19 – Perang Dingin (3)

Julie tidak bisa mengenyahkan itu dari pikirannya.

Richard dan gadis kelas dua belas itu—apa yang mereka lakukan?

Sejak kejadian kemarin sore, Julie dan teman-temannya sama sekali belum menemui Richard untuk meluruskan permasalahan ini. Melalui Jessie, Nick hanya berkata kalau anak laki-laki itu saat ini belum ingin ditemui, dan Kayla pun merasa demikian. Julie juga belum bertemu dengan Nick. Lucy masih sibuk dengan paper internasionalnya, Cathy dan Cassandra telah menghindar dari mereka, sekarang rasanya hanya tersisa bertiga dari mereka. Rasanya The Lady Witches sedang tercerai-berai, terpisah satu sama lain dan menjadi sangat sedikit, walaupun mungkin keadaan ini hanya untuk sementara.

Yah. Hanya sementara, kata Kayla.

Julie baru saja akan memasuki kelasnya saat ia melihat M.Wandolf sedang berjalan menaiki tangga di sudut koridor. Ronald Whient tiba-tiba menghampirinya dan membuat laki-laki gemuk berkepala setengah botak itu berhenti berjalan. Anak laki-laki itu menyerahkan buku tugasnya. M.Wandolf menyambutnya dengan antusias. Pemandangan itu mengingatkan Julie pada satu hal.

Cerpen Prancis.

Tadi pagi, Julie juga telah menyerahkan tugasnya. Cerpen Prancis yang terkutuk. Julie baru mengetahui dari M.Wandolf kalau beliau ternyata tidak hanya menugaskan tugas cerpen Prancis itu pada Julie saja, tapi laki-laki itu juga menugaskan tugas yang sama pada beberapa murid di kelas lain. Di kelas sepuluh, kelas sebelas, kelas dua belas. Lebih tepatnya, semua kelas yang sedang diajarnya. Semua murid yang memiliki nilai yang buruk akan diberikan tugas cerpen Prancis menjelang akhir tahun ajaran.

Julie terkesan dengan kenyataan itu. Ternyata masih ada beberapa murid lainnya—walaupun di kelasnya sendiri Julie adalah satu-satunya—yang berkualifikasi sangat bodoh di Kelas Prancis, dan M.Wandolf yang baik hati ternyata memberikan mereka kesempatan yang sama. Dan ia dulu berpikir kalau ia adalah satu-satunya murid sekolah yang paling bodoh yang pernah ada di muka Bumi, yang seharusnya dimutasi dengan sinar pengecil dari Planet Mars, dideportasi ke Kutub Utara untuk berburu ikan bersama para beruang, atau membangun igloo untuk orang Eskimo.

Mungkin itu tidak sepenuhnya benar.

M.Wandolf tadi pagi bahkan mengatakan kalau di antara murid-muridnya di Nimber, perkembangan Julie adalah perkembangan yang paling pesat. Ia sangat bangga pada Julie. Laki-laki itu begitu gembira melihat tugas Julie yang telah selesai melebihi ekspektasinya, seolah-olah Julie baru saja memenangkan Grand Prix atau semacamnya, padahal Julie hanya melanjutkan sedikit saja dari yang pernah dikerjakannya bersama Richard.

Benar-benar sedikit.

Satu kalimat.

Sejak ia mengerjakannya dengan Richard sebanyak dua halaman cerita tentang Anne Matilda di kedai Steak~Stack, Julie tidak pernah bersemangat untuk melanjutkannya lagi. Di hari ia jatuh sakit, ia tidak menyentuhnya. Dan kemarin malam, setelah insiden Cathy, Julie berusaha keras untuk mengalihkan perhatiannya dari kejadian itu dengan cara melanjutkan tugas Prancis. Hanya untuk sakit kepala hebat. Ia akhirnya mengakhiri penderitaannya itu dengan satu kalimat penutup terkonyol yang pernah ia tulis, yang ia pikir hanya Tuhan yang tahu apakah itu artinya.

M.Wandolf malah mengatakannya luar biasa.

Julie tidak tahu apakah pernyataan laki-laki itu adalah sebuah pujian yang bersifat afirmasi positif, seperti kata Richard. Tapi semua hal yang berhubungan dengan kelas Prancis akhirnya malah semakin mengingatkan Julie pada anak laki-laki itu. Ini adalah dilema yang sangat menyusahkan untuknya.

Selama ini, ceracau aneh di kelas Prancis secara otomatis berubah menjadi suara Richard di kepala Julie. Kejadian ini sudah terjadi selama berminggu-minggu sejak pertemuannya dengan Richard di Perky’s House, sejak Richard mengajarinya bahasa Prancis. Suara Richard yang lebih merdu telah membuatnya mampu belajar bahasa Prancis tanpa perasaan tertekan, ia mampu mempelajarinya dengan lebih baik. Tapi hari ini, suara itu justru menimbulkan efek sebaliknya. Semua hal yang berhubungan dengan Richard membuat justru Julie menjadi sangat gelisah.

Ia benar-benar pusing.

Julie tersadar dari lamunannya saat M.Wandolf  pergi dan Ronald Whient kembali ke kelas. Julie barus saja akan kembali ke kelasnya, yang akan dimulai dalam sepuluh menit lagi, kalau saja Mark McGollen tidak memanggilnya dari kejauhan.

“Julie,” kata anak laki-laki itu.

Julie menoleh. Mark berjalan mendekatinya.

“Ada apa?” tanya Julie.

Mark adalah mantan pacar Cathy, yang dulu juga sempat menyukai Julie di awal tahun ajaran, saat mereka masih menjadi siswa baru di Nimber. Sudah lama Julie tidak berbincang-bincang dengannya, sejak Cathy memutuskan Mark berbulan-bulan yang lalu. Mark tidak pernah muncul lagi ke permukaan sejak diputuskan oleh Cathy, anak laki-laki itu terlihat depresi dan tidak terlalu menonjol.

Rasanya sudah sangat lama sekali.

“Tidak apa-apa, Julie,” kata Mark, tersenyum simpatik. “Aku, eh—um, sudah dengar soal kejadian kemarin sore. Tentang Cathy dan uh—Richard. Kudengar, Richard ternyata menyukaimu. Dan Cathy sangat marah. Apakah itu benar?”

Julie mengangguk malas.

Yeah,” kata Julie.

Mark tersenyum lebar. “Aku senang mendengarnya.”

“Apa?” Julie mendelik.

“Ya. Aku senang mendengarnya,” kata Mark. “Aku senang gadis itu akhirnya dicampakkan, seperti saat dia mencampakkan aku dulu. Aku benci Cathy. Dia memang pantas menerimanya.”

Mark menyeringai. Sudut mulutnya berkedut-kedut senang. Wajahnya yang biasanya lugu telah berubah menjadi jahat dengan semburat kegembiraan yang tidak tertahankan. Matanya berkilat kejam. Ia tidak lagi seorang Mark McGollen yang sebelumnya Julie kenal.

Julie terkejut. “Apa katamu?”

Mark berdehem singkat.

“Aku senang karena gadis itu dicampakkan Richard,” kata Mark, mengulangi pernyataannya sebelumnya, sesuai dengan pertanyaan Julie. “Dia memang pantas menerimanya.”

Julie menelan ludahnya tanpa sadar—tenggorokannya terasa kering. Mark masih belum kehilangan ciri khasnya yang lama. Tapi apa yang dikatakan Mark benar-benar berbeda dari yang Julie bayangkan.

Yea—yeah, aku tahu apa yang kau ucapkan, tapi maksudku—kenapa kau berkata seperti itu? Ini seperti bukan kau,” kata Julie meruntut. “Dia tetap sahabatku. Dan aku tak suka kalau kau mengatakan hal yang buruk tentangnya. Kau harus menarik kembali ucapanmu.”

Mark menggeleng.

“Tidak mau,” kata Mark, kata-katanya merayap dengan apatis. “Dia pantas mendapatkannya. Gadis itu akhirnya mendapatkan pembalasan dari apa yang dia lakukan padaku. Aku sama sekali tidak akan menarik ucapanku ini.”

Mark terus berbicara dengan semangat, seolah tak dapat menghentikan kegairahannya untuk membicarakan hal ini.

“Kau tahu, Julie? Aku justru sekarang ingin berterimakasih padamu,” kata Mark lagi. “Karena kau, Richard sekarang mencampakkan Cathy. Karena kau, Cathy merasakan apa yang aku rasakan dulu, saat ia mencampakkanku dengan begitu mudah. Karena kau, Cathy sekarang kehilangan semua teman-temannya. Karena kau, ia kehilangan semangat hidupnya. Kau benar-benar seorang penyelamat, Julie. Aku sangat berterima kasih karena aku sendiri tidak tahu bagaimana cara membalasnya.”

Perasaan kelu tiba-tiba menyergap Julie, yang membuat ekspresi wajahnya berubah.

“Tidak, ini tidak seperti yang kau kira, Mark. Aku tak pernah–”

“Apa pun yang terjadi dan apa pun yang dipikirkan orang-orang, ingatlah kalau aku berada di pihakmu, Julie. Lagipula—” kata Mark, meninggalkan tempat itu bersamaan dengan bunyi bel yang berdering. “—dia sebenarnya bukan sahabatmu lagi, kan?”

“Tidak. Bukan begitu,” kata Julie cepat-cepat, meralat pernyataan itu. “Kau salah, Mark! Kami mungkin sedang menghadapi sedikit masalah, tapi kami tetap–”

Mark segera berlalu, meninggalkan Julie tanpa mendengarkan.

Julie mendesah pelan. “–berteman.”

***

19 – Perang Dingin (2)

Julie tidak menyangka kalau masalah ini akhirnya menjadi sesulit ini. Sepanjang jam makan siang tadi, mereka bertiga sibuk membicarakan tentang Cathy yang berubah, gadis itu bergabung dengan geng lain, dan kali ini Cassandra ternyata juga ikut mengikuti jejaknya. Mereka berdua tidak pernah menoleh ke arah teman-teman lamanya lagi.

Jessie menjadi sangat gusar dan hampir saja akan menghardik kedua orang itu, kalau saja tidak ada Kayla yang menahannya. Jessie memutuskan untuk menunggu sampai geng itu menyelesaikan makan siang, tapi saat Jessie bergerak menghampiri mereka, Cathy, Cassandra, dan teman-teman barunya sudah bergerak terlalu jauh meninggalkan mereka bertiga.

