnya dan baru saja akan turun tangga saat ia terhentak kaget melihat ibunya di depan mukanya.

“Hari ini kau tidak kemana-mana?” tanya wanita itu.

“Tidak,” jawab Julie malas.

“Aku lupa membuatkanmu sarapan,” kata Lily sambil cekikikan. “Aku terlalu asyik berguling-guling di kasur sampai-sampai aku lupa membangunkanmu dan membuatkan sarapan untukmu. Oke baiklah. Sebenarnya aku kesiangan juga.”

Lily menyodorkan sepiring sandwich yang jelas dibuat secara gegabah, menilik dari betapa banyak saus kacangnya yang belepotan di sisi piring dan kedua tangannya. “Masih tertarik untuk sarapan?”

Julie mengambil piring itu. Perutnya memang terasa lapar.

Yeah,” kata Julie. “Mom, bisakah kau membuatkan lagi sedikit lebih banyak? Aku sangat lapar sekarang. Kurasa aku bisa makan dua atau tiga lemari.”

Wanita itu tertawa.

“Aku memang rencananya akan sekalian membuatkan makan siang untukmu, Julie,” kata Lily. “Tapi butuh waktu agak sedikit lama. Aku sedang mempraktekkan resep baru di dapur. Agak sedikit—” Lily memainkan jari-jarinya sambil menggigit bibirnya, “—yeah, berantakan.”

Julie terkikih. “Apa Dad ada di rumah hari ini?”

Lily menggeleng.

“Dia sudah berangkat ke Westcult tadi pagi-pagi sekali. Dan dia tidak membangunkanku!” keluh Lily. “Oh. Mungkin sudah. Tapi aku tertidur lagi. Entahlah.”

Lily menuruni tangga dan menoleh ke arah Julie sambil menggoyangkan telunjuknya. “Habiskan sarapanmu, Julie. Dan bereskan kamarmu. Kau tidak mau kan kalau nanti monster kacang keluar dari rotimu dan melumuri seluruh barang-barang yang berantakan di lantai kamarmu dengan remah-rem—”

Julie mendesah cepat. “Iya, Mom.”

Julie menutup pintunya. Ia menghabiskan sandwich-nya dalam sekejap, karena ia memang benar-benar sedang lapar. Ia menerawang ke seluruh isi kamarnya. Memang sangat berantakan, seperti kapal pecah. Entah apa yang dia lakukan tadi malam sampai-sampai ruangan itu menjadi sekacau ini. Seperti diinvasi sekerumunan Godzilla.

Julie mengambil potongan-potongan seragam sekolah yang kemarin ia biarkan tercecer di lantai. Ia memasukkannya ke keranjang laundry. Ia merapikan beberapa barang yang tadinya tergeletak di sembarang tempat, meletakkannya lagi di posisi yang sebenarnya. Ia mengambil laptopnya yang masih terbuka dalam keadaan mati di atas kasurnya. Ia menutup laptop itu, teringat kalau Lily selalu mengomel dan memperingatkan Julie kalau suatu saat nanti laptop itu akan tertendang oleh kakinya yang tertidur atau patah tersenggol oleh pantatnya sendiri dan ia takkan mau membelikan yang baru.

Julie meletakkan laptop itu di atas meja belajar. Ia lalu menarik kursi meja belajarnya dan duduk di atasnya, tertarik untuk menonton DVD lagi. Ia menghembuskan napasnya dengan berat karena mengetahui itu bukan keputusan yang pintar. Julie tahu, saat menonton DVD, ia akan lupa segalanya. Termasuk kewajibannya membereskan kamarnya. Ia harus menyelesaikan tugas ini selagi kewarasannya masih berfungsi normal, sebelum kemalasannya berjingkrak lagi.

Julie beranjak menuju tempat tidurnya dan menarik spreinya dengan enggan. Ia mengendusi sarung bantal yang bau lalu mengendusi sprei yang ternyata juga bau lalu menyadari kalau selimutnya juga bau. Ia melenguh panjang. Ia melepas semua kain-kain bau itu dari tempat tidurnya, menggulung mereka semua menjadi sebuah bola kain besar, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah keranjang laundry.

