Catatan Penulis (60)

Comments 204 Standar

Bab Renungan – Part 3 dan Bab Renungan – Part 4

Aku lupa kalo kemarin seharusnya aku meng-update part 3 BAB 20. Aku malah posting BAB 21. Hehehe. Sebagai bonus, kali ini aku update dua part sekaligus, BAB 20 part 3 dan 4. Bab 21 – nya aku hapus dulu yaa..
Selamat membaca! ;)

BACA DARI AWAL (DAFTAR ISI)


tbird@NAYACORATH || facebook-like-button@NAYACORATH

20 – Renungan (4)

Comments 7 Standar

Setelah menghabiskan waktu terlalu lama bersenang-senang, kelompok itu menghentikan obrolan mereka karena langit telah mulai menggelap. Mereka lalu berpamitan dengan Julie dan Mrs.Light, dan ketika mereka tiba di ujung pintu, Jessie memberikan kejutan untuk Mrs.Light. Sebatang coklat Cadbury Dairy Milk kesukaan Lily. Wanita itu girang bukan main. Tentu saja, coklat itu hanya sebatang. Julie tidak kebagian jatah sedikit pun.

Dua jam berikutnya, Julie tertangkap basah sedang mengendap-endap di ruang makan untuk menjemput makan malamnya secara diam-diam. Julie meloncat kaget saat melihat Lily menyempil di sela-sela sofa. Suara Lily mengagetkannya seperti hantu.

“Kenapa tidak makan di sini?” kata Lily sambil menikmati potongan coklatnya dengan santai. “Kau ingin makan di kamarmu lagi, huh?”

“Umm,” kata Julie.

Lily terkikih penuh arti. “Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?”

Julie tidak tahu bagaimana cara Lily melakukan itu, tapi tebakan Lily memang benar. Itulah alasan kenapa ia sengaja tidak ingin bertatap muka dengan Lily hari ini. Insting wanita ini sangat tajam.

“Umm,” Julie berdengung lebih panjang.

“Kau tidak ingin aku membahas sesuatu, kan Julie? Apa itu ada hubungannya dengan Cathy? Karena aku memang baru saja akan menanyakannya.” Lily menjilat sisa coklat yang masih menempel di jarinya. Ia menjorok untuk mengambil tisu. “Oh. Apa itu berarti ada hubungannya dengan Richard juga?”

Julie menelan ludahnya. Tepat pada sasaran.

Lily adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui seperti apa perasaan Julie yang sebenarnya pada Richard. Kalau saja bukan karena demam yang dialaminya beberapa waktu lalu, mungkin ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Apa lagi Lily. Wanita itu akan selalu mem-bully-nya setiap ada kesempatan.

“Ummm, tidak,” kata Julie akhirnya.

Julie bisa saja menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya sekarang pada Lily dan berharap semoga ibunya bisa menenangkan hatinya, seperti ibu-ibu normal pada umumnya. Tapi Lily bukanlah ibu yang senormal itu.

Lily tertawa.

“Tidak apa-apa. Aku tahu. Kurasa ada pasti hubungannya dengan Richard,” kata Lily dengan intonasi yang aneh. “Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan?”

Lily tidak bisa berhenti menggoda gadis itu–dengan dua kata yang sama yang selalu diulang-ulang yang membuat Julie hampir muntah. Julie segera mendaki tangga menuju kamarnya dengan kecepatan halilintar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

“Sudah kuduga,” kata Julie. Ia menghela napas lega.

Julie membawa piringnya ke atas kasur dan menikmati makanannya pelan-pelan. Sisa makan siangnya tadi masih terasa sangat enak. Masakan Lily—dan kedatangan teman-temannya hari ini—adalah dua hal yang telah membuat mood-nya membaik. Lily selalu mampu menyenangkan hatinya dengan makanan-makanan enak, walaupun itu berarti ia harus bersiap-siap dengan kejutan gila yang kadang-kadang disisipkan Lily untuknya. Dan teman-temannya—adalah hal terbaik yang pernah dimilikinya dalam hidupnya. Julie tidak bisa mengharapkan apa pun lebih dari ini.

Julie telah menghabiskan makan malamnya. Ia meletakkan piringnya di atas meja belajar, sambil melihat ke arah jendela yang masih terbuka. Ia memandang lurus ke pemandangan luar, mengamati burung-burung gereja yang terbang rendah dari balik jendelanya yang masih terbuka. Sesaat kemudian, ia memutuskan untuk menyeret kursi meja belajar itu dan duduk di atasnya.

Ia terdiam selama beberapa menit.

Julie menghela napas, merasakan sesak di dadanya sendiri. Renungan ini membuatnya berpikir terlalu keras, menyeretnya ke dalam kesedihan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Meskipun kedatangan teman-temannya tadi sangat menyenangkan, sesuatu yang sangat penting telah menghilang.

Tidak ada lagi Ratu Drama. Ia telah pergi.

Tidak ada lagi aksi menggebrak meja, mencakar muka, atau teriakan histeris seperti yang biasanya mereka lakukan. Atau gaya aktingnya yang menarik perhatian. Dan intonasi suara berlebih-lebihan yang selalu dimainkannya yang membuat mereka tertawa. Julie tersenyum lemah, mengingat betapa ia merindukan suara sahabatnya yang dramatis itu. Ciri khas yang biasanya selalu mewarnai setiap keriuhan dan menghidupkan suasana The Lady Witches selama ini.

Nick benar.

Tanpa Cathy, semuanya terasa berbeda.

20 – Renungan (3)

Comments 3 Standar

Julie harus mengakui, kunjungan teman-temannya telah membuat perasaannya hari ini menjadi lebih baik. Walaupun Lily terus-menerus menceritakan aib yang membuat mukanya memerah seperti tomat, tapi memiliki teman-teman yang tertawa bersamanya sangat menyenangkan.

Atau lebih tepatnya, menertawakannya.

Setelah Lily pergi, mereka tidak lagi membicarakan Cathy, Cassandra, atau Richard. Percakapan dengan Lily membuat mereka menjadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di Springbutter. Jessie mengatakan kalau ia telah mengenal Julie di kelas Tujuh, sejak semester pertama. Sementara itu, Kayla baru sekelas dengannya di kelas Delapan.

“Jadi,” kata Nick kemudian, “Julie benar-benar terkenal di sekolah lamanya, ya? Kenapa kalian tidak pernah membicarakan hal itu?”

Cerita Lily tadi tentang kehidupan Julie di Springbutter membuat Nick menjadi sangat penasaran. Kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di sekolah lama mereka memang tidak terlalu banyak dibicarakan.

“Tidak ada yang spesial—kenakalan standar,” kata Julie ringan. “Hanya beberapa kenakalan standar.”

“Kenakalan standar?” Jesssie tertawa. “Teman-teman, kalian tidak punya ide sama sekali betapa gilanya Julie dulu.”

Jessie memutar telunjuknya di dekat pelipis untuk menggambarkan kekonyolan yang pernah dilakukan Julie di masa lalu. Jessie baru menyadari betapa sedikitnya hal yang pernah diceritakannya pada Nick tentang masa lalu mereka.

“Lebih dari yang pernah kami ceritakan.”

“Maksudmu, ada lagi selain soal feromon dan Kelas Prancis?” tanya Lucy kemudian.

Jessie mengangguk.

“Banyak.”

“Salah satunya Hukuman Toilet—” Jessie sesak napas saat Julie langsung menyergap mulutnya, sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. “—dan—umph—” Jessie meronta-ronta. “Julie!”

Nick menggangguk.

“Aku pernah dengar tentang Hukuman Toilet,” kata Nick. “Soal Julie yang tidak bisa bahasa Prancis kan? Untuk menyelamatkan nilainya saat itu, Julie akhirnya dihukum membersihkan toilet sekolah selama setahun. Supaya bisa naik kelas. Benar, kan? Cerita itu cukup terkenal kok, kami sering mendengarnya setiap kali anak-anak laki-laki membahas Julie.”

“Kita juga sering membahasnya,” Lucy menambahkan.

Jessie tampak sangat senang saat Nick dan Lucy mengangkat kenangan yang sudah lama terkubur dari ingatannya itu.

“Dan jadi Selebriti Toilet,” lanjut Jessie. “Begini teman-teman. Ada beberapa insiden penting yang tampaknya lupa kami ceritakan tentang masa lalu Julie. Kita sering membahasnya secara garis besar, tapi mendetail?”

Jessie berdehem singkat.

“Berbagai hal konyol terjadi di toilet sekolah. Hal-hal yang pasti akan membekas dalam ingatannya.” Jessie terdiam sejenak. Keningnya berkerut sebentar, merenungkan apa yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian, senyumnya melebar seperti baru saja mendapat pencerahan. “Ah! Aku mengerti sekarang! Pantas saja! Kalian tahu kan kalau Julie sangat bodoh? Aku selalu heran kenapa dia berubah jadi seperti ini. Dulu sebenarnya dia lebih bodoh lagi.”

Julie melemparinya bantal. Mereka tertawa.