Julie benar-benar tidak mengerti kenapa mereka berdua harus bersikap seperti itu. Cathy mungkin masih sangat marah padanya karena Richard menyukainya, tapi Julie tidak mengerti kenapa Cassandra juga merasa ingin ikut menjauhinya. Kemarin sore gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat ia menghabiskan waktu bersama dengan mereka dan Nick di depan rumah Cathy. Jessie bilang Cassandra adalah pengkhianat, tapi Julie sama sekali tidak setuju dengan istilah itu.

Kayla berkata kalau Cassandra memang dari dulu sangat menyukai Richard. Cassandra juga sangat dekat dengan Cathy—barangkali lebih daripada siapa pun di geng The Lady Witches mereka. Mereka berdua jauh lebih sering sekelas dibandingkan yang lain, dan mereka berdua berada di klub yang sama, Klub Drama. Bisa jadi gadis itu lebih merasa bersimpati pada Cathy dan memilih untuk berpihak padanya.

Kayla menambahkan, selama ini Cassandra juga selalu menginginkan Julie dengan Jerry. Bisa jadi, kenyataan bahwa Richard menyukai Julie tidak hanya membuatnya terpukul sebagai penggemar Richard dan Cathy, tapi juga ia merasa Julie telah merusak harapannya dengan Jerry. Di antara semua pertimbangan itu, barangkali memang baru siang ini gadis itu akhirnya menetapkan pilihannya untuk membela Cathy.

Mereka bertiga tak menghabiskan waktu terlalu lama di kafetaria. Setelah Cathy dan Cassandra berlalu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Julie meregangkan tangannya dengan malas saat mereka berpisah di koridor.

“Julie!” panggil Jerry dari arah belakang.

Julie menoleh. Anak laki-laki itu mendekatinya sambil tersenyum, sengaja berlagak gagah agar terlihat menarik. Jerry tampak lebih cerah hari ini ketimbang saat Julie terakhir melihatnya kemarin.

“Aku mencarimu,” kata Jerry. “Aku butuh bantuanmu untuk mengedit beberapa tulisan sore ini. Apa kau baik-baik saja?”

Jerry memperhatikan wajah Julie yang terlihat sedikit pucat.

Yeah,” kata Julie. “Hanya sedikit tidak enak badan. Kau butuh apa? Aku tidak dengar tadi.”

“Mengedit. Dengar Julie, aku tahu mungkin aku akan terdengar seperti ikut campur, tapi aku turut bersimpati pada apa yang menimpamu kemarin,” kata Jerry dengan tidak sabar. “Yeah, aku sudah mendengar ceritanya dari orang-orang. Mereka bilang Cathy menamparmu. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Apakah pipimu masih terasa sakit?”

Julie memutar balik tubuhnya dan menutup pipinya dengan rambut.

“Tidak.”

“Jam berapa persisnya kejadian itu? Apakah tepat setelah kita pulang sekolah?” tanya Jerry menyelidik.

“Ya.”

“Apakah ada yang ingin kau ceritakan padaku tentang kejadian itu?” tanya Jerry.

“Tidak,” kata Julie frustasi.

Jerry mulai terdengar menjengkelkan karena pertanyataan-pertanyaannya yang menodong dan kaku seperti gaya interograsi khas seorang wartawan. Ia harus melakukan sesuatu. “Jerry. Bisakah kau tinggalkan aku sebentar? Aku butuh bernapas sekarang. Lagipula seingatku, kemarin kau masih marah padaku gara-gara aku pergi ke perayaan kemenangannya Lucy.”

Jerry tergelak. “Tidak. Kenapa juga aku harus marah? Aku butuh bantuanmu hari ini, makanya aku mencarimu. Bagaimana? Kau bisa membantuku, kan?”

Julie menghela napas.

“Aku tidak merasa bersemangat hari ini, Jerry. Tidak bisakah kau meminta tolong pada anggota-anggota yang lain? Mungkin Timmy bisa melakuka—”

Julie terdiam membeku.

Richard.

Anak laki-laki itu berada beberapa puluh kaki di arah jam dua. Rasanya sudah lama sekali Julie tidak melihat wajahnya.

Richard sedang mengobrol dengan seorang gadis, Julie tidak mengenalnya. Richard menoleh seketika ketika menyadari keberadaan Julie, ia menatapnya dengan matanya yang biru.

Jantung Julie berdegup sangat kencang.

“Julie?”

Jerry melihat ke arah Richard, yang sudah membuang mukanya lebih dulu.

Richard kembali melanjutkan obrolannya dengan sang gadis, tak sedikit pun mempedulikan kehadiran Julie ataupun Jerry di sekitarnya. Ia sesekali tersenyum dan kemudian menyodorkan secarik kertas pada gadis itu. Gadis itu tampak sangat senang. Mereka saling berlambaian tangan saat berpisah.

“Wow,” kata Jerry.

Anak laki-laki itu berdecak kagum. Ia menoleh kembali ke arah Julie.

“Kau mau tahu gadis itu siapa? Luna Hartwright. Kelas dua belas. Teman sekelas Mitch.” Jerry menggeronyotkan senyumnya. “Ini sangat menarik, Julie. Jadi, segera setelah diputuskan oleh Cathy dan patah hati denganmu, Richard mencari calon pacar yang baru. Gadis yang lebih tua.”

Julie terdiam. Perasaan dingin dan beku menjalari setiap tulang-belulangnya, seolah-olah akan mencengkramnya dengan erat.

“Luar biasa. Kau tahu, Julie. Kejadian ini adalah berita yang paling menghebohkan di Nimber abad ini. Aku sangat senang menulisnya untuk berita di koran sekolah minggu depan,” kata Jerry. “Sangat banyak orang yang menunggu-nunggu mendengar detail dari berita itu. Termasuk aku. Aku hanya mengingatkanmu soal kemungkinan itu.”

Jerry mengangkat tangannya dengan bebas.

“Kecuali—kalau kau membantuku mengedit sore ini. Aku mungkin akan mempertimbangkannya lagi. Richard dan Cathy memang topik yang selalu menarik untuk dihidangkan, tapi jika kau setuju untuk bekerja sama, aku mungkin tidak akan menulis terlalu banyak tentangmu.”

Julie menatap Jerry dengan tidak percaya.

“Apa?”

Pernyataan Jerry barusan membuat Julie sadar akan fakta bahwa masyarakat sekolah Nimber sangat suka dengan berita-berita terbaru, bahkan gosip-gosip murahan sekalipun. Berita tentang hubungannya yang memburuk dengan Cathy, Cassandra, dan Richard tentu saja akan menjadi santapan yang sangat lezat untuk mereka. Ini benar-benar bukan sesuatu yang diharapkannya.

“Kau tidak akan menulis apa pun, Jerry,” kata Julie.

Jerry menggeleng santai.

“Aku seorang wartawan, Julie. Tugasku adalah meliput berita. Kau tidak bisa mencegahku melakukan itu,” jawab Jerry. “Kau juga seorang wartawan. Jangan lupa. Aku sudah bilang, kau harus mengutamakan logikamu di atas perasaanmu. Profesionalismemu untuk masa depan. Masalah hanya akan menunggu orang-orang yang membuang waktu dan masa muda mereka.”

Julie berhenti berjalan. Ia mendesah berat. Anak laki-laki ini memang selalu menjengkelkan. Ia tak tahu apa maunya Jerry, tapi jika perhatian yang penuh bisa membuat Jerry berhenti mengganggunya, Julie bersedia untuk menyediakan waktu menanggapinya dengan lebih serius.

“Jadi, apa maumu?” tanya Julie, menatap Jerry dengan sungguh-sungguh sambil melipat tangannya. “Kau sangat mengesalkan.”

Jerry mengangkat bahunya.

“Aku hanya ingin kau membantuku sore ini,” kata Jerry. “Sesederhana itu.”

Julie merengut. Bukan hanya karena ia benar-benar tidak mood melakukan apa pun hari ini, tapi juga ada hal lain yang membuatnya sangat malas. Di tengah-tengah permasalahan yang mengganggu pikirannya sekarang, hal terakhir yang diinginkannya adalah menghabiskan waktu dengan Jerry yang menjengkelkan. Kecuali jika ada alasan spesial yang bisa membuatnya berubah pikiran.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, masa depanku akan berubah?” kata Julie.

“Tentu.” Jerry tertawa.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau bisa membuat Cathy dan Richard berpacaran lagi? Dan teman-temanku akan kembali berbaikan lagi seperti semula?” tanya Julie.

“Tidak.”

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau akan membatalkan rencanamu menulis tentang teman-temanku?” kata Julie.

“Ng—tidak.”

Julie menanggapi dengan cuek. “Kalau begitu, aku tidak akan datang.”

Gadis itu mungkin terdengar galak, namun ekspresi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Ia berusaha sebaik mungkin menurunkan sebuah pandangan garang, namun gerakan tubuhnya yang kikuk itu tidak pernah meninggalkannya.

Jerry tergelak.

“Baiklah, kalau itu memang maumu,” kata Jerry. “Aku hanya bercanda, Julie. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan keadaanmu hari ini. Tapi setelah kulihat-lihat, sepertinya kau memang baik-baik saja. Aku akan memberikan waktu untukmu beristirahat sampai akhir minggu ini, menyelesaikan urusanmu dengan teman-temanmu. Aku tunggu kehadiranmu hari Senin besok di ruangan kantorku, seperti biasa.”

Julie merengut lagi. “Aku tidak akan datang.”

Jerry tersenyum miring.

“Aku tahu.”

Jerry baru saja akan bersiap-siap meninggalkannya saat gadis itu mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Namun anak laki-laki itu tiba-tiba berubah pikiran, memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan terakhir sebelum ia pergi.

“Satu lagi,” kata Jerry. “Apakah kau menyukai Richard?”

Julie memicingkan matanya.

“Pergi.”

***

19 – Perang Dingin

Kejadian sore itu telah mengubah segalanya dalam hidup mereka. Cathy tak pernah lagi bisa dihubungi. Gadis itu tak pernah mengangkat teleponnya. Richard menghilang.

Kayla akhirnya menceritakan semuanya pada Julie, Jessie, Nick, dan Cassandra. Berita itu benar-benar mengejutkan, sampai-sampai tak seorang pun dari mereka yang bisa memberikan ekspresi yang lebih pantas. Bahkan Julie hampir tak berbicara apa-apa sepanjang sore itu.