Meleset. Kain-kain itu berhamburan di mana-mana.

Dengan kemalasan yang luar biasa, Julie menghampiri kain-kain itu dan mencoba merapikannya lagi. Ia mendorongnya ke arah keranjang laundry, memasukkan sebanyak yang ia bisa, dan menyadari kalau mereka terlalu banyak, sama sekali tidak muat dimasukkan ke dalam keranjang. Semua pakaian dan kain kotor itu harus dicuci sekarang.

“Mom,” teriak Julie. Lily menyahut dengan keras dari lantai bawah. “Maukah kau mencuci sprei dan selimutku?”

Lily tidak menjawab lagi. Julie sudah tahu alasannya. Ia akan mencuci sendiri kain-kain itu, tapi ia tidak akan melakukannya sekarang. Mungkin nanti sore. Mungkin nanti malam. Mungkin besok. Mungkin nanti kalau alien dari Saturnus datang dan tiba-tiba memberikannya ilham.

Julie menghela napas panjang. Sekarang ia harus mengambil sprei, sarung bantal, dan selimut baru, yang disimpan ibunya di lantai bawah. Rasanya sangat malas. Sangat, sangat, sangat malas. Ia memutuskan untuk menunda itu dan lagi-lagi menarik kursi meja belajarnya untuk duduk di atasnya. Ia terdiam cukup lama, menatap ke jalanan di balik jendela, tidak melakukan apa-apa.

Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu. Ia menarik laci paling bawah dari meja belajarnya, tempat ia menyimpan koran sekolah yang memuat puisi Richard untuknya. Ia membuka halaman demi halaman, untuk menemukan bagian yang ingin dibacanya.

Ia melihat foto Richard. Sangat manis dengan senyum tipisnya yang polos. Ini foto Richard beberapa bulan yang lalu. Saat itu ia masih merasakan Richard sebagai momok menakutkan. Sebelum ia mengenal Richard sampai sejauh ini. Sebelum ia merasakan perasaan nyaman yang asing saat berada dekat dengan anak laki-laki itu. Sebelum ia menyadari perasaannya sendiri. Sebelum ia mengetahui bahwa Richard ternyata juga—menyukainya.

Julie menahan napasnya.

Julie telah berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan semua yang terjadi dalam dua hari terakhir. Ia biasanya dapat dengan mudah melakukannya. Tapi entah kenapa, kali ini terasa begitu sulit.

Ia mencoba mengabaikan pernyataan Richard padanya dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Ia mencoba untuk tidak membahasnya, mengalihkan topik atau mencari perhatian pada hal yang lain. Ia mencoba untuk lebih menfokuskan kekhawatirannya pada Cathy dan Cassandra yang menjauhinya.

Tapi ada satu kepingan di dalam dadanya yang menginginkan untuk membahas hal itu. Kepingan yang membuatnya merasa sangat egois dan ia berusaha untuk menekannya agar perasaan itu segera menghilang.

Julie bertanya dalam hati.

Benarkah Richard juga menyukainya?

Sungguh kah?

Julie menghela napas sekali lagi. Rasanya ia terlalu banyak menghela napas hari ini. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Ia tidak pernah menghadapinya sebelumnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia bahkan tidak bisa menentukan apakah sikap yang diambilnya benar atau salah.

Ia ingin menghampiri Richard dan mengucapkan sesuatu, namun ia tidak tahu ingin mengucapkan apa. Apakah ia akan mengakui perasaannya? Apakah ia akan bertanya pada Richard sekali lagi?

Benarkah Richard telah menyukainya?

Julie merenung panjang, berusaha memahami apa yang ia inginkan, apa yang sebaiknya ia lakukan. Tapi semakin ia berpikir, ia semakin pusing. Ia tidak mengerti kenapa ia harus merasakan perasaan yang kacau seperti ini. Memikirkan dan berusaha tidak memikirkan, dua-duanya sama-sama melelahkan.

Julie mengambil ponselnya. Ia membuka pesan masuk dan menelusuri daftar pesan untuk mencari satu pesan yang dikirim padanya dua hari yang lalu.

 

Aku sangat khawatir padamu.

Apakah kau baik-baik saja?

 

Richard.