“Kalian tahu? Julie telah memperkenalkan padaku kekonyolan dan keabsurdan yang paling absurd yang pernah ada di muka bumi ini.” Jessie bermain-main dengan bantalnya. “Sepertinya dia sudah dikutuk oleh takdir. Bodoh. Ceroboh. Sapi–”

Julie menarik kuncir rambutnya dengan gemas.

“Hanya saja kadar kecerobohannya sudah berkurang drastis sejak bersekolah di Nimber. Kalian harus tahu kalau Julie Light di Springbutter dulu jauh lebih parah daripada apa yang kalian lihat hari ini,” kata Jessie pada Nick dan Lucy. “Julie yang sekarang memang tolol. Julie yang dulu lebih tolol lagi. Seratus kali lipat. Kalian pikir memangnya kenapa aku memanggilnya Sapi?”

“Ceritakan padaku!” pinta Nick dengan sungguh-sungguh. Lucy pun tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Jessie memulai bercerita tentang kecerobohan Julie yang hampir membakar lab Biologi saat percobaan memasak reagen fehling dengan kompor bunsen yang menyala. Seluruh penghuni Springbutter menjadi luar biasa heboh, kecelakaan itu menyalakan alarm kebakaran yang membuat siswa-siswa panik, dan sampai-sampai kepala sekolah Springbutter mengundang petugas pemadam kebakaran ke sekolah khusus untuk memarahinya.

Cerita berlanjut dengan pembalasan dendam Julie pada anak perempuan yang bernama Donita, karena anak perempuan itu mengadukan Julie pada Miss Hellen–guru Kelas Prancis yang sangat dibencinya. Kayla ikut menambahkan dengan beberapa detil yang terlewat oleh Jessie, salah satunya rencana Julie untuk mengelem kursinya. Adegan itu berakhir dengan insiden Julie tertangkap basah oleh guru Kelas Prancis mereka itu karena rambutnya tersangkut di resleting tas Donita, saat Julie mencoba menyelundupkan kodok ke dalam tas anak itu.

“Aku tidak pernah mendengar cerita itu,” tukas Lucy.

Nick tertawa.

“Kenapa kalian tidak menceritakannya dari dulu? Sepertinya masa muda kalian sangat menyenangkan.” Nick terlihat antusias. “Aku sangat ingin sekali bisa hidup dan bergabung di masa itu.”

Julie mendengus.

Yeah,” kata Julie datar. “Bisakah kalian menghentikan ini? Aku hanya berusaha untuk menjadi orang normal sekarang.”

“Itu benar,” kata Kayla sambil tertawa. “Kau sudah cukup berubah sejak di Nimber, Julie. Aku juga heran kenapa kau tidak pernah dihukum lagi seperti di Springbutter dulu. Padahal Hukuman Toilet menjadikanmu sangat terkenal. Kurasa mereka perlu tahu tentang rincian ceritanya.”

“Tidak, tidak,” pinta Julie panik. “Kayla.”

“Hukuman Toilet?” tanya Nick sambil menyeringai. Jessie mengedikkan kepalanya, tersenyum lebar.

“Kayla.”

“Ya. Termasuk Loncatan Tai yang diceritakan Mrs.Light tadi,” kata Kayla sambil terkikih. “Jadi, semuanya berawal saat Julie hendak membawakan—”

Ini yang paling Julie takutkan. Selama bersekolah di Nimber, ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya yang terbaik untuk mengalihkan perhatian semua orang supaya tidak ada lagi yang membahas masa lalunya yang satu itu. Sekarang, hanya dalam sebuah kunjungan singkat, semua aibnya yang disembunyikannya selama ini benar-benar akan terbongkar.

Dan semua ini gara-gara ibunya.

***

20 – Renungan (2)

Comments 22 Standar

Julie baru saja menyelesaikan makan siangnya dan sedang berjalan menaiki tangga saat ia mendengar suara yang sangat gaduh dari arah ruang tamu.

“Kejutan!”

Jessie melesat seperti anak panah dan menghampirinya sambil meloncat menaiki anak tangga. “Kau tidak akan menduga kami datang, kan!?”

Julie melihat Kayla beberapa detik kemudian. Ia menyeringai senang saat melihat Nick dan Lucy menyusulnya dari belakang. Rasanya sudah seabad ia tidak melihat mereka berdua.

“Nick! Lucy!”

Julie menyambut keempat temannya itu dengan sumringah. Ia mempersilakan mereka untuk masuk ke kamarnya, dan ia sangat luar biasa bersyukur pada Tuhan karena tadi siang ia telah membereskan ruangan itu dengan baik.

“Berani taruhan,” kata Jessie. “Kau pasti belum mandi.”

Julie meringis. Ia menyemprotkan pewangi ke tumpukan kain kotor di atas keranjang laundry yang tadi belum dicucinya. “Bukan urusanmu.”

Jessie tergelak. “Sudah kuduga. Sapi sepertimu pasti tidak akan pernah mandi jika tidak diharuskan.”

Julie melempar sarung bantalnya ke muka Jessie.

“Senang melihatmu, Julie,” kata Nick. “Bagaimana keadaanmu? Apakah kau tiba-tiba insaf atau semacamnya? Terakhir aku ke sini, kamarmu tidak serapi ini.”

Julie menatap Nick dengan muka datar.

“Heh.”

Julie mendengar pintu kamarnya yang diketuk dengan sopan. Suara Lily terdengar setengah berbisik dari luar, meminta izin untuk masuk, membuat Julie harus menahan pandangan skeptisnya mengingat selama ini ibunya selalu masuk ke kamarnya tanpa mengetuk atau bahkan bisikan pemberitahuan. Biasanya adalah teriakan bar-bar.

“Permisi,” kata Lily dengan suara yang sangat lembut, seperti dibuat-buat. “Ada berapa orang dari kalian? Mau kubuatkan sesuatu? Es teh? Jus jeruk?”

“Jus jeruk boleh, Mrs.Light. Jika tidak merepotkan,” kata Nick. Gadis-gadis yang lain mengangguk setuju.

“Oh. Kau lagi ya, anak tampan. Nicholas. Benar, kan?” kata Lily genit. “Aku ingat sekarang. Kau yang waktu itu juga pernah datang ke sini untuk berkencan dengan Julie. Apa kau mau kubuatkan lagi sepiring pancake spesial bernada cinta dari Mrs.Light untukmu?”

“Mom!” teriak Julie. “Dia pacarnya Jessie. Harus berapa kali kubilang padamu?”

Julie melenguh depresi.

“Lihat. Di sini juga ada Jessie, sebagai saksi mata, kalau kau tidak percaya. Nick adalah pacarnya Jessie, bukan pacarku. Kenapa kau selalu seperti ini?” kata Julie dengan jengkel. “Kau benar-benar membuatku stress, Mom.”

Lucy tertawa sambil menunduk.

“Baiklah, baiklah. Aku kan hanya bercanda, Cantik,” kata Lily. Ia menghitung sambil mengeja nama-nama mereka. “Jessie. Kayla. Nicholas. Daan—” Lily tersendat sebentar sampai Julie membantu menyebutkan nama orang yang terakhir, “Umm. Lucy. Ya, Lucy. Lucy Stone, benar bukan?”

Lucy mengangguk.

“Oh! Di mana gadis berwajah Latin?” tanya Lily. “Ms.Pierre. Benar kan? Umm—dan gadis yang satu lagi, dengan pita-pita di rambutnya—emm, aku lupa namanya. Ah! Cassandra. Ya. Cassandra, benar kan? Di mana mereka?”

Kayla menjawab sambil tersenyum.

“Cathy dan Cassandra sedang ada keperluan mendadak, Mrs.Light,” kata Kayla. “Mereka berhalangan hadir hari ini. Mudah-mudahan lain kali mereka bisa ikut mampir dan berkunjung lagi ke sini.”

Lily mengangguk penuh arti. “Apa dia sedang berkencan dengan Richard?”

Julie terbelalak.

“Mom!” kata Julie.

Julie mendorong ibunya ke luar kamar, sebelum wanita itu mengeluarkan kalimat yang aneh-aneh lagi. Lily tertawa cekikikan. Wanita itu melambai ke arah mereka sambil berkata, “Baiklah. Lima gelas jus jeruk. Segera datang!”

Nick terkikih geli.

“Ibumu benar-benar lucu, Julie,” kata Nick. “Apa dia selalu bersikap seperti itu atau ini hanya perasaanku saja?”

“Dia memang seperti itu,” jawab Julie. Ia menghela napasnya lagi. “Selalu membuat stress. Oh ya, kenapa kalian ke sini?”

Jessie menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia melempar bantal-bantal dari ranjang ke arah teman-temannya. Nick dan Kayla menangkapnya. Lucy mengambil sendiri sebuah guling dengan malu-malu.

“Tentu saja untuk mengganggu tidur siangmu,” kata Jessie, menggosok-gosok hidungnya yang gatal. “Aku tahu, ini jadwal kau tidur siang, kan? Mau sampai kapan kau tidur terus, Sapi? Aku heran padamu. Selalu saja tidur kapan pun ada kesempatan.”