Mereka berusaha menghubungi Cathy untuk menjernihkan masalah ini, tapi Cathy bahkan sengaja tak mengaktifkan ponselnya. Nick menyarankan untuk mereka langsung menghampiri rumah Cathy—yang benar-benar mereka lakukan—tapi Cathy tak ada di rumah. Mereka menunggu cukup lama di luar rumah sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa Cathy sebenarnya sudah ada di rumah sejak mereka datang dan menolak untuk menerima mereka masuk ke dalam.

Hal itu membuat Julie dan teman-temannya merasa terpukul.

Mereka berlima pun akhirnya pulang dengan tangan hampa. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain memutuskan untuk membiarkan hari itu berlalu. Julie juga berharap semoga keesokan harinya mereka dapat menyelesaikan masalah itu di sekolah. Cathy akan bisa menjadi tenang kembali dan Richard juga dapat hadir untuk memberikan penyelesaian yang baik bagi hubungan mereka berdua.

Julie tak akan pernah menyangka kalau masalah ini tidak akan berakhir dengan indah seperti biasanya. Ini lebih pelik daripada yang ia bayangkan.

Keesokan harinya, gosip menyebar dengan sangat cepat. Apa pun yang terjadi kemarin sore telah membakar rasa ingin tahu semua orang, seperti minyak panas yang memercik di atas api. Orang-orang bergosip. Mereka membicarakan tentang Sang Pangeran. Mereka membicarakan tentang kemenangan Sang Tak Tertaklukkan. Mereka membicarakan tentang The Mesmerizer yang terluka. Kemarahan, rasa senang, ekspresi tidak percaya, kekaguman, kebencian, mewarnai setiap wajah di koridor-koridor dan ruang-ruang kelas di Nimberland pada setiap percakapan. Mereka tak semuanya memiliki pendapat yang sama. Tapi satu hal yang jelas terlihat.

Richard menyukai Julie. Mereka semua membenci kenyataan itu.

Dan siang ini Jessie, Kayla, dan Julie telah duduk di tempat mereka di kafetaria, menanti rekan-rekan mereka yang lain.

Siapa pun tahu, ada yang tidak biasa hari ini.

Suasana di kafetaria begitu tegang mencekam, seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Setiap pasang mata menatap tajam, menghujam mereka dengan kilatan-kilatan rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Semua orang telah mendengar apa yang telah terjadi. Dan mereka sangat ingin tahu apa yang akan terjadi setelah kejadian ini, kelanjutan dari drama pertemanan mereka, saat mereka melihat seorang gadis cantik yang memasuki pintu kafetaria. Dia yang telah ditunggu-tunggu.

Gadis itu telah datang.

Cathy.

Gadis itu melihat sekilas ke arah mereka, secepat kilat membuang pandangan dalam seringai kebencian. Tak berselang lama kemudian, empat orang gadis kelas sepuluh lain ikut menyusul di belakangnya.

Cathy tak menoleh ke teman-teman lamanya lagi.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk mencari tempat duduk yang sesuai, Cathy dan teman-teman barunya memilih sebuah meja yang letaknya sangat jauh dari tempat di mana Jessie, Kayla, dan Julie berada.

Cathy Pierre telah memutuskan untuk bergabung dengan geng lain.

“Apa-apaan dia?” omel Jessie terbelalak. “Pinky Winky! Kenapa dia duduk dengan mereka?”

Pemandangan ini cukup ganjil.

Pinky Winky adalah salah satu geng gadis kelas sepuluh yang cukup populer di Nimber. Geng ini hampir sama populernya dengan The Lady Witches, saingan mereka yang cukup berat di sekolah. Dari dulu, Cathy selalu berkata akan bergabung dengan geng ini jika seandainya saja tidak ada The Lady Witches di sekolah. Gadis itu selalu tampak serius dengan ekspresi super dramatisnya.

Dan mereka pikir gadis itu hanya bercanda.

“Dia benar-benar pergi,” kata Julie murung. Ia menatap Kayla dan Jessie dengan muram. “Ini semua salahku. Benar, kan?”

Kayla sebenarnya mencoba menghindari percakapan yang tidak perlu, berharap semoga Cathy akan kembali membaik siang itu sebelum mereka harus membicarakannya. Tapi keadaannya ternyata lebih buruk daripada yang ia harapkan.

“Tidak, Julie. Kupikir akulah penyebabnya,” kata Kayla akhirnya.

Kayla mendesah berat, menyiratkan sedikit nada sesal dalam perkataannya. Ia memang sudah merasakannya sejak kemarin. “Ini tidak akan terjadi kalau saja aku tidak memaksa Richard untuk berterusterang pada Cathy.”

Kayla menarik napasnya, berpikir panjang, berharap semoga ia tidak salah mengambil keputusan kemarin. Ia tidak bisa memungkiri bahwa terkadang ia pun meragukan keputusan dirinya sendiri. Meskipun begitu, ia berusaha untuk mempertimbangkan kejadian ini sekali lagi, dan ia tetap berakhir pada kesimpulan yang sama. Kejujuran memang pilihan yang menyakitkan, tapi ini adalah pilihan yang harus dilakukan.

“Tapi ini harus dilakukan,” sambung gadis itu tegas. “Aku tidak ingin anak laki-laki itu menyakiti siapa pun lebih lama lagi.”

Richard.

Julie menggigit bibirnya, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa tidur semalam, dengan alasan selain karena menonton film atau membaca novel. Ia memikirkan apa yang Richard ucapkan.

Julie menatap kosong di kejauhan. Richard belum datang.

Di manakah ia sekarang?

Julie tidak melihatnya lagi sejak kemarin. Anak laki-laki itu menghilang begitu saja, lenyap seperti ditelan angin, tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Bahkan Richard tidak terlihat di koridor sekolah.

“Julie. Aku ingin kau mengatakan dengan jujur,” tanya Kayla suatu ketika. “Apa kau menyukai Richard?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Julie.

“Tidak,” jawab Julie cepat.

Mereka kemarin sempat membahas hal itu. Jessie dan Nick sempat mengungkitnya sekali-sekali. Mereka ingin tahu apa yang Julie pikirkan tentang Richard. Tapi seperti biasa, gadis itu selalu mengalihkan topiknya. Ia tidak pernah mau menjawabnya.

“Kalian berdua suka membuat segalanya menjadi sulit, Julie. Kau dan Richard,” sergah Kayla frustasi. “Ini semua tidak akan terjadi seandainya kalian saling berterusterang satu sama lain.”

Julie menyengir masam. Ia tak mengerti kenapa ia tetap tak pernah bisa mengungkapkan hal itu. Ia memang menyukai Richard. Bahkan kejadian kemarin semakin menguatkannya.

Sebuah kenyataan yang tidak ingin ia rasakan.

“Kau harus jujur padaku, Julie,” kata Kayla. “Aku akan bertanya sekali lagi dan aku tidak akan bertanya lagi. Apakah kau menyukai Richard?”

“Tidak.” Julie mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya. “Aku tidak menyukainya.”

Kayla memicingkan mata.

“Baiklah. Kalau memang begitu,” kata Kayla, hampir kehabisan akal. Ia mencoba pendekatan lain. “Setidaknya katakan padaku, apa yang kau rasakan saat Richard mengakui rasa sukanya padamu?”

Julie membayangkan anak laki-laki itu lagi. Suaranya yang lembut itu telah membuatnya bersikap tidak normal dan kesulitan bernapas. Suara yang sama yang mengatakan rasa sukanya pada  Julie. Suara yang sama yang menanyakan perasaan Julie pada dirinya.

Apakah kau menyukaiku, Julie?

Ia tidak ingin menjawabnya.

“Entahlah. Aku tak ingin memikirkannya,” jawab Julie cepat. Ia mengalihkan pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan baru. “Ngomong-ngomong, di mana Nick?”

Jessie mengangkat pundaknya.

“Kurasa Nick sedang bersama dengan Richard sekarang,” kata Jessie. “Kemarin dia meminta izin padaku untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama Richard, karena—yeah—suasana hatinya sedang sangat kacau dan dia butuh seorang teman yang menemaninya.”

Gadis itu menengadah, menatap Julie lekat-lekat di balik kulit wajahnya yang berbintik-bintik dengan maksud usil.

“Dan itu semua karenamu, Julie. Sang. Penakluk. Pangeran.”

Julie meringis. Ia tahu Jessie hanya bercanda, tapi julukan itu benar-benar tidak terdengar menyenangkan hatinya. Ia tidak menanggapi godaan dari Jessie.

“Dan Lucy?”

“Lucy sudah meminta izin padaku,” kata Kayla. “Dia harus berada di perpustakaan karena mengerjakan paper-nya. Aku belum bercerita banyak padanya, tapi sepertinya Lucy sudah tahu dari rumor-rumor yang beredar tentang kejadian kemarin sore. Ia meminta maaf karena tidak bisa berada di sini bersama dengan kita, tapi aku sudah mengatakan padanya untuk tidak perlu khawatir.”

Julie mengangguk.

“Oh, ya,” tambah Jessie, baru saja mengingatnya. “Aku juga berpapasan dengan Cassandra tadi. Dia bilang dia ingin ke toilet sebentar. Aku tak tahu apa yang ia lakukan di toilet sampai selama ini.”

Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang dengan kehampaan. Rasanya sangat sepi. Biasanya di jam-jam segini akan selalu ada salah seorang dari mereka yang akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang lucu saat mengikuti pelajaran di kelas pertama—apalagi hari ini ada Kelas Prancis. Mereka akan menertawakan kelakuan Julie yang kikuk. Dan keramaian di meja makan mereka akan mengundang perhatian orang-orang di sekeliling karena mereka terlalu berisik.

Tapi kali ini, mereka bertiga hanya fokus saja pada makanan di atas piring mereka. Tanpa percakapan aneh. Tanpa akting drama Cathy. Tanpa kehebohan apa pun.

Rasanya ada sesuatu yang hilang.

Julie memandang Cathy dari kejauhan. Gadis itu benar-benar terasa jauh dari mereka. Cathy tak sedikit pun melihat ke arah mereka, ia tampak seperti orang yang benar-benar berbeda dari yang pernah mereka kenal. Ia sekarang sedang bertukar kursi dengan Sonia Edmund, sambil menertawakan sesuatu yang terlalu menggelitik perutnya. Entah apa yang mereka bicarakan.

“Ini terasa aneh,” kata Julie.

“Apa?” tanya Jessie.

Yeah, situasi ini. Kita bertiga di sini, dan Cathy di sana,” kata Julie. “Aku merasa seperti kehilangan sesuatu siang ini. The Lady Witches tanpa Cathy. Dan Cathy tanpa The Lady Witches. Ini rasanya bukan kita.”

Kayla mengangguk pelan.