 

Julie belum menyimpan nomor ponsel itu ke dalam daftar kontaknya. Ia bahkan tidak pernah membuka pesan itu lagi sejak hari itu.

Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

***

BACA SELANJUTNYA >>

19 – Perang Dingin (4)

Comments 25 Standar

对峙两个的女孩-34746689

Julie keluar dari kelasnya dan disambut oleh Kayla dan Jessie di perjalanan. Mereka saling merangkul pundak dan berjalan beriringan. Julie berada di bagian tengah.

“Jadi, hanya kita bertiga saja, nih?” kata Jessie dengan wajah skeptis. “Baguslah. Ini seperti kita waktu dulu, saat kita masih di Springbutter.”

Jessie mengayunkan tangannya ke belakang, bermaksud untuk menambah bobot tas sekolah Julie, sehingga gadis itu hampir terjungkal. Julie mengamuk dan menarik kuncir rambutnya dengan keras, yang membuat gadis itu berteriak.

Kayla tersenyum.

“Kalian ingat pelajaran terakhirku hari ini? Biologi,” kata Kayla. “Aku sekelas dengan Lucy, Cathy, dan Cassandra.”

Julie dan Jessie terperangah.

“Benar juga! Kalian berempat sekelas!” sontak Jessie. Dia dan Julie saling bertatapan. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Apa yang kau harapkan, Jess?” kata Kayla sambil terkikih. “Keajaiban?”

Kedua gadis itu mengangguk, lalu mendengarkan dengan sangat penasaran. Tidak ada yang salah dengan sedikit harapan kalau Cathy dan Cassandra tiba-tiba berubah pikiran. Kayla hanya mengangkat pundaknya dengan malas.

“Seperti biasa, Cathy dan Cassandra memilih duduk menjauhiku. Mereka tidak mau berbicara sama sekali. Tidak menanggapi ucapanku sedikit pun,” kata Kayla, menggeleng pelan. “Hanya Lucy yang masih mau berbicara denganku.”

Julie melihat sekeliling, menyadari sesuatu.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong, di mana Lucy sekarang? Apakah dia masih sibuk dengan paper-nya?” tanya Julie.

“Dia dipanggil Mrs.Tamara Lautner di ruang kepala sekolah. Kurasa ada hubungannya dengan lomba-lomba,” jelas Kayla.

Jessie mengembalikan topik pembicaraan mereka kembali ke jalur semula. Ia berbicara dengan gaya menyindir.

“Dan pasangan Cathy-Cassandra itu—aku yakin mereka mengasingkan diri seolah-olah mereka adalah dua ratu dengan layanan yang eksklusif,” kata Jessie sambil memainkan intonasinya. Ia tertawa pahit. “Aku masih tak percaya semua ini.”

Kayla menarik sudut mulutnya, menghela napas. “Yah.”

“Menurutmu sampai kapan mereka berdua akan menjauhi kita?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla, mengangkat pundak. “Ini baru hari pertama, Julie. Kita tak tahu apa yang akan terjadi besok dan besok lusa. Mudah-mudahan nanti suasana hatinya akan jadi lebih baik.”

Jessie mendongkol.

“Kau tahu? Kenapa Ratu Drama itu bersikap terlalu kekanak-kanakan? Aku benar-benar muak melihatnya,” kata Jessie. “Apa masalahnya? Ayolah! Hanya karena pacarnya suka pada Julie, bukan berarti dia harus memusuhi SEMUA ORANG.”

Julie tersenyum menggelap.

“Apa karena kalian masih berteman denganku?” tanya Julie.

Jessie menjawab dengan gaya menantang.

“Kalau pun iya, lalu kenapa? Apakah semua orang harus membencimu, padahal ini bukan salahmu sama sekali? Coba pikir, Julie. Memangnya salahmu kalau akhirnya Richard ternyata lebih menyukaimu?” kata Jessie. “Kalau aku jadi Richard, aku juga pasti akan memilihmu daripada dia, Julie. Dia memang cantik, tapi dia itu keras kepala, manja, egois, cengeng, payah, kekanak-kanakan, pengecut–”

“Hentikan, Jess. Kenapa kau harus menjelek-jelekkan dia?” tanya Julie.