Julie memicingkan matanya dengan kesal. Ia bergerak perlahan ke arah ranjang, lalu menyambar gadis itu dengan gegabah. Mereka bergulat dengan seru, dengan bantuan bantal.

“Lucy berkata ia ingin sekali bertemu denganmu, karena selama seharian kemarin ia tidak bisa menemani kita,” kata Kayla.

Julie menghentikan perkelahiannya. Lucy tersenyum.

“Aku sudah mendengar tentang kejadian dua hari yang lalu, Julie,” kata Lucy. Ia menunduk penuh simpati. “Aku minta maaf karena tidak bisa berada di sana untukmu.”

Julie menyengir santai. Keberadaan Lucy hari ini saja sudah sangat menyenangkan untuknya.

“Tidak apa-apa, Lucy. Oh, ya. Bagaimana dengan paper-mu? Apa kau sudah menyelesaikannya?” tanya Julie. “Aku sangat senang kau bisa mendapatkan posisi itu. Aku tahu kau pasti akan memenangkannya. Kau sangat pintar. Lebih pintar dari kita semua. Yang jelas dan pasti, kau lebih pintar dari Jessie.”

“Baru selesai sebagian,” kata Lucy. “Riset dan membaca buku membutuhkan banyak waktu. Aku sengaja menyempatkan waktuku hari ini untuk berkunjung ke rumahmu, karena aku khawatir aku mungkin tidak bisa sering menemui kalian lagi dalam beberapa hari ke depan. Kuharap kalian bisa mengerti, teman-teman.”

Kayla menyusul ke arah ranjang. Ia memilih duduk di sebelah Lucy, yang sedang duduk di salah satu sisi sambil memeluk guling. Ia meletakkan kembali bantalnya.

“Tidak apa-apa, Lucy,” kata Kayla. “Kami sangat mengerti kesibukanmu. Lebih dari itu, kami mendukungmu dan selalu mendukungmu untuk setiap prestasi yang akan kau torehkan untuk sekolah kita. Dan kau tahu, kau sangat membanggakan kami semua.”

Lucy tersenyum. Mereka berempat berpelukan—minus Nick. Anak laki-laki itu menatap mereka dengan seringai iri.

Oh! So sweet, ladies,” kata Nick. “Tidak adakah ruang lebih untukku? Aku ingin berpelukan juga.”

Nick bergerak mendekat, merentangkan kedua tangannya seperti burung. Jessie melempar bantal ke mukanya, sehingga anak laki-laki itu mengaduh.

Mereka mengobrol sebentar tentang perjalanan mereka sebelum berangkat ke rumah Julie. Mereka bertemu dengan seorang kakek-kakek tua nyentrik, yang memakai setelan jeans gombrong, kacamata ray band, dan sebuah kalung rantai besar di lehernya. Kakek itu lalu mengajak mereka berempat untuk high-five dengannya. Setiap tepukan tangan, ia lalu memamerkan gigi depannya yang ompong. Mereka tertawa cekikikan.

Saat gadis-gadis itu bercerita, Nick melihat sekeliling.

Ia mengambil kursi dari meja belajar dan menyeretnya ke arah ranjang. Ia membalik arah kursi itu, lalu duduk di atasnya, sambil melingkarkan tangannya di sandaran kursi.

“Kalian tahu? Sejujurnya aku merindukan Cathy di dalam kelompok kecil kita,” kata Nick tiba-tiba. “Dan Cassandra. Aku juga sudah dengar tentang Cassandra. Uh–itu tidak berarti kita berlima itu grup yang membosankan lho, ladies, tapi–yeah–harus kuakui rasanya kali ini sangat berbeda tanpa kehadiran Cathy.”

Jessie menatap Nick dengan kesal.

“Kenapa kita selalu membahas soal Cathy?” runtut Jessie.

“Hanya pendapat,” kata Nick sambil menyengir cantik.

“Tidak bisakah kau menerima kalau kelompok kita sekarang adalah lima orang keren yang super baik, tulus, setia kawan, dan menyenangkan? Kita justru harus bersyukur karena terbebas dari Nenek Sihir Ratu Drama itu,” kata Jessie. “Aku ingin mengusulkan pergantian nama.”

Mereka terkejut. “Apa?”

The Lady Witches adalah nama geng payah dengan Cathy dan Cassandra. Kita seharusnya kembali ke keputusan kita yang dulu, nama geng kita yang sebenarnya, yang dulu sempat dicetuskan oleh Kayla. Kita pernah memakai nama itu selama sehari, sampai akhirnya si Nenek Sihir itu ngambek dan memaksa kita untuk berganti nama,” kata Jessie. “Kalian masih ingat?”

Lucy menimpali. “Fame Us.

“Tepat! FAME US,” kata Jessie. “Bagaimana, Nick? Keren kan?”

Nick menyeringai aneh, antara menerima atau tidak menerima pendapat itu. Ia berdengung panjang. “Hmm. Entahlah. Kurasa lebih keren–ehm–The Lady Witches.”

Jessie mencubit Nick sampai anak laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Aku tidak ingin kita berganti nama,” kata Julie. “Kita masih dalam geng yang sama. Cathy dan Cassandra adalah sahabat kita. Aku tidak ingin itu berubah.”

Jessie mendesah.

“Bodoh,” kata Jessie. “Jangan bodoh, Bodoh. Mereka takkan kembali pada kita. Mereka terlalu egois dan kekanak-kanakan untuk bisa berpikir seperti orang dewasa. Situasi ini tidak akan pernah berubah, mau berapa kali pun kita mencobanya. Kalian ingat kan betapa kita tidak pernah sekali pun menang melawan keegoisan Cathy? Ujung-ujungnya, kita selalu mengalah karena dia ngambek dan mogok bicara. Ingat? Pernahkah kita berhasil membuatnya berubah? Tidak?”

Perkataan Jessie sebenarnya memang benar. Mereka tidak pernah sekalipun benar-benar berhasil mengubah pendirian Cathy ketika gadis itu benar-benar menginginkan sesuatu. Bahkan Kayla sekalipun, hanya bisa membujuknya untuk berhenti ngambek, tapi tidak berhasil membuatnya berubah pikiran. Mereka akhirnya akan mengalah untuk membuat Cathy lebih senang dan berhenti marah, sesuatu yang baru mereka sadari sekarang ternyata bukan keputusan yang bijaksana.

“Kenapa diam saja? Jadi kalian setuju kan dengan pendapatku barusan? Tidak ada gunanya kita menghabiskan tenaga untuk Drama Queen itu. Semuanya akan sia-sia saja, seperti yang sudah kukatakan padamu kemarin, Kayla,” kata Jessie. “Kita berusaha mendekatinya, dia menghindar. Kita mengejarnya, dia berlari lebih kencang lagi. Apakah ada tindakan yang lebih kekanak-kanakan lagi daripada itu?”

Kayla meluruskan punggungnya, mendesah panjang, merasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih banyak akan hal ini. Terlebih lagi, ia harus mengakui kalau yang dikatakan Jessie barusan memang benar. Gadis itu terlalu keras kepala untuk bisa dibujuk melawan kemauannya.

“Bagaimana dengan Richard?” tanya Kayla pada Nick. “Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?”

Nick mengangkat pundaknya.

“Beberapa hal,” kata Nick. “Sayangnya aku tidak bisa mengatakannya pada kalian. Rahasia anak laki-laki. Tapi yang jelas aku bisa memastikan kalau Richard akan menghindar dari kalian selama beberapa hari ini.”

Julie mendesah. Ia teringat lagi saat ia melihat Richard berbincang-bincang akrab dengan gadis kelas dua belas kemarin, penasaran apakah itu juga bagian dari rahasia yang ia sembunyikan dengan Nick sebagai sesama anak laki-laki. Apakah Richard telah menyukai gadis lain di sekolahnya? Gadis itu? Siapa gadis itu?

Apakah Richard sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padanya?

“Menghindar lagi, menghindar lagi,” omel Jessie. “Aku tidak mengerti dengan isi otak mereka.”

“Apakah aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu menyelesaikan masalah ini?” tanya Lucy.

Jessie menyambar dengan cepat.

“Tidak, Lucy! Tidak,” tukas Jessie. Ia mengibaskan jari telunjuknya dengan sangat gemas. “Jangan membuatku mengulangi apa yang aku ucapkan pada Julie kemarin.”

“Memangnya kau mengucapkan apa?” tanya Julie.

Jessie mendelik. “Kau tidak ingat apa yang aku ucapkan?”

“Tidak,” kata Julie sambil memutar bola matanya. “Tidak ingat. Sepertinya tidak penting. Oh. Mungkin. Apakah ada yang penting?”

Jessie melotot. “Ya.”

Julie memekik karena Jessie akhirnya langsung mencengkram kepalanya dan menggulung rambutnya dengan sungguh-sungguh. Perkelahian mereka terhenti saat Julie mendengar suara yang mengetuk aneh di balik pintu.

Lily meminta izin sopan, dan mengetuk pintu sekali lagi, meminta tolong untuk dibukakan pintu karena dari tadi ia mengetuk dengan menggunakan kakinya. Lucy tersenyum geli dan bangkit untuk membukakan pintu.