“Kau benar,” kata Kayla. “Aku sudah mencoba menemui Cathy sejak tadi pagi, Julie, tapi gadis itu selalu menghindariku. Dia benar-benar menghindariku. Aku tidak bisa mendekatinya sama sekali. Dia tidak lagi mematikan ponselnya, tapi dia tidak pernah mau mengangkat telepon dariku atau membalas pesan. Dia menyingkir saat melihatku di sekitarnya. Dan sekarang, dengan keberadaannya di geng Pinky Winky, kurasa Cathy secara tidak langsung telah mengumumkan kalau ia ingin keluar dari kelompok kita.”

Julie menghela napas.

“Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membujuknya?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla. “Aku sedang memikirkannya, Julie. Kau tahu, gadis itu sangat mudah mengamuk jika kita melakukan hal-hal yang bodoh. Aku harus lebih berhati-hati lagi kali ini.”

Situasi seperti ini benar-benar bukan situasi yang Julie sukai. Selama ini ia tak pernah sedikit pun menyukai hal-hal yang mengundang permasalahan. Ia selalu dapat memilih untuk bersikap lebih santai dan cuek, biasanya ia tak memang pernah ambil pusing memikirkan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Namun kali ini Julie harus mengakui, hari ini ia tidak dapat lagi merasakan ketenangan itu. Perselisihan dengan Cathy ini terus-menerus mengganggu pikirannya, meskipun ia berkali-kali mencoba untuk tidak mengabaikannya. Ia merasa tidak bisa lagi terlalu lama berdiam diri dan berharap semuanya akan berubah baik-baik saja.

Ia harus melakukan sesuatu.

“Kita bisa menghampirinya di meja itu sekarang, selagi Cathy masih ada di sana,” kata Julie, memberi gagasan. “Aku akan meminta maaf, atau melakukan apa pun yang ia mau, asal ia mau kembali dengan kita. Bagaimana menurutmu?”

Jessie melompat marah.

“TIDAK.” Jessie mendadak mengeluarkan kemarahannya, yang ternyata telah berusaha ia tahan sejak lama. Ia mengerutkan keningnya dan mengepalkan tinjunya, kentara sekali terlihat sangat jengkel.

“Dia akan menamparmu lagi, Bodoh! Dan sekarang dia akan melakukannya di depan teman-teman barunya! Kau bodoh!” kata Jessie. Ia menggeram kesal. “Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.”

Kening Jessie berkerut masam. Alisnya bertaut. Ia memandang garang pada Cathy yang tampak dari kejauhan.

“Kau tahu? Aku sangat kesal padanya tiap kali mengingat kejadian itu. Aku tidak pernah bisa terima perlakuannya padamu. Dia seperti orang lain, dia bukan sahabatku,” kata Jessie, meletup-letup. “Dan jangan sampai aku meninjunya karena mencoba memukulmu lagi.”

Julie bergidik. Jessie tak biasanya bersikap seperti ini.

“Kurasa Jessie benar, Julie. Ada baiknya kalau kita memberi Cathy waktu untuk menenangkan diri,” kata Kayla, memberikan pengertian. “Untuk saat ini kita biarkan saja dulu seperti itu. Nanti kalau ia sudah sedikit lebih tenang, aku akan mencoba untuk membujuknya lagi, Julie. Pada saatnya, ia akan kembali lagi pada kita nanti. Ia pasti akan memaafkanmu. Bersabarlah. Kita harus memberinya sedikit waktu untuk berpikir jernih.”

“Tidak, tidak, Kay. Kali ini aku tidak setuju,” kata Jessie, memotong cepat-cepat. “Memberi dia waktu? Sampai kapan? Kupikir selama ini kita sudah cukup berbaik hati padanya. Di tengah segala keegoisannya selama ini, sudah berapa kali kita memaafkannya, mengalah, dan akhirnya tingkahnya justru semakin menjadi-jadi?”

Kayla bergumam. “Jess—”

“Tahu tidak? Kupikir kalau dia memang tidak mau diajak bicara dan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik, biarkan saja dia dengan geng Pinky Winky itu. Aku tidak peduli,” kata Jessie. “Sejujurnya aku sudah muak dengan sifat manjanya yang sudah sangat keterlaluan. Dan saat kemarin dia menamparmu, Julie, itu adalah batas kesabaranku. Aku bahkan tidak peduli kalau dia tidak menjadi teman kita lagi. Biarkan saja dia seperti itu! Suatu saat, orang-orang di Pinky Winky juga akan muak dengan kelakuannya, aku jamin. Maksudku—siapa yang selama ini tahan dengan sifatnya? Hanya kita, kan? Hanya kita.”

Jessie terus-menerus menggerutu. “Hanya kita yang sanggup meladeni dan bersabar menjadi sahabatnya. Dan apa yang dia lakukan? Dia meninggalkan kita hanya karena Richard menyukai Julie! Teman macam apa itu? KONYOL.”

Kayla mencoba menenangkan.

“Jess, tenanglah. Aku tahu saat ini kau sedang kesal dengan Cathy. Kita—sedang kesal dengannya. Aku juga sebenarnya kesal,” kata Kayla. “Tapi tidak berarti kita—”

“Tidak, tidak, Kay! Aku tidak mau mendengar nasehat bijakmu kali ini,” bantah Jessie cepat-cepat. “Coba renungkan baik-baik. Berapa kali kita berkorban perasaan untuknya, memikirkan kepentingannya, mengalah untuknya, dan dia selalu bersikap semena-mena terhadap kita? Kau harus akui, Kay. Kau harus akui ini. Kali ini memang sudah saatnya kita memberi dia pelajaran.”

Setelah percakapan itu, mereka bertiga kembali melanjutkan makan siang mereka dalam keheningan. Jessie terlihat cukup keras kepala dan bertahan dengan pendapatnya. Kayla lebih berhati-hati mengeluarkan kata-katanya. Sementara itu, Julie merasa cukup pusing karena ia sangat tidak ingin menambah masalah lagi. Mereka bertiga terdiam cukup lama.

“Kau tahu, Julie? Sejujurnya—” kata Jessie suatu ketika, memecah keheningan dengan nada panjang yang menarik perhatian, “—saat aku mendengar bahwa Richard menyukaimu, aku tidak percaya itu.”

Jessie lalu mengusap hidungnya yang tidak gatal, menandaskan keseriusan yang ingin diteruskan. “Nick beberapa kali sempat mencetuskan kemungkinan itu. Gosip-gosip juga sudah berspekulasi dari dulu, aku tak mempedulikannya. Tapi, semua keyakinanku berubah saat aku mendengar kalimat itu sendiri dari Richard. Aku tidak bisa memungkiri itu sekarang. Richard menyukaimu, Julie. Orang yang kami gila-gilai dari dulu ternyata memilih menyukaimu. Dan itu bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Well, yeah, untuk sebagian orang.”

Jessie mengangkat bahunya.

“Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak cemburu. Tapi tidak seperti Cathy, aku tidak marah padamu.”

Jessie sekarang merendahkan suaranya. Wajahnya lebih kaku. Ia berbicara sangat lambat, seolah-olah secara langsung ingin menggarisbawahi bahwa kali ini ia ingin ditanggapi dengan lebih serius.

“Julie, kalau ada yang ingin kau katakan—katakan saja. Kau tidak berpikir kami akan bereaksi histeris seperti gadis itu, kan? Kupikir kami berdua sudah cukup dewasa untuk mendengarkan dengan baik.”

Gadis itu kini tak terlihat seperti gadis jahil yang biasanya Julie kenal. Ia berubah menjadi gadis simpatik yang sama yang dulu sempat mengkhawatirkan Cathy, yang berusaha menganalisis situasi yang terjadi. Pancaran kepedulian yang hangat memancar dari sikap Jessie yang memperhatikan.

Julie terdiam sebentar, memikirkan kemungkinan itu. Ia menggeliat, mengendurkan otot-ototnya di atas kursi.

“Baiklah. Ini hanya perumpamaan. Kalau seandainya aku mengatakan pada kalian bahwa aku menyukai Richard—apakah,” kata Julie ragu-ragu. “Apakah kalian juga akan pergi meninggalkanku?”

Julie menghentikan pertanyaannya. Dengan perasaan was-was, ia mengamati reaksi dari teman-temannya, berharap tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu di luar harapannya.

Jessie memang tidak menjawab. Ia terdiam selama beberapa detik, seperti memikirkan sesuatu dengan amat serius, lalu kemudian membuka mulutnya.

“Tentu. Aku akan meninggalkanmu dan segera bergabung dengan kelompok Pinky Winky, karena mereka adalah geng kelas sepuluh yang paling keren di Nimberland, dan aku akan membuat mereka semua jatuh cinta padaku, dan aku akan menjadi ketua di sana—”

Julie mengerut bingung. Kayla berdehem. “Jess.”

Jessie kini tertawa lebar, sama lebarnya seperti ikat rambut besar yang sekarang ia pakai di rambutnya. “—lalu aku akan memaksa Cathy untuk meminta maaf padamu.”

Ekspresi Jessie langsung berubah seratus delapan puluh derajat, kehilangan mimik bijaksana yang menghiasi wajahnya tadi.

Ia merangkul Julie dengan gegabah, mencubit pipinya sehingga Julie berteriak kesakitan. Julie berusaha membebaskan diri dari rangkulan yang mulai mencekik lehernya itu, Jessie malah mencium pipinya dengan bibirnya yang basah penuh dengan air liur, yang membuat Julie berteriak jijik.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu, Julie. Kau sahabatku yang paling baik,” kata Jessie dengan optimistik, mencoba mencium Julie sekali lagi. “Kau kembaranku.”

“Air liurmu bau,” gerutu Julie sambil mendorong muka Jessie. Ia mengelap pipinya walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia sangat menikmati perhatian yang diberikan sahabatnya. Tapi tetap saja, ia tampak sangat jengkel.

Air liur Jessie benar-benar bau.

“Julie sayang.”

Kayla tersenyum, menatap Julie dengan mata hitamnya yang lembut. Kehangatan yang terpancar dari sorot mata yang sangat keibuan itu. Ekspresi lembut menggayuti wajahnya.

“Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh sekalipun, aku akan tetap menjadi sahabatmu,” kata Kayla sambil memegang tangan Julie dengan hangat, memancarkan ketenangan. “Jangan pernah lupakan itu, Julie.”

Jessie memotong cepat.