Jessie pura-pura tidak mendengarkan.

“–tukang ngambek, posesif, Ratu Drama, selalu mau menang sendiri, arogan, angkuh. Semua yang jelek-jelek. Intinya, dia seharusnya yang jadi orang yang lebih dewasa!” kata Jessie mendumel. “Titik.”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik,” kata Kayla. “Kurasa ini saatnya kita bertiga menemuinya dan menyelesaikan masalah ini dengan segera.”

“Apa maksudmu?” tanya Jessie.

“Iya, kupikir yang dikatakan Julie tadi siang itu benar, Jess. Kita harus menemuinya dan tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut,” kata Kayla. “Kali ini, kita akan memaksa untuk menemuinya. Kita akan terus memaksa meskipun ia nanti akan bersikeras untuk menghindar.”

Ide ini terdengar dramatis. Dari sekarang saja Julie sudah bisa membayangkan bagaimana mendebar-debarkannya rencana itu.

“Aku melihatnya dan Cassandra dengan Pinky Winky di sisi selatan lapangan sekolah tadi. Mereka sedang membicarakan tentang baju seragam untuk anggota baru geng mereka,” kata Kayla. “Sekarang kita akan ke sana untuk menemuinya. Apa pun yang terjadi.”

Mereka bertiga pun berjalan menuju lapangan sekolah. Jessie tidak sepenuhnya setuju dengan ide ini–ia sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Cathy yang sengaja menghindarinya di kafetaria tadi siang. Tapi demi penyelesaian masalah, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menemuinya sekarang.

Mereka menemukan Cathy dan Cassandra sedang bercengkrama dengan teman-teman barunya. Kedua gadis itu terlonjak kaget saat melihat teman-teman lamanya berada di dekat mereka.

“Bagaimana teman-teman barumu, Cathy? Cassandra? Apakah mereka menyenangkan?” sindir Jessie dengan nada sinis. “Tidak seheboh The Lady Witches, huh? Ah, tentu saja. Itu pasti. Tapi setidaknya tidak ada gadis lain yang menyaingi kepopuleranmu di sini. Mereka semua payah.”

“Jessie.” Kayla mendesis.

“Baiklah, sebelum aku mulai merusak suasana, sebaiknya aku serahkan urusan negosiasi ini pada ahlinya,” kata Jessie sopan, melambaikan tangannya pada Kayla. “Silakan.”

Cathy bersiap-siap pergi. Ia menarik tangan Cassandra dan mengajak teman-temannya yang lain juga untuk segera menghindar.

“Cath, jangan pergi!” kata Kayla.

Cathy dan Cassandra menyingkir dengan cepat. Jessie berlari sangat cepat untuk menyusul mereka dan ia langsung menghadang Cathy, tepat di depan wajahnya. Gadis itu melonjak.

“Apa masalahmu!” kata Cathy gusar.

“Apa masalahmu!” balas Jessie tak kalah sengit. “Kaulah yang bermasalah, Cath! Kaulah yang menghindari kami! Kaulah yang bersikap aneh! Apa kau pikir tindakanmu ini tidak konyol dan kekanak-kanakan!? Hah?!”

“Aku tidak ingin melihat muka kalian,” desis Cathy. Kemarahan membakar seluruh urat nadinya.

Cassandra hanya terdiam membatu, memandang kejadian itu dengan wajah yang pucat pasi. Cathy segera menarik tangan Cassandra lagi. Ia bergerak cepat ke arah yang berlawanan, membuang mukanya dengan ekspresi muak, disusul cepat oleh teman-teman barunya.

“Cathy! Dengarkan kami dulu!” teriak Kayla.

Sonia Edmund menghalangi Kayla, menahan bahu Kayla dengan kedua tangannya. “Kau tidak dengar? Tadi dia bilang tidak mau melihat mukamu. Apa kau perlu kuucapkan sekali lagi?”

Jessie menghentakkan kakinya ke kaki Sonia. Gadis itu terpekik.

“Bukan urusanmu, Jalang,” runtut Jessie. “Pergilah, Cath! Pergilah sejauh-jauhnya karena aku pun sudah muak melihat kelakuanmu!” Jessie berteriak. “Dan Cassandra—selamat karena kau telah memilih untuk meninggalkan sahabat-sahabat terbaikmu. Hebat!”