“Sangat seru sekali sepertinya,” kata Lily, sambil meletakkan gelas di depan masing-masing orang. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Jessie tersenyum aneh, terpikir sebuah ide cemerlang.

“Mrs.Light,” kata Jessie. “Apa kau sudah menceritakan pada Nick tentang kisah Julie yang dihukum membersihkan toilet di Springbutter? Soal LONCATAN TAI?”

Kayla langsung tertawa kencang.

“Loncatan tai?” tanya Nick.

Julie menjadi panik.

“Belum,” kata Lily. “Kukira kalian sudah mengetahuinya.”

“Tidak terjadi apa pun,” kata Julie cepat. “Mom. Cepat pergi dari sini sebelum kau menyesalinya.”

“Ah. Jadi kau merahasiakannya ya, Julie?” kata Lily dengan wajah licik.

Julie mendorong ibunya keluar pintu.

“Aku mengerti sekarang. Kau sengaja merahasiakan ini dari teman-temanmu di Nimber, ya? Untuk memulai hidup yang baru?” kata Lily dengan nada menggoda. “Bukankah mereka teman-temanmu, Julie? Mereka harus tahu semua masa lalumu.”

Jessie mengangguk antusias. Sementara itu, Kayla tidak bisa berhenti tertawa. Nick dan Lucy mendengarkan dengan penasaran.

“Dengar anak-anak,” kata Lily perlahan-lahan.

Ia mendorong balik tubuh Julie yang kurus dengan begitu mudahnya, lalu mendudukkannya di atas ranjang seperti bayi.

“Dua tahun yang lalu, saat Julie masih bersekolah di Springbutter Junior High School, dia dihukum membersihkan toilet sekolah setiap hari karena ia tak pernah bisa lulus kelas Prancis. Dan suatu hari, ia pulang dengan baju basah kuyup yang berlumuran warna coklat dan kuning—”

Julie meloncat dan berusaha menutup mulut ibunya dengan sekuat tenaga.

“MOOM!”

Lily dengan cepat menyingkirkan tangan Julie yang tak berdaya dan melanjutkan ceritanya hingga remaja-remaja itu tertawa berguling-guling menahan sakit di perut mereka. Lily bahkan menambahkan dengan cerita memalukan di Taman Bermain Wonderland saat Julie masih kecil, yang bahkan belum pernah Julie ceritakan pada Jessie dan Kayla.

Julie melolong depresi.

***

20 – Renungan

Comments 20 Standar

Julie bangkit dari tempat tidurnya, mengusap kedua matanya dengan malas, melihat jam weker yang tergeletak di atas meja belajar.

Jam 11.30 siang.

Julie selalu suka dengan akhir minggu. Hari Sabtu dan Minggu, keduanya adalah hari favorit yang selalu ia nanti-nantikan setiap pekan, setelah lima hari waktu sekolah yang melelahkan. Lebih dari segalanya, Julie bisa memanfaatkan waktunya untuk menonton DVD apa pun sepuasnya sebanyak yang ia inginkan di dua malam yang spesial itu tanpa perlu takut kesiangan atau dimarahi Lily karena bangun kesiangan. Satu-satunya yang akan membuatnya dimarahi hanyalah kebiasaannya meninggalkan sarapan di akhir minggu. Kadang-kadang Lily membiarkannya. Kadang-kadang Lily tetap membangunkannya. Tergantung mood wanita itu. Tapi pagi ini Lily tidak membangunkannya untuk sarapan, dan Julie sangat bersyukur untuk itu.

Kadang-kadang ia dan The Lady Witches menghabiskan hari Sabtu mereka untuk menonton film di bioskop Evergreen, tempat menonton favorit mereka. Tapi hari ini Julie tahu kalau itu tidak akan terjadi. Tanpa Cathy dan Cassandra, kegiatan menonton mereka akan menjadi sangat membosankan, terutama karena Cathy selalu yang membuat suasana menjadi heboh dan Cassandra adalah pemberi daya tarik yang luar biasa di dunia perbelanjaan—setelah atau sebelum mereka selesai menonton. Bahkan sejujurnya, sebelum mengenal mereka berdua, Julie, Jessie, dan Kayla hampir tidak pernah menghabiskan waktu mereka untuk menonton bioskop. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk saling berkunjung di rumah masing-masing. Atau bahkan tidak ada acara apa pun, yang memberikan waktu kosong yang panjang untuk Julie bangun kesiangan, dan tidur siang lagi sampai sore.

Itulah sebabnya Julie ingin di rumah saja hari ini.

Julie membuka pintu kamarnya dan baru saja akan turun tangga saat ia terhentak kaget melihat ibunya di depan mukanya.

“Hari ini kau tidak kemana-mana?” tanya wanita itu.

“Tidak,” jawab Julie malas.

“Aku lupa membuatkanmu sarapan,” kata Lily sambil cekikikan. “Aku terlalu asyik berguling-guling di kasur sampai-sampai aku lupa membangunkanmu dan membuatkan sarapan untukmu. Oke baiklah. Sebenarnya aku kesiangan juga.”

Lily menyodorkan sepiring sandwich yang jelas dibuat secara gegabah, menilik dari betapa banyak saus kacangnya yang belepotan di sisi piring dan kedua tangannya. “Masih tertarik untuk sarapan?”

Julie mengambil piring itu. Perutnya memang terasa lapar.

Yeah,” kata Julie. “Mom, bisakah kau membuatkan lagi sedikit lebih banyak? Aku sangat lapar sekarang. Kurasa aku bisa makan dua atau tiga lemari.”

Wanita itu tertawa.

“Aku memang rencananya akan sekalian membuatkan makan siang untukmu, Julie,” kata Lily. “Tapi butuh waktu agak sedikit lama. Aku sedang mempraktekkan resep baru di dapur. Agak sedikit—” Lily memainkan jari-jarinya sambil menggigit bibirnya, “—yeah, berantakan.”

Julie terkikih. “Apa Dad ada di rumah hari ini?”

Lily menggeleng.

“Dia sudah berangkat ke Westcult tadi pagi-pagi sekali. Dan dia tidak membangunkanku!” keluh Lily. “Oh. Mungkin sudah. Tapi aku tertidur lagi. Entahlah.”

Lily menuruni tangga dan menoleh ke arah Julie sambil menggoyangkan telunjuknya. “Habiskan sarapanmu, Julie. Dan bereskan kamarmu. Kau tidak mau kan kalau nanti monster kacang keluar dari rotimu dan melumuri seluruh barang-barang yang berantakan di lantai kamarmu dengan remah-rem—”

Julie mendesah cepat. “Iya, Mom.”

Julie menutup pintunya. Ia menghabiskan sandwich-nya dalam sekejap, karena ia memang benar-benar sedang lapar. Ia menerawang ke seluruh isi kamarnya. Memang sangat berantakan, seperti kapal pecah. Entah apa yang dia lakukan tadi malam sampai-sampai ruangan itu menjadi sekacau ini. Seperti diinvasi sekerumunan Godzilla.

Julie mengambil potongan-potongan seragam sekolah yang kemarin ia biarkan tercecer di lantai. Ia memasukkannya ke keranjang laundry. Ia merapikan beberapa barang yang tadinya tergeletak di sembarang tempat, meletakkannya lagi di posisi yang sebenarnya. Ia mengambil laptopnya yang masih terbuka dalam keadaan mati di atas kasurnya. Ia menutup laptop itu, teringat kalau Lily selalu mengomel dan memperingatkan Julie kalau suatu saat nanti laptop itu akan tertendang oleh kakinya yang tertidur atau patah tersenggol oleh pantatnya sendiri dan ia takkan mau membelikan yang baru.

Julie meletakkan laptop itu di atas meja belajar. Ia lalu menarik kursi meja belajarnya dan duduk di atasnya, tertarik untuk menonton DVD lagi. Ia menghembuskan napasnya dengan berat karena mengetahui itu bukan keputusan yang pintar. Julie tahu, saat menonton DVD, ia akan lupa segalanya. Termasuk kewajibannya membereskan kamarnya. Ia harus menyelesaikan tugas ini selagi kewarasannya masih berfungsi normal, sebelum kemalasannya berjingkrak lagi.

Julie beranjak menuju tempat tidurnya dan menarik spreinya dengan enggan. Ia mengendusi sarung bantal yang bau lalu mengendusi sprei yang ternyata juga bau lalu menyadari kalau selimutnya juga bau. Ia melenguh panjang. Ia melepas semua kain-kain bau itu dari tempat tidurnya, menggulung mereka semua menjadi sebuah bola kain besar, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah keranjang laundry.

Meleset. Kain-kain itu berhamburan di mana-mana.

Dengan kemalasan yang luar biasa, Julie menghampiri kain-kain itu dan mencoba merapikannya lagi. Ia mendorongnya ke arah keranjang laundry, memasukkan sebanyak yang ia bisa, dan menyadari kalau mereka terlalu banyak, sama sekali tidak muat dimasukkan ke dalam keranjang. Semua pakaian dan kain kotor itu harus dicuci sekarang.