“Kau yakin, Kay? Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh, alien berwajah sapi dari Planet Mars akan menculik Julie dan mengadopsinya lalu mengoperasi plastik mukanya karena mukanya terlalu mirip sapi, sehingga—“ Jessie berteriak saat Julie menarik poninya dengan kasar. “—aak!”

Mereka berkelahi lagi seperti anak kecil.

Kali ini, Kayla tidak melerai pertengkaran mereka. Ia membiarkan kedua anak kecil itu saling berkelahi. Kayla tahu saat ini itulah yang dibutuhkan oleh Julie. Gadis itu mungkin tidak pernah mengungkapkan perasaannya, tapi Kayla tahu bahwa jauh di dalam hatinya, gadis itu sedang berusaha menahan kesedihan.

Julie dan Jessie telah berkelahi cukup lama sampai akhirnya mereka sendiri kelelahan. Jessie menyeruput sedotan terakhirnya, sementara itu Julie menghabiskan saladnya sambil memandang kejauhan, ke arah Cathy berada.

“Jika ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hub—” kata Julie.

“Tidak!” potong Jessie cepat-cepat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan Julie katakan. Ia terlihat dingin dan ketus. “Tidak. Tidak ada yang perlu kita lakukan. Sudah kubilang, TIDAK ADA.”

“Tapi—” Julie terbata-bata.

“Tidak.”

“Mungkin aku harus—” kata Julie.

“TIDAK.”

“Ayolah.”

Jessie bergemuruh gerah.

“Kalau ingin membahas soal Cathy lagi, Julie, aku tidak ingin berteman denganmu hari ini,” hardik Jessie. “Tidak hanya gadis manja itu, aku juga bisa marah dan merajuk. Dan aku akan terlihat sangat mengerikan saat aku melakukannya. Kau ingin melihat aku merajuk?”

Jessie berusaha keras menampilkan wajah datar terbaiknya.

“Ya,” goda Julie.

Sekarang Julie juga pura-pura memasang wajah datar tepat di depan muka Jessie. Kedua gadis itu saling berhadapan, sekuat tenaga menahan tawa. Jessie mencubit dirinya sendiri agar tidak terpedaya karena wajah tolol Julie yang mengaduk perutnya dengan hebat. Permainan mereka harus terhenti sejenak saat Kayla melihat Cassandra di pintu kafetaria.

“Itu dia Cassandra,” kata Kayla.

Jessie dan Julie menoleh kompak ke arah yang ditunjukkan Kayla. Dengan bersemangat, mereka akan melambaikan tangan untuk menyambut sahabat baik mereka yang telah ditunggu-tunggu itu. Tapi, keanehan terjadi karena Cassandra tidak berjalan ke arah mereka.

Sesuatu yang tidak mereka bayangkan. Cassandra kini memilih bergabung dengan meja Pinky Winky, bersama Cathy.

Mereka terkejut.

“Oh, kau pasti bercanda!” sontak Jessie. “Dia juga!?”

***

18 – Bayangan

Richard merasa kalut. Pikirannya menerawang kemana-mana. Selama semalaman, ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

Gadis itulah yang telah mengganggu pikirannya. Gadis yang pertama kali dilihatnya di pinggir jalan. Gadis itulah yang selalu menari-nari di pikirannya, hingga saat ini.

Dan gadis yang satu lagi. Gadis yang amat cantik. Gadis yang menjadi pujaan seluruh pria di sekolahnya.

Cathy.

Richard tidak bisa bilang bahwa ia tidak beruntung telah memiliki Cathy. Gadis itu secantik bidadari. Dari semua gadis yang pernah dilihatnya, ia rasa Cathylah yang paling cantik. Semua laki-laki menginginkannya. Semua.

Tapi bukan dirinya.

Gadis itulah yang paling ia inginkan.

Richard mengingat pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Dalam perjalanannya menuju ke sekolah, ia melihat gadis itu dari kaca samping mobil ayahnya. Seorang gadis yang mengenakan seragam dari sekolah yang sama dengannya. Seorang gadis muda yang cukup menarik perhatiannya.

Gadis itu tampak begitu riang. Gadis itu tersenyum. Bukan tersenyum padanya. Gadis itu hanya tersenyum pada kucing jalanan berbulu hitam yang hampir saja membuat kakinya tersandung. Richard memandangi gadis itu sekali lagi dari kaca jendela belakang ketika mobilnya sudah bergerak semakin menjauh dari gadis itu, hingga akhirnya gadis itu menghilang di balik tikungan. Ia memang tidak bisa memandangnya lama, tapi hanya butuh waktu sepintas baginya untuk mengingat wajah itu.

Richard menemukan gadis itu lagi di ujung koridor sekolah. Gadis itu sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang anak laki-laki, yang secara bergantian menghampirinya dan menyita perhatiannya. Dan tak hanya mereka saja, masih ada beberapa orang lagi yang menunggu giliran untuk mengobrol dengan gadis itu. Semua orang membicarakannya. Mereka membicarakan kehidupannya di sekolahnya yang dulu. Mereka membicarakan tingkahnya yang konyol di kelas pertamanya. Semua menyukainya.

Selama di sekolah, Richard seringkali mencuri pandang ke arah gadis itu, setengah berharap bahwa gadis itu tidak akan melihat balik ke arahnya, meskipun pada kenyataannya gadis itu memang hampir tidak pernah melakukan itu. Mereka tidak pernah berkesempatan untuk berkenalan secara wajar. Takdir selalu membuat mereka berjauhan, entah kenapa. Mereka tidak pernah bisa bertemu. Richard juga tidak berani melakukan inisiatif pertama.

Ia terlalu pengecut.

Dalam suatu kebetulan yang disukainya, Richard akhirnya dapat bertemu dengan gadis itu lagi, seperti sebuah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Ia dapat menjadi dekat dengan gadis itu. Berinteraksi dengannya. Berkomunikasi dengannya. Richard menyukai saat gadis itu berbicara dengan suaranya yang lucu dan tawanya yang renyah. Richard menyukai gelagatnya yang unik dan selalu membuatnya penasaran. Richard menyukai saat ia dapat memandangi wajah gadis itu dari jarak dekat. Richard menikmati setiap pesona yang menyihirnya secara ganjil.

Tapi itu tidak dalam waktu yang lama. Gadis itu segera pergi lagi, meninggalkan dirinya yang dipenuhi oleh tanda tanya. Gadis itu membuatnya kecewa. Gadis itu tak memahami perasaannya.

Gadis itu menyakiti perasaannya.

Richard tak mengerti. Richard tak berani untuk mengutarakan. Richard tak berani untuk mendekat. Richard bahkan tak tahu bagaimana cara mendapatkan hati gadis itu. Richard hanya berpikir kalau gadis itu mungkin tak akan pernah menyukainya. Richard kemudian memilih untuk belajar mengubur perasaannya. Ia berharap semoga perasaan itu semakin redup bersamaan dengan berjalannya waktu. Tapi dugaan Richard sangat keliru.

Gadis itu sangat sulit untuk dilupakan.

Semakin Richard berusaha untuk melupakannya, semakin kuat keinginannya untuk mengingatnya kembali. Tingkah lakunya yang jenaka selalu berhasil membuat Richard mengenyahkan keinginan itu, melupakan itu jauh-jauh dari pikirannya. Jika gadis itu di dekatnya, rasanya segala kesedihan dan beban hidupnya telah terangkat. Keberadaannya membuat aura kehidupannya kembali bergelora. Gadis itu adalah magnet bagi keceriaannya. Tapi satu hal yang pasti—gadis itu tidak pernah tergapai.

Seluruh perasaan ini sangat menyiksanya. Selama berbulan-bulan Richard mencoba meyakinkan perasaannya sendiri. Menyiksa diri dengan impian-impian dan terlarut dalam angan-angan yang diciptakannya sendiri. Ingin sekali ia menenggelamkan dirinya di tengah lautan, membekukan hatinya, semata-mata hanya untuk menghilangkan perasaan itu dari dirinya.

Semua keinginan ini telah membuatnya melakukan kesalahan. Kehilangan logika yang menjadi kekuatannya. Melakukan sebuah kebodohan yang menyakiti dirinya sendiri. Melakukan kepura-puraan yang akhirnya menyakiti hati orang lain, gadis lain yang mencintainya. Dan sekarang, ia menyadari ternyata selama ini ia hanya memimpikan harapan semu. Harapan semu yang telah membuatnya kehilangan segalanya.

Sebuah kebodohan yang dimulai dari rasa takut untuk kehilangan.

Richard mengambil sehelai kertas dan ballpoint hitam milik ayahnya yang berada di laci. Richard sebenarnya tidak cukup tertarik pada sastra, tapi entah mengapa menurutnya saat ini lebih mudah untuk melarikan diri dari segala kepenatan ini dengan menyatakannya dalam sebuah puisi.

Sebuah puisi lagi—puisi kerinduan.

 

I wish I was in fairy tale

Lived myself in a happy ending story

Caught her fascinating smile

without feeling any guilty

 

Sekarang, semuanya telah berakhir.

17 – Yang Sebenarnya (4)

Julie dan Nick sedang berjalan melewati ruang Biologi saat Jessie menghampirinya dan disusul oleh Cassandra.

“Lucy sangat sibuk,” kata Cassandra, mengisi ruang kosong di antara percakapan mereka. “Sekarang ia harus bersiap-siap menghadapi lomba lainnya dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan tim akademis sepulang sekolah. Dia akan jarang berinteraksi dengan kita selama beberapa hari ke depan.”

“Wow,” ujar Julie. “Anak itu memang super pintar.”

“Kadang-kadang aku iri juga dengan keberuntungan gadis itu,” kata Nick. “Kau tahu? Aku sangat berbakat di klub Renang, tapi tak ada seorang pun yang menominasikanku untuk ikut lomba.”

“Itu karena kau berenang seperti lumba-lumba,” kata Jessie menyindir.

“Hey–bukankah itu hal yang bagus? Lumba-lumba bisa mengalahkan atlet olimpiade mana pun di dalam air. Mereka berenang sangat cepat,” kata Nick. “Nimber pasti menang jika aku yang bermain.”

“Nick. Menurutmu, kenapa kau dijuluki Nick Manusia Lumba-Lumba?” tanya Jessie datar.

Yeah, kenapa?” tanya Julie antusias. “Aku selalu penasaran dari dulu.”

Nick pura-pura terperangah, merentangkan kedua tangannya dengan bangga, seolah-olah jawabannya sudah terdefinisi dengan jelas dari bentuk tubuhnya yang ideal.