Kejadian itu berlangsung sangat cepat, Julie hanya mampu menyaksikan kejadian itu dengan mulut yang terkatup rapat. Jantungnya berdebar-debar seperti akan meledak. Teman-temannya saling berteriak satu sama lain, bekejar-kejaran dengan emosi, dan saling mengumpat marah.

Ini bukan pemandangan yang disukainya.

“ENYAH!” Cathy masih berusaha menghindari mereka. Jessie sudah berhenti mengejar, ia melipat kedua tangannya dengan gondok. Kayla menaikkan intonasi suaranya tiga kali lipat daripada biasanya.

“Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan membicarakannya baik-baik. Aku tahu kau bisa melakukannya,” kata Kayla tidak sabar. “Cathy! Kau harus mengontrol emosimu, seperti yang selalu aku katakan selama ini. Emosi hanya akan memperbesar masalah, kau tahu itu!”

Cathy tetap saja tidak berhenti berlari. Teman-teman barunya di Pinky Winky bahkan berusaha susah payah menyamakan posisi mereka.

“Cathy, kumohon pikirkanlah sekali lagi!” kata Kayla, terengah-engah. “Kemarin kau sudah berjanji padaku untuk menanggapi ini dengan kepala dingin. Kau ingat?”

Kayla berhenti mengikuti mereka. Ia memutuskan untuk membiarkan kedua gadis itu pergi.

“Jadi, sudah kubilang kan?” kata Jessie. “PER-CU-MA. Kau saja yang tidak percaya padaku.”

Mereka bertiga sekarang kembali berjalan ke gerbang sekolah, dengan langkah lunglai.

Julie masih bisa mendengar tarikan napas Kayla yang tersengal. Titik-titik keringat yang membasahi dahi gadis itu, ia mengelapnya dengan punggung tangannya. Sementara itu, Jessie merapikan kembali kuncir rambutnya yang berantakan.

Julie menunduk kecewa. Ia merasa benar-benar tidak berguna.

“Terima kasih atas usaha kalian, teman-teman. Aku sangat menghargai itu,” kata Julie. “Aku tak tahu kenapa aku tak bisa mengatakan apa-apa tadi. Rasanya lidahku kelu dan aku tak bisa berkata apa-apa sama sekali. Dan Cathy terlihat sangat,” Julie terbata-bata, “aku tak tahu, aku hanya tak ingin melihat dia seperti itu, dan aku melihat kalian saling bertengkar dan aku—”

“Sudahlah, Julie. Tidak apa-apa,” kata Kayla sambil tersenyum. Ia menepuk pundak Julie dengan hangat. “Kita akan menyelesaikan masalah ini, cepat atau lambat. Jangan khawatir.”

Yeah. Tidak apa,” kata Jessie. “Aku hanya ingin mencabik-cabik mukanya sesekali.”

Kayla berdehem. “Jessie.”

Mereka telah tiba di ujung gerbang, saat Mr.Bouncer menyapa Julie dengan kumis mungilnya. Tidak lama kemudian, Jessie dan Kayla berpamitan dengan Julie, karena mereka akan mengambil bus dari seberang jalan, sedangkan Julie akan berjalan kaki ke arah sebaliknya.

“Jadi, Julie. Besok sudah weekend,” kata Kayla sebelum mereka pergi. “Apa rencanamu untuk besok?”

Julie menggeleng.

“Entahlah,” kata Julie. “Kurasa aku ingin di rumah saja. Mengganggu Mom.”

Julie mengucapkannya dengan nada monoton. Matanya mengerjap aneh. Seluruh dunia tahu, yang akan dilakukannya besok adalah tidur siang sepuasnya.

“Kau yakin tidak ingin ke mana-mana? Aku bisa mengajakmu berjalan-jalan, nonton film di bioskop, atau–” Jessie langsung terdiam. Wajahnya berjengit geli, menyadari kesalahannya. “Yah. Kau benar. Lupakan saja ide bodoh itu.”

Julie tersenyum pahit. “Yeah.”

 

BACA SELANJUTNYA >>