“Mom,” teriak Julie. Lily menyahut dengan keras dari lantai bawah. “Maukah kau mencuci sprei dan selimutku?”

Lily tidak menjawab lagi. Julie sudah tahu alasannya. Ia akan mencuci sendiri kain-kain itu, tapi ia tidak akan melakukannya sekarang. Mungkin nanti sore. Mungkin nanti malam. Mungkin besok. Mungkin nanti kalau alien dari Saturnus datang dan tiba-tiba memberikannya ilham.

Julie menghela napas panjang. Sekarang ia harus mengambil sprei, sarung bantal, dan selimut baru, yang disimpan ibunya di lantai bawah. Rasanya sangat malas. Sangat, sangat, sangat malas. Ia memutuskan untuk menunda itu dan lagi-lagi menarik kursi meja belajarnya untuk duduk di atasnya. Ia terdiam cukup lama, menatap ke jalanan di balik jendela, tidak melakukan apa-apa.

Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu. Ia menarik laci paling bawah dari meja belajarnya, tempat ia menyimpan koran sekolah yang memuat puisi Richard untuknya. Ia membuka halaman demi halaman, untuk menemukan bagian yang ingin dibacanya.

Ia melihat foto Richard. Sangat manis dengan senyum tipisnya yang polos. Ini foto Richard beberapa bulan yang lalu. Saat itu ia masih merasakan Richard sebagai momok menakutkan. Sebelum ia mengenal Richard sampai sejauh ini. Sebelum ia merasakan perasaan nyaman yang asing saat berada dekat dengan anak laki-laki itu. Sebelum ia menyadari perasaannya sendiri. Sebelum ia mengetahui bahwa Richard ternyata juga—menyukainya.

Julie menahan napasnya.

Julie telah berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan semua yang terjadi dalam dua hari terakhir. Ia biasanya dapat dengan mudah melakukannya. Tapi entah kenapa, kali ini terasa begitu sulit.

Ia mencoba mengabaikan pernyataan Richard padanya dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Ia mencoba untuk tidak membahasnya, mengalihkan topik atau mencari perhatian pada hal yang lain. Ia mencoba untuk lebih menfokuskan kekhawatirannya pada Cathy dan Cassandra yang menjauhinya.

Tapi ada satu kepingan di dalam dadanya yang menginginkan untuk membahas hal itu. Kepingan yang membuatnya merasa sangat egois dan ia berusaha untuk menekannya agar perasaan itu segera menghilang.

Julie bertanya dalam hati.

Benarkah Richard juga menyukainya?

Sungguh kah?

Julie menghela napas sekali lagi. Rasanya ia terlalu banyak menghela napas hari ini. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Ia tidak pernah menghadapinya sebelumnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia bahkan tidak bisa menentukan apakah sikap yang diambilnya benar atau salah.

Ia ingin menghampiri Richard dan mengucapkan sesuatu, namun ia tidak tahu ingin mengucapkan apa. Apakah ia akan mengakui perasaannya? Apakah ia akan bertanya pada Richard sekali lagi?

Benarkah Richard telah menyukainya?

Julie merenung panjang, berusaha memahami apa yang ia inginkan, apa yang sebaiknya ia lakukan. Tapi semakin ia berpikir, ia semakin pusing. Ia tidak mengerti kenapa ia harus merasakan perasaan yang kacau seperti ini. Memikirkan dan berusaha tidak memikirkan, dua-duanya sama-sama melelahkan.

Julie mengambil ponselnya. Ia membuka pesan masuk dan menelusuri daftar pesan untuk mencari satu pesan yang dikirim padanya dua hari yang lalu.

 

Aku sangat khawatir padamu.

Apakah kau baik-baik saja?

 

Richard.

 

Julie belum menyimpan nomor ponsel itu ke dalam daftar kontaknya. Ia bahkan tidak pernah membuka pesan itu lagi sejak hari itu.

Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

***

19 – Perang Dingin (4)

Comments 24 Standar

Julie keluar dari kelasnya dan disambut oleh Kayla dan Jessie di perjalanan. Mereka saling merangkul pundak dan berjalan beriringan. Julie berada di bagian tengah.

“Jadi, hanya kita bertiga saja, nih?” kata Jessie dengan wajah skeptis. “Baguslah. Ini seperti kita waktu dulu, saat kita masih di Springbutter.”

Jessie mengayunkan tangannya ke belakang, bermaksud untuk menambah bobot tas sekolah Julie, sehingga gadis itu hampir terjungkal. Julie mengamuk dan menarik kuncir rambutnya dengan keras, yang membuat gadis itu berteriak.

Kayla tersenyum.

“Kalian ingat pelajaran terakhirku hari ini? Biologi,” kata Kayla. “Aku sekelas dengan Lucy, Cathy, dan Cassandra.”

Julie dan Jessie terperangah.

“Benar juga! Kalian berempat sekelas!” sontak Jessie. Dia dan Julie saling bertatapan. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Apa yang kau harapkan, Jess?” kata Kayla sambil terkikih. “Keajaiban?”

Kedua gadis itu mengangguk, lalu mendengarkan dengan sangat penasaran. Tidak ada yang salah dengan sedikit harapan kalau Cathy dan Cassandra tiba-tiba berubah pikiran. Kayla hanya mengangkat pundaknya dengan malas.

“Seperti biasa, Cathy dan Cassandra memilih duduk menjauhiku. Mereka tidak mau berbicara sama sekali. Tidak menanggapi ucapanku sedikit pun,” kata Kayla, menggeleng pelan. “Hanya Lucy yang masih mau berbicara denganku.”

Julie melihat sekeliling, menyadari sesuatu.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong, di mana Lucy sekarang? Apakah dia masih sibuk dengan paper-nya?” tanya Julie.

“Dia dipanggil Mrs.Tamara Lautner di ruang kepala sekolah. Kurasa ada hubungannya dengan lomba-lomba,” jelas Kayla.

Jessie mengembalikan topik pembicaraan mereka kembali ke jalur semula. Ia berbicara dengan gaya menyindir.

“Dan pasangan Cathy-Cassandra itu—aku yakin mereka mengasingkan diri seolah-olah mereka adalah dua ratu dengan layanan yang eksklusif,” kata Jessie sambil memainkan intonasinya. Ia tertawa pahit. “Aku masih tak percaya semua ini.”

Kayla menarik sudut mulutnya, menghela napas. “Yah.”

“Menurutmu sampai kapan mereka berdua akan menjauhi kita?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla, mengangkat pundak. “Ini baru hari pertama, Julie. Kita tak tahu apa yang akan terjadi besok dan besok lusa. Mudah-mudahan nanti suasana hatinya akan jadi lebih baik.”

Jessie mendongkol.

“Kau tahu? Kenapa Ratu Drama itu bersikap terlalu kekanak-kanakan? Aku benar-benar muak melihatnya,” kata Jessie. “Apa masalahnya? Ayolah! Hanya karena pacarnya suka pada Julie, bukan berarti dia harus memusuhi SEMUA ORANG.”

Julie tersenyum menggelap.

“Apa karena kalian masih berteman denganku?” tanya Julie.

Jessie menjawab dengan gaya menantang.

“Kalau pun iya, lalu kenapa? Apakah semua orang harus membencimu, padahal ini bukan salahmu sama sekali? Coba pikir, Julie. Memangnya salahmu kalau akhirnya Richard ternyata lebih menyukaimu?” kata Jessie. “Kalau aku jadi Richard, aku juga pasti akan memilihmu daripada dia, Julie. Dia memang cantik, tapi dia itu keras kepala, manja, egois, cengeng, payah, kekanak-kanakan, pengecut–”

“Hentikan, Jess. Kenapa kau harus menjelek-jelekkan dia?” tanya Julie.

Jessie pura-pura tidak mendengarkan.

“–tukang ngambek, posesif, Ratu Drama, selalu mau menang sendiri, arogan, angkuh. Semua yang jelek-jelek. Intinya, dia seharusnya yang jadi orang yang lebih dewasa!” kata Jessie mendumel. “Titik.”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik,” kata Kayla. “Kurasa ini saatnya kita bertiga menemuinya dan menyelesaikan masalah ini dengan segera.”

“Apa maksudmu?” tanya Jessie.

“Iya, kupikir yang dikatakan Julie tadi siang itu benar, Jess. Kita harus menemuinya dan tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut,” kata Kayla. “Kali ini, kita akan memaksa untuk menemuinya. Kita akan terus memaksa meskipun ia nanti akan bersikeras untuk menghindar.”

Ide ini terdengar dramatis. Dari sekarang saja Julie sudah bisa membayangkan bagaimana mendebar-debarkannya rencana itu.

“Aku melihatnya dan Cassandra dengan Pinky Winky di sisi selatan lapangan sekolah tadi. Mereka sedang membicarakan tentang baju seragam untuk anggota baru geng mereka,” kata Kayla. “Sekarang kita akan ke sana untuk menemuinya. Apa pun yang terjadi.”