“Karena aku luar biasa sangat hebat?” kata Nick. “Berbakat, tak terkalahkan, lincah, gesit, mencengangkan, spektakuler, mengagumkan–“

“Karena kau selalu berjingkrak-jingkrak di dalam air dan beratraksi seperti lumba-lumba sirkus,” tukas Jessie. “Serius. Pelatih kami bahkan berpikir untuk membelikan Nick beberapa cincin sirkus dan sebuah bola plastik mengapung untuk melengkapi atraksinya. Dia benar-benar hiperaktif–kalau meminjam istilah Julie–seperti cacing.”

Mereka tertawa.

Julie bersyukur hidupnya yang ceria telah pulih kembali setelah ia mengakui rasa sukanya pada Richard dan mengikhlaskannya dengan Cathy. Ia tak mengerti ada apa dengan dirinya yang kemarin, tapi satu hal yang pasti–ia akan meneruskan hari-harinya dengan normal dan menjadi Julie Light yang santai seperti biasanya.

Dan gadis-gadis ini membuat semuanya menjadi mungkin. Ditambah lagi Nick Si Sinting.

“Bagaimana denganmu, Julie?” tanya Cassandra. “Apakah kau dan Jerry suatu saat akan mengikuti lomba dan berakhir bahagia selama-lamanya?”

Julie melenguh. “Aah–jangan Jerry lagi!!”

Julie selalu heran kenapa Cassandra selalu senang menjodoh-jodohkannya dengan Jerry. Pernyataan Cassandra barusan telah merusak hari bahagianya yang indah dan tentram.

“Jika aku mengikuti lomba di klub koran sekolah dan ada Jerry di dalamnya, aku akan menutup mulutku dengan selotip agar kalian semua tidak pernah tahu berita itu, dan kalian akan berhenti mengait-ngaitkan segala sesuatunya antara aku dan Jerry,” kata Julie. “Ide konyol itu tidak akan terjadi, Cass. Tidak bisakah kita membicarakan topik yang lain?”

“Ini di antara kita saja ya,” kata Nick. “Sebenarnya aku lebih suka jika Richard bersama denganmu daripada Cathy, Julie. Kalian berdua sangat cocok.”

“Apa?” Mereka terkejut.

“Tapi jangan katakah itu pada Cathy! Gadis itu akan ngamuk dan membuatku babak belur,” sambung Nick ketakutan, sambil menyengir penuh arti. “Rahasia! Ini rahasia! Janji?”

“Apa maksudmu?” kata Jessie. “Julie bahkan tidak tertarik padanya. Apa yang membuatmu berpikir Richard yang tampan lebih pantas dengan Julie Si Sapi?”

Nick menyengir lagi. “Hanya pendapat.”

Jessie menggeleng tidak setuju. “Tidak, tidak. Julie terlalu bodoh untuk Richard. Dia akan lebih sibuk menguyah rumput dan memerah susu alien di kandang,” kata Jessie sambil tertawa. “Dan badannya akan menggelinding seperti bola saat ia bermain lumpur dengan kuda nil.”

Julie mengerutkan kening, terlihat kesal.

“Tidak mungkin,” kata Cassandra, membisikkan tawa. “Richard hanya cocok denganku. Semua orang tahu hal itu.”

“Tidak, tidak. Jangan mimpi, Cass. Kalau bukan karena Nick, aku pasti sudah berakhir dengan Richard sekarang. Richard sangat mencintaiku,” sambung Jessie pongah. “Tapi ia terlalu malu untuk mengakuinya. Jadilah ia akhirnya diguna-guna oleh ilmu sihir hitam oleh Cathy Si Madam Mikmak Penguasa Ilmu Hitam dan Kegelapan. Ehm, kuharap Cathy tidak mendengarnya.”

Mereka berempat tertawa.

“Terlambat. Dia sudah datang,” kata Cassandra, tiba-tiba melihat sosok Cathy dari kejauhan. “Oh, Tuhan. Entah bagaimana, ia telah mendengar pembicaraan kita. Dia terlihat sangat marah. Dia akan memukulmu, Jess.”

Nick melihat Cathy yang sedang berlari mendekati mereka dengan wajah marah. Wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat. Sudut-sudut mulutnya tertekuk ke bawah. Nick baru saja akan membuat kelakar tentang betapa mengerikannya Cathy yang datang menghampiri mereka saat itu, sampai akhirnya terjadi sesuatu yang tidak ia duga.

Cathy menampar Julie dengan sangat keras.

PLAK!

“JULIE!” teriak Nick.

Julie luar biasa terkejut. Pipi kirinya sangat perih dan panas. Cathy menyerang Julie sekali lagi. Ia berusaha menarik, memukul, mencakar, apa pun untuk menyakiti gadis itu. Nick tanpa pikir panjang langsung berlari dan melindungi Julie dengan tubuhnya.

“Hentikan, Cath!” gertak Nick. “Kenapa kau ini!?”

“MINGGIR!” Cathy berteriak histeris.

Cathy memukuli punggung Nick dengan putus asa. Cathy mulai mencakar punggung Nick dengan kukunya yang tajam, yang membuat Nick berteriak kesakitan.

“MINGGIR, TOLOL!”

“Hentikan!”

Cathy menggeliat dan memberontak sekuat tenaga, menyerang Nick dengan membabi buta. Ia tak bisa melepas tatapan kebencian yang mengerikan yang ia tujukan pada Julie.

“Cathy! Tenanglah!” gertak Nick. Nick mendorong tubuh Cathy dan mencengkram kedua tangannya dengan sangat kuat. “Gadis-gadis, tolong aku! Jangan diam saja! Bantu aku menangkapnya!”

Jessie dan Cassandra bergerak mendekat, namun tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk mencegah gadis itu. Ia terlihat mengerikan, berteriak-teriak seperti orang yang tidak waras. Nick mulai menarik kedua tangan Cathy ke belakang punggung gadis itu, dengan susah payah, lalu mengunci tangannya agar gadis itu tak dapat berontak lagi atau berusaha melawan.

“LEPASKAN AKU!”

Siswa-siswa yang lain mulai memandangi mereka, membuat lingkaran yang mengeliling, dan menyaksikan peristiwa langka yang tidak pernah disangka-sangka itu. Beberapa saat kemudian, Kayla dan Richard menghampiri kerumunan itu, terlihat terkejut atas apa yang sedang terjadi.

“Cathy, hentikan!” perintah Richard.

Cathy terdiam seketika. Gadis itu sekarang terlihat lebih tenang. Saat melihat Richard, ia menangis sesegukan. Sementara itu, Julie masih memegang pipinya yang sangat perih dan panas, bahkan sekarang mulai terasa berdenyut-denyut.

“Oh, Tuhan!” desah Kayla. “Apa yang dia lakukan?”

“Cathy baru saja menampar Julie, Kay!” kata Jessie cepat. “Gadis itu mengamuk! Maksudku, benar-benar mengamuk. Nick berusaha mencegahnya menyakiti Julie lebih banyak lagi, ia tak henti-hentinya menyerang Julie.”

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Nick. “Kenapa Cathy mengamuk seperti ini?”

Sebelum Nick menyadarinya, Cathy keburu menyikut perut Nick dengan sangat keras. Anak laki-laki itu mengaduh kesakitan. Cengkraman tangannya menjadi melonggar dan Cathy langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Ia membebaskan kedua tangannya lalu menabrak kerumunan penonton tanpa mempedulikannya. Dalam sekejap gadis itu telah bebas dan ia berlari menghilang meninggalkan mereka semua.

Kayla menghampiri Julie dengan sangat khawatir.

“Kau tidak apa-apa, Julie?” tanya Kayla, memeriksa pipi Julie yang mulai memerah. Julie hanya mengangguk pelan. Ia tak mengatakan sepatah kata pun selain memandang kosong. Tamparan dari Cathy tadi telah membuatnya sangat shock.

“APA YANG TERJADI?” tanya Nick tak sabar, sambil meringis memegangi perutnya yang masih sakit. Cassandra dan Jessie juga menanyakan pertanyaan yang sama. “Bisakah kalian menceritakan pada kami kekacauan macam apa barusan ini?”

Kayla mendesah berat.

“Ini tanggung jawabmu, Richard,” kata Kayla tegas. “Katakan pada mereka, apa yang kita bicarakan tadi.”

Richard terdiam, merasa bersalah, namun tidak dapat mengatakan apa-apa.

“Richard!” protes Kayla.

Richard terlihat gelisah. Ia pun memandang Julie dengan wajah sedih. Gadis itu tampak terguncang. Julie yang dicintainya tidak lagi menyorotkan kegembiraan manis yang selama ini selalu menghiasi wajahnya. Dan ini semua kesalahannya.

“Aku baru saja mengatakan pada Cathy, kalau—“ Richard menahan napasnya. Otot-otot tubuhnya mengeras, dan ia mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar.

“—aku menyukai Julie.”

Semua orang di sana kaget. Napas Julie terhenti.

“APA?”

Pernyataan itu seperti bom waktu yang membuat semua orang tak bergerak. Spekulasi yang selama ini terus berkembang memang seringkali melibatkan gosip-gosip kedekatan antara Richard dan Julie. Namun hari ini kalimat itu keluar dari mulut Richard sendiri.

Rasanya sulit dipercaya.

“Kau—menyukai Julie?” kata Jessie terperangah. Cassandra pun juga sama terkejutnya. “Aku tak percaya ini.”

Nick berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, Richard. Ini buruk, Kawan. Ini waktu yang buruk. Jangan sekarang.”

Kayla menatap curiga. “Kau sudah tahu hal ini sebelumnya, Nick?”

Nick terlihat salah tingkah.

“Ya. Aku memang telah memberitahukannya sejak beberapa waktu yang lalu, dan Nick adalah seorang penyimpan rahasia yang sangat baik,” jawab Richard ketus, menegaskan kekesalannya pada Kayla.

“Dan hari ini, kalau memang ini akhirnya, aku ingin tahu yang sebenarnya.”

Richard menatap Julie dengan tajam. Ini tidak mudah. Tapi ini harus dilakukan sekarang juga. Sekarang, atau tidak sama sekali.

“Julie,” kata Richard pada Julie. “Apakah kau menyukaiku?”

Penonton di sekeliling mereka bergemuruh dengan sangat ramai. Gadis-gadis terpekik ngeri. Kerumunan itu semakin bertambah banyak dengan orang-orang lewat yang menghampiri karena sangat penasaran. Mereka benar-benar ingin tahu apa yang akan terjadi, karena biasanya mereka hanya bisa mengkhayalkannya lewat gosip-gosip tak bermutu dari mulut ke mulut. Tontonan hari ini benar-benar seperti khayalan yang menjadi kenyataan.

Julie tak dapat mengeluarkan suaranya. Ia bahkan tak dapat bernapas sama sekali.

Richard tiba-tiba menyesali ucapannya. Ia tak mengerti kenapa ia bisa sangat bodoh hari ini. Ia benar-benar kehilangan logika untuk melakukan apa pun dengan pikiran yang lebih sehat. Ia menatap Julie untuk menanti jawaban, tapi ia tahu Julie tidak akan pernah menjawabnya.

Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya.

“Sudah kuduga. Percuma saja aku mengatakannya,” kata Richard dengan kekecewaan yang sangat mendalam. Ada secercah nada pedih di dalam suaranya. “Harusnya aku tidak pernah melakukan ini. Aku sangat bodoh. Kau tak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku. Kalian tidak akan pernah memahaminya.”

Richard pergi meninggalkan mereka semua. Julie memandangi sosok itu, tak percaya akan apa yang didengarnya.

17. Yang Sebenarnya (3)

Kayla sedang bersandar di balik dinding di dekat tangga.

“Maaf mengganggu waktumu, Richard,” katanya. “Ada yang perlu kubicarakan.”

Tak mudah mendapatkan waktu untuk berbicara berdua saja dengan anak laki-laki itu. Tidak hanya karena ada Cathy yang selalu berada di sisinya setiap saat, tapi juga karena sosok misteriusnya yang membuatnya terasa sulit. Kayla cukup beruntung karena siang itu presentasi tugas kelompok Aljabar mereka selesai dengan cepat, sehingga ia dapat melakukan pertemuan ini sebelum jam sekolah usai.

“Ada apa?” tanya anak laki-laki itu.

Kayla melihat sekeliling, memperhatikan dengan hati-hati, memastikan kembali tidak ada seorang pun yang mendengar pembicaraan mereka. Ia menatap wajah Richard dengan tenang.

“Ini sangat penting. Lebih dari apapun di dunia ini yang kuanggap penting. Kuharap kau mengatakan yang sebenarnya,” kata Kayla. Rasa sukanya pada Sang Pangeran itu selama ini telah menumpulkan kemampuannya, kemampuan observasi yang selalu ia andalkan. Tapi hasil pengamatannya akan peristiwa yang terjadi tadi siang tidak diragukan lagi.

Ia mengucapkannya dengan sangat jelas. “Apa kau menyukai Julie?”

Richard terdiam membatu.

Ekspresinya membeku. Otot wajahnya mengeras dan ia menahan napas cukup lama. Tidak sulit bagi Kayla untuk menerjemahkan arti dari keterdiaman anak laki-laki itu atas pertanyaannya barusan. Pembicaraan ini jelas-jelas membuatnya tidak nyaman.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya Richard.

“Sikapmu padanya yang membuatku berpikir demikian,” jawab Kayla. “Selama ini aku tidak pernah memperhatikan dengan baik, tapi tadi siang aku akhirnya menyadarinya. Caramu memandang Julie berbeda dengan caramu memandang kami semua. Bahkan pada Cathy. Kau bukan menyukai Cathy, Richard. Kau menyukai Julie.”

Pernyataan Kayla benar-benar tajam dan cepat, seolah-olah langsung menghujam jantungnya. Richard tidak langsung menjawab. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan lebih berhati-hati memikirkan kata-kata berikutnya yang akan diucapkannya.

“Jawabannya—tidak,” kata Richard tegas. “Apakah sudah cukup?”

Kayla membalas cepat. “Kurasa Julie juga menyukaimu.”

Richard bergidik. Kalimat itu menyeludukkan hawa dingin yang membuatnya merinding. Sekujur kulitnya menggelenyar saat Kayla mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sangat ingin didengarnya. Namun ia tahu, itu terdengar tidak masuk akal.

“Tidak mungkin,” katanya sambil tertawa miris, seperti sedang menertawakan dirinya sendiri. “Mengapa kau membicarakan ini?”

Kayla menjawab dalam.

“Karena aku ingin tahu yang sebenarnya.”

Kayla menatap Richard dengan segenap kesungguhan hatinya, berusaha sekuat mungkin meruntuhkan dinding yang selama ini dibangun oleh anak laki-laki itu. Dinding yang membuatnya tak tersentuh. Ia seperti seorang aktor yang memainkan sebuah permainan karakter yang tidak dapat Kayla lihat selama ini. Anak laki-laki itu–dia dan Julie–benar-benar sangat baik dan cekatan dalam menyamarkan perasaan mereka yang sebenarnya di depan mereka semua.

Richard belum berbicara apa-apa lagi, namun Kayla telah menangkap maksudnya.

“Kalau begitu,” tanya Kayla. “Apa aku keliru?”

Richard tersenyum lemah.

“Sudah kukatakan,” katanya. “Aku tidak menyukainya.”

Kayla menghembuskan napasnya, menyandarkan tubuhnya dengan santai di dinding yang terdekat.

“Kau tidak bisa berbohong padaku, Richard. Bukankah gadis-gadis itu selalu mengatakan kalau aku adalah pengamat yang baik? Aku tahu kau menyukai Julie,” katanya. “Sekarang maukah kau berterusterang padaku? Kenapa kau–memacari Cathy? Bukan Julie?”

“Aku tidak menyukai Julie,” jawab anak laki-laki itu sekali lagi.

Kayla mengamati ekspresi Richard yang tidak berubah. Wajahnya terlihat keras dan sangat sulit dibaca. Kayla berdehem. Anak laki-laki itu benar-benar keras kepala. Kayla kemudian mengeluarkan sejurus pancingan.

“Tidakkah kau ingin tahu apa yang Julie pikirkan tentangmu?” tanyanya penuh selidik. Ia tak melepas intaiannya, namun menyiapkan jangkar yang cukup besar. Richard masih diam saja, tapi Kayla tahu anak laki-laki itu sedang memasang kupingnya dengan lebar-lebar.

“Aku rasa, dia mulai menyukaimu. Maksudku–benar-benar menyukaimu. Hanya saja ia sedang menyembunyikannya. Sama seperti yang kau lakukan sekarang,” kata Kayla, tersenyum penuh arti. “Tidakkah kau ingin tahu?”

Richard menghela napas. Napasnya terasa lebih berat dan jantungnya berdegup kencang. Ia mulai kesulitan mengontrol dirinya sendiri. “Jangan bercanda.”

Kayla tersenyum puas.

“Aku tidak bercanda,” katanya. “Dan aku akan menyampaikan hasil pengamatanku tentang perasaan Julie padamu, jika kau bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan terus-terang.”

Richard memandang Kayla dengan penuh kecurigaan. Tawaran itu benar-benar menggoda. Ia ingin sekali tahu apa yang Julie pikirkan tentangnya. Tapi ia tak benar-benar yakin apakah ia bisa mempercayai Kayla.

Richard akhirnya mengangguk. “Baiklah,” katanya pelan. “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Kayla tadinya akan mengulangi pertanyaannya yang pertama, tapi sekarang ia menyadari ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya. Sebuah pertanyaan baru.

“Apa yang kau sukai dari Julie?”

“Aku tidak–” Richard hampir menyangkal. Ia menghentikan ucapannya secepat kilat dan memberikan waktu untuk dirinya sendiri untuk berpikir masak-masak.

“Dia gadis yang menyenangkan–”

Richard mengucapkan kata-katanya dengan nada standar. Sikap tubuhnya terlalu formal. Kayla masih menunggu penjelasan yang lebih lanjut dari anak laki-laki itu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah mengucapkan, “–itu saja.”

Kayla menghela napasnya. Anak laki-laki ini benar-benar menyusahkan.

“Richard, kau membuat ini menjadi sulit,” desah Kayla, kehilangan kesabaran. “Berhentilah berpura-pura dan aku akan memberitahukanmu semua tentang Julie. Kita tidak punya banyak waktu, kau tahu?” Ia menggertak. “Atau kalau memang ini maumu, kita akan menghentikan pembicaraan ini dan anggap saja tawaranku tadi tidak pernah ada. Aku akan kembali ke kelas sekarang.”

Kayla bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Ia sudah dua langkah berpindah dari tempatnya berdiri, saat Richard menarik tangannya. “Tidak. Tunggu!”

Richard dengan sopan meminta Kayla untuk tetap tinggal. Ia berpikir selama beberapa saat, terpaku pada konflik internal di dalam dirinya. Ia mencoba mempertimbangkan hal ini sekali lagi, namun ia menyadari kalau menyembunyikan hal ini sekarang bukan keputusan yang cerdas. Gadis itu terlalu pandai.

“Aku memang menyukai Julie,” kata Richard, akhirnya.

Kayla tidak bisa memungkiri kalau ia sedang berusaha susah payah menahan senyumnya. Julie adalah salah satu sahabat terbaiknya sejak mereka bersekolah di Springbutter, dan daya tarik feromon Julie yang ajaib itu sudah dikenalnya sejak bertahun-tahun. Dan di hadapannya sekarang, seorang pangeran yang mereka semua gila-gilai, menyatakan cintanya terhadap Julie.

Julie benar-benar telah mengalahkan mereka semua.

“Ia selalu punya seribu cara untuk membuat orang-orang menyukainya, bahkan tanpa ia menyadarinya. Aku tidak mengerti bagaimana dia melakukannya, seolah-olah ia memiliki feromon yang mengelilinginya,” kata Richard tanpa ragu-ragu. “Gadis itu selalu berbuat hal-hal konyol yang tidak kuduga-duga. Aku tak pernah bisa menebak kapan dia marah, kesal, sedih, senang. Tidak bisa menerka apa yang ada di pikirannya, karena di saat yang sama dia membuatku terkejut dengan tingkah lakunya yang unik.”

Richard tersenyum.

“Dia seperti sebuah kotak kejutan yang menyenangkan.”

“Kau yakin? Itu karena dia sangat bodoh,” kata Kayla menahan tawa. Richard menggunakan istilah yang sama dengannya. “Tapi aku setuju denganmu. Dia memang memiliki feromon yang kuat. Bahkan, feromon itu pun menarik perhatianmu.”

“Apa kau pikir dia menyukaiku?” tanya Richard ragu-ragu.

Kayla mengangguk. “Ya. Tidak salah lagi.”

Kayla merasa yakin dengan hasil pengamatannya, sebagaimana ia yakin dengan instingnya tentang perasaan Richard terhadap Julie. Richard tersenyum miring, hatinya menggelembung seperti balon udara yang akan terbang.