Mereka bertiga pun berjalan menuju lapangan sekolah. Jessie tidak sepenuhnya setuju dengan ide ini–ia sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Cathy yang sengaja menghindarinya di kafetaria tadi siang. Tapi demi penyelesaian masalah, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menemuinya sekarang.

Mereka menemukan Cathy dan Cassandra sedang bercengkrama dengan teman-teman barunya. Kedua gadis itu terlonjak kaget saat melihat teman-teman lamanya berada di dekat mereka.

“Bagaimana teman-teman barumu, Cathy? Cassandra? Apakah mereka menyenangkan?” sindir Jessie dengan nada sinis. “Tidak seheboh The Lady Witches, huh? Ah, tentu saja. Itu pasti. Tapi setidaknya tidak ada gadis lain yang menyaingi kepopuleranmu di sini. Mereka semua payah.”

“Jessie.” Kayla mendesis.

“Baiklah, sebelum aku mulai merusak suasana, sebaiknya aku serahkan urusan negosiasi ini pada ahlinya,” kata Jessie sopan, melambaikan tangannya pada Kayla. “Silakan.”

Cathy bersiap-siap pergi. Ia menarik tangan Cassandra dan mengajak teman-temannya yang lain juga untuk segera menghindar.

“Cath, jangan pergi!” kata Kayla.

Cathy dan Cassandra menyingkir dengan cepat. Jessie berlari sangat cepat untuk menyusul mereka dan ia langsung menghadang Cathy, tepat di depan wajahnya. Gadis itu melonjak.

“Apa masalahmu!” kata Cathy gusar.

“Apa masalahmu!” balas Jessie tak kalah sengit. “Kaulah yang bermasalah, Cath! Kaulah yang menghindari kami! Kaulah yang bersikap aneh! Apa kau pikir tindakanmu ini tidak konyol dan kekanak-kanakan!? Hah?!”

“Aku tidak ingin melihat muka kalian,” desis Cathy. Kemarahan membakar seluruh urat nadinya.

Cassandra hanya terdiam membatu, memandang kejadian itu dengan wajah yang pucat pasi. Cathy segera menarik tangan Cassandra lagi. Ia bergerak cepat ke arah yang berlawanan, membuang mukanya dengan ekspresi muak, disusul cepat oleh teman-teman barunya.

“Cathy! Dengarkan kami dulu!” teriak Kayla.

Sonia Edmund menghalangi Kayla, menahan bahu Kayla dengan kedua tangannya. “Kau tidak dengar? Tadi dia bilang tidak mau melihat mukamu. Apa kau perlu kuucapkan sekali lagi?”

Jessie menghentakkan kakinya ke kaki Sonia. Gadis itu terpekik.

“Bukan urusanmu, Jalang,” runtut Jessie. “Pergilah, Cath! Pergilah sejauh-jauhnya karena aku pun sudah muak melihat kelakuanmu!” Jessie berteriak. “Dan Cassandra—selamat karena kau telah memilih untuk meninggalkan sahabat-sahabat terbaikmu. Hebat!”

Kejadian itu berlangsung sangat cepat, Julie hanya mampu menyaksikan kejadian itu dengan mulut yang terkatup rapat. Jantungnya berdebar-debar seperti akan meledak. Teman-temannya saling berteriak satu sama lain, bekejar-kejaran dengan emosi, dan saling mengumpat marah.

Ini bukan pemandangan yang disukainya.

“ENYAH!” Cathy masih berusaha menghindari mereka. Jessie sudah berhenti mengejar, ia melipat kedua tangannya dengan gondok. Kayla menaikkan intonasi suaranya tiga kali lipat daripada biasanya.

“Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan membicarakannya baik-baik. Aku tahu kau bisa melakukannya,” kata Kayla tidak sabar. “Cathy! Kau harus mengontrol emosimu, seperti yang selalu aku katakan selama ini. Emosi hanya akan memperbesar masalah, kau tahu itu!”

Cathy tetap saja tidak berhenti berlari. Teman-teman barunya di Pinky Winky bahkan berusaha susah payah menyamakan posisi mereka.

“Cathy, kumohon pikirkanlah sekali lagi!” kata Kayla, terengah-engah. “Kemarin kau sudah berjanji padaku untuk menanggapi ini dengan kepala dingin. Kau ingat?”

Kayla berhenti mengikuti mereka. Ia memutuskan untuk membiarkan kedua gadis itu pergi.

“Jadi, sudah kubilang kan?” kata Jessie. “PER-CU-MA. Kau saja yang tidak percaya padaku.”

Mereka bertiga sekarang kembali berjalan ke gerbang sekolah, dengan langkah lunglai.

Julie masih bisa mendengar tarikan napas Kayla yang tersengal. Titik-titik keringat yang membasahi dahi gadis itu, ia mengelapnya dengan punggung tangannya. Sementara itu, Jessie merapikan kembali kuncir rambutnya yang berantakan.

Julie menunduk kecewa. Ia merasa benar-benar tidak berguna.

“Terima kasih atas usaha kalian, teman-teman. Aku sangat menghargai itu,” kata Julie. “Aku tak tahu kenapa aku tak bisa mengatakan apa-apa tadi. Rasanya lidahku kelu dan aku tak bisa berkata apa-apa sama sekali. Dan Cathy terlihat sangat,” Julie terbata-bata, “aku tak tahu, aku hanya tak ingin melihat dia seperti itu, dan aku melihat kalian saling bertengkar dan aku—”

“Sudahlah, Julie. Tidak apa-apa,” kata Kayla sambil tersenyum. Ia menepuk pundak Julie dengan hangat. “Kita akan menyelesaikan masalah ini, cepat atau lambat. Jangan khawatir.”

Yeah. Tidak apa,” kata Jessie. “Aku hanya ingin mencabik-cabik mukanya sesekali.”

Kayla berdehem. “Jessie.”

Mereka telah tiba di ujung gerbang, saat Mr.Bouncer menyapa Julie dengan kumis mungilnya. Tidak lama kemudian, Jessie dan Kayla berpamitan dengan Julie, karena mereka akan mengambil bus dari seberang jalan, sedangkan Julie akan berjalan kaki ke arah sebaliknya.

“Jadi, Julie. Besok sudah weekend,” kata Kayla sebelum mereka pergi. “Apa rencanamu untuk besok?”

Julie menggeleng.

“Entahlah,” kata Julie. “Kurasa aku ingin di rumah saja. Mengganggu Mom.”

Julie mengucapkannya dengan nada monoton. Matanya mengerjap aneh. Seluruh dunia tahu, yang akan dilakukannya besok adalah tidur siang sepuasnya.

“Kau yakin tidak ingin ke mana-mana? Aku bisa mengajakmu berjalan-jalan, nonton film di bioskop, atau–” Jessie langsung terdiam. Wajahnya berjengit geli, menyadari kesalahannya. “Yah. Kau benar. Lupakan saja ide bodoh itu.”

Julie tersenyum pahit. “Yeah.”

19 – Perang Dingin (3)

Comments 24 Standar

Julie tidak bisa mengenyahkan itu dari pikirannya.

Richard dan gadis kelas dua belas itu—apa yang mereka lakukan?

Sejak kejadian kemarin sore, Julie dan teman-temannya sama sekali belum menemui Richard untuk meluruskan permasalahan ini. Melalui Jessie, Nick hanya berkata kalau anak laki-laki itu saat ini belum ingin ditemui, dan Kayla pun merasa demikian. Julie juga belum bertemu dengan Nick. Lucy masih sibuk dengan paper internasionalnya, Cathy dan Cassandra telah menghindar dari mereka, sekarang rasanya hanya tersisa bertiga dari mereka. Rasanya The Lady Witches sedang tercerai-berai, terpisah satu sama lain dan menjadi sangat sedikit, walaupun mungkin keadaan ini hanya untuk sementara.

Yah. Hanya sementara, kata Kayla.

Julie baru saja akan memasuki kelasnya saat ia melihat M.Wandolf sedang berjalan menaiki tangga di sudut koridor. Ronald Whient tiba-tiba menghampirinya dan membuat laki-laki gemuk berkepala setengah botak itu berhenti berjalan. Anak laki-laki itu menyerahkan buku tugasnya. M.Wandolf menyambutnya dengan antusias. Pemandangan itu mengingatkan Julie pada satu hal.

Cerpen Prancis.

Tadi pagi, Julie juga telah menyerahkan tugasnya. Cerpen Prancis yang terkutuk. Julie baru mengetahui dari M.Wandolf kalau beliau ternyata tidak hanya menugaskan tugas cerpen Prancis itu pada Julie saja, tapi laki-laki itu juga menugaskan tugas yang sama pada beberapa murid di kelas lain. Di kelas sepuluh, kelas sebelas, kelas dua belas. Lebih tepatnya, semua kelas yang sedang diajarnya. Semua murid yang memiliki nilai yang buruk akan diberikan tugas cerpen Prancis menjelang akhir tahun ajaran.

Julie terkesan dengan kenyataan itu. Ternyata masih ada beberapa murid lainnya—walaupun di kelasnya sendiri Julie adalah satu-satunya—yang berkualifikasi sangat bodoh di Kelas Prancis, dan M.Wandolf yang baik hati ternyata memberikan mereka kesempatan yang sama. Dan ia dulu berpikir kalau ia adalah satu-satunya murid sekolah yang paling bodoh yang pernah ada di muka Bumi, yang seharusnya dimutasi dengan sinar pengecil dari Planet Mars, dideportasi ke Kutub Utara untuk berburu ikan bersama para beruang, atau membangun igloo untuk orang Eskimo.

Mungkin itu tidak sepenuhnya benar.

M.Wandolf tadi pagi bahkan mengatakan kalau di antara murid-muridnya di Nimber, perkembangan Julie adalah perkembangan yang paling pesat. Ia sangat bangga pada Julie. Laki-laki itu begitu gembira melihat tugas Julie yang telah selesai melebihi ekspektasinya, seolah-olah Julie baru saja memenangkan Grand Prix atau semacamnya, padahal Julie hanya melanjutkan sedikit saja dari yang pernah dikerjakannya bersama Richard.

Benar-benar sedikit.

Satu kalimat.

Sejak ia mengerjakannya dengan Richard sebanyak dua halaman cerita tentang Anne Matilda di kedai Steak~Stack, Julie tidak pernah bersemangat untuk melanjutkannya lagi. Di hari ia jatuh sakit, ia tidak menyentuhnya. Dan kemarin malam, setelah insiden Cathy, Julie berusaha keras untuk mengalihkan perhatiannya dari kejadian itu dengan cara melanjutkan tugas Prancis. Hanya untuk sakit kepala hebat. Ia akhirnya mengakhiri penderitaannya itu dengan satu kalimat penutup terkonyol yang pernah ia tulis, yang ia pikir hanya Tuhan yang tahu apakah itu artinya.

M.Wandolf malah mengatakannya luar biasa.

Julie tidak tahu apakah pernyataan laki-laki itu adalah sebuah pujian yang bersifat afirmasi positif, seperti kata Richard. Tapi semua hal yang berhubungan dengan kelas Prancis akhirnya malah semakin mengingatkan Julie pada anak laki-laki itu. Ini adalah dilema yang sangat menyusahkan untuknya.

Selama ini, ceracau aneh di kelas Prancis secara otomatis berubah menjadi suara Richard di kepala Julie. Kejadian ini sudah terjadi selama berminggu-minggu sejak pertemuannya dengan Richard di Perky’s House, sejak Richard mengajarinya bahasa Prancis. Suara Richard yang lebih merdu telah membuatnya mampu belajar bahasa Prancis tanpa perasaan tertekan, ia mampu mempelajarinya dengan lebih baik. Tapi hari ini, suara itu justru menimbulkan efek sebaliknya. Semua hal yang berhubungan dengan Richard membuat justru Julie menjadi sangat gelisah.

Ia benar-benar pusing.

Julie tersadar dari lamunannya saat M.Wandolf  pergi dan Ronald Whient kembali ke kelas. Julie barus saja akan kembali ke kelasnya, yang akan dimulai dalam sepuluh menit lagi, kalau saja Mark McGollen tidak memanggilnya dari kejauhan.

“Julie,” kata anak laki-laki itu.

Julie menoleh. Mark berjalan mendekatinya.

“Ada apa?” tanya Julie.

Mark adalah mantan pacar Cathy, yang dulu juga sempat menyukai Julie di awal tahun ajaran, saat mereka masih menjadi siswa baru di Nimber. Sudah lama Julie tidak berbincang-bincang dengannya, sejak Cathy memutuskan Mark berbulan-bulan yang lalu. Mark tidak pernah muncul lagi ke permukaan sejak diputuskan oleh Cathy, anak laki-laki itu terlihat depresi dan tidak terlalu menonjol.

Rasanya sudah sangat lama sekali.

“Tidak apa-apa, Julie,” kata Mark, tersenyum simpatik. “Aku, eh—um, sudah dengar soal kejadian kemarin sore. Tentang Cathy dan uh—Richard. Kudengar, Richard ternyata menyukaimu. Dan Cathy sangat marah. Apakah itu benar?”

Julie mengangguk malas.

Yeah,” kata Julie.

Mark tersenyum lebar. “Aku senang mendengarnya.”

“Apa?” Julie mendelik.

“Ya. Aku senang mendengarnya,” kata Mark. “Aku senang gadis itu akhirnya dicampakkan, seperti saat dia mencampakkan aku dulu. Aku benci Cathy. Dia memang pantas menerimanya.”

Mark menyeringai. Sudut mulutnya berkedut-kedut senang. Wajahnya yang biasanya lugu telah berubah menjadi jahat dengan semburat kegembiraan yang tidak tertahankan. Matanya berkilat kejam. Ia tidak lagi seorang Mark McGollen yang sebelumnya Julie kenal.

Julie terkejut. “Apa katamu?”

Mark berdehem singkat.

“Aku senang karena gadis itu dicampakkan Richard,” kata Mark, mengulangi pernyataannya sebelumnya, sesuai dengan pertanyaan Julie. “Dia memang pantas menerimanya.”

Julie menelan ludahnya tanpa sadar—tenggorokannya terasa kering. Mark masih belum kehilangan ciri khasnya yang lama. Tapi apa yang dikatakan Mark benar-benar berbeda dari yang Julie bayangkan.

Yea—yeah, aku tahu apa yang kau ucapkan, tapi maksudku—kenapa kau berkata seperti itu? Ini seperti bukan kau,” kata Julie meruntut. “Dia tetap sahabatku. Dan aku tak suka kalau kau mengatakan hal yang buruk tentangnya. Kau harus menarik kembali ucapanmu.”

Mark menggeleng.

“Tidak mau,” kata Mark, kata-katanya merayap dengan apatis. “Dia pantas mendapatkannya. Gadis itu akhirnya mendapatkan pembalasan dari apa yang dia lakukan padaku. Aku sama sekali tidak akan menarik ucapanku ini.”

Mark terus berbicara dengan semangat, seolah tak dapat menghentikan kegairahannya untuk membicarakan hal ini.

“Kau tahu, Julie? Aku justru sekarang ingin berterimakasih padamu,” kata Mark lagi. “Karena kau, Richard sekarang mencampakkan Cathy. Karena kau, Cathy merasakan apa yang aku rasakan dulu, saat ia mencampakkanku dengan begitu mudah. Karena kau, Cathy sekarang kehilangan semua teman-temannya. Karena kau, ia kehilangan semangat hidupnya. Kau benar-benar seorang penyelamat, Julie. Aku sangat berterima kasih karena aku sendiri tidak tahu bagaimana cara membalasnya.”

Perasaan kelu tiba-tiba menyergap Julie, yang membuat ekspresi wajahnya berubah.

“Tidak, ini tidak seperti yang kau kira, Mark. Aku tak pernah–”

“Apa pun yang terjadi dan apa pun yang dipikirkan orang-orang, ingatlah kalau aku berada di pihakmu, Julie. Lagipula—” kata Mark, meninggalkan tempat itu bersamaan dengan bunyi bel yang berdering. “—dia sebenarnya bukan sahabatmu lagi, kan?”

“Tidak. Bukan begitu,” kata Julie cepat-cepat, meralat pernyataan itu. “Kau salah, Mark! Kami mungkin sedang menghadapi sedikit masalah, tapi kami tetap–”

Mark segera berlalu, meninggalkan Julie tanpa mendengarkan.

Julie mendesah pelan. “–berteman.”

***

19 – Perang Dingin (2)

Comments 36 Standar

Julie tidak menyangka kalau masalah ini akhirnya menjadi sesulit ini. Sepanjang jam makan siang tadi, mereka bertiga sibuk membicarakan tentang Cathy yang berubah, gadis itu bergabung dengan geng lain, dan kali ini Cassandra ternyata juga ikut mengikuti jejaknya. Mereka berdua tidak pernah menoleh ke arah teman-teman lamanya lagi.

Jessie menjadi sangat gusar dan hampir saja akan menghardik kedua orang itu, kalau saja tidak ada Kayla yang menahannya. Jessie memutuskan untuk menunggu sampai geng itu menyelesaikan makan siang, tapi saat Jessie bergerak menghampiri mereka, Cathy, Cassandra, dan teman-teman barunya sudah bergerak terlalu jauh meninggalkan mereka bertiga.

Julie benar-benar tidak mengerti kenapa mereka berdua harus bersikap seperti itu. Cathy mungkin masih sangat marah padanya karena Richard menyukainya, tapi Julie tidak mengerti kenapa Cassandra juga merasa ingin ikut menjauhinya. Kemarin sore gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat ia menghabiskan waktu bersama dengan mereka dan Nick di depan rumah Cathy. Jessie bilang Cassandra adalah pengkhianat, tapi Julie sama sekali tidak setuju dengan istilah itu.

Kayla berkata kalau Cassandra memang dari dulu sangat menyukai Richard. Cassandra juga sangat dekat dengan Cathy—barangkali lebih daripada siapa pun di geng The Lady Witches mereka. Mereka berdua jauh lebih sering sekelas dibandingkan yang lain, dan mereka berdua berada di klub yang sama, Klub Drama. Bisa jadi gadis itu lebih merasa bersimpati pada Cathy dan memilih untuk berpihak padanya.