“Tapi mengapa ia selalu menghindariku? Rasanya seolah-olah ia membenci kehadiranku,” kata Richard putus asa, mencoba menurunkan harapannya sendiri. “Dia selalu menjauhiku setiap kali aku ingin mendekatinya. Sejak dulu. Aku tidak mengerti kenapa. Kupikir dia membenciku.”

“Karena dia menyukaimu, Richard,” jawab Kayla.

Kayla pun juga pernah menanyakan pertanyaan yang sama. Dulu. Ia memang sempat heran dengan sikap Julie yang selalu antipati terhadap Richard setiap kali The Lady Witches membicarakannya di kafetaria. Tapi entah kenapa ia justru selalu melupakan gagasan bahwa Julie menyukai anak laki-laki itu. Mungkin karena kenyataan bahwa The Unbeatable itu tidak pernah menyukai anak laki-laki manapun dalam hidupnya. Dan mungkin karena Julie memang selalu bersikap konyol sepanjang hidupnya.

Terlebih lagi karena Julie selalu mengatakan wajah Richard standar dan membosankan. Julie mengatakan kalau wajah Richard seperti lampu petromaks. Kayla dan teman-temannya akhirnya malah sibuk menanggapi pernyataan skeptisnya yang mengesalkan itu dengan tindakan anarkis mereka sehari-hari, ketimbang menyadari arti di balik sikap Julie yang sebenarnya.

“Julie tidak pernah menghindari anak laki-laki sedemikian rupa seperti dia menghindarimu, Richard. Dan itu sangat aneh. Seharusnya aku menyadarinya dari dulu,” lanjut Kayla. “Ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan dengan sifat cuek dan kebodohannya itu, aku tahu dia tak akan mengakuinya sampai kapan pun. Dia bahkan mungkin belum menyadarinya.”

Atau mungkin sudah, pikir Kayla. Ia merasakan ada perbedaan yang aneh yang terjadi pada Julie hari ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya kemarin.

“Kau pun sama saja. Kau malahan berpacaran dengan Cathy. Kalian ini, benar-benar bodoh,” gerutu Kayla. Kayla melanjutkan pertanyaan berikutnya dengan tegas, “Kenapa kau berpacaran dengan Cathy?”

Richard termangu. Pertanyaan itu begitu sulit dijawab, bahkan ketika Nick menanyakannya. Ia sama sekali tak tahu jawabannya.

“Aku tak tahu,” kata Richard.

Richard menyadari kalau ia saat ini terdengar seperti seorang pecundang yang payah. Ia tidak bisa memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Pada kenyataannya, ia memang seorang pengecut. Ia terlalu takut untuk mendapatkan penolakan dari orang yang sangat disukainya.

“Mungkin kau benar,” kata Richard, menyesali kebodohannya. “Seharusnya dulu aku lebih berani mengungkapkan perasaanku pada Julie, bukan pada Cathy.”

Pernyataan Richard barusan mengubah suasana percakapan mereka.

“Apa maksudmu?” kata Kayla marah.

Ekspresi Kayla pun berubah. Tadinya gadis itu berharap Richard memberikan penjelasan yang logis atau semacamnya, alih-alih sebuah jawaban yang tidak menunjukkan kedewasaannya. Itu bukan jawaban yang ingin ia dengar.

“Kenapa kau berpacaran dengan Cathy sejak awal? Kau ingin membuat Julie cemburu?” Kayla mencecar. “Jadi selama ini kau sengaja menjadikan Cathy sebagai batu loncatanmu?”

Gadis itu sekarang tidak lagi terlihat ramah. Ia kecewa karena Richard memberikan jawaban yang terlalu kekanak-kanakan. Ia berubah menjadi seorang sahabat yang protektif dan terlihat sangat gusar.

“Bukan begitu,” kata Richard. “Aku tidak–”

“Keterlaluan. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri saja. Kau tahu apa akibat perbuatanmu ini, Richard?” kata Kayla tidak sabar. “Kau akan menyakiti perasaan kedua sahabatku. Ya. Kau akan menyakiti mereka. Kau sedang menyakiti Cathy dengan kepura-puraanmu, kau juga menyakiti Julie karena sikap palsumu, kau tahu? Itukah yang kau mau?”

Richard terkejut.

“Tidak! Aku–aku hanya,” katanya terbata-bata. “Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku memang bodoh, Kay. Tapi aku tak berniat menyakiti siapapun. Percayalah!”

Kayla menatap anak laki-laki yang kini berada di hadapannya. Ia tidak pernah sekalipun membayangkan akan melihatnya dalam situasi seperti ini, Richard benar-benar terlihat berbeda. Kali ini, untuk pertama kalinya, Kayla akhirnya mampu memandang Richard sebagai seorang anak laki-laki biasa, teman biasa yang berbuat kesalahan dan sedang terpuruk karena masalah cinta.

“Maafkan aku.” Richard menunduk lemah.

Anak laki-laki itu kini menyembunyikan ekspresinya yang terpukul dengan wajah yang berpaling. Ada secercah nada pedih yang menyelimuti kata-katanya, dalam suara rendahnya yang selembut beledu.

“Aku tahu tindakanku ini sangat bodoh dan irasional. Entah kenapa, setiap kali berurusan dengan Julie, aku selalu kehilangan akal sehatku. Harusnya aku tahu, harapanku akan cinta Julie hanya menyakiti perasaanku. Kupikir jika aku memilih Cathy, aku dapat melupakan Julie dan menjadi lebih gembira.”

“Bodoh,” sasar Kayla. “Benar-benar bodoh.”

Mereka berdua terdiam dalam keheningan.

Richard terlalu lama memandang kejauhan untuk menyesali apa yang telah ia katakan, sementara itu Kayla sedang berdiam diri untuk merenungkan cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka berdua tidak saling berbicara ataupun berpandangan.

Keheningan yang ganjil itu pecah saat bel pulang sekolah berbunyi, hampir bersamaan dengan sebuah suara yang familiar yang menimpali mereka dari arah tangga. Suara Cathy.

“Richard? Kayla?” tanya Cathy, memandang curiga. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”

Mereka berdua terperanjat.

Cathy datang di saat yang benar-benar tidak tepat. Kayla belum memutuskan apa yang akan ia lakukan terhadap fakta yang baru saja ia ketahui itu, sedangkan Richard sangat ingin keluar dari situasi yang tidak menguntungkan ini dan pergi menyendiri. Cathy menaiki anak tangga, dengan cepat menghampiri mereka, tanpa mengetahui apa-apa.

“Apa yang sedang kalian lakukan, Sayang?” tanya Cathy sekali lagi, sambil bergelayut. “Kalian tidak diam-diam berselingkuh di belakangku, kan?”

Kayla menatap Richard dengan pandangan tajam. Ia sudah memutuskan jawabannya.

“Kau harus mengatakannya sekarang, Richard,” kata Kayla tegas. “Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Cathy. Ini saatnya mengakhirinya.”

Gagasan itu terdengar mustahil.

“Apa?” kata Richard. “Tidak.”

Cathy melihat mereka berdua dengan keheranan. “Mengatakan apa?”

“Tidak. Aku ingin bersama Cathy sekarang,” kata Richard. “Aku sudah memutuskannya, Kayla. Aku ingin bersama Cathy.”

“Dan menurutmu aku percaya padamu?” cecar Kayla. Ia tahu persis bahwa kenyatannya tidak demikian. “Aku tidak ingin kau menyakitinya lebih lama lagi. Ini harus diakhiri sekarang, sebelum benar-benar terlambat. Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Cathy. Sekarang juga.”

“Mengatakan apa?” tanya Cathy penasaran.

“Richard?” kata Kayla.

Richard memilih bergeming. Ia tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Ini bukan bagian dari rencananya. Ia menyesali keputusannya mengatakan hal ini pada Kayla. Kayla tidak mengerti. Ini hanya memperburuk keadaan. Seharusnya ia memang tidak menceritakannya pada siapa-siapa.

“Katakan yang sebenarnya, Richard. Kau harus bertanggungjawab,” kata Kayla. “Kau ingin menyembunyikan ini sampai berapa lama lagi? Pahamilah, semakin lama kebohongan dirahasiakan, maka konsekuensinya akan semakin besar. Lebih baik jika diakhiri sekarang.”

Richard tetap merasa tidak sependapat dengan gagasan tersebut.

“Baiklah, kalau kau tidak mau mengatakannya, biar aku yang mengatakannya,” kata Kayla kemudian. “Jangan panik, Cath. Kau harus berjanji untuk belajar menyikapi ini dengan kepala dingin, atau aku tidak akan memberitahukanmu.”

Cathy mengangguk. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Richard baru saja mengatakan padaku bahwa ia menyukai Julie.”

“Apa?” Cathy membelalak.

“Richard menyukai Julie sejak lama dan ia merahasiakannya darimu. Ia telah merahasiakannya dari kita semua,” kata Kayla dengan lugas. “Aku tahu ini hal yang menyakitkan untukmu, tapi aku ingin kau mengetahuinya, Cath. Aku ingin kalian menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.”

Cathy memandang tak percaya. Darahnya mendidih dan dadanya terasa sangat panas. Amarah yang tidak terbendung membakar mulutnya. “Benarkah itu, Richard?”

Richard masih tidak menjawab. Ia membuang muka dan rahangnya terasa kaku, tak bisa digerakkan.

“Richard!” hardik Cathy. Suaranya terdengar mengerikan.

“Cathy–” kata Kayla mencoba menenangkan.

Tenggorokan Richard tercekat. Ini benar-benar situasi yang sangat sulit untuknya. Rahangnya sulit digerakkan. Sangat sulit. Ekspresinya keras dan pahit, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.

“RICHARD!!!”

“Ya,” kata Richard sangat pelan. “Itu benar.”

Mata Cathy berkaca-kaca. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya dan melepaskan rangkulannya dari lengan Richard.

“Sudah kuduga, sudah kuduga. Kau dan gadis itu–,” kata Cathy penuh emosi, dan perlahan air matanya menetes membasahi wajahnya yang sangat marah. “Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa dia? KENAPA JULIE!!”

Cathy berteriak seperti kerasukan. “JULIE!”

Ia berlari dengan cepat menuju keramaian. Sosoknya mulai menghilang di tengah kerumunan siswa yang mulai memadati setiap koridor. Kayla menyesal karena tidak mengestimasi reaksi ini. Ia tahu ke mana perginya gadis itu. Dan perasaannya tidak enak.

“Sial! Richard, kita harus berlari mengejarnya!” kata Kayla pada Richard. “Sekarang!”

***