Kayla menambahkan, selama ini Cassandra juga selalu menginginkan Julie dengan Jerry. Bisa jadi, kenyataan bahwa Richard menyukai Julie tidak hanya membuatnya terpukul sebagai penggemar Richard dan Cathy, tapi juga ia merasa Julie telah merusak harapannya dengan Jerry. Di antara semua pertimbangan itu, barangkali memang baru siang ini gadis itu akhirnya menetapkan pilihannya untuk membela Cathy.

Mereka bertiga tak menghabiskan waktu terlalu lama di kafetaria. Setelah Cathy dan Cassandra berlalu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Julie meregangkan tangannya dengan malas saat mereka berpisah di koridor.

“Julie!” panggil Jerry dari arah belakang.

Julie menoleh. Anak laki-laki itu mendekatinya sambil tersenyum, sengaja berlagak gagah agar terlihat menarik. Jerry tampak lebih cerah hari ini ketimbang saat Julie terakhir melihatnya kemarin.

“Aku mencarimu,” kata Jerry. “Aku butuh bantuanmu untuk mengedit beberapa tulisan sore ini. Apa kau baik-baik saja?”

Jerry memperhatikan wajah Julie yang terlihat sedikit pucat.

Yeah,” kata Julie. “Hanya sedikit tidak enak badan. Kau butuh apa? Aku tidak dengar tadi.”

“Mengedit. Dengar Julie, aku tahu mungkin aku akan terdengar seperti ikut campur, tapi aku turut bersimpati pada apa yang menimpamu kemarin,” kata Jerry dengan tidak sabar. “Yeah, aku sudah mendengar ceritanya dari orang-orang. Mereka bilang Cathy menamparmu. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Apakah pipimu masih terasa sakit?”

Julie memutar balik tubuhnya dan menutup pipinya dengan rambut.

“Tidak.”

“Jam berapa persisnya kejadian itu? Apakah tepat setelah kita pulang sekolah?” tanya Jerry menyelidik.

“Ya.”

“Apakah ada yang ingin kau ceritakan padaku tentang kejadian itu?” tanya Jerry.

“Tidak,” kata Julie frustasi.

Jerry mulai terdengar menjengkelkan karena pertanyataan-pertanyaannya yang menodong dan kaku seperti gaya interograsi khas seorang wartawan. Ia harus melakukan sesuatu. “Jerry. Bisakah kau tinggalkan aku sebentar? Aku butuh bernapas sekarang. Lagipula seingatku, kemarin kau masih marah padaku gara-gara aku pergi ke perayaan kemenangannya Lucy.”

Jerry tergelak. “Tidak. Kenapa juga aku harus marah? Aku butuh bantuanmu hari ini, makanya aku mencarimu. Bagaimana? Kau bisa membantuku, kan?”

Julie menghela napas.

“Aku tidak merasa bersemangat hari ini, Jerry. Tidak bisakah kau meminta tolong pada anggota-anggota yang lain? Mungkin Timmy bisa melakuka—”

Julie terdiam membeku.

Richard.

Anak laki-laki itu berada beberapa puluh kaki di arah jam dua. Rasanya sudah lama sekali Julie tidak melihat wajahnya.

Richard sedang mengobrol dengan seorang gadis, Julie tidak mengenalnya. Richard menoleh seketika ketika menyadari keberadaan Julie, ia menatapnya dengan matanya yang biru.

Jantung Julie berdegup sangat kencang.

“Julie?”

Jerry melihat ke arah Richard, yang sudah membuang mukanya lebih dulu.

Richard kembali melanjutkan obrolannya dengan sang gadis, tak sedikit pun mempedulikan kehadiran Julie ataupun Jerry di sekitarnya. Ia sesekali tersenyum dan kemudian menyodorkan secarik kertas pada gadis itu. Gadis itu tampak sangat senang. Mereka saling berlambaian tangan saat berpisah.

“Wow,” kata Jerry.

Anak laki-laki itu berdecak kagum. Ia menoleh kembali ke arah Julie.

“Kau mau tahu gadis itu siapa? Luna Hartwright. Kelas dua belas. Teman sekelas Mitch.” Jerry menggeronyotkan senyumnya. “Ini sangat menarik, Julie. Jadi, segera setelah diputuskan oleh Cathy dan patah hati denganmu, Richard mencari calon pacar yang baru. Gadis yang lebih tua.”

Julie terdiam. Perasaan dingin dan beku menjalari setiap tulang-belulangnya, seolah-olah akan mencengkramnya dengan erat.

“Luar biasa. Kau tahu, Julie. Kejadian ini adalah berita yang paling menghebohkan di Nimber abad ini. Aku sangat senang menulisnya untuk berita di koran sekolah minggu depan,” kata Jerry. “Sangat banyak orang yang menunggu-nunggu mendengar detail dari berita itu. Termasuk aku. Aku hanya mengingatkanmu soal kemungkinan itu.”

Jerry mengangkat tangannya dengan bebas.

“Kecuali—kalau kau membantuku mengedit sore ini. Aku mungkin akan mempertimbangkannya lagi. Richard dan Cathy memang topik yang selalu menarik untuk dihidangkan, tapi jika kau setuju untuk bekerja sama, aku mungkin tidak akan menulis terlalu banyak tentangmu.”

Julie menatap Jerry dengan tidak percaya.

“Apa?”

Pernyataan Jerry barusan membuat Julie sadar akan fakta bahwa masyarakat sekolah Nimber sangat suka dengan berita-berita terbaru, bahkan gosip-gosip murahan sekalipun. Berita tentang hubungannya yang memburuk dengan Cathy, Cassandra, dan Richard tentu saja akan menjadi santapan yang sangat lezat untuk mereka. Ini benar-benar bukan sesuatu yang diharapkannya.

“Kau tidak akan menulis apa pun, Jerry,” kata Julie.

Jerry menggeleng santai.

“Aku seorang wartawan, Julie. Tugasku adalah meliput berita. Kau tidak bisa mencegahku melakukan itu,” jawab Jerry. “Kau juga seorang wartawan. Jangan lupa. Aku sudah bilang, kau harus mengutamakan logikamu di atas perasaanmu. Profesionalismemu untuk masa depan. Masalah hanya akan menunggu orang-orang yang membuang waktu dan masa muda mereka.”

Julie berhenti berjalan. Ia mendesah berat. Anak laki-laki ini memang selalu menjengkelkan. Ia tak tahu apa maunya Jerry, tapi jika perhatian yang penuh bisa membuat Jerry berhenti mengganggunya, Julie bersedia untuk menyediakan waktu menanggapinya dengan lebih serius.

“Jadi, apa maumu?” tanya Julie, menatap Jerry dengan sungguh-sungguh sambil melipat tangannya. “Kau sangat mengesalkan.”

Jerry mengangkat bahunya.

“Aku hanya ingin kau membantuku sore ini,” kata Jerry. “Sesederhana itu.”

Julie merengut. Bukan hanya karena ia benar-benar tidak mood melakukan apa pun hari ini, tapi juga ada hal lain yang membuatnya sangat malas. Di tengah-tengah permasalahan yang mengganggu pikirannya sekarang, hal terakhir yang diinginkannya adalah menghabiskan waktu dengan Jerry yang menjengkelkan. Kecuali jika ada alasan spesial yang bisa membuatnya berubah pikiran.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, masa depanku akan berubah?” kata Julie.

“Tentu.” Jerry tertawa.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau bisa membuat Cathy dan Richard berpacaran lagi? Dan teman-temanku akan kembali berbaikan lagi seperti semula?” tanya Julie.

“Tidak.”

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau akan membatalkan rencanamu menulis tentang teman-temanku?” kata Julie.

“Ng—tidak.”

Julie menanggapi dengan cuek. “Kalau begitu, aku tidak akan datang.”

Gadis itu mungkin terdengar galak, namun ekspresi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Ia berusaha sebaik mungkin menurunkan sebuah pandangan garang, namun gerakan tubuhnya yang kikuk itu tidak pernah meninggalkannya.

Jerry tergelak.

“Baiklah, kalau itu memang maumu,” kata Jerry. “Aku hanya bercanda, Julie. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan keadaanmu hari ini. Tapi setelah kulihat-lihat, sepertinya kau memang baik-baik saja. Aku akan memberikan waktu untukmu beristirahat sampai akhir minggu ini, menyelesaikan urusanmu dengan teman-temanmu. Aku tunggu kehadiranmu hari Senin besok di ruangan kantorku, seperti biasa.”

Julie merengut lagi. “Aku tidak akan datang.”

Jerry tersenyum miring.

“Aku tahu.”

Jerry baru saja akan bersiap-siap meninggalkannya saat gadis itu mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Namun anak laki-laki itu tiba-tiba berubah pikiran, memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan terakhir sebelum ia pergi.

“Satu lagi,” kata Jerry. “Apakah kau menyukai Richard?”

Julie memicingkan matanya.

“Pergi.”

***